Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Kecurigaan Laura


__ADS_3

"Mama, ini beneran, kan? Mutia mau nikah sama laki-laki itu?" Kania berteriak senang saat tak sengaja menemukan undangan pernikahan Mutia di atas meja.


"Iya, beneran. Bahkan wanita itu udah datang ke sini menemui papamu buat minta jadi walinya nanti."


"Jadi, beneran Mutia mau nikah sama bos?" Gadis itu bertanya lagi. Hingga membuat fokus sang mama buyar entah ke mana.


"Peduli amat, sih? Bukannya kamu senang nggak ada yang ganggu Yusuf lagi?" Laura menghembuskan napas berat. Lalu sibuk lagi dengan ponsel di tangannya.


"Senang sih, Ma. Tapi tetap aja aku ngerasa kalah. Kenapa gadis kampung itu bisa dapetin bos, lebih tampan pula dari Mas Yusuf." Mulai membandingkan. Padahal Yusuf juga tak kalah tampan dari calon suami Mutia.


Namun hanya di balas dengan helaan napas berat dari sang mama.


"Mama Kenapa? Mama sakit?" Kania beranjak duduk di dekat perempuan itu. "Mama baik-baik aja, kan?"


"Sebenarnya papamu ke mana sih, Kania? Kenapa belakangan ini sering pulang telat?" Laura resah saat Yudi seringkali pulang malam, padahal menurut Kania pekerjaan kantor sedang tidak terlalu banyak.


"Mana aku tahu, Ma. Mungkin Papa ada urusan lain." Gadis itu mengedikkan bahu pelan. Yang Kania tahu setiap hari papanya keluar kantor bahkan sebelum dirinya pulang. Tapi, saat Kania tiba di rumah justru papanya belum juga sampai.


"Dan, Mama lihat kenapa bulan ini pengeluaran besar sekali?" Apa ada sesuatu hingga kalian memakai dana perusahaan?" Laura baru saja mendapatkan salinan laporan kantor dari asisten kepercayaannya. Dan, ia sungguh terkejut dengan pengeluaran yang nominalnya cukup besar.


"Oh itu ...." Kania mengingat perkataan Ayah Yudi beberapa hari yang lalu. Yudi mengatakan jika ia tengah sibuk membangun bisnis baru dengan sahabatnya.


"Kalau jelas sih, Mama nggak masalah. Tapi, kalau di berikan sama keluarga Mutia pokoknya Mama nggak rela!"


"Nggak, Ma. Kemarin Papa udah bilang sama aku kok. Uang itu bukan di berikan sama keluarga Mutia," jelas Kania yang akhirnya bisa membuat sang mama bisa bernapas lega.


"Tapi aku masih nggak rela, Ma, kalau gadis kampungan itu bahagia. Sedangkan hubunganku dengan Mas Yusuf masih kaya gini." Kania menyandarkan tubuhnya pada sofa, pikirannya menerawang jauh pada sosok Yusuf yang saat ini belum juga memaafkannya.


"Lalu mau kamu apa? Mau rebut calon suami Mutia?" Laura malah terlihat santai menanggapi ucapan putrinya. Bagi Laura tak masalah gadis itu akan menikah dengan siapa, yang terpenting tidak sampai mengganggu kebahagiaan keluarganya.


"Gimana kalau aku buat pernikahannya hancur lagi?" Tiba-tiba ide licik itu muncul dalam benak Kania. Sepertinya akan menarik jika sampai gagal menikah untuk kedua kali.


"Udah ah, jangan aneh-aneh. Nanti papamu tahu bisa marah besar, Kania. Lagipula jangan buat masalah sama keluarga Pratama, Kania. Mereka menakutkan kalau udah kasih ancaman."

__ADS_1


"Tenang, Ma. Ini hanya rencanaku. Tapi, bukan aku yang mau melakukannya."


"Hahh! Lalu?"


.


.


.


Yudi menggulingkan tubuh ke samping setelah merasakan pelepasannya yang kesekian kali. Pria itu menatap wajah Lydia yang masih juga menikmati sisa-sisa percintaannya sore ini.


"Mungkin seminggu ke depan aku tak bisa mendatangimu." Yudi merapikan anak rambut Lydia yang tak sengaja menutupi wajah cantik wanita itu. Lydia mengambil selimut di sebelahnya untuk menutupi tubuh polos mereka.


"Kenapa? Apa kamu ingin menghabiskan seluruh waktumu dengan istrimu?" Saat ini harapan Lydia hanya Yudi. Jadi, ia tidak akan melepasnya begitu saja. Setelah memutuskan meninggalkan apartemen milik Broto, Lydia juga membuang semua kontak dengan Fandi–salah satu pria simpanannya.


