
Seperti pesan yang tertulis pada bunga yang Kia dapatkan kemarin, gadis itu benar-benar ingin tahu siapa sebenarnya orang yang selama ini telah mengirimkannya makanan setiap pagi. Kia melangkah ke area belakang kampus setelah mata kuliahnya selesai dengan langkah sedikit ragu.
Meski terbesit rasa curiga, takut jika itu ulah orang tak bertanggung jawab yang sengaja ingin mencelakainya. Kia tetap berjaga-jaga dengan membawa sesuatu yang sudah ia persiapkan dari rumah.
Melangkah hati-hati Kia benar-benar di buat penasaran dengan sosok yang saat ini sudah terlihat dari kejauhan.
"Si–siapa kamu?!" tanya Kia dengan posisi waspada. Kia sudah bersiap berteriak jika nanti orang asing itu memang punya niat jahat terhadapnya.
"Ternyata kamu benar-benar datang, Kia." Masih dengan posisi membelakangi, lelaki itu sengaja tidak melepas topi serta kaca mata hitam yang ia kenakan.
"Siapa kamu? Dan, untuk apa kamu terus mengirimkan makanan untukku?" tanya Kia lagi. Gadis itu berusaha lebih mendekat lagi demi memastikan siapa laki-laki yang tengah berdiri membelakanginya.
Sepertinya aku pernah mendengar suara ini, tapi di mana? Kia hanya membatin sendiri, berusaha mengingat di mana ia pernah mendengar suaranya.
"Aku tahu belakangan ini kamu tak pernah sarapan." Ucapan laki-laki sontak membuat Kia membelalakkan mata.
"Da–ri mana kamu tahu?"
"Tidak ada yang aku tidak tahu tentangmu, Azkia Aditama," jawab laki-laki asing itu dengan jelas.
"Sebenarnya siapa kamu? Apa tujuanmu menyuruhku ke sini?!"
Laki-laki di depan sana terlihat memutar tubuhnya. Kini Kia bisa dengan jelas melihat penampilannya dari depan.
"Aku tidak mengenalmu, maaf." Kia berniat untuk pergi. terserah apa tujuan laki-laki asing itu.
"Apa kamu benar-benar tidak mengenalku?"
Kia menghentikan langkah. Ia berbalik lagi dan ....
Ternyata laki-laki asing tadi sudah membuka topi serta kaca mata hitam yang menutupi wajahnya.
"Sandi ...?!"
.
.
.
"Mas Yusuf, tunggu?!" Kania mengejar Yusuf yang buru-buru masuk lift dan hendak menuju ke ruangannya. Gadis itu tidak peduli meski beberapa karyawan Yusuf ada yang menatapnya dengan pandangan sinis.
__ADS_1
"Dasar, tidak tahu malu!"
"Iya, kaya nggak ada harga dirinya. Udah di tolak tetap aja maksa!"
"Aku juga heran kenapa Tuan Yusuf pernah memiliki hubungan dengan gadis seperti dia!"
Kania hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Jika saja tadi Yusuf tidak mengancam akan menyeretnya keluar dari kantor, Kania sudah pasti akan membungkam semua orang yang tengah menggunjingnya.
"Sebaiknya kamu pulang, Kania. Aku sibuk, banyak kerjaan yang harus aku selesaikan!" ungkap Yusuf setelah tiba di ruangannya. Padahal sudah hampir setahun lebih Yusuf menolak Kania dan berusaha menghindari gadis itu, tapi entah kenapa Kania justru semakin gencar mendekatinya lagi setiap kali ada kesempatan.
"Kamu tahu, kan akhir-akhir ini pekerjaanku menumpuk!"
"Aku tahu, Mas. Aku juga tidak keberatan untuk membantumu." Kania justru menawarkan bantuan untuk Yusuf. "Bukankah sebentar lagi pekerjaanmu akan menjadi pekerjaanku juga?" Berbicara dengan sangat percaya diri.
"Jangan mimpi, Kania. Aku sudah tegaskan, jika hubungan kita hanya sebatas rekan kerja. Tidak akan lebih!" Yusuf menegaskan hubungannya.
"Tapi kenapa, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran? Apa aku ada Salah?"
"Tidak, Kania. Aku hanya ... maaf ... sekali lagi aku tidak bisa."
