
Kia sungguh tidak menyangka ternyata Sandi lah orang yang selama ini mengiriminya makanan setiap pagi. Laki-laki itu bahkan tak ragu langsung mengungkapkan isi hatinya pada Kia.
"Aku menyukaimu Azkia Aditama!" ucap Sandi tanpa ragu. Laki-laki itu melangkah mendekati Kia yang berusaha menghindari.
"Berhenti!"
"Aku tidak akan menyakitimu."
"Ku bilang berhenti, Sandi!" ulang Kia dengan suara yang nyaring. "Jadi ... selama ini kamu yang kirimin aku makanan setiap pagi? Apa kamu juga yang udah taruh bunga di meja aku?" tanya Kia memberondong Sandi dengan pertanyaan.
"Ya. Memang aku yang mengirimkan makanan setiap pagi. Dan, bunga yang selalu ada di atas mejamu, itu juga aku yang meletakkannya." Sandi menjeda kalimatnya. Lalu, setelah beberapa detik terdiam, ia kembali berbicara lagi. "Hadiah-hadiah itu ... aku juga yang mengirimkannya."
"Hadiah ....?" Kia mengulang ucapan Sandi dengan penuh kebingungan. Berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar dari bibir laki-laki itu.
"Jadi ... hadiah-hadiah itu ... dari kamu?!"
Pantas saja Haidar pernah menyuruhnya datang ke kantor polisi. Jadi, ini alasannya.
"Kamu ...?" Kia hampir tak percaya jika semua hadiah itu pemberian dari Sandi.
"Buat apa?"
"Sudah kubilang, aku menyukaimu, Kia. Aku menyukaimu sejak dulu. Bahkan sebelum Haidar bersamamu!" ucap Sandi dengan sangat tenang.
"Jangan membual, aku dan Kak Haidar adalah teman sejak kecil. Bagaimana bisa kamu bilang menyukaiku sebelum dia?" Kia menatap sinis lelaki di depan sana yang terlihat menunduk.
"Haidar memang teman kecilmu, Kia. Tapi, aku yang menyukaimu lebih dulu."
"Kenapa kamu bisa sepercaya diri itu mengatakan lebih dulu menyukaiku?" tanya Kia dengan tatapan menyelidik.
"Karena Haidar tidak pernah menyukaimu. Dia hanya menganggap dirimu sebagai adik."
Deg!
Ucapan Sandi memang benar, jika Haidar memang tidak pernah menyukainya. Tapi, kenapa ini rasanya sakit sekali?
Tanpa sadar Kia meremas ujung pakaiannya sendiri.
"Maaf ..."
.
.
.
Kebahagiaan Mutia dan Haidar sungguh terasa lengkap dengan hadirnya Ken di antara mereka. Bukan hanya menjadi kesayangan bagi kedua orangtuanya saja, bocah kecil yang saat ini mulai menginjak usia dua tahun itu selalu menjadi kesayangan bagi para kakek dan neneknya.
Seperti pagi ini, Rengganis dan juga Naila sudah berada di rumah Mutia padahal baru jam enam pagi. Kedua nenek itu sudah siap ingin menemani Ken yang sebentar lagi akan berjemur seperti biasanya.
"Hati-hati, Sayang." Naila dan Rengganis terus siaga menjaga Ken yang bergerak lincah ke sana ke mari di tepian kolam. Sedangkan dua kakeknya tengah berbincang tak jauh sambil sesekali ikut mengawasi sang cucu.
__ADS_1
Karena akhir pekan jadi mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu liburannya di sini, di rumah Mutia sambil ikut menjaga Ken sesekali.
"Mungkin nanti akan lebih rame jika Ken punya adik," celetuk Rengganis tiba-tiba. Mutia yang berada tidak jauh dari mereka hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Meski sebenarnya Haidar sudah beberapa kali membahas mengenai rencana menambah momongan lagi.
