
Seminggu setelah semua permasalahan selesai, mereka sepakat kembali menggelar acara pernikahan Mutia dan Haidar. Tapi, kali ini acara di adakan dengan sederhana, tidak lagi gedung mewah atau make up artis seperti persiapan pernikahan dulu. Hanya kerabat dekat serta beberapa teman dari kedua keluarga yang turut ikut menjadi saksi pernikahan itu.
Haidar sudah siap dengan stelan jas berwarna putih senada dengan bawahnya. Sedangkan Mutia sendiri pun sama, kebaya berwarna putih dengan make natural tapi tidak mengurangi kecantikan di wajahnya.
Keduanya sudah duduk beriringan. Di depan ada Papa Yudi dan Ayah Arya, serta seorang penghulu yang akan menikahkan mereka. Haidar mengambil napas panjang demi meredam rasa gugupnya sejak tadi. Dengan sekali tarikan, akhirnya Haidar bisa mengucapkan akad dengan suara lantang dan jelas.
"Sah ...?"
"Sah ...!" Semua menjawab serentak. Di susul senyum bahagia dari orang-orang yang berada di ruangan itu. Suasana terasa meriah meski pernikahan hanya di gelar di rumah Mutia dan dengan sangat sederhana.
Setelahnya satu persatu orang memberikan selamat pada kedua pengantin secara bergantian.
Sementara di sudut lain Naila tengah berbicara serius dengan Yudi setelah menyalami beberapa tamu yang pamit pulang. Yudi meminta menyingkir demi menghindar dari kerabat yang masih berada di dalam ruangan
"Hubungan kita hanya sebatas orang tua dari Mutia, tidak lebih, Mas!" ucap Naila menegaskan. Entah kenapa Naila melihat sikap Yudi berbeda sekali setelah kejadian di kantor polisi waktu itu.
"Tapi, Nai, bukankah kita bisa kembali seperti dulu? Menjadi keluarga yang utuh lagi?"
"Cih!" Naila berdecih tak suka. "Kamu bilang apa? Kembali?" Wanita itu terkekeh pelan menanggapi ucapan Yudi baru saja.
"Iya. Apa kita tidak bisa memulainya dari awal lagi?"
"Maksudmu, setelah Laura membuangmu, begitu?"
Wajah Yudi memerah seketika. Pria itu terlihat gugup, bahkan untuk sekedar menatap wajah Naila pun rasanya tidak memiliki keberanian lagi.
"Bu–bukan seperti itu, Nai ... aku hanya ingin meminta maaf padamu," ucap Yudi berusaha mengalihkan sedikit pembicaraan.
"Aku udah lama maafin kamu, Mas."
"Benarkah?" tanya Yudi dengan binar mata bahagianya.
Naila mengangguk pelan.
"Jadi, apa kita bisa memulai semuanya dari awal?"
"Maaf, Mas, aku memang udah maafin kamu. Tapi .... kita nggak mungkin bisa kaya dulu lagi," ungkap Naila dengan jelas dan tegas.
__ADS_1
"Kenapa, Nai? Kenapa tidak mungkin? Bukankah kau sudah memaafkan aku?" desak Yudi menuntut jawaban dari Naila.
"Ya, karena sebentar lagi aku akan menikah."
"Menikah?"
"Ya, bulan depan kami akan melangsungkan pernikahan!" ungkap seorang laki-laki yang baru saja datang dan berdiri di samping Naila.
"Kau ....!" Yudi mengepalkan kedua tangannya membentuk tinju. Kenapa saat ia berniat kembali lagi dengan mantan istrinya justru datang laki-laki lain?
"Kenapa? Apa kau keberatan?" Dika hanya melirik sekilas, lalu pandangan beralih pada wanita di sebelahnya.
"Kamu tidak keberatan kalau kita menikah bulan depan, kan, Nai?"
Niat hati hanya ingin membohongi Yudi, Naila justru terjebak dengan ucapannya sendiri. Padahal Naila sama sekali belum memikirkan perihal rencana pernikahannya dengan Dika.
"I–iya, Mas. Aku nggak keberatan kok."
Yudi semakin kesal saja mendengar jawaban Naila yang seolah tengah memamerkan kebahagiaannya.
"Apa?! Jadi beneran, Mama mau nikah sama Om Dika bulan depan?!" Entah sejak kapan tiba-tiba Haidar dan Mutia sudah berdiri di belakang sang mama dengan tatapan yang menyelidik. Sepasang pengantin baru itu lantas lebih mendekat lagi kearah ketiganya demi mendengar lebih jelas lagi apa yang di bicarakan oleh mereka.
