Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Kia dibawa Polisi


__ADS_3

"Dokter, tolong selamatkan calon istri saya!"


Beberapa perawat membantu memindahkan Mutia ke brankar, lalu mendorongnya cepat ke arah ruang ICU.


"Mutia, bertahanlah!" Haidar terus memegang tangan gadis itu, menciumnya berulang kali hingga akhirnya Mutia di bawa masuk untuk mendapatkan pertolongan.


"Tolong selamatkan Mutia, Dokter!"


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Tuan." Pintu ruangan pemeriksaan di tutup, semua menunggu dengan wajah cemas.


Lima belas menit kemudian Naila dan yang lain datang setelah mendapatkan kabar dari Yudi. Sudah tidak tahu seperti apa wajah wanita itu yang sejak tadi hanya menangis tak henti-hentinya.


"Haidar, bagaimana keadaan Mutia? Apa dia baik-baik saja?"


Laki-laki itu hanya menunduk tidak tahu harus menjelaskan bagaimana kondisi Mutia saat ini.


"Katakan, Nak? Kenapa diam saja?" desak Naila saat mendapati Haidar malah diam dan terus menunduk.


"Mutia terluka, Tante." Haidar menjawab lirih. Tak sengaja Naila menangkap bekas darah yang menempel di baju Haidar.


"I–ini darah siapa? Apa ini darah Mutia?" Menyentuh yang terkena darah itu dengan tangan gemetar.


"Mutia pasti akan baik-baik saja, Nyonya. Tolong tenangkan diri, Anda." Arya berusaha menenangkan meski ia sendiri tidak tahu bagaimana keadaan gadis itu di dalam sana.


"S–iapa yang tega melakukan ini pada Mutia, Haidar? Katakan, siapa orang itu?!"


"Azkia Aditama yang melakukannya!" Tiba-tiba saja Yudi datang dan memberitahu apa yang sejak tadi mereka tutupi.


"Azkia ...?" Naila nyaris ambruk saat mendengar nama itu. Kenapa bisa gadis yang selama ini ia anggap baik begitu tega melukai Mutia.


"Ya, Azkia Aditama yang melukai putri kita."


Dua wanita di belakang sana melengos. Kania menatap sinis papanya yang secara terang-terangan mengakui Mutia sebagai putrinya.


"Putri kita?!" Laura berdecak tak suka.


"Lalu di mana Kia, Om? Apa Om sudah membawanya ke kantor polisi?"


"Alex membawanya pergi."

__ADS_1


Haidar mengepalkan kedua tangannya. Sekarang ia tidak peduli lagi siapa gadis itu. Baginya Kia harus tetap menerima balasan atas semua perbuatan yang gadis itu lakukan.


"Kia harus mendapatkan hukuman yang setimpal, Nak! Dia harus di hukum! Kamu bisa melakukannya demi Mutia, kan?" Naila sungguh tidak terima jika Kia di biarkan bebas begitu saja. Sekalipun hubungan keluarga Pratama dan Keluarga Kia sangat dekat, hukum tetap harus berjalan.


"Tante tenang saja, aku pasti akan mengurus masalah ini sampai tuntas. Dan tidak akan membiarkan Kia terbebas begitu saja!" janji Haidar pada wanita paruh baya itu.


Yudi menyingkir, meraih ponsel di saku jas lantas menghubungkan seseorang di seberang sana.


"Sial! Ke mana Lydia!" umpat Yudi. Ia kembali mengeluarkan gelang yang tadi sempat ia temukan di semak depan gedung. Gelang berbentuk sangat mirip dengan yang dirinya berikan pada Lydia.


.


Kediaman Aditama.


Alex langsung membawa Kia pulang ke rumah setelah memberi kabar pada Airin lebih dulu. Gadis yang masih terlihat shock itu langsung di antar ke kamar, Kia tidak mau melakukan apapun selain meringkuk di atas tempat tidur.


"Yah, dia jahat, Yah! Dia mau menyakiti Mutia." Kia mengigit kuku jemarinya sendiri. Tubuhnya juga masih gemetar meski keadaannya tidak separah tadi.


"Lex ...!" Airin tiba di depan pintu kamar dengan tergesa. Ia melirik ke arah tempat tidur di mana putrinya tengah bergulung di bawah selimut dengan keadaan yang sangat kacau.


"Kia ... sayang ...!"