"Iya, dua lagi, atau tiga lagi biar rame." Naila menambahkan. Kedua nenek itu berharap sekali Haidar dan Mutia segera memiliki momongan lagi, kalau perlu mereka akan ikut memantau perkembangan Mutia agar bisa secepatnya hamil.
"Ma, jangan berbicara seperti itu. Biarkan mereka menentukan sendiri ingin punya anak berapa." Arya hanya tidak ingin ucapan istrinya akan jadi beban untuk Mutia. Apalagi saat melihat wajah menantunya yang tiba-tiba berubah.
"Benar kata Ayah, Ma. Biarkan kami berdua yang merencanakan ingin punya anak berapa." Haidar mengusap punggung Mutia pelan, laki-laki itu jadi ikut merasa bersalah karena pernah membahas itu dengannya.
"Iya, maaf, Mama 'kan hanya mengusulkan. Tapi, itu sih terserah Kalian saja." Rengganis langsung tahu jika Mutia tidak nyaman dengan ucapannya tadi setelah mendapat kode dari Arya.
"Mutia, Mama minta maaf ya, Sayang. Mama nggak akan maksa kamu kok buat punya anak berapa. Yang penting kalian sehat. Kalian hidup bahagia."
Meski masih ada satu hal yang menjadi beban pikiran Rengganis saat ini, yaitu putri sulungnya, Kayshila. Di umurnya yang sudah sedewasa itu entah kenapa belum juga berpikir untuk mengakhiri masa lajangnya. Sedangkan sang adik saja telah menikah dan memiliki anak.
Shila selalu menjawab bahwa ia akan menikah nanti setelah menemukan seseorang yang benar-benar ia cintai. Tapi, kapan ? Sedangkan usianya sudah cukup matang.
"Aku nggak apa-apa, Ma. Mama jangan sedih yah?" Muti tersenyum membalas ucapan Mama Rengganis.
"Apa Mama masih mikirin Kak Shila lagi?" Haidar tahu jika saat ini kedua orangtuanya tengah pusing memikirkan kelakuan sang kakak. Gadis cantik putri sulung dari keluarga Pratama itu terkadang bertingkah aneh. Shila lebih memilih hidup di kontrakan kecil ketimbang tinggal di rumah mewah milik kedua orangtuanya. Bahkan gadis itu juga kini berjualan online, katanya ingin belajar hidup mandiri dan tidak ingin terus menerus bergantung pada kedua orangtuanya.
"Mama sama Ayah harus gimana?" Wajah yang mulai menua itu terlihat sendu. Rengganis hanya ingin putrinya segera menikah, hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya nanti. Tapi, semuanya hanyalah khayalan yang sampai saat ini belum juga terwujud.
"Kenapa Mama sama Ayah tidak coba menjodohkan Kak Shila saja?" usul Haidar pada sang mama. Rengganis langsung terdiam, sepertinya tengah memikirkan usulan dari Haidar.
"Tapi, dengan siapa? Apa ada lelaki yang mau menikah dengan gadis aneh seperti kakakmu?" tanya Rengganis tanpa semangat.
"Ada dong, Ma. Kak Shila itu cantik, hanya saja kurang bisa merawat diri."
"Coba nanti Mama bicarakan sama Ayah."
"Mama nggak usah khawatir, nanti aku akan berusaha carikan laki-laki yang baik untuk Kak Shila."
"Tapi, apa kakakmu mau? Sedangkan selama ini saja ..."
Rengganis mendadak di lema. Selama ini putrinya tidak pernah sekalipun terdengar menjalin kasih dengan seorang laki-laki.
"Apa Kak Shila nggak pernah ngomong sesuatu ke Mama? Maksudnya, apa dia nggak punya teman laki-laki yang tengah dekat dengannya?"
Rengganis menggeleng pelan. Jangan bercerita tentang laki-laki, bahkan Shila sudah jarang sekali pulang ke rumah, mungkin hanya seminggu sekali, itupun hanya akhir pekan saja.
