
Mutia menatap penampilannya sekali lagi sebelum melangkah masuk melalui lobby kantor Pratama Group. Gadis itu ragu, karena selama ini belum pernah sama sekali merasakan bekerja di lingkungan seperti ini. Di tambah lagi pendidikan Mutia yang hanya lulusan SMA, apa mungkin perusahaan besar ada yang mau menerimanya?
"Silahkan masuk, Nona." Pak Satpam yang berjaga di depan lobby langsung mempersilahkan gadis itu masuk. Mutia sampai melongo dibuatnya. Kemarin saja sampai di usir-usir. Sekarang di sambut seperti tamu kehormatan.
"Eh ...!" Mutia sedikit bingung karena pria itu juga yang mengusirnya.
"Nona Mutia, kan?" Seorang perempuan juga datang menyapanya. Entah dari mereka tahu jika hari ini ia akan menjadi salah satu calon karyawan di perusahaan itu. Ingat ya, masih CALON! ucap Mutia menyadarkan posisinya.
"Nona di minta langsung saja ke ruangan Tuan Haidar," ucap perempuan itu lagi yang membuat Mutia langsung menghentikan langkahnya.
"Apa, Mbak?" tanya Mutia memastikan. Mungkin saja ia yang salah tangkap.
"Anda di minta ke ruangan Tuan Haidar langsung." Perempuan itu mengulang ucapannya tadi.
"Tapi .... bukannya saya harus melakukan wawancara lebih dulu?" tanya Mutia pada perempuan di depannya.
"Tuan Haidar sendiri yang memintanya." Sebenarnya ia juga bingung kenapa gadis di depannya ini langsung di suruh ke ruangan sang bos. Bukannya sebagai calon karyawan baru, gadis itu seharusnya melewati beberapa persyaratan lebih dulu. Apa karena ia teman dari calon tunangannya hingga mendapat perlakuan yang istimewa? Perempuan itu hanya bisa membatin tanpa berani mengungkapkannya langsung.
"Oh baiklah." Mutia hanya menurut saja. Menggunakan lift seperti yang kemarin ia pakai bersama Kia, gadis itu naik menuju lantai ruangan milik sang bos.
Kemarin setelah drama yang lumayan panjang, akhirnya laki-laki itu memutuskan mempertimbangkan usulan Kia untuk menjadikan dirinya sebagai sekretaris baru di perusahaannya.
"Besok suruh dia datang ke mari!" ucapan Haidar sembari menunjuk kearah Mutia. Kia langsung tersenyum, merasa berhasil karena rayuannya mampu meluluhkan hati laki-laki itu.
"Oke! Besok aku yang akan mengantarkannya ke sini!" Sebagai seorang sahabat, Kia tidak mungkin membiarkan Mutia berangkat seorang diri ke tempat kerjanya yang baru.
"Tidak usah! Biarkan dia berangkat sendiri!" tolak Haidar tanpa di sangka. Kia yang tengah duduk di sofa ruangan itu langsung bangkit dan mendekat kearah kekasihnya.
"Kenapa? Aku yakin Mutia juga nggak keberatan."
__ADS_1
Ungkapan Kia langsung di tanggapi dengan gelengan kecil Haidar. "No! Biarkan dia belajar mandiri!" Lantas pandangan laki-laki itu beralih pada gadis yang masih duduk di sofa ruangannya. "Kau tidak keberatan, kan berangkat sendiri?"
Mutia hanya bisa mengangguk cepat. Sebenarnya gadis itu ingin sekali ada yang menemaninya saat pertama masuk kerja, tapi ..
"Silahkan, Nona. Tuan Haidar sudah menunggu Anda di dalam." Mutia tersadar dari lamunannya saat perempuan yang mengantarnya tadi bersuara tepat di depannya. Pintu ruangan sang bos terlihat sedikit terbuka. Gadis itu takut-takut untuk melangkah. Namun, karena sudah mendapatkan ijin langsung, Mutia akhirnya memberanikan diri untuk mendorong pintu ruangan itu hati-hati.
Pelan-pelan Mutia melangkah saat suara bariton laki-laki itu terdengar dari arah balik kursi miliknya.
"Kau terlambat lima menit!"
Mutia tergagap. Ia melirik jam di pergelangan tangannya dan benar. "Maaf, Tuan, tadi saya ..."
