
"Mutia, kamu tunggu di sini, aku ingin menemui Ayah sebentar!" perintah Haidar pada gadis di sampingnya. Haidar melepaskan tautan tangannya dan menyuruh Mutia untuk menunggu di salah satu meja yang tersedia dalam acara pertemuan tersebut.
"Baik, Tuan, saya duduk di sini saja ya?" Memilih meja paling pojok, Mutia hanya ingin menghindari tatapan para tamu yang sejak tadi tidak berhenti menatapnya.
Ada apa denganku? Kenapa mereka menatapku seperti itu? Apa aku tak pantas memakai pakaian seperti ini? Mutia merasa minder sendiri saat di di hadapankan dengan para wanita berkelas yang ada di sana.
"Mutia?!" Tiba-tiba saja seorang laki-laki muda berjalan mendekat. Yusuf tersenyum senang mendapati mantan kekasihnya juga ada di acara pertemuan penting tersebut. "Kamu ada di sini juga?"
"Ngapain kamu ada di sini, Mas?" Tak sadar jika pertanyaan itu di anggap konyol oleh Yusuf.
"Aku ada di sini karena ini memang pertemuan bisnis, kan?" ucap laki-laki itu sembari melempar senyum kearahnya.
"Astaga, kenapa pertanyaanku aneh begini sih! Dan, kenapa pula aku gugup?" Mutia membatin sendiri. Terlihat betapa bodohnya dia.
"Apa kabar, Mutia? Kamu baik-baik aja, kan?" Yusuf kini sudah duduk di depan Mutia. Laki-laki itu juga memanggil salah satu pelayan yang tengah membawa minuman dan mengambil dua gelas untuk ia berikan pada gadis di depannya.
"Minumlah! Kamu pasti haus, kan?" Menyodorkan kearah Mutia.
"Terimakasih. Tak perlu, aku bisa mengambilnya sendiri!"
Keduanya terlihat canggung. Obrolan mereka juga terdengar kaku. Mungkin karena sikap Mutia yang dingin setiap kali membalas ucapan Yusuf. Tapi laki-laki itu tak menyerah. Yusuf terus berusaha mengajak Mutia berbincang meski terkadang gadis itu hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
"Sebaiknya kamu pergi, Mas! Aku tak ingin ada yang salah paham!" usir Mutia pada laki-laki di depannya. Gadis itu merasa tak enak sendiri, apalagi kalau sampai Kania melihatnya bisa-bisa gadis itu langsung marah dan memakinya lagi.
"Salah paham apa, Mutia? Tenanglah, kamu tak perlu cemas seperti itu. Lagi pula aku tak memiliki hubungan dengan siapapun. Jadi, kamu tak perlu khawatir." Yusuf malah tersenyum membalasnya. Hal itu membuat gadis di depan sana semakin tidak nyaman saja.
"Kumohon, pergi, Mas!"
"Mutia ...!!" Suara melengking itu nyaris memekakkan telinga orang-orang yang berada di sekelilingnya. Semua pandangan tertuju pada gadis yang di sebut namanya tadi. Begitupun dengan Mutia, gadis itu langsung bangkit dan menyambut kedatangan sahabatnya dengan wajah bingung.
Plak!
Byurr!
__ADS_1
Satu tamparan keras serta satu guyuran air berhasil mendarat sempurna di wajah gadis itu. Mutia langsung gelagapan, ia memegangi sebelah pipinya yang berdenyut akibat bekas tangan sahabatnya sendiri.
"Kia ...?"
"Keterlaluan, kamu!!" maki gadis itu lagi. Kia terlihat emosi sekali hingga tidak sadar aksinya menjadi tontonan gratis orang-orang yang berada di ruangan itu.
"Kia, ada apa ini? Kenapa kau menampar Mutia?" Tentu saja Yusuf ikut terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka jika Mutia akan mendapatkan perlakuan seburuk itu.
"Diam kamu!" Menunjuk kearah Yusuf.
"Kia ... apa salahku? Kenapa tiba-tiba kamu datang dan berbuat seperti ini?" tanya Muti tak mengerti.
"Kamu tanya apa salahmu?! Dasar, gadis murahan! Bisa-bisanya kamu sekarang sama laki-laki ini. Sedangkan tadi kamu ke sini sama Kak Haidar, kan?" Mutia membeberkan semua alasan kemarahannya. Ia tak menyangka jika selama ini Mutia telah mengkhianati kepercayaan yang ia berikan.
"Mutia, ini nggak seperti yang kami lihat! Aku bisa jelasin!" Mutia melangkah dan berusaha memegang tangan gadis itu. Tapi, Kia buru-buru menepisnya dengan kasar.
