
Hari ulang tahun Kia pun tiba. Malam hari selepas pulang kerja Mutia bersiap untuk segera datang ke rumah kediaman sahabatnya itu. Dengan dress panjang bermotif bunga-bunga gadis itu memoles sedikit wajahnya agar tidak terlihat pucat. Tidak lupa ia juga menyiapkan bingkisan hadiah yang rencananya akan di berikan untuk Kia nanti.
Menggunakan taksi Mutia turun tepat di depan gerbang rumah milik Keluarga Aditama. Di sana sudah terlihat ramai. Sebagai anak satu-satunya dari keluarga itu tentu saja pesta di gelar dengan sangatlah mewah. Ruangan sudah di hias sedemikian rupa bernuansakan merah muda.
Mutia mendadak gugup untuk melangkah ke dalam sana. Ia menatap penampilannya sendiri yang terlihat sangat sederhana, berbeda sekali dengan para gadis-gadis yang seumuran dengannya yang akan menghadiri pesta ulang tahun itu.
"Hai, Mutia!" teriak gadis cantik dengan gaun yang terlihat indah itu. Kia menyambut kedatangan Mutia dengan sangat bahagia.
"Kia, selamat ulang tahun." Meski sedikit ragu Mutia memberikan bingkisan berwarna merah itu pada sahabatnya.
"Wah terimakasih, Mutia. Aku senang sekali kamu datang." Lantas mereka saling berbincang. Mutia sempat beberapa kali merasa minder saat Kia memperkenalkannya dengan teman-teman kuliahnya. Mereka berpendidikan, sedangkan aku?
Mutia memilih menyingkir saat gadis itu di panggil oleh kedua orangtuanya untuk maju ke depan karena hampir tiba pada acara inti.
Semua tamu sudah berkumpul. Termasuk Keluarga Pratama pun hadir di sana. Semua terlihat asik menikmati pesta dengan penuh suka cita. Namun lain halnya dengan seorang laki-laki yang sejak tadi merasa gelisah karena tidak nyaman berada di tengah-tengah keramaian.
Haidar mendadak pusing tatkala mendengar suara saling bersahutan dari para gadis yang merupakan teman-teman dari calon tunangannya itu. Beberapa kali Haidar hendak pergi dan meninggalkan acara, namun Mama Rengganis sudah lebih dulu mencegah laki-laki itu agar tetap tinggal sampai acara itu selesai.
"Selamat ulang tahun, Sayang." Airin mengecup kedua pipi putri tercintanya dengan perasaan bahagia. Di susul dengan Alex, yang sejak tadi sudah berdiri dengan perasaan haru.
"Makasih, Ma. Makasih, Ayah."
Di susul dengan Rengganis dan Arya yang memberikan ucapan selamat juga pada gadis itu. Mereka memberikan kado spesial untuk Kia yang nantinya akan menjadi calon menantunya.
"Kak Haidar mana Tante?" Kedua mata gadis itu menyapu sekitar. Rengganis sendiri baru sadar jika laki-laki itu ternyata sudah tidak ada di sampingnya.
"Mas ...!" bisik Rengganis pada sang suami. Ia merasa tidak enak jika Haidar sampai pergi dan meninggalkan acara Kia begitu saja.
"Sabar ya, Nak, mungkin Haidar sedang ke toilet." Arya mencoba menenangkan gadis cantik yang terlihat mencari keberadaan laki-laki itu.
Benar saja tak lama Haidar muncul dari arah depan sana. Meski tanpa menunjukkan ekspresi apapun tetap saja Kia girang sekali melihatnya. Apalagi saat ini ia tahu jika laki-laki tampan yang tengah berjalan menuju kearahnya tak lain adalah calon suaminya sendiri.
Kala itu Kia baru saja pulang dari kuliah saat Mama Airin tiba-tiba menghampirinya dan mengajak untuk berbicara sebentar
"Mama punya kabar baik untukmu, Sayang."
__ADS_1
"Kabar apa sih, Ma?" tanya Kia dengan wajah kurang bersemangat.
Airin tiba-tiba saja menarik tangan gadis itu dan memintanya untuk segera duduk. "Mama yakin kau akan senang mendengarnya."
"Nanti aja ya, Ma. Kia capek!" Gadis itu sudah bangkit dan hampir mengayun langkahnya meninggalkan ruang tamu. Tapi, Airin buru-buru menariknya lagi dengan cepat.
"Dengarkan Mama dulu!"
Kia menatap malas sang mama. Sejujurnya suasana hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Galau berat karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Sebenarnya Mama mau ngomong apa sih?" tanya Kia tak sabaran. Gadis itu hanya ingin secepatnya pergi dan beristirahat di kamarku.
Airin hanya tersenyum menanggapi pertanyaan gadis itu. Pasanglah wajah semalas mungkin, tapi setelah ini kau pasti akan terus tersenyum, bisik wanita paruh baya itu dalam hati.
"Ma ...!" Kia benar-benar bingung melihat sang mama yang malah diam dan hanya menatapnya.
"Kau tahu, jika Om Arya udah menyetujui perjodohanmu dengan Haidar!" ucap Airin dengan tatapan serius.
