Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Tentang Video


__ADS_3

"Bagaimana kondisi putri saya, Dokter?" tanya Naila dengan wajah cemas. Wanita itu merasa sangat bersalah karena tadi malah asik meladeni Yudi dan mengabaikan Mutia.


"Kondisi pasien belum sepenuhnya pulih, Nyonya. Ada baiknya jangan terlalu banyak orang dulu di ruangan ini. Takutnya akan menggangu waktu istirahat putri Anda." Bukan hanya menjelaskan mengenai kondisi fisik pasien, dokter juga berharap trauma yang di alami gadis itu akan segera hilang.


Dokter keluar dari ruangan setelah melihat kondisi gadis itu tenang. Naila lemas seketika mendengar penjelasan dokter tadi. Wanita itu menatap wajah pucat putrinya yang terlihat menyedihkan sekali.


"Anda siapa?" Naila baru sadar jika sejak kejadian tadi ada seorang laki-laki asing yang berada di ruangan itu. Ia yakin sekali jika laki-laki yang berdiri di depannya bukanlah orang biasa, terlihat dari penampilannya yang sangat rapi.


"Maafkan saya, Nyonya. Maaf kalau saya lancang sudah masuk ke ruangan ini tanpa ijin." Laki-laki itu menunduk hormat pada wanita paruh baya di depannya.


"Apa Anda teman dari putri saya?" Meneliti penampilannya lagi. Sejak kapan Mutia punya teman setampan ini? batin wanita itu.


"Saya ...." Belum juga Haidar menyelesaikan kalimatnya, terdengar pintu ruangan itu terbuka dari luar. Nenek Sri masuk bersama dua laki-laki paruh baya yang wajahnya tidak asing lagi.


"Ayah ....?" ucap Haidar dengan raut wajah bingung. Sedangkan laki-laki di depan sana juga terlihat terkejut dengan sosok laki-laki muda yang sudah lebih dulu berada di ruangan itu.


Tadi laki-laki ini memanggil Tuan Arya dengan sebutan apa, Ayah? Aku tak salah dengar, kan?


"Haidar ... kau ada di sini?" tanya Arya pada anak lelakinya.


"Jadi, Anda dan Tuan Arya ...?" Naila baru paham siapa sosok laki-laki yang sudah sejak tadi ada di ruangan rawat putrinya.


"Dia putraku, Nyonya." Arya menjelaskan hubungannya dengan laki-laki di depan sana.


"Oh, maaf. Maafkan saya Tuan Arya. Saya tidak tahu kalau dia putra Anda." Naila menggigit bibir bawahnya pelan. Merasa bodoh sekali karena tidak bisa mengenali laki-laki itu. Padahal wajah mereka sangat mirip.


"Tak apa, Nyonya. Memang sebelumnya kita belum pernah bertemu, kan?" Haidar memakluminya. Ia memang belum sempat bertemu apalagi berkenalan dengan orang tua Mutia.


"Bagaimana keadaan Mutia, Nyonya? Apa sudah ada perkembangan lagi?" Arya beralih menanyakan kondisi Mutia demi menghindari kecanggungan yang terjadi di ruangan itu.


"Sudah lebih baik, Tuan. Hanya saja ..." Wanita itu kembali melirik kearah putrinya yang saat ini tengah beristirahat. "Tadi sempat terjadi kekacauan, hingga saya malah sibuk dan membuat Mutia terjatuh," jelas wanita itu dengan wajah penuh penyesalan.


"Apa? Mutia terjatuh?" Arya langsung mendekat kearah ranjang milik gadis itu dan melihat keadaannya.. "Tapi, sekarang sudah baik-baik saja, kan?"

__ADS_1


"Iya, Tuan" terima kasih karena sudah peduli pada kami." Rasanya Naila berhutang banyak sekali pada laki-laki itu. Entah bisa atau tidak membalasnya suatu hari nanti.


"Tidak masalah, Nyonya. Saya yang seharusnya berterimakasih. Sebab saya Mutia jadi seperti ini."


Dua laki-laki lain yang berada di ruangan itu hanya mampu diam. Alex sendiri sejak tadi memilih bungkam dan menemani Arya. Sedangkan Haidar, laki-laki muda itu masih tak mengerti dengan keberadaan ayahnya di ruangan itu? Dan tadi ... menyelamatkan? Maksudnya?


"Om, sebenarnya ada apa? Kenapa Ayah juga ada di sini? Dan siapa yang Ayah maksud tadi?" Penasaran Haidar memilih bertanya pada Alex. Laki-laki yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajahnya.


