Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Rencana Perjodohan


__ADS_3

"Mau lari ke mana kau!"


"Brengs*k!"


"Hahaha ....!"


"Sekarang kau tidak bisa apa-apa lagi!"


"Bangun! Mana Kemampuan bela dirimu, hah!!"


"Kenapa kau terlihat lucu sekali? Hahaha ...!!"


Bugh, bugh, bugh!


Haidar terbangun dengan napas tersengal serta keringat dingin yang terus bercucuran. Sejak keluar dari rumah sakit kemarin, kenapa ia jadi sering bermimpi. Mimpi itu, kini datang untuk yang ketiga kalinya secara berturut-turut. Haidar sendiri sudah bisa mengingat sedikit potongan-potongan kejadian yang dua bulan lalu menimpanya. Saat ia terjatuh, di keroyok, lantas ...


"Akhhh ....!" Haidar menjambak rambutnya kuat. Hanya itu yang ia ingat. Setelahnya tidak tahu apa lagi karena semua nampak gelap, Haidar hanya samar-samar mendengar suara seorang gadis yang berusaha membangunkannya.


"Siapa dia? Kenapa aku sama sekali tidak bisa menemukan jejaknya?" Haidar semakin frustasi. Apalagi saat mengingat janjinya dengan sang ayah waktu itu.


"Menikahlah, Nak, kami ingin melihat kalian hidup berbahagia dengan pasangan kalian masing-masing," ucap sang ayah kala itu sebelum kecelakaan tragis itu merenggutnya.


"Aku belum menemukan gadis yang cocok untuk aku nikahi, Yah! Aku pasti akan menikah jika sudah menemukannya. Bagaimana kalau Kak Shila lebih dulu?" Haidar berusaha mengalihkan pembicaraan dengan membahas perihal kakaknya yang telah berumur juga. Di usianya yang hampir menginjak 27 tahun untuk ukuran seorang gadis bukanlah sudah sangat matang?


"Huffffh ....." Arya hanya menghela napas panjang. Haidar paham kegelisahan sang ayah saat itu. "Kau tahu sedikit bagaimana sifat kakakmu, kan? Bukan Ayah tidak pernah memintanya untuk menikah, hanya saja ...." Arya mendesah lagi.


Terkadang Haidar juga bingung dengan jalan pikiran kakaknya sendiri. Sebagai anak dari Keluarga Pratama yang kaya, untuk apa Shila melakukan semua itu? Berjualan online, memilih tinggal di kontrakan kecil, serta berusaha menyembunyikan identitasnya sebagai putri sulung dari Keluarga Pratama dari teman-temannya.


Saat Haidar menanyakan alasan pada gadis itu, Shila hanya menjawab, "Aku nyaman menjalani kehidupan seperti ini. Bukankah aku keren karena bisa membiayai hidupku dengan hasil jerih payahku sendiri?" Shila malah berusaha memamerkannya pada Haidar.


"Keren apanya, Kakak itu aneh. Kenapa susah payah melakukan sesuatu yang sebenarnya kakak sendiri bisa mendapatkannya dengan mudah."


"Maksudmu apa?" Shila malah terlihat tersinggung setiap kali Haidar mencoba memberikan usulan. "Aku sudah terbiasa hidup sederhana seperti ini. Dan kau tahu? Aku lebih suka dikenal sebagai gadis biasa, bukan Shila putri sulung dari Keluarga Pratama."

__ADS_1


"Ck! Apa Kakak malu?"


"Hei, aku tidak malu! Hanya saja aku menyukainya, aku menyukai kehidupan yang seperti ini."


Hal itu juga yang membuat kedua orangtuanya kadang bersedih. Rengganis hanya ingin Shila cepat menikah, hidup berbahagia dengan suami serta anak-anaknya. Namun, gadis itu terus menolak dengan alasan belum memiliki kriteria laki-laki yang cocok untuk ia nikahi.


"Kau pewaris keluarga ini, Haidar. Ayah ingin kau memikirkan ucapan Ayah kali ini." Arya pergi meninggalkan ruangan kerja Haidar setelah mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sampai saat ini membuatnya resah.


"Menikah? Dengan siapa?" Haidar menggeleng pelan. Jangankan menikah, dekat dengan seorang gadis saja tidak.


Suara ketukan dari pintu kamarnya membuat laki-laki itu harus cepat-cepat menyembunyikan kalung milik gadis itu lagi.Rengganis terlihat masuk setelah mendapatkan persetujuan darinya.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Perempuan paruh baya itu duduk di tepian ranjang milik sang anak.


