Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Dipercepat


__ADS_3

Hari ini Haidar pulang dari kantor lebih awal tidak seperti biasanya. Entah apa yang tengah di rasakan oleh laki-laki berusia 25 tahun itu hingga sejak tadi wajahnya terlihat sumringah saat memasuki pintu rumah utama.


Haidar melangkah cepat menuju ruang keluarga yang di sana sudah ada kedua orangtuanya tengah duduk santai.


"Yah, aku mau ngmong sesuatu." Haidar duduk di depan sang ayah yang masih memegang selembar surat kabar di tangan.


"Apa ada masalah sama pekerjaan?" Arya meletakkan surat kabar tadi dan memfokuskan diri pada putranya. Rengganis melirik sekilas lalu matanya kembali pada acara televisi di depan sana.


"Tidak, Yah. Ini tentang Mutia." Saat nama gadis itu di sebut kedua orangtuanya sontak saling pandang, menduga dengan pikirannya masing-masing kira-kira kabar apa yang tengah di bawa Haidar.


"Kenapa dengan Mutia? Apa Kia masih mengganggunya lagi?"


Kemarin setelah pertengkaran hebat yang berujung perkelahian di kantor Pratama Group, Arya langsung menegur Alex atas apa yang di lakukan putrinya. Sudah dapat di pastikan apa tanggapan Alex, laki-laki itu bahkan menghukum Kia dengan menyita mobil yang selama ini selalu dipakai Kia untuk ke kampus.


"Tidak, Yah. Setahuku sih Kia nggak pernah lagi ganggu Mutia."


"Baguslah. Ayah hanya kasihan dengan Mutia. Dia gadis baik, kenapa harus selalu mendapatkan cacian seperti itu." Arya sudah melihat secara langsung saat di acara pertemuan bisnis. Dan mengenai kejadian di lobby kemarin ia juga sempat melihat dari rekaman CCTV.


"Bukan itu yang mau aku bicarakan, Yah." Haidar mendadak gugup saat tiba-tiba teringat akan rencana awal menemui kedua orangtuanya tadi.


"Memang mau ngomongin apa sih?" tanya Rengganis menatap wajah sang putra.


"A–aku ingin segera mempercepat pernikahanku dengan Mutia."


"Hahhh!" Kedua orang tua itu langsung terkejut mendengar pengakuan Haidar. "Mempercepat gimana? Bukannya Mutia udah nolak kamu?"


Baru dua hari lalu laki-laki itu pulang dengan wajah sedih setelah mendapat penolakan dari Mutia. Hingga Rengganis akhirnya mendatangi rumah Mutia untuk memastikan secara langsung.


"Mutia akhirnya nyerah, Ma. Dia mau nerima aku!" Senyum terpancar dari wajah laki-laki muda itu. Rasanya baru kemarin hidupnya kurang bersemangat, harapannya seolah hancur saat Mutia menolaknya secara halus. "Jadi, aku mau pernikahanku di percepat aja."

__ADS_1


Arya terlihat berpikir sejenak. Sebenarnya bisa saja sih menyiapkan acara pernikahan itu, tapi masalahnya apa pihak Mutia sudah menyetujui rencana Haidar?


"Kau sudah membicarakan ini dengan Mutia? Lalu, apa jawaban gadis itu? Ayah hanya tidak ingin kau terlalu memaksanya."


Tanpa di sangka jawaban Arya malah mendapat cubitan kecil dari wanita di sebelahnya. "Mas, apa-apaan, sih?! Bukannya bagus kalau di percepat?"


"Iya, tapi, kan?"


"Kalau kamu keberatan biar aku aja yang urusin!" Wanita itu mulai mengancam. Kenapa sekarang Rengganis terlihat bersemangat sekali? Padahal dulu wanita itu bersikeras menolaknya.


"Maksudku bukan seperti itu, Sayang." Tak sadar Arya memberikan kecupan di pipi istrinya. Laki-laki muda di depan sana melengos, Haidar memalingkan wajah ke samping demi menghindari adegan romantis di depan matanya.


Kenapa aku merasa jadi obat nyamuk sih?!


"Astaga ...!" Wajah Rengganis langsung memerah menahan malu karena tanpa sengaja mempertontonkan adegan itu di depan Haidar.


"Maaf ya, Nak. Ayahmu emang suka kelewatan." Rengganis melotot kearah Arya yang malah terkekeh geli melihat ekspresi malu istrinya.