"Ayahmu yang menyelamatkan Mutia kemarin. Tapi, saat kami tengah sibuk menghubungi polisi, salah satu berandal itu berhasil melukai Mutia."


"Apa?! Jadi, ini alasan Ayah kemarin pulang terlambat?" Haidar baru tahu alasannya sekarang. Tapi, kenapa justru sang ayah tidak langsung memberitahukan mengenai kejadian ini?


"Mamamu sengaja tidak di beritahu karena takut khawatir." Seolah tahu isi pikiran laki-laki muda itu, Alex langsung saja menjelaskannya.


"Jadi, Ayah dan Om yang menyelamatkan Mutia?" tanya laki-laki itu lagi.


"Ya, kemarin ayahmu kebetulan tengah bersama Om waktu kejadian itu. Kami tak sengaja melihat Mutia yang tengah di seret oleh tiga orang pria asing!" jelas Alex. Tapi, laki-laki itu sengaja mengecilkan volume suaranya. Selain takut mengganggu istirahat gadis itu, Alex juga tidak ingin sampai orang tua Mutia mendengarnya.


"Video? Maksud Om apa?" Haidar sama sekali tidak mengerti video apa yang laki-laki itu maksud.


"Video mengenai pengeroyokan–mu waktu di danau. Apa kau juga tahu Mutia memiliki rekaman video itu?"


"Ti–tidak! Aku memang mengenali gadis itu adalah Mutia. Tapi, aku tak pernah tahu kalau Mutia sempat merekam kejadian itu?"


Alex tahu sekarang kenapa Haidar memilih bungkam, ya karena memang dia tidak pernah tahu adanya video rekaman di ponsel Mutia.


Oh ya, ponsel. Haidar baru mengingat benda itu.


"Apa ponsel Mutia di pegang Om?" tanya Haidar memastikan. Karena sejak saat ia menghubungi hanya ada suara operator yang menjawabnya.


"Ya. Tapi, ponsel itu sudah hancur."


"Hancur?"

__ADS_1


"Iya, para penjahat itu berusaha menghilangkan bukti dengan menghancurkan ponsel milik Mutia."


Tunggu, menghilangkan bukti? Haidar seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa.


"Om, ini sebenarnya ada apa sih? Ponsel, hancur, menghilang bukti. Maksudnya gimana?"


"Orang yang hendak melecehkan Mutia ternyata orang yang sama dengan yang melakukan pengeroyokan padamu!" Alex terpaksa menjelaskan sedetail mungkin. Berharap laki-laki itu segera paham dan tidak bertanya lagi. Ia merasa tidak enak jika harus terus bisik-bisik sementara ada orang lain serta neneknya Mutia di ruangan itu.


"Brengs*k!!" Haidar baru paham sekarang. Sialnya kenapa dari dulu ia tidak pernah berpikir sejauh itu? Dan tidak berusaha melindungi Mutia. Padahal Mutia satu-satunya saksi yang melihat kejadian di pinggir danau kala itu.


"Apa mereka sudah tertangkap, Om? Mereka sudah mendapatkan hukuman yang setimpal, kan?" Kali ini Haidar pastikan jika mereka tidak bisa berbuat semena-mena lagi. Mereka harus mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya.


"Sudah. Tapi, mereka belum tertangkap semua."


Haidar sedikit lega mendengarnya. Tapi, ia tetap khawatir pada para kawanan penjahat yang masih belum tertangkap. Takut jika mereka berusaha menuntut balas lagi pada Mutia.


"Sebenarnya kau punya masalah apa dengan mereka? Kenapa mereka sampai berusaha membunuhmu?"


Tidak ada asap jika tak ada api. Alex merasa kawanan pria itu seolah punya dendam pada Haidar. Tidak mungkin saja tiba-tiba para pria itu menghajar Haidar tanpa sebab.


"Entahlah ... aku pun sebenarnya bingung kenapa pria itu terlihat begitu membenciku," ungkap Haidar dengan bingung.


"Pria? Pria mana yang kau maksud?"


"Salah satu pria di video itu. Mungkin yang lain adalah teman-temannya."


"Kau yakin tak punya masalah dengannya?" tanya Alex sekali lagi. Laki-laki itu hanya ingin memastikan saja.


Haidar mengangguk yakin. Ia hanya tahu jika pria itu selalu memasang wajah permusuhan setiap kali bertemu dengannya.


"Lantas, kau kenal di mana? Apa dia salah satu rekan bisnismu?"


"Sebenarnya dia ...."

__ADS_1


__ADS_2