
Kenzie Ersya Pratama yang lebih akrab di panggil Baby Ken saat ini sudah berusia satu bulan. Kulitnya yang putih serta pipinya yang semakin hari semakin gembul membuat gemas siapa saja yang melihatnya.
Hari ini adalah jatah Mama Rengganis yang datang ke rumah cucunya. Sejak pagi tadi wanita itu sudah sibuk menyiapkan oleh-oleh yang akan di berikan pada sang menantu.
Dari makanan kesukaan Mutia, buah-buahan, serta kue yang menjadi favorit Mutia. Semua sudah siap dan di tata masuk ke dalam mobil oleh pelayan yang membantu sejak pagi.
Memang seminggu setelah menikah Haidar memutuskan untuk pindah rumah. Mereka menempati rumah baru yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari rumah Mama Naila.
"Sebanyak ini?" Arya menatap oleh-oleh yang akan di bawa sang istri. Lalu beralih kearah Rengganis yang berada di sebelahnya. "Memangnya buat stok berapa hari?" Karena Arya yakin sekali jika orang tua Mutia pasti juga akan membawakan oleh-oleh untuk putrinya. Lantas, siapa yang akan memakannya?
"Namanya orang menyusui itu harus banyak makan, Mas. Kamu tahu sendiri 'kan aku dulu kaya apa?" Membandingkan dengan dirinya.
"Iya, sih. Tapi, tidak harus sebanyak ini, Sayang. Nanti malah mubazir gimana?"
Wanita di sebelahnya melengos. Sejak dulu Arya tahu jika istrinya memang keras kepala sih.
"Aku cuma nggak mau kalau di kira pelit, Mas. Lagian ini buat menantu kita, nggak apalah," ucap wanita itu tetap kekeuh.
"Ya sudah. Kita jalan sekarang. Mumpung masih pagi." Arya menyetir sendiri mengantarkan sang istri ke rumah menantunya sekalian nanti rencananya berangkat ke kantor.
Tidak butuh waktu lama keduanya sudah sampai di depan gerbang rumah milik sang anak. Terus masuk setelah pintu gerbang di buka, Rengganis sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan cucu kesayangannya.
"Ken ... hai ...!" Wanita paruh baya itu langsung menuju tepi kolam renang tempat di mana Mutia tengah berjemur dengan bayi kecilnya.
"Mama ...?" Wanita itu menoleh lantas mencium kedua tangan mertuanya secara bergantian.
"Apa suamimu udah berangkat?" tanya Ayah Arya saat tidak melihat keberadaan Haidar.
"Lagi mandi, Yah. Mungkin sebentar lagi akan menyusul ke sini."
Arya hanya mengangguk. Menunggu sampai putranya datang, laki-laki paruh baya itu memilih duduk dan melihat cucunya yang sekarang sudah ada dalam gendongan Rengganis.
Tidak lama terlihat Haidar muncul dari dalam sana dengan penampilan yang sudah rapi.
"Harusnya kamu bantuin istrimu dulu, Nak, sebelum berangkat ke kantor." Mama Rengganis langsung memberikan nasehat saat melihat penampilan putranya sudah rapi sedangkan istri dan anaknya masih sibuk berjemur berdua.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Ma. Lagian ada Bibik yang bantuin aku, kok." Mutia hanya tersenyum menanggapi nasehat dari mama mertuanya untuk sang suami.
"Sekali-kali biar bantuin kamu, Sayang. Biar tahu rasanya seperti apa ngurus anak. Jangan mau enaknya aja dong!" Ucapan Rengganis seolah menyindir dua laki-laki di depan sana. Arya baru saja meneguk kopi yang yang di antarkan oleh pelayan langsung tersedak saat mendengar ucapan istrinya.
"Sebenarnya Mama lagi nasehatin aku, apalagi nyindir Ayah sih?!" Haidar membatin sendiri.
"Ya, udah. Sana berangkat! Nanti telat lho, bisa kena pecat!" Masih dengan posisi menggendong, Rengganis terus ngomel pada dua laki-laki itu.
