Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Bertengkar


__ADS_3

"kamu benar-benar ingin tahu?" tanya Haidar mengulang pertanyaannya kembali. Mobil mulai menepi perlahan mendekat kearah gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi di depan sana.


Mutia mengangguk mantap. Ia menatap serius kearah laki-laki yang tengah duduk memegang kemudi mobil.


"Lima milliar!"


Tepat saat mobil berhenti di depan gerbang rumah milik Kia. Gadis itu terlihat sudah menunggu sembari melirik beberapa kali kearah jalanan depan rumahnya.


"Lima milliar!" Mutia memekik kuat. Kedua tangannya sambil membekap mulutnya sendiri.


"Kakak ...!" Tak lama terdengar suara panggilan dari luar sana.


Mutia buru-buru melepas sabuk pengaman itu dan bergerak cepat pindah ke bangku belakang.


"Awww ....!" Mutia kembali merasakan perihnya kening yang beradu pada bagian atap mobil saat terpaksa melewati sela-sela kursi yang sempit. Ia berusaha menahan, Mutia tidak ingin sampai gadis di luar sana berpikir macam-macam.


"Kenapa lama sekali?" Kia menghampiri mobil yang terbuka kaca di bagian kemudinya dengan muka di tekuk masam. Pasalnya sudah lebih dari setengah jam yang lalu ia menunggu kedatangan laki-laki itu.


"Iya, maaf. Tadi macet sedikit." Haidar melirik bangku di sebelahnya yang sudah kosong. "Apa aku perlu berpamitan lebih dulu?" Yang Haidar maksud adalah meminta ijin pada kedua orangtua Kia.


"Tidak usah! Tadi aku udah bilang mau pergi sama Kakak!" Meski kesal Kia tetap berjalan memutar arah, ia membuka pintu samping lantas duduk di bangku sebelah kemudi.


"Lho, Kakak ngajakin Mutia?" Kia nampak terkejut melihat kehadiran sahabatnya yang lebih dulu ada di dalam mobil. "Apa Kakak tadi jemput dia dulu makanya telat datang ke sini?" Ucapannya sudah sedikit tidak enak.


Mutia menyadari itu. Sejujurnya ia juga merasa tidak enak sendiri berada di antara mereka. Tapi, laki-laki itu lah yang memaksanya untuk tetap ikut.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Mutia. Tadi memang agak macet di jalan!" Mobil sudah melaju kembali. Menyusuri jalanan kota yang semakin ramai.


"Benar itu, Mutia?" Kia menengok ke belakang. Meminta jawaban pada gadis yang tengah duduk sendiri.


"I–iya." Terpaksa ikut berbohong daripada membuat keadaan tambah rumit.


"Oh ...."


Ketiganya memilih bungkam dan tidak ada obrolan lagi selama perjalanan menuju toko perhiasan. Mutia merasa sangat bersalah karena terpaksa membohongi Kia. Sedangkan Haidar, entahlah ...

__ADS_1


Laki-laki itu terlihat santai sekali. Seolah tidak merasa berdosa sedikit pun dengan calon tunangannya.


Kini mereka bertiga sudah sampai di sebuah toko perhiasan yang lumayan ramai. Di sana juga sudah berjajar aneka model perhiasan dengan berbagai bentuk.


Kia berbinar senang menatap satu persatu model perhiasan di depannya. Pilih dan pilih lagi hingga tak terasa mereka sudah menghabiskan hampir satu jam di toko tersebut.


"Kak, aku ke toilet sebentar!" pamit Kia setelah tadi sempat mencoba salah satu model cincin di toko itu.


"Ayo ku temani!" Mutia ikut beranjak dan mengekor di belakang Kia, tapi gadis itu buru-buru mencegahnya. "Tidak usah, Mutia. Kamu tunggu di sini aja yah? Aku nggak lama kok!"


Kia langsung melangkah cepat meninggalkan Mutia dan Haidar di dalam toko perhiasan untuk mencari di mana letak toilet berada.


Sementara dua manusia berbeda jenis kelamin itu masih tertinggal di sana. Haidar meraih ponsel miliknya dan memainkannya untuk mengusir kejenuhan. Sedangkan Mutia, gadis itu bingung harus melakukan apa. Ia hanya duduk menunduk menunggu kedatangan Kia kembali.


