
Setelah Yudi mengancam, ia meninggalkannya Lydia masih terbaring di atas ranjang. Pria itu terlihat masuk kamar mandi dan setelah setengah jam lebih keluar lagi dari dalam sana dengan keadaan yang rapi.
"Jangan coba-coba melarikan diri karena aku pasti akan menemukan mu!" ucap Yudi sebelum akhirnya pergi meninggalkan Lydia begitu saja.
Dengan tubuh yang sudah lemas Lydia berusaha bangkit. Mencari apapun yang berada di dekatnya untuk memutuskan tali demi bisa bebas dari ikatan itu.
Prakk
"Akkhhh ...!
Lydia sengaja menjatuhkan vas bunga yang ada di atas nakas bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh dari atas ranjang.
Meski sedikit sakit Lydia tidak peduli. Ia hanya ingin segera terbebas. Lyda tidak ingin mati di tempat itu apalagi membusuk di penjara.
"Berhasil!" Saat ikatan tali itu terlepas. Lydia bangkit dengan keadaan tubuhnya yang entah seperti apa. "Sial! Awas kamu, Yud!" memaki Yudi dengan kedua tangan yang mengepal.
Lydia bergegas melangkah kearah lemari dan mengambil apa saja barang berharga yang masih bisa ia manfaatkan.
Lydia berhasil melarikan diri dari apartemen dengan membawa ponsel serta uang yang tersisa di dalam tas. Saat ini yang Lydia pikirkan hanya lari, toh masalah uang Lydia bisa mendapatkan lagi dari pria lain yang nanti akan dirinya goda. Memesan taksi online, Lydia berniat untuk kabur dan menghilangkan jejak dengan pergi keluar kota.
Taksi yang Lydia tumpangi bergerak lumayan cepat. Mungkin hanya butuh waktu sekitar dua jam untuk tiba di tempat tujuan. Namun baru saja setengah perjalanan tiba-tiba taksi berhenti secara mendadak.
"Ada apa, Pak?" Lydia bertanya bingung pada sang supir.
"Di depan ada segerombolan pria, Nyonya. Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba mereka menghentikan taksi ini.
Belum juga hilang keterkejutannya, dua pria tadi sudah berteriak dan berdiri tepat di depan taksi yang di tumpangi Lydia.
"Keluar!"
"Keluar, cepat!"
Dua pria berbadan besar itu berteriak dan meminta Lydia untuk keluar.
"Nyonya tunggu di sini sebentar ya? Biar saya yang keluar."
"Nggak usah keluar, Pak! Tabrak aja mereka!" Lydia justru memberikan usulan yang membuat supir taksi tadi memandangnya penuh heran.
"Kalau saya tabrak mereka bisa mati, Nyonya! Saya bisa masuk penjara," balas supir taksi itu.
__ADS_1
"Biarin aja mereka mati, siapa suruh berdiri di depan!"
Supir taksi tadi hanya menggeleng pelan mendengar pernyataan dari penumpangnya.
"Nyonya tunggu di sini saja, tolong jangan keluar."
"Dasar keras kepala!" Lydia mengumpat kesal karena supir malah memaksa keluar tanpa mempedulikan ucapannya.
"Kau hanya cukup diam! Kami tidak akan melukaimu!" Salah satu dari pria itu langsung menyudutkan supir tadi ke arah badan mobil.
"Tu–an, apa salah saya!"
"Saya bilang diam!"
Lalu pria satu lagi berjalan mendekati taksi, membuka paksa pintu kendaraan itu dengan sebelah tangannya.
Di dalam sana Lydia sudah sangat ketakutan. Kenapa sih baru saja terlepas dari cengkeraman harimau, kini ia harus di hadapkan lagi dengan permasalahan lain.
"Cepat keluar!" tarik pria itu dengan paksa.
"Kalian mau apa? Aku nggak punya apapun! Tolong jangan apa-apakan saya!" Lydia memilih menyerah karena dia memang tidak membawa barang berharga apapun selain ponsel dan sedikit uang.
"Lalu, kalian mau apa?" Batin Lydia sudah berkecamuk, memikirkan dua pria tadi yang pasti hendak ...
"Masuk!" Pria tadi mendorongnya hingga mau tak mau Lydia masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu. Sedangkan supir taksi tadi di lepaskan begitu saja.
