
Di sebuah ruangan bernuansa putih cerah, seorang laki-laki muda nampak mengerjapkan matanya. Laki-laki yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya itu menatap sekeliling, merasa aneh kenapa ia bisa berada di sini.
"Kakak ...!!" Gadis di sebelahnya memekik senang mendapati kedua mata itu menatap kearahnya. Kia sampai mengusap wajahnya beberapa kali karena tidak percaya jika laki-laki yang sejak dua hari yang lalu ia tangisi telah membuka kedua matanya.
"Sayang, oh ... Ya Tuhan ...!!" Mendengar pekikan kecil Kia, Wanita di sebelah sana buru-buru mendekat. Rengganis seperti mendapatkan keajaiban mendapati sang putra sudah tersadar dari komanya. "Apa yang kau rasakan? Mana yang sakit?" Rengganis sampai meneteskan air mata haru. Setelah kemarin mendapatkan kabar mengenai putranya yang tiba-tiba masuk rumah sakit, Rengganis tidak bisa melakukan apapun selain memikirkan keadaan putranya. Hati wanita itu hancur sekali. Apalagi saat mendengar penjelasan dokter jika Haidar–putra keduanya dalam kondisi yang luka parah.
"Kau sudah sadar, Nak?" Arya langsung menekan bel yang ada di samping ranjang. Tak lama dokter datang dengan dua orang perawat ke ruangan itu.
"Dokter, Sebenarnya apa yang terjadi? Ma ...?" Haidar beralih pada sang mama, "Ma, kenapa aku ada di sini?" tanya Haidar meminta penjelasan pada wanita paruh baya di depannya mengenai keberadaannya di tempat ini.
Kedua bibir Rengganis seketika mengatup rapat, ia tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana.
"Apa Kakak benar-benar tidak mengingat apapun?" Kia bersuara. Gadis berusia 20 tahun itu juga tidak mendapatkan informasi apapun dari pihak rumah sakit.
Haidar menggeleng pelan. Saat ia berusaha mengingat apa yang terjadi, kepalanya terasa sakit sekali. Seolah sebuah batu besar menimpanya dengan tiba-tiba
"Akhhh ...!!" Haidar memekik kala samar-samar ia mengingat sesuatu yang menyentuh kedua bibirnya. Bayangan apa itu?
"Jangan memaksakan diri, Nak. Tunggulah sampai kondisimu membaik." Rengganis mengusap lembut punggung sang putra.Ia tidak ingin jika Haidar memaksakan diri yang nantinya malah semakin mengganggu proses pemulihan.
"Iya, sebaiknya Kakak banyak istirahat." Kia membantu laki-laki itu berbaring lagi di ranjang miliknya.
"Bagaimana kondisi putra saya, Dokter?" tanya sang ayah pada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Haidar. Pria berpakaian serba putih itu nampak tersenyum, lantas menjelaskan mengenai perkembangan laki-laki itu.
"Kondisi semakin membaik, Tuan. Beruntung kejadian buruk itu tidak sampai merusak organ vital putra Anda. Tapi, sepertinya putra Anda kehilangan sebagian ingatannya."
"Kehilangan sebagian ingatannya?" Arya nyaris ambruk mendengar pernyataan dokter.
__ADS_1
"Tapi, Anda tak perlu khawatir karena itu hanya sementara."
"Syukurlah." Arya menarik napas lega.
"Semoga kondisi putra Anda bisa secepatnya pulih."
"Terimakasih, Dokter." Pria berjas putih itu meninggalkan ruangan pasien di ikuti dua perawat yang mendampinginya tadi.
Setelah di buat panik setengah mati, akhirnya Arya bisa bernapas lega sekarang. Laki-laki itu melirik sang istri yang masih berbincang dengan sang putra, menanyakan apa saja yang di inginkan oleh pemuda itu setelah terbangun dari masa kritisnya.
Kini ada hal lain yang harus Arya selesaikan setelah memastikan keadaan putranya yang tidak terlalu parah. Ia harus menyelidiki dan mencari tahu kejadian apa yang sebenarnya menimpa sang putra.
