Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Kania Mengamuk


__ADS_3

"Maafin Papa, Ma!" ucap Broto dengan penuh penyesalan. Pria itu memasang wajah memelas. Sengaja agar sang istri mau memaafkannya atas kejadian di toko tas waktu itu.


"Jangan sentuh, Mama!" tepis Seli dengan pandangan mata sinis menatap kearah suaminya. Perempuan itu benar-benar berubah belakangan ini, bahkan Seli terus mengabaikan Broto dan tidak menegurnya sama sekali.


"Papa benaran minta maaf, Ma. Papa khilaf." Dengan entengnya Broto mengatakan jika perselingkuhan itu tidak pernah di sengaja olehnya.


"Khilaf?" ulang Seli pada pria paruh baya itu. "Papa pikir Mama bodoh, begitu?" tanyanya lagi.


"Bu–bukan, Ma. Maksud, Papa ..." Broto kebingungan harus dengan apalagi menjelaskan. Sedangkan Seli sama sekali belum mau menerima penjelasan darinya.


"Katakan! Berapa banyak uang yang sudah Papa berikan pada perempuan itu?!"


Broto hanya menundukk. Sedikit membetulkan duduknya untuk mengalihkan perhatian sang istri.


"Ma ... aku hanya memanfaatkannya. Ya, memanfaatkannya!" ucap Broto dengan sedikit terbata. Namun matanya menatap gelisah kearah perempuan di depan sana. Berusaha menyembunyikan kebohongannya selama ini.


"Dengan tidur dengannya juga!" sambar perempuan itu cepat.


Duarrr!


Wajah Broto langsung memerah. Sepertinya Broto terjebak dengan ucapannya sendiri. Niat hati mengelak tapi penjelasannya tadi malah semakin membuat perempuan di depan sana murka.


"Ma, ini tak seperti yang kamu bayangkan. A–aku hanya ...?"


"Tak seperti yang aku bayangkan apa maksudmu? Papa pikir aku mau berbagi dengan perempuan murahan itu!" ungkap Seli dengan sorot mata tajam


"Katakan, sejak kapan Papa menjalin hubungan dengannya?" desak Seli pada pria di depannya.


Broto langsung bungkam mendapat pertanyaan dari istrinya. Jika menjawab jujur, sama saja bunuh diri. Seli pasti akan langsung marah. Atau, bisa saja perempuan itu mengadukan kelakuannya pada kedua orangtuanya.


"Jawab, Pa!"


"Papa baru beberapa bulan yang lalu mengenalnya, Ma. Percayalah." Broto mendekat kearah Seli dan berusaha mengusap lembut punggung perempuan itu. "Lagipula Papa hanya memanfaatkannya karena Lydia juga membenci Naila. Jadi, kita kerja sama untuk menghancurkannya."


"Papa lagi nggak bohongin aku, kan?"

__ADS_1


Ada sedikit keraguan di hati Broto melihat respon Seli yang belum berubah. Perempuan itu masih saja ketus, dan berusaha menghindar saat ia ingin menyentuhnya.


"Papa berani sumpah, Ma!" Saat kata itu terucap, tiba-tiba saja Broto merasa takut sendiri. Takut jika sumpahnya akan membawa petaka untuk dirinya sendiri suatu hari nanti.


"Benar, Papa nggak bohong, kan?" ucap Seli lagi dengan suara yang sedikit melemah.


Broto menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman samar. "Benar, Ma. Mana mungkin Papa bohong!"


Seli luluh setelah Broto membujuknya berkali-kali. Pria itu bersorak penuh kemenangan. Merasa jika semua masalahnya sudah selesai. Kini tinggal membujuk Lydia. Untuk membujuknya tidaklah susah, Broto hanya tinggal merayunya sedikit, lantas membelikan apa yang Lydia mau. Dan pasti setelah itu Lydia akan langsung luluh dan memaafkannya.


Sementara di sebuah bangunan mewah yang menjulang tinggi, seorang gadis tengah mengamuk dan menghancurkan semua barang yang ada di ruangannya. Kania melempar apapun barang yang dapat ia raih dan melemparnya ke sembarang arah.


Prank!


Prank!


Prank!


Ruangan itu sudah mirip layaknya kapal pecah. Tapi Kania tidak peduli, gadis itu terus mengamuk dan menggila.