.
.
.
Dunia Yudi benar-benar hancur saat itu juga. Bukan hanya karena penolakan yang ia dapatkan dari Naila. Tapi, saat ini Yudi sudah tidak memiliki apa-apa lagi setelah Laura mencopot jabatannya sebagai pemimpin dari perusahaan yang selama ini Yudi kelola.
Laura benar-benar murka setelah mengetahui perselingkuhan Yudi dengan Lydia. Perempuan itu pun langsung mengambil apapun yang pernah Keluarganya berikan pada Yudi.
Kini Yudi tinggal di apartemen sederhana hasil jerih payah saat ia masih bekerja sebagai seorang fotografer. Beruntung dulu ia tidak jadi menjualnya, hingga sekarang bisa Yudi manfaatkan sebagai tempat tinggal setelah dirinya di usir dari rumah keluarga Wilson.
Prank
Prank
__ADS_1
Suara gaduh yang terdengar dari dalam apartemen memaksa Yudi untuk cepat berlari dan membuka pintu tersebut. Yudi langsung masuk dan mendapati tempat tinggalnya sudah berantakan bak kapal pecah.
"Astaga, apa ada maling yang masuk apartemenku?!" Yudi bertanya pada dirinya sendiri saat melihat beberapa barang sudah hancur dan berserak di atas lantai.
Cepat-cepat ia membuka pintu kamar dan ...
"Laura, apa yang kau lakukan?!" teriak Yudi mendapati istrinya tengah mengacak-acak isi lemari pakaiannya. Laura melempar seluruh barang di dalam lemari itu hingga tidak tersisa sedikitpun.
"Apa? Aku cuma mau cari barang berhargaku, siapa tahu ada yang kamu sembunyikan di sini!" ucap perempuan itu tanpa mengalihkan perhatiannya pada Yudi.
"Laura, kau gila ya?! Aku tidak menyembunyikan apapun darimu!" tegas Yudi pada perempuan itu.
"Kamu pikir aku percaya gitu aja setelah apa yang kamu lakukan ke aku?! Nggak!" Laura tidak peduli meski Yudi berusaha menghalanginya untuk tidak menghancurkan barang-barangnya lagi.
"Berhenti, Laura! Berhenti!!" Yudi frustasi melihat aksi Laura yang yang semakin menjadi. Ternyata bukan hanya isi lemari yang menjadi sasarannya, tapi Laura juga memeriksa hampir seluruh barang yang ada di ruangan itu.
"Ini milikku, Yud!" Saat mendapati kunci mobil yang Yudi lupakan begitu saja di atas meja.
"Jangan macam-macam, Laura! Itu barang berhargaku satu-satunya!" Tentu saja Yudi tidak bisa tinggal diam karena hanya tinggal mobil itulah barang berharganya. Rencananya nanti Yudi akan menjual mobil tersebut untuk keperluan hidup sembari mencari pekerjaan lagi.
"Kamu beli mobil ini menggunakan uang milikku, kan? Jadi, artinya mobil ini milikku, Yud!" balas Laura tak mau kalah.
"Itu satu-satu barang milikku, Laura! Tolong kembalikan!"
"Aku nggak peduli, Yud! Saat kamu hianatin aku, artinya kamu bukan siapa-siapa aku lagi!" tegas Laura dengan sorot mata tajam.
"Kembalikan, Laura! Tolong, jangan sampai aku memaksamu," bujuk Yudi pada perempuan itu.
"Hahhh, memaksa? Hahaha ....!" Laura justru tergelak kencang mendengar ancaman Yudi. "Kamu yakin berani maksa aku?"
"Kau ....! Jangan sampai kesabaranku habis, Laura! Cepat berikan!" Yudi berdiri tegak dengan tatapan nyalang. Saat Ini Yudi tidak peduli lagi siapa perempuan di depannya.
Persetan siapa kau sekarang, Laura!
Laura hanya tersenyum mengejek padahal Yudi sudah terlihat sangat emosi sekali.
"Bodyguard?!"
__ADS_1
"Ya ... Nyonya?" Dua pria berbadan besar muncul dari arah luar. Yudi pun kebingungan sendiri sejak kapan ada dua pria itu? Padahal tadi ia tidak melihatnya sama sekali.
"Kenapa? Kamu takut, Yud?!"