Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Berkelahi


__ADS_3

Berkelahi ala perempuan pasti tak lepas dari adegan tarik menarik rambut, atau tampar menampar. Itulah yang Haidar lihat di depan matanya sejak tadi. Meski ia sudah mencoba melerai, tapi tetap saja kuwalahan dengan dua gadis yang terlibat perkelahian di toko perhiasan hari ini.


Tak jarang Haidar sendiri yang malah terkena amukan dari keduanya. Ia yang berusaha menjauhkan Kia malah nyaris terkena cakaran oleh kuku milik gadis itu.


Apalagi Mutia, gadis itu beberapa kali terdorong hingga hampir jatuh tersungkur karena mencoba melerai perkelahian antara Kia dan Kania yang di sebabkan oleh dirinya.


"Lepasin, Kak! Aku harus kasih pelajaran sama orang nggak tahu diri itu!" berontak Kia sembari mencoba melepas pegangan tangan Haidar. Sudah tidak tahu seperti apa penampilannya saat ini, karena sejak adegan tarik rambut tadi gadis di depan sana juga berusaha membalas perlakuan Kia.


"Udah, Kia, jangan buat keributan lagi!" seru Haidar mencoba menenangkannya.


"Astaga ya Tuhan ... bagaimana ini?" pekik Mutia dengan wajah panik. Sebenarnya Kia hanya mencoba membela gadis itu, tapi Mutia sendiri malah kebingungan tidak tahu harus melakukan apa saat di depan matanya terjadi adu mulut serta di lanjutkan dengan tarik menarik rambut.


"Lepasin, Pak! Aku mau hajar gadis kurang ajar itu lagi!" Kania tak kalah emosi. Gadis itu masih berusaha memberontak meski sudah di pegangi oleh seorang satpam dan dua orang temannya.


"Gadis tak tahu diri! Sini maju, biar ku gunduli sekalian rambutmu!" teriak Kia pada gadis di depan sana.


"Apa! Dasar gadis bar-bar! Bela saja terus anak pelakor itu!" balas Kania tak mau kalah.


"Kau tak sadar dengan ucapanmu?" Kia tersenyum sinis menatap kearah Kania yang juga masih terlihat emosi. "Bukankah mama–mu yang merebut papanya Mutia! Mama–mu yang menggodanya, kan?"lanjutnya lagi.


"Tutup mulutmu, sialan! Kau tak tahu apa-apa, jangan ikut campur!" Kania merasa tidak terima saat sang mama di sebut sebagai perebut dari papa gadis di depan sana. Meski kejadian yang sebenarnya memang seperti itu.


"Aku tahu semuanya! Bahkan aku tahu kalau kau yang merebut calon suami dari Mutia juga, kan? Dasar menjijikkan!" Kia bersuara lagi.


"Sekarang kamu tahu 'kan siapa yang pantas di sebut pelakor!" Kia semakin memojokkan gadis itu. Baginya inilah kesempatan untuk membuat perhitungan pada Kania. Ia tidak perduli jika nantinya urusan ini jadi panjang dan berakhir di kantor polisi sekalipun.

__ADS_1


"Kau ...!" Wajah Kania memerah menahan amarah sekaligus malu. Ia melirik orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka sontak berbisik dan memaki kearahnya.


"Dasar, orang tua dan anak sama-sama pelakor!" bisik salah satu dari mereka.


"Iya. Cantik-cantik tapi nggak tahu diri!"


"Eh, apa mereka saudara? Aku dengar tadi gadis yang di depan sana adalah kakak tirinya?" Menunjuk kearah Mutia.


"Kasihan sekali ya dia selalu di salahkan!"


"Tega sekali ya, pelakor teriak pelakor!"


Bisik-bisik itu Kania dengar dari para orang yang menonton adegan pertengkarannya dengan Kia tadi. Niatnya ingin mempermalukan Mutia di hadapan orang-orang, kini malah dirinya sendiri yang mendapatkan cacian serta cemoohan dari mereka.


"Dih nggak tahu diri sekali dia! Kenapa ada gadis sejahat dia, sih!" ucap salah satu dari mereka lagi.


