
"M ...."
"Kak ....!!" Suara nyaring bersamaan masuknya seorang gadis muda ke ruangan itu memaksa Haidar cepat-cepat menyembunyikan sesuatu di tangannya. Haidar menyimpan benda berbentuk kalung itu ke bawah bantal yang ia pakai agar tidak di lihat oleh gadis tadi.
"Kia ... kau belum pulang?" Suara Haidar membuat gadis di depan sana mengembangkan senyumnya. Ia merasa di perhatikan oleh laki-laki itu, padahal itu hal yang biasa kan?
"Aku mau tungguin Kakak di sini." Menarik kursi mendekat kearah ranjang lantas mendaratkan tubuhnya di sana. "Gimana keadaan Kakak?"
"Seperti yang kau lihat, aku sudah baik-baik saja." Haidar pelan-pelan merebahkan diri lagi.
"Apa Kakak menginginkan sesuatu? Maksudku, apa Kakak mau makan, atau aku kupaskan buah?" tawar Kia pada laki-laki itu. Usahanya untuk merebut perhatian Haidar kini tidak main-main. Kia semakin menunjukkan perasaannya tanpa sungkan lagi.
"Sebaiknya kau pulang, Kia. Istirahatlah!" Ungkapan laki-laki itu sontak membuat Kia merengut. Setelah di terbangkan tadi oleh perhatian Haidar, kini Kia seolah di usir paksa oleh laki-laki itu sendiri.
"Tidak mau!" Bibir gadis itu manyun beberapa centi. Kia juga melengos, sengaja tidak mau menatap kearah sana sebagai bentuk protes untuk Haidar.
"Kau juga perlu istirahat, Kia. Lagipula ada Mama sama Ayah di sini. Kau bisa kembali lagi besok."
"Jadi, Kakak ngusir aku!" Jelas Kia tidak akan terima. Jika nanti ia pulang, siapa yang akan menyuapi laki-laki itu? Siapa yang akan menemaninya dan ...
"Ada Mama yang akan mengurusku." Seakan tahu apa yang Kia tengah pikirkan. Padahal Haidar hanya tidak nyaman berlama-lama berduaan dengan Kia di ruangan itu.
"Tapi, nanti kalau ada apa-apa Kakak pasti hubungi aku, kan?" Masih dengan memasang wajah cemberut, Kia bangkit dan mendekatkan wajahnya kearah Haidar.
"Apa yang kau lakukan!" Haidar langsung menahan wajah Kia dengan kedua tangannya.
"Isss ... pelit sekali!" Menggerutu karena gagal mendapatkan ciuman selamat tinggal.
"Jangan macam-macam, pulang!"
Gadis itu melengos, menghentakkan kedua kakinya ke lantai, lantas buru-buru meninggalkan ruangan itu dengan suara pintu yang ia tutup sedikit kencang.
Haidar menarik napas lega. Akhirnya ia bisa terbebas dari gadis cantik yang selalu memperlakukannya dengan sangat berlebihan. Kenapa? Bukannya malah senang di perhatikan? Tapi entahlah. Baginya Kia sudah seperti adiknya sendiri. Itu tidak akan berubah sampai kapanpun.
Tapi baru beberapa menit Haidar merasa tenang, ia di kejutkan lagi oleh suara pintu yang terbuka dengan tiba-tiba dari luar sana. Haidar kembali mendesah, pasti Kia kembali lagi.
"Kenapa belum pulang juga?"
__ADS_1
Pletak!
Satu jitakan keras mendarat di kepala Haidar. "Akhhh ...!" Dan saat ia menengok ke samping ternyata bukanlah Kia yang kembali ke ruangan itu, melainkan ...
"Kau berani mengusir kakakmu sendiri?" sungut seorang gadis yang baru saja tiba.
"Kakak ...!!" Haidar sontak mengalihkan pandangan kearah gadis yang usianya hanya terpaut satu tahun diatasnya itu. "Kakak kapan datang?" bertanya lagi.
"Kau tidak lihat aku baru saja masuk?" Gadis bernama Shila itu langsung mendaratkan tubuhnya pada bangku yang sempat Kia pakai untuk duduk tadi.
"Mana aku tahu kalau Kakak yang datang." Haidar malah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Jika mereka sudah bertemu, dapat di pastikan setelah ini drama pertengkaran keduanya akan segera terjadi.
"Hei, kenapa malah tidur? Kau itu tidak sopan sekali!" Menarik selimut sang adik dengan kasar dan membuangnya begitu saja.
"Kakak! Apa-apaan sih!" Memang seperti itulah mereka jika sudah bertemu. Sampai-sampai membuat kedua orang tuanya heran.
"Jangan ganggu adikmu, Shila!" Suara Rengganis memaksa gadis itu untuk cepat-cepat menghentikan aksinya. Shila pura-pura memberikan perhatian pada sang adik yang saat ini masih duduk di ranjang pasien.
"Kau mau makan? Apa mau aku suapi?"
Haidar hanya melengos. Ia sama sekali tidak tertarik untuk membalas ucapan kakaknya.
