
Melihat Gladys yang sedang menunggu Mira mengunci pintu rumah kontrakannya, Mikael menurunkan kaca mobilnya.
"Sayang, kamu masuk ke mobil sekarang." Teriak Mikael dari dalam mobil.
"Tunggu bentar saya nunggu Mira."
"Mira biar sama Teddy, bentar lagi juga sampai."
"Ngapain Teddy ke sini?" Tanya Gladys heran.
"Buat jemput Mira, udah buruan masuk."
Mira yang mendengarnya di buat tidak bersemangat.
"Pak Mika balas dendam nih Dys, karena saya ganggu kalian tadi sampai saya gak boleh ikut di mobilnya" Ujar Mira pasrah.
"Masih untung Kak Mika suruh Teddy jemput kamu. Yah udah bye." Ujar Gladys lalu meninggalkan Mira sendirian di teras.
Mira memasang tampang sedih karena di tinggal Gladys.
"Gak usah sok sedih deh, Teddy juga bentar lagi datang."
"Sayang, cepetan." Panggil Mikael.
"Iya." Sahut Gladys yang memepercepat langkahnya masuk ke dalam mobil.
Kini mobil Mikael telah melaju ke jalan raya.
"Kamu gak marahkan sama Mira? Sampai kamu gak mau antar dia." Tanya Gladys.
"Dikit." Jawab Laki-laki tampan di samping Gladys yang masih fokus pada jalanan.
Gladys hanya diam mendengar jawaban Mikael. Patut Gladys akui saat kejadian tadi dia seakan terhanyut dengan tatapan Mikael padanya, jantungnya berdebar kencang dan perasaan yang di rasakannya sama seperti saat Leon menatapnya dalam, membuatnya tidak dapat berkutik. Sepertinya wanita itu sudah mulai menyadari perasaannya pada Mikael.
Gladys membuka kotak bekal yang sedari tadi di pegangnya.
"Buka mulut Kak Mika." Pinta Gladys yang di patuhi oleh Mikael tanpa menoleh ke arah wanita itu. Gladys memasukkan sepotong roti ke mulut Bossnya untuk mempermudahkannya memakan roti buatannya.
"Kak Mika memang gak biasa sarapan sebelum berangkat ke kantor?" Tanya Gladys yang juga menyantap roti isi susu kental buatannya.
__ADS_1
"Saya biasa sarapan, cuman pagi tadi saya telat bangun." Jawab Mikael setengah berbohong.
Sebenarnya jam bangun Mikael pagi tadi sama seperti hari-hari sebelumnya hanya saja dia terburu-buru keluar apertemen hingga tidak sempat untuk sarapan agar bisa menjemput Gladys yang selalu pergi ke kantor lebih pagi darinya.
Gladys kembali memotong roti isinya dengan tangannya untuk menyuapi Mikael yang sudah tidak terlihat mengunyah.
Selesai menyuapi Mikael dan menyantap roti isinya. Gladys membersihkan tangannya dengan tisu basah dan mengeluarkan tas kecil dari dalam tas kantornya.
Mikael yang sempat melirik sebentar ke arah Gladys lalu kembli fokus pada jalanan merasa penasaran dengan tas kecil yang kini dipegang oleh Gladys.
"Itu apa?" Tanyanya.
"Tas make up." Jawab Gladys yang sambil meneteskan serum ke wajahnya dan mengusapkan dengan lembut ke seluruh wajah dan lehernya. Gladys membawa semua skin care dan make upnya yang biasa di pakainya sebelum ke kantor.
Tidak ada lagi pertanyaan dari Mikael, laki-laki itu kembali fokus pada jalanan. Sementara Gladys melanjutkan aktivitasnya dengan segala peralatan make up-nya.
Kini mobil Mikael tengah berhenti karena lampu lalu lintas yang telah berwarna merah. Dia lalu membalikkan wajahnya ke arah Gladys, menatap apa yang tengah di lakukan wanita cantik itu di sampingnya.
"Kamu lebih cantik tanpa make up." Ujar Mikael lembut, dia menyukai wajah natural wanita yang saat ini di sedang perhatikannya.
Ucapan Mikael membuat Gladys tersentak, pipi tembennya berubah merona. Pasalnya Mikael tidak pernah memuji soal penampilannya.
