
"Nina, apa Mutia belum datang juga?" tanya laki-laki itu pada bawahannya yang saat ini tengah sibuk berkutat dengan setumpuk pekerjaan di depannya. Gadis itu langsung bangkit melihat sang bos yang tiba-tiba saja masuk ke ruangannya.
"Belum, Tuan," jawab Nina seraya menunduk hormat.
"Ke mana dia? Tidak seperti biasanya menghilang tanpa kabar." Laki-laki tadi terus melirik kearah depan sana, berharap gadis yang sejak tadi di nanti segera menampakkan diri.
"Apa mungkin sakit? Tapi, kalau pun iya kenapa tidak ada kabar?" Nina berbisik sendiri. Meski Mutia karyawan yang terbilang baru, tapi cara kerjanya cukup baik. Gadis itu juga tidak pernah bolos tanpa alasan seperti ini.
"Ah, kenapa juga aku tak hubungi dia langsung." Haidar cepat-cepat meraih ponsel miliknya dan mencari kontak nama Mutia. "Nomornya juga tidak bisa di hubungi," ungkap laki-laki itu lagi.
Jam menunjuk hampir pukul sepuluh, tapi gadis itu tetap saja belum memberikan kabar apapun. Sedangkan Haidar sudah cemas sendiri. Takut jika bolosnya Mutia hari ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin. Tapi, apa benar hanya karena ... ah, sial!
Haidar tidak bisa membiarkannya begitu saja. Jika benar Mutia tidak masuk hanya karena perlakuannya kemarin, ia akan minta maaf. Kalau perlu memohon agar gadis itu bisa kembali bekerja seperti biasa.
Haidar menyambar kunci mobilnya cepat. Laki-laki itu itu bergegas menuju lift khusus dan menekan tombol menuju lantai bawah.
"Astaga, ke mana Tuan Haidar?" Nina memekik terkejut saat tidak mendapati laki-laki itu di ruangannya. Padahal menurut agenda yang di tulis Mutia kemarin, satu jam lagi ada jadwal meeting dengan salah satu rekan bisnis. Bagaimana ini?
Karena tidak ingin sampai di persalahkan, Nina segera meraih telepon kantor dan segera menghubungi laki-laki itu.
[Tuan ...?]
[Ya, ada apa, Nina?] jawab Haidar dari seberang sana.
[Anda ke mana? Saya hanya ingin memberitahukan kalau siang ini ada jadwal pertemuan bisnis,] ungkap Nina tanpa basa-basi.
[Batalkan saja, Nina. Saya sibuk. Undur saja besok pagi!] Dengan gampangnya Haidar meminta pertemuan itu di batalkan. Mentang-mentang bos.
__ADS_1
[Tapi, Tuan ...?]
[Saya tidak tahu akan kembali ke kantor jam berapa. Jadi, tolong handle sebentar urusan kantor. Dan jika ada yang meminta bertemu, tolong tolak saja!]
Nina hanya mampu menggeleng pelan. Apa seperti ini jadi bos, bisa seenaknya memerintah.
[Baik, Tuan.]
Klik,
Sambungan telepon langsung terputus dari seberang sana. Nina menghembuskan napas panjang. Ia bergegas lagi menuju ke ruangan lain untuk memberitahukan mengenai pengunduran meeting hari ini.
Haidar memacu mobilnya melambat saat mulai mendekati pekarangan rumah milik Mutia. Laki-laki itu langsung turun dan segera membawa langkahnya kearah pintu. Tapi, baru saja tangan itu hendak mengetuk, seorang ibu tiba-tiba menghentikannya,
"Anda mencari siapa? Orangnya nggak ada, di rumah sakit semua. Nenek Sri juga baru aja berangkat," jelas ibu yang mungkin tetangga dari Mutia.
"Bukan orang tuanya, Mas. Tapi, Mutia sendiri yang sakit. Kabarnya sih kemarin sempat mau jadi korban perkosaan waktu pulang kerja," jelas Ibu tadi memberikan penjelasan panjang lebar pada laki-laki muda di depannya.
"Apa? Korban perkosaan?!" Kedua mata Haidar melotot di serta dengan wajah yang langsung memerah. "I–ibu tahu di rumah sakit mana Mutia di rawat?"
Setelah mendapatkan informasi mengenai rumah sakit tempat Mutia di rawat, Haidar langsung memacu mobilnya kembali kearah sana. Sepanjang perjalanan menuju ke sana Haidar tidak henti-hentinya memaki pada dirinya sendiri, kenapa kemarin ia membiarkan gadis itu pulang sendirian? Tapi, bukannya hari-hari sebelumnya memang seperti itu?