Tidak ada seorangpun yang berani masuk apalagi bertanya pada gadis itu. Mereka hanya saling berbisik sembari mendengarkan kegaduhan yang terjadi dari balik pintu.


"Cukup, Kania! Apa yang kau lakukan!" Yudi berusaha menahan tangan putrinya yang hendak meraih laptop di atas meja. Bisa berantakan seluruh pekerjaannya jika sampai benda itu hancur.


"Berikan itu pada Kania, Pa!" bentak gadis itu tidak sadar jika pria yang ada di depannya adalah papanya sendiri.


"Kania, sadar, Nak!" Yudi memegang kedua pundak gadis itu setelah berhasil menyingkirkan laptop dari jangkauan Kania. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Sekali lagi Yudi menatap seluruh ruangan itu yang sudah hancur.


"Pa .... hik ..." Gadis itu tiba-tiba saja menangis. Dengan keadaan yang kacau Kania langsung memeluk papanya.. "Mas Yusuf, Pa!"


"Yusuf?" tanya Yudi tak mengerti. "Apa terjadi sesuatu dengannya?"


Namun, Kania hanya menggeleng pelan. Gadis itu semakin terisak di pelukannya.


"Mas Yusuf putusin aku, Pa! Dia bilang selama ini hubungan kita hanya teman," ucap Kania dengan air mata yang masih berderai-derai.

__ADS_1


Kini gantian Yudi yang menggelengkan kepalanya. Ia tatap wajah sayu putrinya dengan penuh kasih sayang. "Lantas kenapa kalau Yusuf hanya menganggapmu teman? Kau cantik, Kania! Bahkan kau bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya." Yudi berusaha menenangkan gadis itu. Meski jauh di lubuk hatinya meyakini jika Yusuf masih berharap kembali pada Mutia.


"Nggak! Pokonya aku nggak mau, Pa!" Gadis itu menggeleng cepat. Ternyata selama ini Kania sudah berharap banyak pada laki-laki itu.


"Sudahlah, Kania, mungkin Yusuf bukan jodohmu. Lagipula kita tidak mungkin bisa memaksakan kemauan orang lain, kan?"


"Kenapa Papa berbicara seperti itu? Apa jangan-jangan Papa masih mendukung hubungan Mas Yusuf sama Mutia?" Entah kenapa tiba-tiba Kania seolah tahu apa yang baru saja ia pikirkan.


"Tidak mungkin, Kania! Papa yakin!" Bagaimana pun caranya Yudi berusaha menyelamatkan Mutia.


"Bisa saja, kan, Pa! Apa jangan-jangan Mutia menggoda Mas Yusuf lagi karena masih memiliki perasaan dengannya?" Kania semakin menuduh Mutia yang ada di balik kekacauan itu.


"Tidak mungkin, Kania. Mutia tidak akan melakukannya, percayalah."


Kania menatap wajah sang papa dengan tatapan curiga. Memang gadis itu selalu cemburu setiap kali sang papa menyebut nama putri sulungnya.


"Jadi Papa belain dia! Papa lebih sayang Mutia daripada aku?!" ucapnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Kania, Papa mohon, Nak, jangan salah paham!" Yudi mengusap wajah kasar.


"Papa memang selalu membelanya, kan? Papa memang tak pernah sayang sama Kania!"


Kania nampak terluka sekali. Tapi apa yang bisa ia lakukan selain berusaha menenangkan.


Sementara di balik pintu para karyawan masih berkumpul menyaksikan perdebatan di dalam sana lewat pintu ruangan itu yang terbuka sedikit. Mereka saling berbisik satu sama lain, menyuarakan apa yang baru saja mereka dengar.


"Oh, jadi Nona Kania baru di putusin kekasihnya ya?" ucap salah satu dari mereka.


"Kabarnya sih laki-laki itu menyukai gadis lain."


"Pantas dari tadi ngamuk kaya kehilangan akal," bisik yang lainnya lagi.


"Apa! Jadi, Tuan Yudi punya anak selain Nona Kania?" bisik mereka sesaat setelah Mutia menyebut-nyebut nama Mutia.


"Dan siapa namanya tadi, Mutia?"

__ADS_1


__ADS_2