"Apa kabar?" ucap seorang laki-laki yang duduk di dalam mobil.
.
.
.
Mutia memaksa untuk bertemu Kia meski Mama Naila dan Haidar terus membujuknya. Entah apa yang ingin gadis itu lakukan hingga bersikeras untuk bertemu dengan orang yang telah melukainya.
Menggunakan kursi roda Mama Naila dan Haidar akhirnya membawa Mutia ke kantor polisi. Awalnya Mutia bingung kenapa mamanya dan Haidar membawanya ke tempat tersebut, hingga sesampainya di sana Mutia di kejutkan dengan keadaan Kia yang berada di dalam sana yang sungguh sangat menyedihkan.
"Kia ..." Mutia tidak bisa membendung air matanya saat melihat bagaimana kondisi Kia saat ini.
__ADS_1
"Mu–tia ...!" Gadis itu mendongak. Kia yang awalnya meringkuk di sudut ruangan kini mulai bangkit dan mendekat kearah Mutia. "Kamu tak apa-apa, kan?" Bahkan dalam keadaan dirinya yang seperti ini Kia masih peduli dengannya.
"Ma, apa yang terjadi? Kenapa Kia bisa ada di sini?" tanya Mutia dengan tatapan mengarah pada wajah sang mama.
"Sadar, Mutia, dia itu udah nyakitin kamu!" Naila berusaha menahan langkah Mutia yang hendak menghampiri gadis di dalam sel tahanan itu. Mutia susah payah menggerakkan kursi rodanya sendiri.
"Maksud Mama apa?" Mutia menggeleng cepat. Ia tidak menyangka jika keadaan malah menjadi seperti ini. "Tolong bebasin Kia, Tuan." Beralih pada laki-laki di sebelahnya.
"Mutia ...?" Kia memanggil-manggil. Tangannya juga berusaha menggapai tubuh Mutia.
"Mutia, sadar. Dia yang udah nyakitin kamu. Dia juga udah culik kamu, kan?"
"Perempuan itu yang jahat, Tante. Dia yang udah nyakitin, Mutia. Di–dia juga mau bunuh Mutia." Kia juga bersuara dengan terbata-bata dan napas tersendat, mengatakan kesaksiannya dalam kejadian itu.
Di depan polisi akhirnya Mutia memberikan keterangan yang sebenarnya mengenai kejadian yang menimpanya di dalam gedung itu.
"Bukan Kia pelakunya, Pak! Tolong bebasin sahabat saya." Gadis itu mengiba, bahkan Mutia tidak lagi mempedulikan kondisinya yang belum sepenuhnya pulih.
"Apa yang Anda katakan benar?"
"Saya yakin, Pak! Bukan Kia yang mau nyakitin saya. Tapi ...?" Tubuh Mutia kembali gemetar mengingat seperti apa wajah perempuan yang hendak menyakitinya. "Di–a jahat ..." ucap Mutia lagi.
"Nak ..." Naila langsung memberikan pelukan pada Mutia. Wanita itu tahu jika kondisi putrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Dia mau balas dendam, Ma. Dia sangat membenci Mama!" Dalam pelukan Naila gadis itu terisak. Mutia berulangkali menyebut kata perempuan hingga membuat Naila dan Haidar kebingungan.
"Perempuan?" Naila berpikir keras mengenai ucapan Mutia. Sedangkan Haidar yang tidak tahu sama sekali hanya mampu diam dan mendengar apa yang gadis itu ucapkan.
"Dia pelakunya, Pak!" Entah dari mana datangnya tiba-tiba seseorang datang dan menyeret perempuan yang sangat Naila kenal.
"Kamu ...?"
"Maaf, Anda siapa?"
"Dia pelaku Sebenarnya, Pak! Dia yang menculik Mutia dan berusaha menyakitinya!" ungkap laki-laki itu.
"Bohong, Pak! Bu–bukan saya pelakunya!" Perempuan itu berusaha membelanya diri.
Sedangkan Mutia yang melihat wajah perempuan itu mendadak shock. Bayangan saat ia di sekap di dalam gudang kosong dan pengab itu masih terlintas di kepalanya.
__ADS_1
"Ma ... dia yang udah nyakitin aku ..."