Lydia merasa beruntung, kemarin setelah Yudi memergokinya dengan Broto di apartemen, pria marah sekali. Bahkan Lydia berpikir Yudi akan meninggalkannya begitu saja.


Tapi Lydia tak kehilangan akal. Ia memang pandai merayu sih. Dan terbukti. Setelah drama panjang di bubuhi sedikit air mata palsu, akhirnya Yudi kembali luluh dan mau memaaafkan.


"Kenapa pikiranmu buruk sekali?" Sekali lagi Yudi mengecup bibir Lydia, menyesapnya sebentar hingga perempuan itu kehabisan napas.


"Yud!" Menepuk dada milik Yudi. Buru-buru meraup oksigen banyak-banyak untuk mengisi paru-paru.


"Kenapa kau lucu sekali?" Yudi malah tergelak melihat tingkah Lydia yang terlihat menggemaskan di matanya.


"Aku hanya tidak bisa lama-lama jauh darimu." Lydia kembali melancarkan aksi, menggoda serta merayu Yudi agar semakin terikat padanya.


"Aku janji, ini hanya sementara. Seminggu kedepan aku akan sibuk mengurus pernikahan putriku."


"Kania ...?"


"Bukan."

__ADS_1


Lydia di buat terkejut. Bahkan ia tak tahu jika Yudi memiliki anak selain Kania.


"Putri sulungku." Menjawab rasa penasaran Lydia.


"Di mana dia tinggal? Kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku?" tanya Lydia penuh penasaran. "Apa aku boleh datang untuk melihat putrimu menikah?" tanya Lydia dengan penuh harap.


"Kau yakin tak akan membuat keributan?" Yudi hanya tidak ingin ada keributan di acara pernikahan Mutia nanti. Lagipula Yudi harus memastikan jika Laura tidak akan sampai curiga dengan kedatangan Lydia. Bagaimana pun ia harus bisa menyimpan rapat hubungan terlarang itu.


"Aku mencintaimu, Lydia! Sungguh mencintaimu!" bisik Yudi membelai wajah Lydia lagi. Tanpa sadar Yudi kembali mengulang masa-masa itu, di mana ia banyak menghabiskan waktu dengan perempuan lain di banding dengan istrinya sendiri.


Jika dulu Yudi berselingkuh dengan Laura dan menduakan Naila. Kini Yudi menghianati Laura karena asik berselingkuh dengan Lydia.


"Aku harus bisa mengambil hati Yudi. Kalau perlu aku akan mengambil Yudi dari keluarganya. Ck! Persetan dengan istri dan anaknya!" Lydia mempunyai rencana licik untuk memiliki Yudi seutuhnya.


"Ya, aku janji." Lydia memeluk pinggang Yudi, membenamkan sesuatu pada tubuh pria itu.


"Kau membuat sesuatu di bawah sana tidak nyaman, Lydia." Yudi gusar sendiri saat merasakan miliknya mulai menegang. Padahal tadi rencananya hanya ingin bermain-main sebentar, lalu pergi ke rumah Mutia untuk melihat sudah sampai di mana persiapan untuk acara pernikahan.


"Apa? Apa sih?!" Lydia malah semakin menggoda Yudi.


"Bagaimana kalau kita ulangi lagi permainan tadi? Bukankah nanti cukup lama kita tak akan ketemu?!" Lydia terang-terangan menawarkan pada Yudi.


"Apa kau tengah menggodaku?" tanya Yudi tepat di samping telinga Lydia. Hembusan napas Yudi terasa hangat, menyapu bagian wajah Lydia yang masih di liputi gairah.


"Kenapa? Bukankah kamu sangat suka aku goda?" Lydia mengerlingkan mata nakal.


"Kau memang selalu bisa membuatku gila, Lydia!" Yudi bergerak cepat, mengambil posisi lagi untuk memulai permainan seperti tadi.


"Ya, ya, aku ...."


Suara Lydia langsung hilang karena Yudi sudah membungkamnya dengan ciuman lagi. Mereka mengulangnya lagi, dan lagi. Hingga Yudi merasa tenaganya terkuras habis. Ia menarik diri dan mengayun langkah menuju kamar mandi.


"Ambillah kartu undangan di tas kerjaku," tunjuk Yudi sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


Dengan masih menggunakan selimut yang melilit tubuh, Lydia melangkah mendekati tas kerja milik Yudi, membukanya lalu menarik selembar undangan yang terselip di antara berkas kantor.


"Ini bukannya .....?"


__ADS_2