
"Ya Tuhan, Mutia ...!!" Naila serta yang lain tampak terkejut melihat tubuh gadis itu sudah jatuh tersungkur di atas lantai. Terlalu asik berdebat, hingga sejak tadi tak satupun dari mereka memperhatikan bagaimana tersiksanya Mutia berada di sana.
"Mutia ...!" Haidar juga langsung saja lari dan menerobos masuk ke dalam ruangan. Tapi, laki-laki itu ragu saat ingin mengangkat tubuh itu, melirik ada seorang pria di sebelahnya.
"Mutia ...!!" Yudi pun cepat berlari kearah putrinya, membopong tubuh gadis itu dan kembali merebahkan ke atas ranjang.
"Panggil dokter, cepat!" teriakannya kemudian.
Naila segera menekan tombol di dekat ranjang dan beberapa menit kemudian dokter datang bersama dua orang perawat.
"Cih, manja! Pasti dia hanya akting!" sindir perempuan yang berada di sebelah Yudi. Nenek Sri yang sejak tadi diam kini tidak bisa menahan diri lagi. Perempuan itu segera menarik tangan sang putra dan memaksakan keluar dari ruangan,
Plak!!
"Ibu ..!!" Yudi dan Laura memekik secara bersamaan saat tangan keriput itu mengenai pipi Yudi. "Kenapa manamparku?"
"Kau masih bertanya kenapa tangan Ibu sampai menamparmu?" tanya Nenek Sri dengan sorot mata tajam. "Bahkan rasanya ingin sekali Ibu membunuhmu!"
Perempuan itu terlihat emosi. Ia merasa bersalah mendidik Yudi hingga tumbuh menjadi pria tak tahu diri seperti itu.
"Bu ..."
"Cukup ..!" potong Nenek Sri cepat. Ia beralih menatap kearah Laura yang berdiri di samping Yudi, "Didik istrimu agar memiliki sopan santun!"
"Apa salahku, Bu?" tanya Laura. Meski kesal, ia tetap menghormati perempuan itu sebagai mertuanya.
"Kau masih bertanya? Dasar perempuan tak tahu diri!"
Laura terlihat mengepalkan kedua tangannya. Perempuan itu melengos, enggan menatap kearah sana lagi. Dasar nenek tua, awas kau! umpat Laura menyembunyikan amarahnya.
__ADS_1
"Lihat, Yud, sejak dulu ibumu memang tidak pernah menyukaiku!" Laura memasang wajah memelas. Seolah menjadi menantu yang tak pernah di harapkan oleh ibu dari pria itu.
"Dasar, perempuan tak tahu diri! Pantas saja Yudi berubah, itu pasti karena termakan rayuanmu, kan?" Nenek Sri yakin sekali jika selama ini Yudi berada di bawah kendali perempuan iblis itu. Mentang-mentang kaya bisa seenaknya mengatur suami.
"Bu, udah. Ini tak ada sangkut pautnya dengan Laura." Benar, Yudi malah membela istrinya. Perempuan itu menarik sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan kecil. Rasakan kau Nenek tua! batinnya bersorak.
"Lebih baik kau bawa istrimu pulang. Ibu tak ingin suasana semakin memanas karena keberadaannya."
"Sial!" Laura mengumpat pelan.
"Baik. Kalau begitu ..." Yudi merogoh sesuatu dari saku pakaiannya. Pria itu mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat yang langsung di sodorkan tepat di depan sang ibu. "Tolong titip ini, Bu. Semoga cukup untuk biaya rumah sakit Mutia."
"Apa-apaan kau, Yud!" Laura menyambar cepat amplop berwarna coklat itu sebelum Nenek Sri berhasil mengambilnya.
"Laura, kembalikan! Itu untuk biaya rumah sakit Mutia!" Yudi merebut paksa, tapi perempuan itu cerdik sekali hingga Yudi tak kuasa mengambilnya lagi.
"Sudah. Kami tak butuh uang itu!" ucap Nenek Sri cepat. Ia tidak pernah membayangkan akan memiliki menantu yang sangat pelit macam Laura. "Lagipula seluruh biaya rumah sakit Mutia sudah di tanggung Tuan Arya," jelas perempuan itu lagi.
"Mungkin dia lelaki simpanan Naila!" Tiba-tiba Laura ikut bersuara lagi. Perempuan itu memang selalu menjelekkan Naila di depan siapa pun.
