Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Jauhi Naila!


__ADS_3

Fandi terpaksa segera menarik tubuhnya, melepas penyatuan dengan tiba-tiba tatkala mendengar terbukanya pintu apartemen milik kekasihnya. Begitupun Lydia, perempuan itu sangat terkejut saat permainan yang harusnya selesai beberapa menit terpaksa harus ia hentikan karena suara sialan itu.


"Siapa sih, mengganggu saja!" umpat Lydia di tengah-tengah deru napasnya yang masih naik turun. Perempuan itu cepat-cepat meraih kain yang tercecer di atas lantai lantas memakainya dengan cepat.


"Kau bilang pria itu akan datang beberapa hari lagi, kan? Ini kenapa ... akhhh ....!" Fandi kebingungan menyangka jika yang membuka pintu pastilah Broto, siapa lagi yang memegang access card selain Broto dan Lydia.


"Harusnya kau pastikan lebih dulu. Kalau sudah seperti ini bagaimana?" Fandi mengacak rambutnya kasar. Masa ia harus bersembunyi demi tidak ketahuan oleh pria tua itu.


"Iya. Dia bilang sendiri mau ke sini tiga hari lagi," balas Lydia tak kalah bingung. Lydia benar-benar kesal karena permainannya harus berakhir begitu saja.


"Lalu, ini a ....." Fandi langsung bungkam saat melihat siapa orang yang membuka pintu apartemen milik Lydia.


"Siapa lagi dia? Selingkuhanmu yang mana lagi?" Fandi menyangka jika laki-laki yang baru membuka pintu apartemen pastilah kekasihnya Lydia. Siapa lagi?


"Tutup mulutmu! Lagipula aku tak sudi menjadi kekasihnya!" balas laki-laki yang baru saja datang itu dengan sangat ketus.


"Kau ...!" Lydia langsung melotot dengan mulut yang menganga menyadari siapa sosok yang berdiri di depan sana.


"Kenapa, kaget?" Suara milik laki-laki itu terdengar pelan namun berhasil mengoyakkan hatinya.


"Ck! Ternyata kau memang perempuan murahan!" ungkap laki-laki di depan sana. Ia menatap sekeliling ruangan itu yang terlihat berantakan. Sudah di pastikan itu semua di sebabkan karena pergulatan panas keduanya tadi.


"Dia simpanan–mu yang keberapa lagi?" Dika menyunggingkan senyuman kearah Lydia yang tak mampu mengucap dengan kata-kata.


"Hei, aku bukan simpanannya! Aku kekasihnya!" Fandi membela diri. Ia merasa tidak terima di sebut simpanan, padahal kenyataannya memang seperti itu.


"Kenapa kau bangga sekali menjadi kekasihnya? Kau yakin hanya menjadi satu-satunya?" Kini tatapan Dika mengarah pada wajah Fandi. Pria yang mungkin seumuran dengannya itu terlihat gelagapan saat ingin menjawab pertanyaannya baru saja.


"Ten–tu saja aku menjadi satu-satunya!' balas Fandi pada laki-laki itu. "Iya kan, Lydia, aku kekasihmu satu-satunya?" Tiba-tiba saja Fandi mendadak ragu. Benarkah hanya dia selain pria tua sialan itu? Atau, adakah lagi selain dirinya?


"Lydia, jawab!" tanya Fandi dengan sangat tegas. "Kenapa kau diam? Atau, benar ...."

__ADS_1


"Fandi, cukup!" Lydia menutup telinga dengan kedua tangannya sendiri. Kedatangan Dika ke apartemen miliknya saja sudah seperti bencana besar, di tambah pertanyaan tidak penting itu.


"Jadi benar, ada yang lain lagi?" Fandi masih kekeh meminta penjelasan pada Lydia. Sedangkan perempuan itu sudah muak rasanya mendengar pertanyaan Fandi yang berulang-ulang.


"Sebaiknya kau diam, atau enyahlah dari sini!"


Laki-laki di depan sana hanya menyunggingkan senyuman. Ternyata tabiat mantan istrinya sejak dulu tak pernah berubah. Lydia masih saja suka bermain-main dengan banyak lelaki. Bahkan tak jarang pria beristri–pun tak luput dari incarannya.


"Kenapa tiba-tiba kau datang ke mari? Dan, bagaimana mungkin kau bisa membuka ..." Kini tatapan Lydia mengarah pada Dika. Mantan suaminya itu terlihat tidak berubah semenjak terakhir kali ia bertemu dengannya. Dika tetaplah laki-laki tampan penuh wibawa.


"Apa? Ini maksudmu?" menunjukkan access card di tangannya. Lydia bahkan lupa siapa laki-laki yang tengah berdiri di depannya itu.