"Akhhh ... kurang ajar! Pasti Mutia shock sekali dengan kejadian yang menimpanya kemarin." Laki-laki tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mutia waktu itu, pastinya ketakutan sekali.
Tiba di rumah sakit yang di beritahukan oleh ibu tadi, Haidar langsung berlari ke bagian informasi. Laki-laki itu menanyakan di kamar mana Mutia di rawat.
"Bodoh, kenapa aku tidak membawa apapun!" Haidar merutuki kebodohannya, karena terburu-buru ia jadi lupa tidak membawa buah tangan apapun untuk Mutia.
__ADS_1
"Ah, itu nanti saja! Kondisi Mutia lebih penting." Sesaat setelah mendapatkan informasi mengenai kamar rawat Mutia. Laki-laki itu melangkah lagi, menyusuri lorong-lorong panjang yang menghubungkan ruangan satu dengan lainnya.
Sampai akhirnya Haidar tiba di depan ruang rawat berwarna putih. Nama dan nomor kamar persis seperti yang di beritahukan petugas tadi. Ia melangkah pelan, menuju kearah pintu ruangan itu. Tapi, sesaat ia mematung saat samar-samar mendengar suara pertengkaran dari kamar rawat milik gadis itu.
Haidar mengintip sedikit dari pintu ruangan yang terbuka lebar. Nampaklah mamanya Mutia, sang nenek, dan pria paruh baya bersama seorang perempuan. Laki-laki itu terpaksa menghentikan langkah. Tidak mungkin 'kan Haidar memaksa masuk dan langsung melibatkan diri ke dalam sana.
Sementara di dalam sana suasana memang tengah memanas. Ternyata benar pria yang mengetuk pintu ruangan tadi adalah Yudi–papa dari Mutia. Pria itu datang bersama sang istri–Laura dan langsung memberondong Naila dengan kata-kata buruk setelah mengetahui kabar yang menimpa putrinya.
Memang seperti itulah tabiat Yudi. Sama sekali tidak pernah memberikan perhatiannya pada Mutia, tapi jika terjadi sesuatu pada gadis itu Naila–lah yang akan di persalahkan.
"Kau benar-benar tidak becus mengurus anak! Bagiamana bisa kejadian seperti itu menimpa Mutia?" Yudi terlihat emosi sekali. Padahal seharusnya dirinya lah yang harus di persalahkan. Sebagai papa, di mana tanggungjawabnya selama ini?
"Tutup mulutmu, Mas! Kau pikir aku menginginkan ini? Menginginkan Mutia mengalami kejadian buruk seperti ini?!" jelas Naila tak mau kalah. Sebagai seorang ibu, ia merasa sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga putrinya. Tapi, apa mau di kata, tidak mungkin 'kan ia bisa mengawasi Mutia dua puluh empat jam. Apalagi saat gadis itu berada di kantor.
"Setidaknya kau fasilitasi putrimu. Belikan motor, atau mobil 'kan bisa!" Dengan entengnya Yudi berbicara seperti itu. Bahkan dia tidak tahu saja bagaimana perjuangan Naila selama ini untuk membesarkan putrinya seorang diri.
"Apa kau tak malu berbicara seperti itu? Apa aku harus menjelaskan siapa posisimu di sini? Ck, dasar pria tak tahu diri! Bisanya hanya menyalahkan orang saja!" Naila mengumpat sejadinya. Ia tidak peduli lagi pertengkaran itu di saksikan oleh Mutia sendiri.
"Kau bilang apa tadi?!" Malah perempuan di depan sana yang terlihat emosi. Laura merasa tidak terima jika suaminya di rendahkan seperti itu.
"Apa? Kau tak terima aku menyebut suamimu pria tak tahu diri!" Naila menyunggingkan senyum kearahnya.
Sedangkan Mutia hanya mampu terdiam menyaksikan pertengkaran yang sejak tadi tak kunjung selesai. Rasanya muak sekali saat berungkali harus di hadapkan oleh situasi macam ini.
Papanya yang egois selalu saja menyalahkan mamanya. Apa tidak cukup melihat penderitaannya selama ini? Saat ia harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Sedangkan pria sialan itu? Pria yang menyandang gelar papa itu malah asik dengan keluarga barunya.
Mutia tidak tahan lagi. Otaknya nyaris meledak memikirkan bagaimana kelakukan papanya selama ini. Gadis itu susah payah menapakkan kakinya ke lantai. Lebih baik pergi! Lebih baik enyah saja dari dunia ini!.
__ADS_1
"Akhhh ....!!" suara pekikan di sertai ambruknya tubuh Mutia akhirnya menjadi usainya pertengkaran di ruangan itu.