"Tutup mulutmu!" tunjuk Nenek Sri tepat di depan wajah Laura. "Naila bukan wanita seperti itu!" Dada perempuan itu sudah naik turun menahan amarah yang sejak tadi tersimpan.
"Lalu siapa, Bu? Tidak mungkin 'kan ada laki-laki yang memberikan bantuan cuma-cuma kalau dia tidak punya maksud tertentu?"
"Kau tak berhak berbicara seperti itu. Harusnya kau berterima kasih padanya. Kalau bukan karena pertolongan Tuan Arya, mungkin Mutia sudah ..." Nenek Sri tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Bahkan membayangkannya saja sungguh mengerikan.
"Maksud Ibu apa?" Yudi masih tak mengerti apa hubungannya Mutia dengan lelaki bernama Arya. Arya mana sih yang sejak tadi ibunya sebutkan?
"Udah, Yud, ngapain sih buang-buang waktu! Lebih baik kita pulang!" Perempuan itu sungguh menyebalkan sekali. Jika saja tidak ingat dia istri dari putranya saat ini, mungkin Nenek Sri akan menyumpal mulutnya yang kurang ajar itu.
__ADS_1
"Kembalikan amplop itu dulu, Laura! Aku ingin memberikannya pada Ibu!" perintah Yudi lagi.
Perempuan itu memutar kedua bola matanya malas. Laura kira Yudi sudah melupakan perihal amplop coklat tadi. Nyatanya pria itu masih saja mengingatnya.
"Ingat, Yud, ini uang aku! Perusahaan yang kau pimpin saat ini adalah milik keluargaku!" tegas perempuan itu mengingatkan posisinya.
"Jadi, sekarang kau mengungkitnya? Kau langgar janji yang sebelumnya udah kita sepakati, Laura?!" Yudi merasa tidak punya harga diri sekali saat Laura mengungkit masalah perusahaan yang telah lama dirinya kelola. Padahal dulu mereka sempat membuat kesepakatan sebelum akhirnya Yudi mau meneruskan bisnis dari orang tua Laura yang nyaris bangkrut.
"Kau sekarang merasa memiliki perusahaan itu? Dan aku .... hanya di jadikan antekmu?"
Laura terlihat gelagapan. Sebenarnya ia tak sengaja mengatakannya. Tapi, Laura hanya tidak rela jika Yudi memberikan uang itu untuk keluarga Naila.
"Mutia juga putriku, Laura! Aku juga berhak memberikan apapun yang dia butuhkan!" jelas Yudi dengan raut wajah serius. Mungkin ia tak masalah jika Laura sangat membenci mantan istrinya. Tapi dengan Mutia? Tidak! Meski terkadang ia sendiri merasa tidak ada gunanya selama ini.
Ck, seharusnya aku ikuti saran papa waktu itu untuk ikut pindah ke Paris. Jadi, aku tak harus menghadapi situasi macam ini! Laura menyesali keputusannya sendiri.
"Sini, berikan!" Karena melihat Laura diam, Yudi jadi punya kesempatan untuk merebut amplop tadi.
Laura tidak bisa berbuat banyak selain membiarkan saja. Toh, uang itu tak seberapa di banding dengan kerja keras Yudi selama ini. Mungkin tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan jatah yang ia terima setiap bulannya.
"Bu, tolong terima ini." Yudi meraih tangan ibunya, memaksa perempuan itu untuk menerima pemberiannya yang tak seberapa itu.
"Ibu sudah bilang kau tak perlu melakukan ini, Yud! Kami sama sekali tak mau di kasihani!" Nenek Sri hanya tidak ingin nantinya Laura berbicara yang tidak-tidak di luar sana.
"Percayalah, Bu, ini bukan apapun. Ini hanya sedikit bentuk tanggungjawab–ku pada Mutia."
"Baiklah. Tapi ... kedepannya Ibu tidak ingin dengar gosip apapun mengenai uang yang tak seberapa ini. Apalagi sampai mendengar istrimu menuduh Naila telah memoroti uangmu!"
Yudi menyanggupinya. Sedangkan dari kejauhan nampak dua orang lelaki tengah berjalan mendekat kearah mereka. Dua laki-laki itu masih berpakaian rapi ala kantoran.
__ADS_1
Yudi menyipitkan matanya, mengingat di mana ia pernah bertemu sebelumnya dengan salah satu dari laki-laki itu.
"Tu–an Arya? Apa yang Ibu maksud tadi adalah Tuan Arya? Arya Pratama, kan?"