
Hari yang di tunggu sepasang calon pengantin akhirnya tiba. Dengan berbalut kebaya berwarna putih Mutia duduk menunggu MUA tengah merias wajahnya di depan cermin. Gadis itu menatap tak percaya saat tangan ahli itu berhasil mengubahnya bak Cinderella yang sangat cantik.
"Sudah selesai, Nona." Wanita sekitar umur empat puluh tahun itu memeriksa sekali lagi riasan di wajah Mutia. Hingga akhirnya pamit keluar kamar untuk memberikan waktu sejenak untuk gadis itu sebelum di mulainya acara tersebut.
"Mutia, apa udah siap?" Naila melangkah masuk menghampiri putrinya yang terlihat begitu gugup, berulang kali Mutia juga menatap penampilannya sendiri di depan cermin sambil berputar-putar ke segala arah.
"Kamu udah cantik, Sayang. Tak perlu cemas, ada Mama di sini."
"Tapi aku gerogi, Ma. Bagaimana kalau nanti aku buat malu?" Mutia hanya berharap pernikahannya kali ini akan berjalan dengan lancar. Mungkin Mutia masih trauma dengan gagalnya pernikahannya dengan Yusuf dulu.
"Tidak akan terjadi apa-apa, Mutia. Kamu tak perlu khawatir seperti ini." Meyakinkan sekali lagi. Naila mengusap lembut punggung Mutia agar gadis itu tidak lagi merasakan cemas yang berlebihan.
"Mama mau lihat ke depan sebentar. Kamu jangan ke mana-mana ya?" Membuka pintu kamar dan mewanti-wanti Mutia agar tidak sampai meninggalkan ruangan itu. "Mama akan minta Nenek untuk menemanimu."
Banyak yang harus di urus oleh Naila. Meski Naila meminta pada pihak Haidar untuk melangsungkan acara sederhana saja, tapi apa yang di lakukan keluarga laki-laki itu, mereka malah menyewa gedung mewah untuk dijadikan tempat melangsungkan acara pernikahan putranya.
"Iya, Ma." Mutia duduk lagi di tepian ranjang. Sambil menunggu acara tersebut di mulai, Mutia bermain dengan ponselnya sebentar. Menscroll layar pipih itu hingga tiba-tiba menampilkan sebuah pesan dari salah seorang gadis yang Mutia kenal.
[Bisakah kita ketemu?]
Mutia mengernyit heran membaca pesan teks tersebut.
Bertemu? Apa tidak apa-apa jika aku meninggalkan kamar sebentar saja.
[Maaf, aku nggak bisa!]
[Please, Mutia. Aku hanya pengen ketemu kamu,] bujuk seseorang di seberang sana.
[Tapi Mama bilang aku nggak boleh pergi ke mana-mana! Lagipula acara sebentar lagi akan di mulai.]Mutia masih memegang teguh nasehat Mama Naila tadi.
[Lima menit, Mutia. Hanya di taman samping gedung. Aku janji nggak akan macam-macam!]
__ADS_1
[Tapi ...?]
[Please, Mutia ...]
[Ini penting, Mutia.] Pesan itu kembali muncul. Padahal Mutia sudah tidak membalasnya lagi.
[Okey!]
Dari seberang sana mengirimkan banyak emot tersenyum.
[Aku tunggu kamu di taman. Sekarang!]
Mutia bimbang sendiri memilih tetap tinggal atau mengiyakan permintaan seseorang tadi. tapi Mutia sudah terlanjur janji akan menemuinya. Sedangkan setengah jam lagi akad segera di laksanakan.
Karena waktu sudah semakin mendesak Mutia buru-buru menyambar ponsel, gadis itu mengendap-endap berjalan menuju pintu belakang.
.
Yudi, Laura, dan Kania sudah sejak satu jam lalu stay di ruangan yang nanti akan menjadi tempat di laksanakan akad nikah. Berulangkali Laura menatap takjub ruangan yang di tata super mewah, dengan hiasan bunga serta lampu-lampu hias di kanan kirinya. Sedangkan gadis di sebelahnya hanya merengut, memasang wajah tidak suka.