Polisi mengatakan jika motor milik Haidar ada di tepi sebuah danau di pinggiran kota. Lalu Arya juga mendengar pernyataan dari pihak rumah sakit jika putranya datang dalam keadaan luka parah dan di antar oleh seorang gadis. Gadis? Arya baru teringat akan itu. Siapa dia? Kenapa sekarang gadis itu tidak ada? Ke mana dia?
"Mas ...!!"
Suara Rengganis membuyarkan lamunan Arya. Wanita itu langsung mendekat kearah sang suami dan meminta penjelasan akan kondisi sang putra.
"Bagaimana ini? Ke ... napa dengan putraku?" tangis Wanita paruh baya itu kembali pecah saat melihat wajah Haidar yang terlihat kebingungan. Ia menyangka jika ada sesuatu yang buruk telah menimpa laki-laki itu.
"Sayang, tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa." Pernyataan dari Arya ternyata tidak mampu menenangkan kegelisahan Rengganis.
"Tenang bagaimana maksudmu, Mas? Setelah kemarin aku hampir gila melihat kondisi putraku yang terluka parah, sekarang aku harus melihatnya kebingungan karena sama sekali tidak bisa mengingat kejadian yang menimpanya, hik ...!" Suara tangis istrinya nyaris meruntuhkan pertahanan Arya. Sungguh, ia juga merasakan kesakitan itu. Saat melihat putra tercinta terbaring lemah dengan selang di seluruh bagian tubuhnya.
"Dokter mengatakan itu hanya sementara. Jadi, kamu tak usah khawatir. Haidar pasti akan baik-baik saja." Meskipun ia juga terpukul. Tapi, Arya tidak bisa memperlihatkan kesedihannya di depan sang istri.
"Pokoknya kamu harus cari tahu siapa pelakunya, Mas! Harus!" ucap Rengganis dengan amarah yang menggebu. Sungguh, ia tidak akan bisa memaafkannya begitu saja.
__ADS_1
"Iya. Kita pasti akan segera menemukannya." Arya memeluk tubuh Rengganis dengan lembut, lantas membimbingnya untuk duduk di sebuah bangku kosong. "Kamu tidak usah cemas, aku pasti akan menghukum orang yang telah mencelakai putra kita!" janji Arya pada wanita itu.
Di dalam sana Kia masih menunggu sampai Haidar terlelap. Setelah memastikan jika laki-laki itu tertidur pulas. Kia melangkah pelan, mengambil tas coklat miliknya, lalu keluar dari ruangan itu dengan hati-hati.
Glutak!!
Baru setengah jam ia terlelap. Suara tiang infus yang tak sengaja ambruk membangun tidur pulas laki-laki itu. Haidar terlihat membuka kedua matanya cepat dan mendapati seorang suster yang gelagapan dengan wajah memucat.
"Ma ...maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja." Buru-buru membenarkan lagi. Tangannya sedikit gemetar saat mengganti kontong infus yang hampir habis milik laki-laki itu.
"Lain kali hati-hati, Sus." Haidar kembali merebahkan diri untuk melanjutkan tidurnya yang tadi sempat terganggu.
"Tuan ..." Suster tadi mendekat kearah ranjang pasien. Perempuan itu merogoh kedalam saku pakaiannya, lantas memperlihatkan sesuatu kearah Haidar.
"Saya menemukan ini tersangkut pada pakaian Anda."
Haidar yang baru beberapa detik hendak memejamkan matanya lagi terpaksa mengurungkan niatnya. "Itu apa?"
Suster tadi memperlihatkan sebuah kalung berwarna perak.
"Itu bukan milikku!" tolak Haidar ketika melihat penampakan benda itu. Ia memang sama sekali tak mengenalinya.
"Apa perlu saya membuangnya?" Ia pikir itu hanya mainan anak-anak terlihat dari penampilannya yang biasa. Tangan suster tadi sudah membuka tempat sampah yang ada di sudut ruangan.
"Tunggu, berikan padaku saja!" Tiba-tiba Haidar bersuara lagi. Haidar meminta suster tadi untuk memberikan benda itu padanya.
"Biar aku yang menyimpannya." Kalung berwarna perak itu sudah ada di tangan Haidar. Dan ternyata ada inisial nama saat laki-laki itu memeriksanya.
__ADS_1
"M ......"
"Kak ....!!"