"Kamu tenang, Yah, ada Mama di sini." Airin mengecup puncak kepala Kia berulang-ulang berharap gadis itu bisa secepatnya tenang.


"Dia mau nyakitin Mutia, Ma. Perempuan itu mau bunuh Mutia."


Airin langsung terkesiap mendengar ucapan Kia, perempuan?


"Perempuan siapa, Nak? Katakan sama Mama, siapa dia?" Seperti yang Airin pikirkan jika Kia tidak mungkin melakukan hal sejahat itu, apalagi sampai berniat mencelakai sahabatnya sendiri.


"Kia, katakan, Nak?!" desak Airin lagi. Tapi Kia justru menjauh dan memilih bersandar pada kepala ranjang.


"Rin, cukup! Sekarang bukan waktu yang tepat buat desak Kia!" Alex tahu Kia masih butuh waktu untuk menenangkan diri. "Jangan paksa Kia terus."


"Tapi, kita harus tahu siapa perempuan itu, Lex! Aku nggak bisa biarin Kia terus-terusan di tuduh yang mencelakai Mutia!" Meski sebenarnya semua bukti memang jelas mengarah pada putrinya.


Alex tidak menampik jika semua orang memang menunduh Kia. Apalagi sekarang bukti semakin jelas bahwa di gedung itu hanya ada mereka berdua, sedangkan keadaan Mutia terluka parah.


"Lex, kamu bisa 'kan lakukan sesuatu? A–aku nggak mau Kia sampai di bawa ke polisi." Perdebatan Antara Airin dan Alex ternyata masih bisa di dengar oleh Kia langsung. Gadis itu semakin ketakutan, bahkan saat mamanya menyebut nama polisi.

__ADS_1


"Yah, aku nggak mau di bawa ke kantor polisi! Aku takut, Yah!" Kia masih ingat saat Yudi menyeretnya paksa dan mengatakan akan membawanya ke kantor polisi waktu di gedung kosong tadi.


"Nggak ada yang mau bawa kamu ke kantor polisi, Nak!" Airin kembali mendekat, memeluk tubuh putrinya yang tak berdaya.


"Ta–pi mereka mau bawa aku ke kantor polisi, Ma! Kak Haidar, papanya Mutia juga mau laporin aku ke polisi.


"Apa... ?!" Airin mengepal geram. Ia tidak menyangka Haidar akan kembali memperlakukan Kia dengan sangat buruk.


"Lex, kamu diam aja liat Kia di perlakukan seperti itu?!" Airin terlihat emosi sekali.


"Di perlakukan seperti apa? Kamu tidak tahu kejadian yang sebenarnya, Rin?"


"Kejadian apa? Kamu nggak percaya kalau bukan Kia pelakunya?! Kamu nggak percaya dengan putrimu sendiri?" Mereka berdebat lagi dan lagi, hingga perseteruan itu selesai saat mendengar ketukan pintu dari luar sana.


"Ada apa, Bik?"


"Nyonya, di bawah ada tamu," ucap Bibik pelayan dengan raut wajah cemas.


"Tamu? Siapa?"


"Itu Nyonya ... polisi."


Mata Airin langsung membulat sempurna saat mendengar siapa tamu yang tengah menunggunya di bawah.


"Po–polisi? Mau apa mereka?"


Tanpa mengulur waktu lagi Alex segera bangkit dan berjalan tergesa melewati dua perempuan itu.


"Tolong, Pak! Putri saya tidak mungkin melakukan hal sejahat itu?!" Alex berusaha bernegosiasi. Ia berharap di beri kesempatan sedikit saja agar bisa mencari bukti mengenai kejadian yang sebenarnya.


"Maaf, Tuan. Kami sudah membawa surat penangkapan! Jadi, mohon kerjasamanya." Dua polisi tadi tetap bersikeras membawa Kia hari ini juga.


"Tapi, Pak ..."


"Jangan khawatir, Tuan. Saat ini status putri Anda masih sebagai saksi. Jadi, mohon jangan menghalangi tugas kami!"


Kia nampak memberontak saat dua polisi tadi menggelandangnya menuju mobil. Gadis itu berteriak dan menangis sejadinya.


Alex hanya terpaku melihat putri semata wayangnya menghilang masuk mobil. Sedangkan Airin berteriak histeris, berusaha menahan Kia agar kedua polisi tadi tidak jadi membawanya.

__ADS_1


__ADS_2