Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Hadiah Untuk Mutia


__ADS_3

"Ini apa, Tuan?" tanya Naila pada laki-laki paruh baya di depannya. Ia meneliti paper bag pemberian Arya yang masih ia pegang di tangan.


"Itu ponsel. Tolong berikan pada Mutia nanti saat dia sudah sadar."


"Eh, tidak perlu repot-repot, Tuan. Mungkin ponsel Mutia hilang saat kejadian kemarin." Naila juga tidak terlalu peduli dengan benda itu. Terpenting Mutia bisa selamat dari kejadian buruk yang menimpanya.


"Sama sekali tidak repot, Nyonya. Anggap saja itu sebagai ungkapan terima kasih dari saya." Arya sengaja tidak memberitahukan ponsel milik gadis itu yang telah hancur karena ia masih memerlukannya sebagai bukti untuk di serahkan pada polisi.


"Kenapa Anda yang berterimakasih? Harusnya kami–lah yang berterimakasih pada Anda." Naila malahan bingung kenapa lelaki itu seolah berhutang budi sekali pada putrinya, padahal jelas Arya yang telah menyelamatkan Mutia.


"Tak apa, Nyonya. Saya sengaja memberikannya sebagai hadiah karena Mutia sudah bekerja dengan baik di perusahaan kami." Mungkin dengan cara itu orang tua Mutia mau menerimanya.


Dan benar wanita itu langsung menerimanya. Mengucap terimakasih berkali-kali untuk semua kebaikan yang dirinya berikan.


Tak lama setelah obrolan mengenai ponsel selesai, dari arah ranjang terlihat tangan Mutia bergerak-gerak. Gadis itu mengerjapkan mata perlahan, menyesuaikan sorot lampu di ruangan itu.


"Ma ..." Gadis itu berbisik pelan, memanggil sang mama untuk segera mendekat kearah.


"Sayang ... kamu udah bangun? " Naila senang sekali melihat putrinya sudah sadar. Ia membantu gadis itu untuk duduk dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Mutia menatap sekeliling ruangan yang terlihat lengang, berbeda sekali dengan tadi saat sebelum dirinya terjatuh.


"Papa udah pulang, Nak." Seolah tahu apa yang di pikirkan putrinya.


Mutia hanya menggeleng pelan membalas ucapan sang mama.


"Maafin Mama ya?" Naila mengecup puncak kepala gadis itu lembut. Merasa sangat bersalah sekali atas kejadian yang di alami Mutia tadi.


"Bagaimana keadaanmu, Mutia?" Suara Arya terdengar. Sosok laki-laki berwibawa itu sudah berdiri tepat di sampingnya. "Maaf, jika suaraku tadi mengganggumu?" ucap Arya sedikit tak enak.


"Ti–tidak! Tidak sama sekali, Tuan!" Mutia menggeleng cepat. Ia bangun memang bukan karena terganggu oleh suara laki-laki itu. Tapi, mungkin efek obat yang di berikan dokter tadi sudah habis.


"Oh ya, tadi Tuan Arya memberikan hadiah ini untukmu." Naila meraih paper bag pemberian Arya dan menyodorkannya kearah Mutia.


"Hadiah?"

__ADS_1


"Ya, hadiah untukmu karena sudah bekerja dengan baik." Laki-laki itu yang menyahut.


"Tapi ... ini tak perlu, Tuan." Kedua mata gadis itu terlihat berkaca-kaca saat setelah melihat isi dari paper bag itu. Ponsel keluaran terbaru? Bahkan Mutia tidak pernah membayangkan bisa memilikinya.


"Cepatlah sehat, karena banyak pekerjaan kantor yang menunggumu." Arya tersenyum kecil, membuat gadis di depan sana buru-buru menyeka air mata yang hampir terjatuh.


"Terima kasih, Tuan.


Sementara dua laki-laki memilih melanjutkan obrolannya di luar ruangan. Alex maupun Haidar tengah membahas mengenai pria yang melakukan aksi pengeroyokan di pinggir danau kala itu.


"Kau yakin tak memiliki masalah apapun padanya?" Alex jelas tak percaya. Barangkali Haidar melakukan kesalahan hingga pria itu begitu dendam dan berniat melenyapkannya.