"Kau lupa siapa aku?" Seolah tengah menunjukkan kekuasaannya.


"Lydia, siapa dia?"


"Kau tak mengenalku?" Malah laki-laki di depan sana yang menjawab. "Apa kekasihmu ini belum pernah menceritakannya?" sambungnya lagi.


"Dia mantan suamiku. Dika Prasetya!" ungkap Lydia pada pria di sebelahnya. Sontak Fandi langsung mundur beberapa langkah ke belakang


"Kau ... kenapa tidak pernah bercerita apapun padaku?" tuntut pria itu kemudian.


"Untuk apa? Bukankah itu tak penting!"


Laki-laki di depan sana hanya menggeleng pelan. Sebenarnya Dika sama sekali tidak tertarik untuk datang ke mari, apalagi menyambangi mantan istrinya. Tapi, karena ada sesuatu yang harus ia selesaikan, terpaksa Dika harus menggunakan kekuasaannya untuk bisa masuk dengan bebas ke apartemen itu.


"Aku tidak peduli dengan apa yang ingin kalian bicarakan. Hanya saja ..." Dika melangkah mendekat kearah perempuan yang ada di depan sana. "Jauhi, dia! Jangan pernah mengganggunya lagi!" bisik laki-laki itu tepat di sebelah Lydia.


"Si ... siapa maksudmu?" Lydia masih berkilah seolah tidak mengetahuinya.


"Jauhi, Naila. Atau, kau akan tahu akibatnya jika berani mengusiknya lagi!" Dika tak ingin berbasa-basi lagi. Baginya sudah cukup membiarkan perempuan itu berbuat seenaknya. Kali ini ia tidak bisa tinggal diam jika Lydia berani mengusik kehidupan Naila.

__ADS_1


"Ck, apa kau masih menyukainya?" Pertanyaan konyol, padahal Lydia sendiri sudah tahu pasti jawabannya.


"Kenapa? Apa kau iri dengan Naila? Apa kau iri karena aku lebih menyukainya?"


"Ya, karena dia tidak ada apa-apanya di bandingkan denganku! Dia hanya wanita rendahan. Dia wanita yang di tinggalkan suaminya demi perempuan lain!" ungkap Lydia dengan penuh amarah.


"Lalu, kau ....?" Dika hanya terkekeh pelan mendengar semua pernyataan Lydia mengenai Naila. "Kau sendiri perempuan seperti apa?" Rasanya tidak tahu malu sekali saat hanya keburukan orang lain yang terlihat. Sedangkan ia sendiri merasa bangga dengan dosa yang dirinya miliki.


"Tapi aku senang karena akhirnya kau tidak bisa mendapatkan apapun dari wanita itu. Artinya kita sama-sama impas." Ungkapan Lydia sontak membuat laki-laki di depan sana mengepalkan kedua tangannya.


Dika tahu jika usahanya dulu mendekati Naila gagal karena campur tangan Lydia. Tapi, kejadian itu sudah lama sekali. Tapi, kini Lydia malah mengungkit sesuatu yang seharusnya ia kubur rapat-rapat.


"Kau ...!"


"Kenapa? Di sini aku yang menang, bukan? Aku yakin selama ini hidupmu pasti tersiksa karena tidak bisa menikahi wanita itu." Lydia puas sekali melihat wajah Dika yang terlihat memerah menahan amarahnya sendiri.


"Dan, aku juga yakin Naila juga merasakan hal yang sama. Dia tidak bisa menerima–mu karena namanya sudah terlanjur tercemar sebagai pelakor murahan!" Lydia merasa punya senjata baru untuk membungkam ancaman Dika tadi. Ia yakin sekali setelah mendengar pernyataan ini Dika pasti akan kembali terpuruk lagi seperti beberapa tahun yang lalu.


"Sudah puas? Atau, masih ada lagi yang ingin kau sampaikan?"


Lydia mengernyit heran melihat reaksi Dika yang terlihat biasa saja.


"Aku tak peduli apa yang kau ucapkan baru saja. Aku hanya ingin, kau ...." menunjuk wajah Lydia langsung. "Jauhi Naila! Atau ..."


Dika menepuk kedua tangannya. Lantas dari luar sana muncul dua pria berpakaian rapi dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Ini akan tersebar sampai seantero negeri!" Memperlihatkan sesuatu dari ponsel yang di berikan salah satu dari pria tadi.


"Da–dari mana kau dapatkan semua itu?" tanya Naila dengan kedua mata yang melotot.


"Mudah saja. Sepertinya kau belum paham juga siapa aku!"

__ADS_1


__ADS_2