"Aku nggak butuh penjelasan kamu!"
Di sebelah sana Kania bersorak senang melihat pemandangan itu. Akhirnya semua kebenciannya pada Mutia terbalaskan sudah. Ia tidak perlu mengotori tangannya sendiri. Lebih baik mendekat dan memprovokasinya lagi agar pertengkaran itu semakin seru.
Kedua bola mata miliknya langsung tertuju pada gadis yang baru saja tiba di depannya. Gadis cantik itu melangkah mantap kearah Mutia dan ternyata bukan hanya makian yang Kania berikan, melainkan gadis itu ikut mendaratkan satu tamparan lagi di sebelah pipi Mutia.
Plak!
"Akhh ...!" Mutia meringis. Kini kedua pipinya terlihat memerah akibat tamparan dua gadis di depannya.
"Dasar anak pelakor! Kau tak pantas ada di tempat seperti ini!" Sembur gadis itu tiba-tiba. Kania sengaja mengencangkan suara agar semua orang yang ada di ruangan itu bisa mendengar teriakannya itu.
"Hahh, anak pelakor? Jadi, gadis cantik itu seorang anak pelakor?
"Nggak nyangka padahal cantik lho!"
"Eh, hati-hati ada bibit pelakor!"
__ADS_1
Semua orang yang ada di ruangan itu saling berbisik membicarakan Mutia. Gadis itu terlihat mengepalkan kedua tangannya sendiri. Ia masih terima jika dirinya yang dihina. Tapi, Kania sungguh keterlaluan saat lagi-lagi ia menyebut orang tuanya sebagai pelakor.
Plak!
"Itu balasan karena kamu udah berani hina Mama aku!" tamparan Mutia yang cukup kuat berhasil membuat orang-orang yang berada di sekitarnya membelalak tak percaya.
"Kau ...!!" Dengan penuh emosi Kania berniat membalas, tapi Mutia sudah lebih dulu menangkap pergelangan tangan gadis itu dan mencengkeram dengan erat.
"Akh ... lepas, sialan!" Kania meringis merasakan pergelangan tangannya yang perih.
"Kamu pikir aku nggak berani bales kamu!" Bukannya melepaskan, Mutia malah memutarnya hingga gadis itu merintih merasakan tangannya yang seakan mau patah.
"Ini untuk kekurang ajaranmu selama ini!" Mutia tak peduli meski Kania sudah meronta minta di lepaskan.
"Hei, lepas gadis kurang ajar! Kau bisa mematahkan tangan putriku!" Laura panik bukan main melihat kondisi Kania dengan posisi tangan yang di plintir ke belakang. Bagaimana kalau benar-benar patah?
"Ma, tolong ... sakit ..."
Laura sudah frustasi saat berusaha membujuk Mutia, tapi gadis itu tetep enggan melepaskannya. Matanya melirik ke sana ke mari mencari Yudi yang entah di mana ke beradaannya.
"Ah, sial! Ke mana kamu, Yud!" maki Laura pada suaminya sendiri.
Mutia merasa puas telah berhasil memberi pelajaran pada gadis tak tahu diri itu. Ia mendorong tubuh Kania hingga gadis itu jatuh tersungkur dengan posisi duduk.
Sementara Kia yang melihat aksi berani Mutia masih tak percaya jika gadis yang berdiri di depannya adalah sahabatnya sendiri. Kia yang terlanjur kesal akibat hasutan Kania tadi belum cukup puas melampiaskan emosinya pada gadis itu.
"Ternyata kamu bukan hanya tak tahu diri, tapi juga liar!" Ucapan itu lolos begitu saja dari bibir Kia. Mutia sungguh tak percaya bahwa sahabatnya akan menghinanya habis-habisan.
"Sekarang kamu puas 'kan udah berhasil rebut Kak Haidar dari aku? Ck, dasar penghianat!" Lagi-lagi Kia menyebutnya sebagai penghianat.
"Kia ... ini nggak seperti yang kamu bayangkan!" bantah Mutia sembari berusaha mendekat kearah Kia. Tak peduli dengan perlakuan Kia terhadapnya tadi, Mutia tidak ingin persahabatannya sampai hancur hanya karena kesalahpahaman.
"Jangan sentuh, aku! Pergi kamu!" Kia mendorong Mutia dengan sangat kencang. Mutia yang tak siap hanya bisa pasrah saat tubuhnya limbung dan mungkin sebentar lagi menyentuh kerasnya lantai. Namun sebelum tubuh Mutia berhasil menyentuh lantai tiba-tiba datang seorang laki-laki yang menangkap tubuh gadis itu dengan sigap.
__ADS_1
"Ada apa ini?!"