"Benar, Om. Aku hanya kenal karena dia satu kampus denganku. Selebihnya aku tak tahu karena memang kami tidak pernah terlibat obrolan apapun."


"Lantas kenapa kau malah diam padahal kenal salah satu dari mereka?" Alex di buat bingung dengan jalan pikiran laki-laki itu, kenapa malah membiarkan kejahatan berkeliaran bebas di luar sana. "Apa kau takut padanya?"


"Bukan seperti itu, Om. Aku pikir kejadian itu sudah berlalu. Jadi aku tak berniat membawa kasus ini ke polisi. Lagipula, aku baik-baik saja, kan?"


Alex mendesah berat. Salah jika menyepelekannya. Kejahatan tetaplah kejahatan. Mau besar ataupun kecil tetap saja ada konsekuensinya.


"Iya, Om, maaf." Nyatanya bukan kata itu yang Alex inginkan.


"Minta maaflah pada Mutia. Karena dia juga yang telah menyelamatkan ayahmu hingga mengorbankan dirinya sendiri." Alex sengaja membeberkan semuanya agar Haidar tahu.


"Apa?! Jadi Mutia terluka karena berusaha menyelamatkan Ayah?" Kedua mata Haidar melebar sempurna. Ia tak menyangka jika kejadian sesungguhnya seperti itu.


"Kau mau ke mana?" Saat melihat laki-laki itu beranjak dari kursi yang ia duduki. "Kau tak ingin menemui Mutia lebih dulu?" tawarnya lagi.


"Nanti saja, Om. Ada urusan yang lebih penting!" balas Haidar terus saja melangkah menjauh dari ruangan itu. Laki-laki itu memacu mobilnya cepat setelah sampai di parkiran. Tujuan utamanya adalah ke alamat pria itu tinggal.


"Aku tak akan membiarkan sampai dia lolos lagi!" Haidar meremat kemudi yang di pegangnya. Laki-laki itu dengan cepat menghentikan mobil setelah berada di depan rumah milik pria itu.


Tapi, saat Haidar mengetuk pintu rumahnya, tidak ada seorang pun yang membukanya. Ke mana dia? Apa pria itu sudah kabur lebih dulu?


Tunggu dan tunggu lagi. Haidar malah bosan sendiri. Ia meraih ponsel yang berkali-kali berdering di saku jasnya.

__ADS_1


[Kau ada di mana?] tanya seseorang yang suaranya sangat Haidar kenal.


[Ayah?]


[Kau ada di mana? Kenapa malah menghilang begitu saja?] tanya laki-laki itu untuk yang kedua kalinya. Terdengar tarikan napas berat dari seberang sana.


[Aku sedang berada di suatu tempat, Yah.] Haidar berusaha berbicara jujur.


[Jangan bertindak sendirian, Haidar. Kau tak pernah tahu bahaya apa yang saat ini tengah kau hadapi!]


[Tapi, Yah ..]


[Kembali ke kantor. Ada banyak hal yang ingin Ayah tanyakan padamu!] ucap laki-laki dari seberang telepon.


[Ayah ingin berbicara apa?] tanya Haidar penasaran. [Kenapa tidak berbicara langsung saja?] Sebenarnya ia masih ingin menunggu sampai pria itu datang.


[Kembali! Ayah bilang, kembali sekarang juga!]


Arya gusar sendiri saat mendengar pernyataan dari Alex tadi mengenai obrolannya dengan putranya. Arya yakin jika saat ini Haidar tengah datang ke tempat pria itu.


Kenapa bocah itu gegabah sekali sih? Bagaimana kalau mereka mengeroyoknya lagi?


[Tapi, Yah ...?]


[Kembali! Atau, Ayah sendiri yang akan menyeretmu!]


Klik,


Haidar terpaksa memutuskan sambungan secara sepihak karena melihat kedatangan seseorang.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya pria itu. Pria yang sejak tadi Haidar tunggu kedatangannya.


"Kau benar-benar tak tahu kenapa aku ada di sini?" balas Haidar dengan sorot mata tajam.


Pria di depan sana hanya menyunggingkan senyuman. Berani sekali bocah ini, pikirnya.

__ADS_1


"Untuk apa? Mengantarkan nyawamu?!"


__ADS_2