
"Naila...!" Laki-laki itu mengejarnya hingga mencapai pintu keluar. Naila pura-pura tidak mengenalnya dan memilih mengabaikan panggilan itu.
"Tunggu!" Tetap saja Naila harus menghentikan langkah saat tangan milik laki-laki itu sudah mencekal sebelah tangannya. "Kau ada di sini?" tanya laki-laki itu lagi.
Kenapa di saat keadaan seperti ia harus bertemu dengan laki-laki itu lagi sih! Laki-laki yang sebenarnya telah membuat semuanya berantakan. Karena dia juga Naila harus mendapatkan predikat sebagai pelakor.
"Lepas!" Naila menyentak tangan Dika kasar. "Jauhi aku, Mas! Aku tidak mau ada urusan apapun denganmu lagi!" Naila menghela napas berat. Wanita itu hanya ingin menghindari masalah saja. Naila sudah bosan di tuduh macam-macam oleh mantan istri dari laki-laki yang tengah berdiri di depannya ini.
"Tapi, kenapa kau ada di sini? Bukankah ..."
"Bukan urusanmu!"
"Kau butuh pekerjaan?" Tatapan laki-laki itu mengarah kedua tangan Naila yang tengah memegang sesuatu. "Itu surat lamaran pekerjaan, kan?"
Naila hanya bungkam seribu bahasa. Ia sudah tidak mempedulikan waktu yang bergulir semakin siang. Tandanya hanya ada beberapa menit lagi waktu pendaftaran untuk karyawan baru di perusahaan yang baru saja ia datangi.
"Kau bisa bekerja di kantorku, Nai, kau tak perlu susah-susah cari pekerjaan lagi." Tawaran Dika sontak membuat wanita itu melotot kearahnya.
"Jangan mimpi, Mas! Kau mau aku di tuduh ingin menggodamu lagi? Sedangkan sekarang saja mantan istrimu itu masih terus-menerus mengusik kehidupanku!" jawab Naila secara terang-terangan.
"Siapa yang berkata seperti itu, Nai? Apa Lydia masih mengganggumu lagi?" Wanita di depan sana hanya terkekeh pelan.
"Menurutmu?"
"Jadi, benar, Lydia masih mengusik hidupmu?" Dika mengulangi pertanyaannya lagi.
__ADS_1
"Sudahlah. Tak penting lagi! Iya ataupun tidak itu bukan urusanmu, Mas! Intinya, aku tidak ingin lagi ada hubungan apapun dengan kalian!" Naila memilih pergi meninggalkan laki-laki itu yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Dika mengeram kesal mengetahui jika sang mantan istri masih mengusik kehidupan Naila. Padahal jelas ia tidak memiliki hubungan lagi dengan wanita itu.
Sementara di tempat lain, Lydia tengah tertawa senang setelah mendapatkan mobil yang di janjikan oleh Broto. Meski ia harus rela melayani kegilaan Broto seharian penuh, itu tak masalah baginya. Yang terpenting sekarang ia sudah mendapatkan apa yang dirinya. inginkan.
Namun saat mengingat percintaannya dengan Broto kemarin, Lydia bergidik ngeri sendiri. Bagaimana pria tua sialan itu begitu bersemangat hingga ia tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat sama sekali.
Broto menggempur Lydia habis-habisan. Perempuan itupun tak sanggup menolaknya karena lebih tertarik dengan iming-iming mobil baru yang telah di janjikan Broto.
"Sialan, kenapa juga harus meninggalkan bekas seperti ini!" Lydia menggosokkan tangannya sedikit keras pada bekas kemerahan yang di tinggalkan oleh Broto, berharap tanda itu sedikit memudar, tapi tetap saja tidak hilang sedikitpun, kini malah kulitnya sendiri yang terasa perih.
Bunyi terbukanya pintu apartemen membuat perempuan itu buru-buru merapikan penampilannya lagi. Lydia sudah dandan secantik mungkin untuk menyambut kekasihnya, Fandi. Saat yakin penampilannya sudah sempurna, Lydia buru-buru bangkit dan menyambut seseorang yang sejak tadi dirinya nantikan kehadirannya.
"Fandi ...!" Lydia langsung menubruk tubuh pria berwajah tampan itu tatkala melihatnya muncul dari balik pintu. "Kenapa lama sekali?" rengeknya.