"Hai, orang miskin! Ngapain ada di sini!" hina seorang gadis cantik yang baru saja masuk ke toko perhiasan itu. Gadis dengan pakaian seksi itu melangkah mendekati Mutia yang masih duduk dengan santai di bangku yang di sediakan oleh pemilik toko.


"Bukan urusanmu!"


"Dih, udah miskin, sombong lagi!" Kania tersenyum mengejek. Lantas tatapan gadis itu mengarah pada laki-laki di sebelah sana. "Apa dia calon targetmu lagi?"


"Kau sudah dapat apalagi darinya?" Kania tidak mempedulikan itu. Baginya melihat Mutia sedang bersama seorang laki-laki saja rasanya sudah kesal. Kesal karena cepat sekali mendapatkan pengganti Yusuf, apalagi laki-laki itu terlihat lebih tampan dan kaya.


Ngapain orang miskin berada di toko perhiasan semewah ini? Tidak mungkin jika tidak memanfaatkan laki-laki kaya di sebelahnya.


"Maaf, Anda siapa?" Haidar memilih menengahi perdebatan sebelum semuanya bertambah panjang.


Kania terlihat tersenyum menatap laki-laki tampan di depannya. "Hati-hati, Tuan. Dia itu anak seorang pelakor!"


"Hahhh ...!" Haidar hanya mampu menjawab dengan mata terbuka lebar. "Maksud Anda apa?"


"Dia itu anak pelakor, Tuan! Jadi, Anda lebih baik berhati,-hati!"


Mutia sendiri tak peduli. Ia sudah kebal dengan hinaan serta cacian yang seringkali Kania berikan.


"Hehh, ngomong apa kamu!" Tiba-tiba Kia datang bak dewi penolong untuk Mutia. Gadis itu sudah sangat hapal dengan kelakuan Kania selama ini.

__ADS_1


"Hei, komplotannya datang!" Kania semakin tersenyum mengejek. Apalagi saat dua orang temannya datang dan seperti memberi dukungan padanya.


"Yang sopan kamu!" menunjuk tepat di kening gadis itu.


"Udah Kia nggak usah ladenin dia!" Mutia buru-buru mencegahnya. Ia tidak ingin sampai Kia ikut terlibat hanya karena membelanya.


"Kalian emang cocok ya? Sama-sama ... bodoh!" Kania sengaja mengucapkannya dengan sangat pelan dan jelas.


Tadinya Kia tidak berniat untuk ikut campur. Tapi, berhubung ucapan Kania sudah sangat keterlaluan maka ia tidak bisa diam saja.


"Kenapa? Nggak terima? Kalian emang bener-bener cocok kok!" Gadis di depan sana tergelak kencang. Hingga Kia benar-benar kehilangan kesabarannya.


"Tutup mulutmu! Kau tidak punya sopan santun sekali pada Kakakmu sendiri!" teriakan Kia sontak membuat laki-laki di sebelahnya menyimak dengan raut wajah bingung.


"Kakak?" bisik laki-laki itu pelan. "Jadi, mereka bersaudara?"


"Oh, maaf. Aku sama sekali tidak tertarik memiliki saudara seperti dia!"


"Kau ...!"


"Apa ... !!" Kania balas menantang.


"Kia, udah cukup!" Mutia menarik tangan Kia dan berusaha menghentikan perdebatan itu. Tapi, terlambat, tangan Kania sudah lebih dulu terayun dan mengenai tepat pada wajah Mutia.


Plak!


Satu tamparan mendarat sempurna di pipi sebelah kiri Mutia. Gadis hanya bisa meringis menahan perih yang tak terkira.


"Kau ...!" Amarah Kia memuncak saat melihat sahabatnya di lukai di depan matanya sendiri. Gadis itu maju lantas meraih rambut milik Kania yang tergerai dan menariknya dengan sangat kencang.


"Akhhh ..... sial!" Gadis pemilik rambut itu memekik kesakitan. Bahkan ada beberapa helai rambut yang tercabut dari tempatnya.


"Kania, kau tak apa-apa?" Kedua teman gadis itu terlihat panik. Ingin membantu, tapi ragu saat melihat aksi bar-bar dari gadis di depannya.


"Bodoh! Tentu saja sakit!" maki gadis itu sembari mengusap kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Kau mau lagi! Atau, perlu ku gunduli rambutmu!"


__ADS_2