"Kenapa jadi Ayah? Memangnya siapa yang mau nikah?"


"Dih, Mas, kamu jangan gitu dong?!" protes Rengganis pada laki-laki paruh baya itu."


"Iya, iya , maaf."


Astaga, kini Haidar harus menghela napas pelan menyaksikan tingkah kedua orangtuanya. Niat hati ingin berbicara serius malah di suguhi dengan berbagai drama romantis yang sebenarnya belum layak ia saksikan.


"Kamu tenang ya, Mama pasti bantuin kamu."


Haidar lega mendengar sang mama menyanggupinya. Saat ini yang perlu ia lakukan hanyalah berbicara pada Mutia mengenai semua rencananya.

__ADS_1


Seminggu setelah pembahasan itu, Haidar benar-benar mengutarakan niatnya langsung pada keluarga Mutia. Awalnya mereka keberatan jika harus mempercepat pernikahan. Tapi, Haidar berhasil meyakinkan bahwa ia tidak ingin menunda lagi niat baiknya. Mutia dan orang tuanya juga setuju. Apalagi saat ini Mutia sudah mendapatkan langsung restu dari kedua orang tua Haidar.


Hari ini rencananya Haidar dan Mutia akan mengantarkan langsung undangan pernikahannya ke kediaman Aditama. Gadis itu terlihat ragu, karena sudah di pastikan Mutia akan bertemu lagi dengan Kia. Mutia masih merasa tak enak. Tapi, mau bagaimana lagi. Bukankah perasaan tidak bisa di paksakan? Dan, ia juga berhak bahagia dengan pilihannya, kan?


"Tak usah khawatir, ada aku di sini." Haidar menggenggam tangan Mutia, berusaha menenangkan calon istrinya yang terlihat cemas.


"Tapi, jika nanti Kia marah bagaimana?"


Haidar memegang kedua pundak gadis itu, lantas menatap lekat kedua bola matanya. "Semua akan baik-baik aja, percayalah."


Mutia tersenyum, tanpa ragu lagi tangannya mengetuk pintu rumah itu hingga sang pemilik terlihat membukanya.


"Ngapain kamu ke sini?!" Airin langsung menunjukkan sikap tak ramah. Apalagi melihat laki-laki yang saat ini bediri di samping Mutia. "Apa kalian sengaja ingin menunjukkan hubungan kalian di depan putriku? Lantas mentertawakan kesedihannya?" Jelas saja Airin marah. Orang tua mana yang rela melihat anaknya menderita.


"Maaf, Tante, kami sama sekali tidak ada maksud seperti itu." Melihat gelagat yang tak enak Haidar langsung maju dan mengambil alih pembicaraan. "Kami hanya ingin memberikan ini." Laki-laki itu mengambil sesuatu dari tangan Mutia, lalu menyerahkan pada perempuan di depannya.


"Apa ini?" Airin langsung meneliti sesuatu yang di berikan Haidar, matanya langsung melotot saat membaca tulisan sampul dari undangan yang di berikan laki-laki itu. "Keterlaluan kalian!!"


Airin langsung melempar undangan tersebut tepat di depan wajah Haidar. "Jadi ini balasanmu pada putriku? Dan, kamu gadis tak tahu diri!" tunjuk Airin pada wajah Mutia. "Ini balasanmu pada Kia?! Setelah apa yang Kia lakukan untuk kamu dan keluargamu, ini balasanmu?!"


Airin sungguh shock mengetahui jika Mutia dan Haidar akan segera menikah. Airin tidak bisa membayangkan betapa terlukanya Kia jika mengetahui kabar ini.


"Mama ada apa? Siapa yang datang?" Tiba-tiba saja Kia sudah ada di belakangnya. Gadis itu sangat terkejut melihat kedatangan Mutia dan laki-laki yang sangat ia cintai.


"Ngapain kalian ke sini?"


"Ma ... ada apa?" Lalu pandangannya beralih pada sesuatu yang ada di dekat kaki laki-laki itu. "Ini apa?"


"Kia, tunggu!" Airin langsung merebut undangan tadi agar tidak sampai di baca oleh Kia. Tapi terlambat, karena gadis itu sudah melihat sekilas nama yang tertera di bagian depan undangan tersebut.

__ADS_1


"Ka–kalian mau nikah?"


__ADS_2