Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Kembali Bekerja


__ADS_3

"Hai, Nona, apa kabar?" Seorang laki-laki muda tengah berdiri melipat kedua tangannya menunggu kedatangan Mutia yang baru saja masuk. Laki-laki itu adalah manager restoran sekaligus anak dari pemilik tempat Mutia mencari nafkah.


Gadis itu hanya memutar kedua bola matanya malas. Meski wajah Hendrik juga tampan, entah kenapa sejak dulu Mutia sama sekali tidak pernah tertarik padanya.


"Udah nangis-nangisnya? Udah puas patah hatinya?" Laki-laki itu malah tersenyum. Dasar menyebalkan!


"Apaan sih, nggak jelas!" Gadis itu memasang wajah kesal. Tidak ingin terlalu menanggapinya, Mutia memilih mengambil seragam kerja dan masuk ke dalam kamar mandi.


Hendrik masih senyum-senyum sendiri. Mengenai pernikahan Mutia yang batal, ternyata menjadi kabar baik baginya. Hendrik jadi punya kesempatan lagi untuk mendekati gadis itu. Meskipun Mutia sejak dulu selalu menolaknya. ia tak patah semangat, kali ini ia harus bisa mendapatkan cinta gadis itu.


"Sebelumnya aku 'kan pernah bilang, kalau laki-laki bernama Yusuf itu tidak akan pernah serius padamu." Hendrik masih mengekor langkah Mutia yang baru saja keluar dari kamar mandi. Menyimpan pakaiannya ke dalam loker, Mutia membalikkan tubuh cepat kearah laki-laki itu. "Maksud Bapak apa?" menantang tatapan Hendrik.


Hendrik mendengus tak suka. "Aku bukan bapakmu, Mutia! Kenapa kamu suka sekali memanggilku Bapak?" protes laki-laki itu.


Jadi saya harus panggil apa dong? batin gadis itu.


"Bapak atasan saya? Jadi, nggak salah jika saya memanggil dengan sebutan Bapak, kan?"


Bapak lagi, Bapak lagi! gerutu laki-laki itu.


"Iya. Tapi ..."


"Udah, Pak, saya mau kerja dulu, nanti saya bisa kena marah sama atasan!" Gadis itu pergi meninggalkan Hendrik begitu saja. Laki-laki itu hanya melongo sepeninggalan Mutia. Kena marah atasan? Maksudnya?


"Hei, atasanmu itu aku, kan?" Baru sadar dengan maksud ucapan dari gadis itu. Tapi Mutia sudah tidak mendengarnya lagi karena sudah sibuk dengan para tamu yang mulai berdatangan.


"Ah, sial! Kenapa Mutia tidak pernah menganggap kehadiranku sedikit saja? Apa yang salah? Apa aku kurang keren?" Laki-laki itu meneliti penampilannya sendiri.


Sedangkan di depan sana Mutia terlihat sangat sibuk. Gadis itu sampai kewalahan melayani para tamu restoran yang tak kunjung habis. Dua bulan lebih ia mengambil cuti libur karena terpuruk oleh pernikahannya yang gagal. Dan anehnya Hendrik–manager restoran masih mau menerimanya kembali ke tempat itu.


"Ini pesanan meja nomor berapa?" tanya Mutia pada salah pegawai yang ada di bagian belakang.


"Nomor tiga! Kamu anterin yah, orangnya galak!" ungkap gadis yang berseragam sama persis dengannya.

__ADS_1


"Kok tahu, emang dia ngapain kamu?" tanya Mutia penasaran.


"Pokoknya galak lah! ribet lagi!"


Mutia sedikit memicingkan mata. Ia kira masih ada menu lain yang akan ia bawa, nyatanya hanya air putih saja tanpa tambahan apapun.


"Ini beneran hanya air putih aja?" Mutia memastikan lagi. Jika hanya ingin memesan air putih kenapa tidak membeli air mineral saja di warung depan sana? Kenapa mesti masuk restoran? Dasar merepotkan!


Gadis itu menggerutu dalam hati. Sepanjang ia melangkah mendekati meja tersebut Mutia terus saja mengamati tamu yang hanya memesan segelas air putih saja di restoran seramai itu.


"Ini beneran, kan, nggak salah?" Mutia terlihat ragu meletakkan pesanan itu.