"Aku sudah lebih baik, Ma."


Rengganis tersenyum menatap kearah Haidar yang saat itu duduk tepat di sebelahnya. "Apa kau sudah memikirkan lagi ucapan Ayah?"


"Ucapan Ayah?" ulang laki-laki itu. Perasaan Haidar mendadak tidak enak kali ini.


Haidar langsung memalingkan wajah ke samping. "Bisakah Ayah tidak terus memaksaku seperti ini, Ma?" ungkap lelaki itu. Nampaknya Haidar memang belum benar-benar siap untuk menikah.


"Ini demi kebaikanmu, Haidar. Karena tak selamanya kami bisa menemanimu." Ungkapan sang mama sontak membuat Haidar terkejut bukan main. Jantung laki-laki itu berdegub kencang tidak seperti biasanya.


"Maksud Mama apa? Aku memang akan menikah, tapi, tidak sekarang, Ma!"


"Lalu kapan? Mama dan Ayah sudah semakin tua, Nak?"


"Aku belum menemukan gadis yang cocok untuk aku nikahi." Mungkin ini alasan yang paling tepat menurut Haidar. Ia juga yakin jika kedua orangtuanya pasti akan memakluminya.


"Kia gadis yang baik Haidar. Apa kau sama sekali tidak tertarik padanya?" Tiba-tiba saja Rengganis menyebut nama gadis itu di depan putranya.


"Kia ....?"

__ADS_1


"Iya. Dia menyukaimu, Haidar. Apa kau tidak mau mencoba membuka hatimu untuk Kia?"


Konyol! Itulah yang ada di pikiran Haidar. Kenapa harus nama gadis itu yang terlintas di pikiran sang mama.


"Kia sudah aku anggap seperti adik–ku sendiri, Ma."


Kali ini gantian Haidar yang melihat wajah frustasi sang mama.


"Kalian coba aja dulu. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu."


"Tapi ...."


"Tolong pikirkan usulan Mama kali ini saja, Nak? Meski kau tidak ada perasaan sama sekali terhadapnya, mulai sekarang cobalah untuk membuka hati."


Rengganis meninggalkan Haidar yang masih nampak membisu. Laki-laki itu tidak tahu harus melakukan apa. Mencoba usulan sang mama, atau memilih mengabaikannya saja.


Desakan agar ia segera menikah sepertinya tetap berlanjut. Haidar sampai bosan mendengarnya ketika Ayah Arya kembali membahasnya, bahkan saat di meja makan sekalipun obrolan mengenai dirinya tak luput dari perhatian mereka.


Dan yang lebih herannya lagi kenapa nama Kia yang selalu mereka sebut. Seolah mereka memang sengaja ingin menjodohkannya dengan gadis itu. Sampai akhirnya Haidar memilih menyerah saja dan menerima usulan sang mama untuk membuka hati untuk gadis itu.


"Maaf, aku sudah berusaha untuk menemukanmu. Tapi, sepertinya kali ini aku harus menyerah!" bisik Haidar pada dirinya sendiri.


"Minggu depan Kia ulang tahun, Nak. Kau harus memberikan sesuatu untuknya," usul sang mama tatkala Haidar hampir menyendok–kan makanan ke dalam mulut. Bu duhLaki-laki itu jadi mengehentikan kegiatannya tadi dan menatap kearah undangan berwarna merah muda dari gadis itu.


"Bukankah aku selalu memberikan kado untuk Kia setiap kali dia ulang tahun, Ma?" tanya Haidar pada perempuan paruh baya itu.


"Iya, tapi kali ini beda, Sayang. Sekarang dia calon tunangan–mu, kau harus memberikan sesuatu yang spesial untuk Kia."


Haidar menarik napas berat mendengar ungkapan Mama Rengganis baru saja. Calon tunangan?


"Ma, kenapa buru-buru sekali? Aku 'kan baru akan mencobanya, ah ... maksudku membuka hati untuk Kia!" protes laki-laki itu. Rengganis dan Arya hanya saling pandang. Keduanya memang belum sempat memberitahukannya pada laki-laki itu.


"Apa salahnya tunangan lebih dulu, Haidar. Toh kalian sudah sama-sama dewasa kan?"

__ADS_1


Jadi ini tujuan mereka? Akhhhh ...! Haidar meremas sendok yang tengah ia pegang. Sekarang apa yang harus ia lakukan?


__ADS_2