Deg deg deg....
"Kak Mika belajar gombal darimana? Dari Aaron?" Canda Gladys, dia mencoba menyembunyikan perasaan gugupnya di hadapan Mikael.
"Gak ada yang ngajarin. Karena itu memang kenyataannya." Ujar Mikael tanpa ada ekpresi bercanda dari wajahnya.
"Kak Mika kok jujur banget sih. Jantung jantung jantung tenang, jangan lompat-lompat terus, jangan sampai kamu keluar dari tempat kamu." Ujar Gladya dalam hati yang mencoba menenangkan dirinya.
"Kamu kenapa berubah diam? Saya suka kamu apa ada aja." Ujar Mikael dengan tekad penuh, dia berusaha mengeluarkan kata-kata yang membuat dirinya sendiri sulit untuk mengatakannya, namun akhirnya dia berhasil mengucapkannya.
Ingin rasanya Mikael juga mengatakan jika dirinya mencintai wanita cantik di hadapannya ini. Namun sepertinya kekuatan dan keberaniaannya belum sampai ke tahap puncaknya. Sepertinya laki-laki itu masih harus bertapa tujuh hari tujuh malam untuk mengumpulkan kemampuannya agar bisa naik level tinggi tapi ingat bukan level yang paling tinggi.
Gladys mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat, dia sudah tidak sanggup menatap laki-laki di sampingnya. Tiba-tiba tubuh Gladys terasa panas.
"Kak Mika lampunya udah hijau." Lirih Gladys yang tanpa sengaja matanya melihat keluar jendela ke arah lampu lalu lintas yang jauh berada di sebelah kirinya.
"Terimakasih lampu hijau, kamu muncul di saat yang tepat." Batin Gladys bersyukur.
__ADS_1
Mikael kembali melajukan mobilnya, jalanan yang cukup macet membuatnya harus benar-benar fokus pada jalanan.
"Tidak biasanya pagi-pagi gini jalanan sudah semacet ini." Ujar Gladys yang melihat sekeliling jalan.
Setelah 1 jam mereka terjebak macet, akhirnya mobil Mikael telah memasuki lobby pusaran kantor PT Winjaya Development.
Mikael keluar dari mobilnya dan sedikit berlari dia menuju kepintu penumpang samping kemudi, dia ingin membukakan pintu untuk Gladys namum wanita itu sudah membukanya terlebih dulu.
"Saya bantu kamu." Ujar Mikael yang mengambil tempat bekal yang di pegang Gladys dan memegang tangan Gladys erat.
"Biar saya saja yang bawa Kak Mika, sini tempat bekalnya." Pinta Gladys.
Mikael mengembalikan tempat bekal yang sudah berada di genggamannya pada Gladys. Namun di saat Gladys ingin melepas tautan tangan mereka, laki-laki tampan itu malah memperat genggaman tangannya pada Gladys, seakan tidak ingin melepas tangan wanita cantik itu.
Saat mereka berada di ambang pintu, Mikael memberikan kunci mobilnya pada security untuk di parkirkan.
Tautan tangan mereka seakan magnet untuk sepasang mata orang-orang yang berada di sekitar mereka. Tidak ada yang berani berbisik di antara mereka setelah apa yang di lihat membuat mereka terkejut.
Kali ini Gladys merasa sedikit lebih santai dengan tatapan para karyawan pada dirinya dan Mikael. Para karyawan sepertinya sudah dapat menerima hubungannya dengan Mikael tanpa mereka tau jika hubungan ini palsu. Pikir Gladys.
Mikael dan Gladys melangkah menuju ke lift khusus untuk CEO. Hanya dalam hitungan detik lift itu terbuka dan mengantar mereka ke lantai 25.
"Tumben Kak Mika pakai lift CEO bersama saya?" Tanya Gladys.
"Karena saya hanya ingin berdua dengan kamu." Jawab Mikael tanpa melihat ke arah Gladys.
"Lagi-lagi laki-laki ini membuat jantung saya melompat. Lama-lama saya mati juga nih gara-gara jantungan" Maki Gladys dalam hati.
.
.
.
Bersambung...
Hai Readers
Jangan lupa dukung author yah😉
__ADS_1
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
Terimakasih❣