
Nana menuangkan sesendok capcay ke piringnya.
"Potongan wortel kamu mengingatkan tante dengan almarhum sahabat Tante. Kalau dia masak capcay potongan wortel sama seperti kamu ini." Ujar Nana yang menusuk potongan wortel dengan garpu.
"Mama saya juga suka potong wortel seperti itu. Kata mama niatnya sih mau bentuk bunga tapi malah jadi kacau. Alhasil saya juga jadi ikutan potong kek gitu."
"Mama kamu pasti bangga banget sama kamu. Udah cantik, pintar masak lagi." Puji Winjaya.
Gladys hanya meresponnya dengan senyuman. Dia gak tau apakah yang diucapnya Winjaya itu benar kalau mamanya bangga sama dia sebab dia sendiri sudah tidak pernah bertemu mamanya selama belasan tahun.
Selesai makan mereka duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton film barbie di Tv.
"Ini sih bukan nonton bersama, tapi hanya kamu sendiri yang nonton." Protes Mikael pada keponakannya yang fokus pada layar Tv.
"Paman nonton aja. Lihat Oma dan Opa mereka lebih tua dari Paman tapi nonton aja tuh. Gak protes seperti Paman." Ujar Yulin dengan suara sedikit cadelnya.
Nana dan winjaya yang mendengarnya hanya tersenyum.
Mikael hanya bisa pasrah dengan keponakannya itu. Dia mendekati Yulin dan mengangkat gadis kecil itu ke pangkuannya untuk memeluk Yulin dari belakang sementara Yulin hanya diam saja dan tetap fokus pada layar Tv, gadis kecil itu seakan pasrah di angkat Pamannya.
"Sayang kamu segitu sukanya yah sama Barbie sampai serius gitu nontonnya." Ujar Mikael yang melihat Gladys hanya diam menonton film barbie.
"Film barbie salah satu film kesukaan saya. Walau nonton berulang-ulang juga gak bosen." Ujar Gladys.
"Yulin semakin suka dengan Tante Gladys." Ujar Yulin yang kini melihat ke arah Gladys yang duduk tepat di samping Mikael.
"Ternyata keponakan sama pacar sama aja." Ujar Mikael yang berpura-pura kesal.
"Lihat mereka sudah seperti satu keluarga yang bahagia." Ujar Winjaya pada istrinya. Namun Mikael dan Gladys tidak mendengarnya.
"Iya. Saya setuju banget kalau mereka cepet nikah." Ujar Nana yang mendukung ucapan suaminya.
"Oh iya sayang yang nelpon kamu tadi siapa?"
"Bu Beno, anaknya kan mau nikah jadi Bu Beno sama saudara perempuannya ingin pakai kain yang seragam tapi model yang berbeda-beda makanya tadi saya dan Bu Beno video call dengan saudara-saudaranya."Jelas Nana.
Nana memang sering menceritakan apapun kepada suaminya, gak ada yang disembunyikannya dari hal yang tidak penting sampai hal yang benar-benar penting.
"Terus gimana dengan teman arisan kamu itu yang katanya kamu dan teman-teman kamu yang lain mau bantu dia?" Tanya Winjaya.
"Oh dia. Waktu itu saya dan teman-teman udah kumpulin uang dan kita udah mau kasih ke dia. Tapi Papa tau dia malah marah-marah ke kita dan bilang kalau kita merendahkan dia. Padahalkan niat kita baik untuk bantu meringankam biaya pengobatan suaminya di tambah lagi perusahaan suaminya yang udah goyang." Jawab Nana yang mengingat kejadian saat dia dan satu temannya lagi memberikan uang hasil kumpulan teman-teman arisannya.
"Terus anak laki-lakinya gimana?" Tanya Winjaya lagi.
__ADS_1
"Gak tau dimana. Katanya waktu itu anak laki-lakinya udah datang ke Indonesia tapi saya dengar-dengar keberadaan anaknya itu seakan di telan bumi, tiba-tiba ngilang aja. Gak ada kabar. Saya juga dapat kabar kalau anak laki-lakinya itu sebenarnya gak ingin lanjutin usaha papanya."
"Waktu kalian kumpul-kumpul arisan kemarin dulu dia datang?" Tanya Winjaya lagi yang cukup penasaran dengan cerita teman istrinya itu, di tambah lagi Winjaya memang menyukai ketika istrinya sedang berbicara padanya karena Nana suka menatap lawan bicara dengan tatapan yang serius.