"Tolong, Nona, jangan membuat keributan di sini!" Pak satpam menengahi pria itu juga tak kalah bingung. Ia khawatir jika salah satu dari mereka ada yang merekam kejadian tadi dan menyebar luaskannya.


"Kia, udah ya? Kamu nggak perlu belain aku sampai kaya gini!" Rasanya Mutia ingin langsung menghentikannya. Tapi, Kia masih ngotot ingin memberikan pelajaran pada gadis di depan sana.


"Harusnya kamu lawan dia, Mutia! Kalau kamu diam aja, gadis tak tahu diri itu makin menjadi!" Benar yang di ucapkan Kia. Tapi, entah rasanya dari dulu Mutia memilih diam dan menghindar saja daripada meladeni.


"A–aku ...?"


"Jadi orang jangan lemah, Mutia! Jangan mau di tindas terus! Kalau kamu nggak berani, biar aku yang kasih pelajaran ke dia!" tunjuk Kia pada gadis di depan sana lagi.

__ADS_1


"Tapi, dia anak dari papaku, Kia. Bagaimana–pun juga dia adik tiriku." Entah terbuat dari apa hati gadis ini, Kia sendiri sampai menggeleng tak percaya mendengar pernyataan Mutia baru saja.


"Adik ...?" Kia membalas dengan terkekeh pelan. "Apa kamu masih menganggapnya sebagai adik setelah semua yang dia lakukan padamu?" ulang Kia lagi.


"Jangan bodoh, Mutia! Kamu berhak bahagia. Kamu nggak harus memikirkan perasaan mereka yang sama sekali tidak pernah mempedulikanmu!"


"Kia udah! Kamu tak perlu mengajari Mutia untuk membalas perlakuan mereka seperti yang kamu lakukan!" Haidar menggeleng cepat. Ia tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi.


"Kakak apa-apaan sih! Aku nggak ngajarin! Aku cuma pengen Mutia nggak diam aja! Nggak nangis lagi kalau di hina-hina kaya tadi!" protes Kia tak mau kalah. Sejak kecil Kia sudah terbiasa dengan didikan seperti itu dari kedua orangtuanya.


Sedangkan Mutia langsung menunduk. Ia bersyukur sekali memiliki sahabat yang sangat peduli dengannya. Tapi, apa gunanya ia melawan? Toh, apapun yang ia lakukan selama ini selalu di anggap salah oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka selalu memandang apapun dari materi, sedangkan ia sendiri tidak memiliki itu.


"Mutia ... maaf, aku tak bermaksud ..?" Kia langsung sadar saat melihat wajah Mutia langsung murung. Ia tak ada maksud ingin menyinggungnya. Tapi, ia hanya ingin Mutia bersikap sedikit tegas agar tidak lagi mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan.


"Aku tak apa-apa, Kia. Makasih udah mau jadi sahabat aku." Kedua mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Ada benarnya juga apa yang si ucapkan oleh Kia. Apa sebaiknya memang seperti itu? Lantas, apa ia memiliki keberanian untuk melawannya suatu saat nanti jika di hina lagi?


"Tolong semua bubar!" Satpam tadi membubarkan kerumunan orang-orang itu. Haidar mengajak kedua gadis itu untuk menyingkir, menghindar agar tidak lagi membuat keributan.


Sedangkan ketiga gadis tadi juga sudah menyingkir. Kania duduk di sebuah bangku untuk merapikan penampilannya yang sudah sangat acak-acakan. Rambut kusut dan banyak yang tercabut dari akarnya hingga membuat penampilan gadis itu nyaris seperti gembel.


"Kania, kau tak apa-apa, kan? Apa ada yang luka? Astaga .... kenapa penampilanmu jadi begini sih?!" Salah satu temannya memekik terkejut melihat penampilan gadis itu yang sudah tak berbentuk lagi.


"Diam, bodoh! Dasar, teman tak berguna!" maki gadis itu dengan sorot mata kesal. Kania merasa kedua temannya itu tak membelanya sama sekali. Mereka malah ketakutan sendiri saat melihat adegan pertengkarannya tadi dengan gadis bar-bar itu.


"Apa otakmu masih baik-baik saja? Apa ada yang perlu di ganti?" celetuk salah satu dari mereka lagi.

__ADS_1


__ADS_2