Sementara saat dalam perjalanan menuju ke rumahnya, Kia baru teringat jika seharusnya hari ini ia ada janji dengan sahabatnya untuk bertemu. Janji pertemuan yang seharusnya di lakukan pada jam makan siang tadi harus gagal karena Kia tiba-tiba saja mendapatkan kabar mengenai Haidar yang kecelakaan.
Kia belum sempat menghubungi kembali dan membatalkan acara pertemuan itu. Ia jadi merasa bersalah, lantas buru-buru Kia mencari ponsel yang ia simpan di dalam tas, menekan kontak pada nomor sahabatnya itu.
"Kenapa nomornya tidak aktif?" Kia berusaha mengulanginya lagi. Coba, dan terus mencobanya. Namun, hanya suara dari operator yang kembali terdengar.
"Ke mana bocah ini?" Kia bertanya dalam hati. Namun, beberapa detik kemudian kedua matanya melotot tajam di sertai dengan mulut yang melebar sempurna.
"Atau jangan-jangan dia ..." Kia membekap mulutnya sendiri membayangkan sesuatu yang buruk menimpa gadis itu.
"Nggak, nggak mungkin!" Kia menggeleng cepat. Meski ia sudah mendengar sendiri cerita gadis itu mengenai gagalnya pernikahannya, Kia yakin jika sahabatnya itu tidak akan sampai melakukan sesuatu yang akan membuatnya menyesal.
"Putar balik, Pak!"
"Ke mana, Nona?"
__ADS_1
"Antar ke alamat ini ya?" Menunjukkan sebuah alamat pada supir pribadinya.
"Baik, Nona."
Setengah jam kemudian mobil milik Kia sudah sampai di depan halaman rumah sederhana milik sahabatnya. Rumah yang tak asing lagi baginya karena Kia seringkali berkunjung ke sini jika ada waktu luang.
Mengetuk pintu pelan, gadis itu menunggu sampai sang pemilik rumah membukanya. Ternyata sahabatnya itu tengah mengurung diri di kamar sejak siang tadi, itu yang di ucapkan oleh ibu dari gadis itu.
Naila menyuruh Kia langsung mengetuk pintu kamar putrinya. Meski sedikit ragu, Kia memberanikan diri. Naila berharap sekali dengan kedatangan Kia ke sini mampu menghibur Mutia yang saat ini masih bersedih karena gagalnya pernikahannya dengan Yusuf.
"Aku nggak mau di ganggu, Ma!" teriak gadis dari dalam sana.
"Buka pintunya sebentar, Sayang. Ada yang cariin kamu nih!"
Tak lama pintu kamar itu terbuka. Mutia muncul dengan wajah sembab dan penampilan yang acak-acakan.
"Hei, Nona, apa kabar?" Kia langsung menyelonong masuk ke dalam kamar milik gadis itu.
"Kia ....?" Mutia nyaris tak percaya jika gadis yang baru saja melewatinya adalah Kia, sahabatnya sendiri. "Kamu ngapain?"
Kia menyapu seluruh sudut ruangan itu. Meski ia seringkali datang ke mari, tapi belum pernah sekalipun ia sampai masuk ke kamar Mutia.
"Ngapain? Kamu nggak suka aku main ke sini?" Gadis itu langsung merengut. Padahal ia sudah berniat baik ingin meminta maaf pada Mutia karena tidak bisa datang menemuinya siang tadi.
"Bukan begitu, tapi ...?" Sejujurnya Mutia juga merasa bersalah karena siang tadi ia tidak bisa menepati janjinya untuk bertemu dengan gadis itu. "Aku minta maaf karena tadi siang nggak jadi ketemu sama kamu." Mutia memilih meminta maaf lebih dulu.
"Lho, aku juga datang ke sini sebenarnya mau minta maaf karena nggak bisa tepatin janji buat ketemu kamu!"
Keduanya saling pandang dengan tatapan bingung.
"Jadi ....? Hahaha ...!" Keduanya sontak tertawa menyadari jika mereka sama-sama tidak bisa menepati janjinya. Mutia maupun Kia ternyata tidak ada yang tahu jika keduanya tidak ada yang datang ke cafe tempat yang mereka sepakati untuk bertemu.
Di luar kamar, Naila sedikit lega karena Mutia sudah bisa kembali tertawa seperti biasa. Meminta bantuan pada Kia untuk menghibur Mutia ternyata keputusan yang benar. Wanita itu memilih pergi membiarkan mereka saling berbincang di dalam kamar.
Sementara obrolan di dalam kamar masih berlanjut. Mereka tengah membahas mengenai batalnya pernikahan Mutia. Kia ikut prihatin mendengar cerita dari sahabatnya itu. Ia yakin sekali jika suatu saat Yusuf akan menyesal telah menyia-nyiakan gadis sebaik Mutia.
"Bagaimana kabar hubunganmu dengan kekasihmu? Apa sudah ada kemajuan?" Kini saatnya Mutia mendengar cerita mengenai usaha Kia untuk merebut perhatian seorang laki-laki. Laki-laki yang selalu Kia ceritakan padanya. Dan sukses membuat Kia bertekuk lutut karena tidak bisa menolak oleh pesona laki-laki itu.
__ADS_1
"Dia ...." Wajah Kia langsung berubah sendu. Ia sadar jika perasaan yang ia miliki hanya bertepuk sebelah tangan.