Cairan bening hampir saja merembes dari kedua pelupuk mata. Kania tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk Yusuf. Laki-laki itu terlalu sulit untuk Kania takhlukan. Yusuf benar-benar menolak cinta Kania secara terang-terangan.
"Perasaan itu akan tetap ada, Kania."
"Tapi, Mutia udah nikah, Mas! Dia udah hidup bahagia!" Pertahanan Kania nyaris roboh saat Yusuf secara sadar menyatakan perasaannya pada Mutia, meski gadis itu telah di miliki orang lain.
"Lantas kenapa memangnya kalau sudah menikah? Aku juga tidak punya niat sedikit pun merusak rumah tangganya. Aku akan bahagia jika melihatnya juga bahagia."
"Gila kamu, Mas!"
Kania sungguh sakit hati mendengar semua pengakuan Yusuf. Gadis itu berbalik dan melangkah pergi setelah membanting pintu ruangan Yusuf dengan sangat kencang.
.
.
.
Hari-hari Lydia di lalui dengan begitu berat. Meski dengan berbagai pertimbangan, perempuan itu tetap harus menjalankan hukuman lima tahun di dalam penjara.
Hidup Lydia benar-benar hancur. Setelah di tetapkan sebagai tersangka atas kejadian yang menimpa Mutia, Yudi sama sekali tidak pernah menemuinya lagi. Padahal ia tidak tahu saja hidup Yudi tak kalah berantakan setelah Laura menendangnya dan harus susah payah mencari pekerjaan lain demi menyambung hidup.
__ADS_1
Setelah melewati masa setahun hukuman, hari ini pertama kalinya Lydia di beritahu jika ada tamu yang tengah menjenguknya di ruangan tunggu. Lydia berbinar senang, menebak siapa sih kira-kira yang saat ini datang.
Saat matanya menangkap sosok itu, Lydia langsung melotot di buatnya.
"Mas ....?!"
Pria di depan sana hanya mengulas senyum tipis. "Apa kabar? Kau masih mengingatku?"
"Mas ...?" Lydia buru-buru menguasai dirinya sendiri. "Kamu datang pasti mau bebasin aku, kan?"
Mendengar ucapan Lydia, pria di depan sana malah tergelak kencang. "Bebasin kamu?!"
"Iya, kamu mau bebasin aku, kan? Kamu masih cinta, kan sama aku? Lydia kembali melayangkan pertanyaan.
"Jangan mimpi, Lydia!!"
Lydia langsung mundur beberapa langkah. Perempuan itu juga melihat ekspresi pria di depan sana berubah seketika. "Kau pikir aku mau memungut lagi barang murahan sepertimu!"
Kalimat itu langsung menghujam harga diri Lydia.
"Lalu, untuk apa kamu datang ke sini, Mas? Jika bukan untuk bebesin aku?"
Broto tergelak lagi, kini suaranya nyaris memenuhi langit-langit ruangan itu.
"Aku hanya ingin melihat seperti apa hidupmu yang menyedihkan," ungkap pria yang pernah menjadi kekasih dari Lydia itu. "Jadi, seperti ini kondisimu sekarang?" Menggeleng tak percaya.
"Mas, tolong ... bebasin aku." Lydia memelas. Matanya terlihat berkaca-kaca. "A–aku minta maaf atas kejadian ..."
"Aku malah bersyukur kamu pergi dari apartemen milikku!" potong Broto tiba-tiba. "Dan, setelah itu akhirnya Seli mau memaafkanku," ungkap Broto pada Lydia. Meski sebenarnya ia pernah membayar orang untuk mencari di mana keberadaan Lydia.
"Tapi ... aku sungguh masih mencintaimu. Apa kamu benar-benar sudah tidak menginginkan aku lagi?"
"Ck! Kamu pikir aku akan termakan rayuanmu lagi?!" Broto menghempas tangan Lydia yang berusaha merayunya. "Dasar perempuan murahan!"
"Mas ...!"
"Pergi kamu! Aku tidak sudi melihatmu lagi!"
"Kumohon ..." Saat ini tidak ada lagi yang bisa Lydia harapkan. Satu persatu mereka telah meninggal Lydia tanpa belas kasihan lagi.
"Dasar, perempuan murahan!!"
__ADS_1