Arya dan Haidar akhirnya pamit pergi ke kantor setelah mendengar serentetan nasehat dari wanita paruh baya itu. Bagi Haidar, ucapan Mama Rengganis memang ada benarnya juga. Tidak seharusnya ia santai-santai sedangkan istrinya malah di bantu oleh pelayan.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain, Kia tengah menatap serius kearah buka yang berada di tangan kirinya. Sedangkan tangan sebelahnya memegang roti sambil sesekali menyuapkannya ke dalam mulut.
"Kia ... ada titipan buat kamu!" Seorang mahasiswa satu angkatan dengannya mendekat dan memberikan tas kresek berwarna putih.
"Orangnya tadi di sebelah sana!" Menunjuk tempat orang yang tadi minta tolong padanya. "Cowok. Cakep!" ucapnya lagi.
"Cowok?" Kia semakin bingung. Seingatnya ia tidak pernah dekat dengan cowok manapun.
"Nih, aku masuk kelas dulu." Memberikan titipan itu lantas melangkah menjauhi Kia.
Kia hanya menatap sekilas tas kresek berwarna putih tadi. Ia jadi penasaran Sebenarnya siapa cowok yang seringkali mengirimkan makanan untuknya. Terkadang Kia jadi takut sendiri hingga tak jarang Kia membiarkannya begitu saja.
"Besok aku harus cari tahu siapa cowok itu!" Melipat buku yang tadi ia baca, lalu memasukkannya lagi dalam tas.
"Kia, ada titipan buat kamu!"
Belum juga hilang rasa penasarannya, Kia kembali di kejutkan dengan kedatangan seorang gadis yang membawa sesuatu.
"Bunga?"
__ADS_1
"Dari cowok."
"Siapa?"
Gadis itu hanya mengedikkan bahu tidak tahu. Mengambil bunga itu lalu melihat kertas yang terselip di dalamnya.
JIKA INGIN TAHU, TEMUI AKU BESOK.
DI BELAKANG KAMPUS.
Kia membolak-balikkan kartu ucapan tadi yang tidak tertera nama pengirimnya.
"Siapa sih!" Meremas kertas itu, lantas melempar ke dalam tong sampah sekaligus dengan bunganya.
"Awas aja kalau cuma orang iseng!" Kia melangkah buru-buru hingga tidak melihat ada seseorang yang juga tengah berjalan kearahnya.
Brakkk
"Akh ...!" Tubuh gadis itu sedikit terhuyung kebelakang. Kia hampir jatuh jika saja seseorang tidak langsung memegangnya dengan cepat.
"Maaf. Aku tak sengaja."
"Duh, kalau jalan lihat-lihat dong!" Kesal karena ia harus memunguti beberapa buku yang tercecer.
"Maaf, Kia ..."
"Hehhh ...!" Gadis itu langsung melotot saat pria di depannya menyebut namanya. "Lain kali hati-hati!" Padahal ia juga salah karena tidak memperhatikan apa yang berada di depannya.
"Ini milikmu." Menyodorkan buku milik gadis di depannya.
Kia hanya melengos. Tidak menanggapi ucapan pria yang baru saja menabraknya tadi. Merebut buku dari kedua tangan pria itu dengan cepat, lantas melanjutkan langkahnya lagi.
Sementara seorang lelaki asing dari kejauhan terus mengawasi Kia. Tak masalah sekalipun gadis itu terus membuang barang pemberiannya. Yang terpenting, ia sudah menunjukkan rasa sukanya pada Kia. Lelaki bertopi lengkap dengan kaca hitam itu terus mengawasi Kia dari kejauhan hingga gadis itu melangkah masuk ke ruangan kelas.
"Aku tetap akan menyukaimu, Kia. Meski kamu tidak pernah menganggap kehadiranku."
__ADS_1
Laki-laki itu melangkah ke dalam mobil lalu melesat cepat meninggalkan pelataran kampus setelah memastikan gadis yang ia cintai dalam keadaan baik-baik saja.