"Maksud, Mama?" Kia hanya mengernyit heran. "Mama jangan becanda ih, nggak lucu lho!" Gadis itu melengos menyembunyikan detak jantungnya yang berdebar tak karuan.
"Mama nggak bohong, Nak, Om Arya dan Ayah memang udah sepakat untuk menjodohkan kalian." Airin berusaha meyakinkan gadis itu bahwa ucapannya tadi tidaklah main-main.
"Be ... benarkah?" ungkap Kia tak percaya. Gadis itu terdiam beberapa saat, sampai akhirnya kembali bersuara setelah sang mama meyakinkannya sekali lagi.
"Apa kau bahagia? Kau menyukai Haidar, kan?" tanya Airin menuntut penjelasan dari putrinya.
"Tapi, Ma?"Kia mendadak bingung karena Haidar tiba-tiba menerima perjodohan itu. Padahal selama ini saat ia coba mendekatinya Haidar malah terlihat acuh dan terus mengabaikannya.
"Masalah itu tak perlu kau pikirkan. Yang penting sekarang Kia bahagia, kan?" goda Mama Airin lagi. Wajah Kia langsung bersemu merah menahan malu yang tak terkira.
"Selamat ulangtahun." Kia tersentak dari lamunannya tadi saat mendapati laki-laki itu sudah berdiri di depannya. Malam ini Haidar menggunakan tuxedo lengkap dengan sepatu warna senada hingga membuat ketampanan laki-laki itu kian bertambah.
"Ma–maksih, Kak!" Kia menjadi canggung setelah mendengar kabar perjodohannya dengan Haidar.. Berbeda sekali dengan dulu saat masih mengejar cinta laki-laki itu.
"Wah isinya apa tuh?" Rengganis berusaha mencairkan suasana. Ia melirik penasaran pada bungkusa yang baru saja di berikan Haidar untuk Kia.
__ADS_1
"Sesuatu, Ma, seperti yang Mama bilang, kan?"
Rengganis langsung mengunci mulutnya rapat. Niatnya tadi hanya ingin menggoda Kia, tapi malah Haidar menjawabnya langsung, secara terang-terangan pula.
"Oh iya, Kia mau kenalin seseorang sama Om dan Tante." Lalu pandangan Kia melirik kearah Haidar. "Sama Kakak juga."
"Oh, ya? Siapa?" tanya Rengganis dengan rasa ingin tahu.
"Eh, mana ya?" Kia menyapu seluruh ruangan yang masih terlihat ramai oleh teman-temannya. Tapi, ia sama sekali tak melihat keberadaan sahabatnya itu.
" Sebentar, Tante. Kia cari dulu." Gadis itu menarik sedikit gaunnya keatas. Dengan langkah penuh hati-hati Kia berjalan mencari di mana keberadaan Mutia.
"Astaga, kenapa dia malah ada di sini?" Kia langsung menghampiri Mutia saat melihat keberadaan gadis itu. Mutia tengah duduk sendirian di sudut ruangan. Entah apa yang tengah ia lakukan di sana.
"Mutia, apa yang kamu lakukan?" Kia memasang wajah kesal. Ia sudah mencari ke sana-sini dan gadis itu malah santai saja. "Ayo ikut. Aku akan memgenalkanmu pada kekasihku dan keluarganya." Kia sengaja menarik tangan gadis itu agar segera mengikutinya.
"Apa? Nggak! Kamu gila ya? Ngapain sih kenalin aku ke mereka?" Tentu saja Mutia menolaknya. Ia merasa tidak pantas berada di tengah-tengah mereka.
"Udah nggak apa-apa. Kamu 'kan sahabat aku!" Kia masih saja terus memaksanya. Menarik tangan Mutia agar secepatnya berdiri dan mengikuti langkahnya.
"Tapi ... aku ..."
"Udah, ayo!" Kia memaksanya dengan keras, menarik tangan Mutia dengan sekuat mungkin.
"Tapi, Kia .... bagaimana kalau nanti?" Tidak ingin sampai Kia terjatuh karena berusaha menariknya, Mutia terpaksa bangkit dan mengekor di belakang gadis itu.
Kia berjalan cepat kearah keluarganya berkumpul dengan masih menggandeng tangan gadis itu. Sedangkan Mutia sendiri menunduk tidak berani memperlihatkan wajahnya karena malu.
"Kalau Mama sama Ayah udah kenal 'kan sama dia?" tanya gadis itu pada kedua orangtuanya.
Mereka hanya mengangguk sambil tersenyum membalas ucapan putrinya. Sedangkan Rengganis dan Arya menunggu Kia untuk memperkenalkan siapa sahabatnya itu.
"Nah, Tante, Om, kenalin, ini Mutia sahabat aku!" ucap Kia pada dua orang yang tengah berdiri bersebelahan. Mutia hanya tersenyum canggung, lantas mencium kedua tangan orang tua itu dengan sopan.
Selanjutnya pandangan Kia beralih pada laki-laki muda yang sejak tadi hanya diam, namun menatap kedatangannya dengan pandangan yang sangat sulit di artikan.
__ADS_1
"Kakak, kenalin dia ..."