"Jangan di ulangi, aku tidak suka waktuku terbuang sia-sia!" ucap laki-laki di depan sana dengan begitu dingin. Mutia sendiri sampai mengerjapkan matanya beberapa kali karena belum percaya jika yang duduk di depannya adalah Haidar, laki-laki tengil yang kemarin sempat menggodanya di restoran. Tapi, kini sikapnya sangat berbeda saat berada di kantor.
"Mau sampai kapan kau berdiri di situ?" Suara Haidar kembali menyentak lamunan Mutia. Entah sejak kapan laki-laki itu sudah berdiri tepat di depannya. Haidar tengah menatap penampilan Mutia dari atas sampai bawah.
"Lumayan," bisiknya pelan.
"Baik, Tuan, saya permisi dulu." Gadis itu menuju ruangan yang hanya bersekat kaca sebagai pembatasnya itu. Mutia mulai duduk dan memeriksa berkas-berkas yang sebenarnya ia tidak tahu sama sekali pa isinya. Beruntung tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka lagi, datanglah perempuan yang tadi mengantarkan sampai di depan ruangan sang bos.
"Mari saya bantu." Perempuan yang tadi memperkenalkan diri bernama Nina itu mengajari Mutia dengan sangat telaten. Ia juga terlihat ramah sekali saat Mutia menanyakan sesuatu yang belum ia pahami.
"Tenang, lama-lama nanti kamu pasti terbiasa kok. Yang penting mau belajar aja."
Mutia hanya mengangguk setuju.
"Apa Tuan Haidar nggak bakal marah kalau aku belum bisa kerja dengan cepat? Tuan Haidar galak nggak sih?" Mutia sedikit memelankan suaranya. Gadis itu ingin tahu sedikit saja mengenai sang bos. Jika bertanya pada Kia, tentunya tidak enak kan? Kesempatan, pikirnya mumpung perempuan itu belum pergi dari ruangannya.
Mana aku tahu marah atau tidak, coba aja lah, coba! bisik Nina seraya menatap kearah gadis itu.
__ADS_1
Tapi melihat seperti apa gadis ini di perlakukan, sepertinya ada sesuatu di antara mereka.
Nina terus berbisik sendiri. Ia sama sekali tidak berniat menyampaikannya pada Mutia.
Sampai akhirnya orang yang sejak tadi menjadi topik obrolan itu muncul. Dan parahnya sejak tadi Mutia belum menyadari kedatangannya sama sekali. "Apa nanti kalau aku bikin salah bakal di pecat? Soalnya aku ... aku ...." Gadis itu kembali melontarkan pertanyaan lagi.
Tapi, yang di tanya malah bungkam dan terlihat gelisah sekali. Seolah tengah menahan sesuatu.
"Udah gosipinnya?" Tiba-tiba suara Haidar terdengar tepat berada di belakangnya. Gadis itu gelagapan, Mutia buru-buru memutar tubuhnya dan mendapati laki-laki itu sudah berdiri di sana.
"Tu ... Tuan?" Mutia menelan salivanya kasar. Wajahnya juga memucat menyadari kesalahan yang baru saja ia lakukan.
"Sejak kapan Anda di sini?" Berharap tidak mendengar apa yang di bicarakan baru saja. Padahal jelas Haidar mendengarnya dengan gamblang.
Pandangan laki-laki itu mengarah pada Nina. Seolah tahu, perempuan itu buru-buru pamit dan meninggalkan Mutia sendirian di ruangan itu.
"Mba, mau ke mana?" Mutia merasakan udara di ruangan itu berubah. Rasanya ia ingin ikut kabur saja, tapi ke mana?
"Jangan bergosip saat jam kerja!" Seolah sindiran itu di tujukan padanya. Mutia hanya mengangguk saja mendengar penuturan Haidar.
"Maaf, Tuan, tadi saya hanya ..."
"Bergosip? Kenapa tidak bertanya saja pada orangnya langsung?" sambar laki-laki itu cepat.
Apa! Nggak mungkin lah, gila aja masa suruh nanya sama dia sendiri.
"Maaf, Tuan. Sekali lagi maaf. Saya janji tidak akan bergosip lagi."
"Kenapa?
__ADS_1
"Hahhh ...! Maksudnya?"
"Kenapa memangnya kalau saya galak?" tanya Haidar lagi.