"Kakak memang aneh, Ma. Saat gadis lain lebih senang menikmati harta orang tuanya, Kak shila malah berusaha mati-matian untuk cari uang sendiri.
.
.
.
Malam hari setelah para orang tua pulang ke rumahnya masing-masing, Haidar memutuskan untuk kembali meminta maaf pada Mutia perihal perkataan Mama Rengganis tadi pagi. Laki-laki itu melangkah pelan menuju kamarnya, mendorong pintu kamar dengan sangat hati-hati dan ternyata Mutia masih terjaga di samping di kecil Ken yang sudah terlelap.
__ADS_1
Mendapati suaminya yang datang, Mutia langsung bangkit dan turun dari ranjang dengan perlahan. Melangkah mendekati suaminya yang baru selesai mengecek beberapa pekerjaan di ruangan kerjanya.
"Mau aku buatkan sesuatu, Mas?" tanya Mutia sosok laki-laki yang saat ini berada di depannya. Haidar sudah mendaratkan tubuhnya di ranjang lain yang ada di kamar itu.
"Aku tidak ingin apapun. Kemarilah," ungkap Haidar dengan tangan yang terulur kearah Mutia.
"Mas ...!" Mutia memekik pelan saat Haidar berusaha menarik tangannya hingga tanpa sengaja Mutia sudah terjatuh di pangkuan laki-laki itu. "Ba–bagaimana kalau Ken terbangun?" Mutia melirik kearah ranjang sang putra.
"Stttt ...! Makanya jangan berisik." Haidar langsung membenamkan ciumannya pada bibir Mutia, menyesapnya sebentar lalu segera melepaskannya.
"Maafin ucapan Mama tadi ya?" ungkap Haidar dengan posisi masih mendekap istrinya dari belakang.
"Kenapa harus minta maaf. Mama nggak salah kok jika menginginkan punya banyak cucu dari kita."
"Tapi, aku tetap ngerasa nggak enak sama kamu. Kesannya Mama Maksa kamu. Aku takut aja kamu jadi tertekan."
"Nggak, Mas." Mutia menggelengkan kepalanya. "Bukankah memang kewajiban anak menyenangkan orang tuanya?"
"Iya. Tapi, nggak seharusnya Mama ngomong kaya gitu di depan kamu." Haidar tetap merasa bersalah meski Mutia mengatakan baik-baik saja.
"Lagian aku nggak keberatan kok nurutin permintaan Mama," ungkap Mutia tiba-tiba. Hal itu sontak membuat senyum Haidar mengemban g sempurna.
"Apa itu artinya kamu sudah siap punya anak lagi?" tanya Haidar memastikan.
"Kalau iya, kenapa enggak!" Wanita di depan sana tersenyum lebar. Mutia melepas tangan sang suami yang sejak tadi memeluknya dari belakang.
"Bukankah kamu juga ingin kita segera punya anak lagi?"
Pernyataan Mutia seolah sebuah kode untuknya. Laki-laki itu tidak menyia-nyiakan kesempatan, Haidar segera menariknya lagi hingga mereka berdua terjatuh bersama di atas ranjang empuk itu.
"Mas ...!" pekikan kecil Mutia tidak lagi Haidar hiraukan karena ia sudah sibuk bergerilya mengabsen seluruh inci tubuh wanita itu.
"Bagaimana kalau kita nambah dua lagi, tiga, empat, lima ... awww ...!"
Suara Mutia perlahan menghilang seiring dengan kegiatan panas mereka malam ini.
TAMAT.
HAI ... APA KABAR ...?
MAKASIH YANG UDAH SETIA NGIKUTIN KISAH MEREKA SAMPAI TAMAT YAH?
JANGAN LUPA SINGGAH KE NOVEL OTHOR YANG LAIN DONG👇
TERPESONA ANAK PEMBANTU
MAAFKAN AKU MENDUA
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAH SAYONK😘
🙏🙏🙏
__ADS_1