"Dia datang Pa. Papa tau penampilannya itu waoww banget. Dia pakai periasaan baru,tas branded baru pokoknya penampilannya itu gak seperti sebelum-sebelumnya ketika kumpul arisan. Saya dan teman-teman sampai terheran-heran. Temen-temen saya bahkan ada yang bilang mungkin dia ngepet kali." Jelas Nana yang sangat antusias menceritakannya hingga tanpa sadar Gladys dan Mikael terus melihat ke arahnya untuk mendengarkan ceritanya.
"Cerita Tante Nana sepertinya seru." Ujar Gladys yang lebih tertarik mendengar cerita Nana di bandingkan film barbie yang sedang di nontonnya tadi.
Nana hanya meresponnya dengan senyum malu-malu.
"Anak-anak gak usah nguping pembicaraan orang tua, fokus aja nonton." Ujar Winjaya yang melihat istrinya yang merasa malu karena ketahuan menceritakan aib orang lain.
"Nonton apaan Pah, barbie mulu." Protes Mikael.
"Oh iya tadi saya ada beli buah, saya ambil dulu." Ujar Gladys yang baru saja mengingat buah-buahan yang dibelinya tadi disupermarket.
"Jangan lama-lama Sayang." Canda Mikael.
***
Selesai memotong buah-buahan di dapur Gladys segera menuju ke ruang tengah. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika matanya melihat isi rak dinding yang berada di sudut ruang.
Rak dinding yang berisikan berbagai bentuk hewan dari patung kayu.
Gladys ingin mengambil patung berbentuk kucing untuk di lihatnya lebih dekat.
"Non jangan." Ujar Bi Yuyun yang entah datang darimana.
Gladys yang mendengarnya langsung mengurugkan niatnya.
"Nyonya melarang siapapun untuk memegang patung-patung kayu ini kecuali Nyonya sendiri, itupun saat membersihkannya saja." Jelas Bi Yuyun.
"Tapi kenapa Bi?" Tanya Gladys heran.
"Kalau yang pernah Bibi dengar dari Nyonya katanya patung-patung ini karya sahabat terbaik Nyonya. Jadi Nyonya ingin mengenangnya dengan memajang patung-patung ini."
Apa sahabat Tante Nana orang yang sama dengan orang yang membuat potongan wortel di capcay yang di bicarakan Tante Nana tadi dengan orang yang membuat patung-patung ini. Pikir Gladys.
"Bibi tau siapa nama sahabat Tante Nana yang buat patung-patung ini?" Tanya Gladys lagi.
"Namanya.... Aduh siapa yah." Ujar Yuyun yang berusaha mengingat nama orang yan pernah di sebutkan Nana padanya.
"Oh Bibi ingat Non. Namanya itu...."
__ADS_1
"Sayang." Panggil Mikael yang membuat perkataan Bi Yuyun terpotong
"Kamu dari tadi di tungguin malah ngobrol sama Bi Yuyun di sini." Lanjut Mikael lalu mengambil piring buah dari tangan Gladys.
Mereka lalu meninggalkan Bi Yuyun menuju ke ruang tengah.
"Buah-buahannya udah datang." Ujar Mikael lalu menaruh piring buah yang dibawanya ke atas meja.
"Yulin mau buah strawberry." Ujar Yulin antusias.
"Tenang aja Yulin, Tante Gladys potong buah strawberrynya banyak kok khusus buat Yulin." Ujar Gladys yang memberikan garpu kecil pada Yulin.
Yulin memasukkan sepotong strawberry ke dalam mulutnya.
"hmm.... rasanya enak. Yulin suka." Ujar Yulin senang.
"Enakan mana dengan buah strawberry Opa?" Tanya Winjaya yang sedang menusuk buah kiwi yang akan di makannya.
"Buah strawberry Opa enak kok tapi Yulin lebih suka dengan buah strawberry yang dipotong Tante Gladys." Jawab Yulin setelah menelan sepotong buah strawberry di dalam mulutnya
Winjaya yang mendengarnya berpura-pura berwajah sedih di depan cucunya itu.
"Opa jangan sedih, kan Yulin gak bilang kalau buah strawberry Opa gak enak. Yulin suka kok dengan buah strawberry Opa." Ujar Yulin yang tidak ingin Opanya merasa sedih.
"Kamu memang anak pintar." Ujar Winjaya lalu mengusap lembut kepala cucunya. Dia merasa bangga dengan cucunya yang tidak mengingkannya merasa sedih.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Hai guys
Jangan lupa dukung author yah😉
Biar lebih semangat nulisnya, caranya gampang kok klik like dan klik favorit serta komen yang membangun yah. Jangan lupa juga vote-nya 😊
__ADS_1
Terimakasih❣