Di meja nomor tiga seperti yang temannya itu katakan memang ada seorang gadis yang tengah duduk sendirian. Gadis itu menggunakan kaca mata hitam, masker serta penutup kepala persis sekali seperti seorang detektif yang ada di film-film.


"Maaf, Nona, ini pesanan Anda." Buru-buru Mutia meletakkan segelas air putih, ia sudah siap ingin berbalik untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Tapi, suara gadis itu memaksa Mutia menghentikan langkahnya.


"Siapa yang pesan air putih?"


Mutia sontak berbalik lagi ke asal suara. Gadis tadi melepas masker serta kaca hitam yang dirinya pakai.


"Kamu sengaja mau ngerjain aku?" Mutia mengangkat nampan yang ia bawa seolah ingin memukul gadis di depannya.


Bukannya takut, Kia justru tertawa kencang menikmati wajah Mutia yang memerah menahan kesal.


"Mana aku tahu jika kamu yang akan mengantarkannya ke sini," elak gadis itu. Padahal Kia memang sengaja melakukannya.


"Aku baru tahu jika Kia Wijaya ternyata pelit sekali!" sindir gadis berseragam restoran tadi.


Mendadak Kia menghentikan tawanya. "Hei, jaga ucapan Anda, Nona! Aku bukan pelit tapi ngirit, hahaha ...!" Kia terbahak lagi. Rasanya seperti mendapat hiburan baru dengan melihat wajah sahabatnya di tekuk masam. "Apa ponselmu sudah di perbaiki?"


Mendengar perihal ponsel, suasana hati Mutia mendadak buruk lagi. "Ini semua gara-gara laki-laki itu. Andai saja aku tidak menyelamatkannya, pasti ponselku tak akan sampai tercebur ke dalam danau." Mutia hanya mampu berucap dalam hati.


Ya sudahlah. Semua sudah terlanjur. Tapi, ia baru ingat, bagaimana kabar laki-laki itu ya? Apa dia masih hidup? Apa jangan-jangan lukanya terlalu parah, lalu ma ....

__ADS_1


"Hei, kamu dengar tidak?" Menggeleng pelan menyaksikan gadis di depannya malah melamun.


Mutia langsung tersentak. Lamunannya langsung buyar begitu saja mendengar suara Kia yang sangat nyaring.


"Iya. Aku memang belum mengganti ponselku. Aku mau ganti yang baru, tapi nanti kalau udah ada uang."


"Oh .. pantas saja tidak bisa aku hubungi."


Tidak terasa Mutia malah asik mengobrol dan melupakan pekerjaannya. Gadis itu melirik gelagapan saat tak sengaja tatapannya beradu pada laki-laki dari arah belakang sana.


"Pak Hendrik! Mati aku! Kenapa malah lupa jika ini masih jam kerja?" Mutia buru-buru pamit untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Namun baru beberapa langkah Kia malah berteriak dan memanggilnya lagi.


"Tunggu! Kenapa kamu buru-buru sekali?"


Mutia hanya melengos mendengarnya. Ia terpaksa membalikkan tubuh lagi kearah sahabatnya yang sangat cerewet itu.


"Ada apa lagi?"


"Nih ...!" Menyodorkan sesuatu di depannya.


"Itu apa?"?" Menatap pada kedua tangan Kia.


"Aku ulang tahun." Kedua mata gadis itu berbinar saat mengatakannya. "Aku akan mengenallkan kekasihku padamu!" sambung Kia lagi.


Sebelum Mutia kembali melangkah menjauhinya. Kia sudah lebih dulu bangkit, meneguk air putih di dalam gelas tadi, Kia mengenakan masker serta kaca mata hitam yang sempat ia kenakan tadi.


"Iya iya, cerewet! Aku pasti datang kok!"


"Awas, jangan naksir ya!" Kia memberikan peringatan gadis di depannya.


"Cih, kenapa juga aku harus naksir dengan kekasihmu! Yang benar saja?" Mutia terlihat meremehkan sekali.


"Hei, kamu belum pernah bertemu. Aku yakin, kamu akan tergoda jika melihatnya."

__ADS_1


"Nggak mungkin! Mustahil!" teriak Mutia sembari langkahnya menjauh meninggalkan gadis itu.


__ADS_2