"Dia udah pergi dari semalam," ungkap Lydia dengan senyum manja kearah pria di depannya. Lydia ikut duduk di sebelah Fandi dan merebahkan kepalanya pada dada bidang milik kekasihnya itu.
"Benarkah? Lalu apalagi yang kau dapatkan?" ungkapnya dengan tatapan menyelidik. Fandi yakin sekali jika pria sialan itu sedikit berlama-lama dengan Lydia, tandanya ada sesuatu yang tengah di utarakan oleh perempuan itu.
"Coba tebak, apalagi yang aku minta darinya?" Lydia mengerlingkan mata nakal. Perempuan itu memang dengan sengaja menggoda Fandi lebih dulu.
"Alahhh paling tas mahal, atau perhiasan!" jawab Fandi dengan tatapan mengejek.
"No! Kali ini lebih dari itu." Lydia bangkit dan meninggalkan Fandi yang menatapnya dengan penuh penasaran. Lalu tak lama Lydia muncul kembali dari dalam kamar sembari membawa sesuatu di tangannya.
__ADS_1
"Kau ingin tahu apa yang aku minta pada pria tua itu kemarin?"
Fandi melengos. Ia sih sebenarnya tidak terlalu peduli. Yang terpenting ia masih bisa ikut menikmati harta pria tua itu dari Lydia secara tidak langsung.
"Untukmu." Tiba-tiba saja Lydia menyerahkan kunci mobilnya yang baru pada Fandi. Mobil yang kemarin ia dapatkan dari Broto ternyata ia berikan cuma-cuma pada pria itu.
"Kau yakin? Ini kan mobil keluaran terbaru." Fandi tahu sekali jika Lydia juga sangat menginginkannya. Tapi, kenapa sekarang ia berikan padanya?
"Aku serius! Aku bisa memintanya lagi kapan-kapan." Perempuan itu tergelak sendiri membayangkan apa saja bisa ia dapatkan. Asal ia merayu Broto sedikit saja dan mau melayani kesenangannya, pasti pria itu tak segan untuk memberikannya lagi.
"Baiklah. Mintalah apa saja, Lydia! Terus kuras sampai habis hartanya." Fandi ikut tergelak senang menerima pemberian Lydia. Selama ini hidup laki-laki itu juga bergantung pada Lydia. Ia hanya pria lontang-lantung dengan pekerjaan yang tak jelas. Sementara Lydia sendiri hanya perempuan kesepian yang rela menyerahkan tubuhnya pada pria-pria kaya yang sanggup memberikan kemewahan padanya.
"Tentu saja! Aku akan menguras seluruh harta pria tua itu, lantas menendangnya jauh-jauh saat dia tidak punya apa-apa lagi!" Lydia menyunggingkan senyumnya membayangkan rencananya yang sudah tersusun rapi.
"Pintar." Fandi menyentuh pipi Lydia lembut lantas memberikan satu kecupan di sana.
Mendapat perlakuan seperti itu Lydia tak bisa lagi menahan diri. Ia yang memang sudah menantikan moment seperti ini dengan kekasihnya langsung saja merapatkan tubuhnya kearah Fandi.
"Bagaimana kalau sekarang kita bersenang-senang?" tawar perempuan itu tanpa rasa malu. Lydia sengaja menarik pita pada gaun tidurnya hingga terpampang jelas lekuk tubuh indah miliknya.
"Sepertinya kau sudah sangat merindukanku?" Fandi tersenyum senang. Pria mana yang bisa menolak jika di depannya di suguhkan pemandangan indah seperti ini?
"Jangan di sini!" Lydia segera menahan wajah Fandi yang hendak mendekat kearah.
"Kenapa? Aku ingin merasakan sensasinya bermain di ruang tamu seperti ini." Fandi tidak lagi memberikan kesempatan pada Lydia untuk menjawabnya, karena ia sudah lebih dulu memagut lembut bibir perempuan itu tanpa ampun.
__ADS_1
Awalnya Lydia ingin menolak, dan mengajak Fandi meneruskan permainannya di tempat yang lebih nyaman. Tapi, karena Fandi memaksa dan tidak memberikan kesempatan sama sekali akhirnya Lydia hanya mampu pasrah dan mengikuti permainan indah kekasihnya.
Suara ******* bersahutan memenuhi ruang tamu apartemen milik Lydia. Namun saat detik-detik terakhir saat keduanya hampir menyelesaikan permainan, terdengar suara pintu apartemen yang terbuka dengan tiba-tiba.