"Ma, aku pulang ya? Bosen aku. Lagian mana sih pengantinnya nggak keluar-keluar!" rengek Kania di sebelah sang mama. Gadis itu sama sekali tak nyaman berada di ruangan itu. Mungkin kalau bukan di paksa oleh papanya Kania tidak mungkin ikut dalam acara tersebut.
"Kamu mau bikin Papa marah? Udah diam, duduk!" perintah Laura dengan tatapan tajam. Sebenarnya Laura juga malas datang ke acara itu, terlebih Laura harus pura-pura memasang senyum di depan semua orang. Tapi, mau bagaimana lagi?
"Pa, mana pengantinnya? Kenapa lama sekali, sih?!" Kania terus menggerutu, namun Yudi hanya menggeleng melihat kelakuan putrinya.
Laura yang melihat seisi ruangan pesta serba mewah mendadak curiga, apa jangan-jangan uang perusahaannya di berikan pada Naila?
"Yud, ini semua bukan kamu yang bayarin, kan?" Tiba-tiba saja Laura menyenggol lengan Yudi yang masih fokus menatap sekitar. Pria itu selalu menatap kearah pintu masuk, seolah tengah menunggu kedatangan seseorang.
"Apa sih, Laura? Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu? Calon suami Mutia itu kaya raya. Dia putra bungsu Keluarga Pratama. Jadi, tidak mungkin aku menggunakan uangku untuk membantu mereka."
__ADS_1
"Ya, siapa tahu mantan istrimu itu masih mau dengan uangmu. Bukankah yang kaya calon suami Mutia, kalau dia tetap jelata, kan?" Seperti biasa Laura selalu menghina Naila. Bisik-bisik itu ternyata di dengar langsung oleh Naila yang tak sengaja tengah berjalan dari arah belakang.
"Hei, ngomong apa kamu?" Naila sontak menghentikan langkah saat mendengar dirinya di bicarakan. Naila tidak terima jika Laura sampai menuduhnya meminta uang pada Yudi untuk acara pernikahan Mutia. Padahal dari pihak keluarga Mutia tidak mengeluarkan uang sepeserpun pun, semua sudah di tanggung oleh pihak mempelai laki-laki termasuk sewa gedung dan lainnya.
"Apa? Kau tak terima aku mengataimu jelata? Itu kenyataan, kan?" Laura tersenyum mengejek. Benar-benar merendahkan wanita di depannya.
"Aku memang jelata. Tapi, aku tidak pernah merebut suami orang! Apalagi memfitnah istri sahnya sebagai pelakor!" Jawaban Naila membuat Laura kalah telak. Wajah perempuan itu langsung memerah, apalagi saat beberapa tamu menatapnya dengan pandangan intimidasi.
"Tutup mulutmu!"
"Hei, sudah! Kenapa kalian malah bertengkar? Naila ...!" Beralih menatap mantan istrinya. "Jangan menghancurkan acara Mutia dengan meladeni Laura."
"Oke! Tapi tolong, ajari istri tercintamu ini untuk sopan!" Naila berkata ketus, melirik Laura sekali lagi, lantas memilih meninggalkan tempat itu.
"Yud, apa-apaan kamu? Kenapa malah belain dia?!" Laura melotot tidak terima saat Yudi seolah membela Naila ketimbang dirinya.
Di ruangan lain.
Haidar mendadak gugup saat sang ayah masuk dan memberitahu jika sebentar lagi acara akad nikah akan segera di langsungkan. Berulangkali ia mengusap keringat yang membasahi keningnya, merapikan sekali lagi penampilannya yang memang sudah rapi sejak tadi.
"Apa dulu Ayah merasakan ini saat ingin menikah dengan Mama?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Haidar. Laki-laki di depan sana langsung tersenyum dan membalas pertanyaan putranya dengan tepukan lembut di bahu kanannya.
"Tentu saja. Ayah juga merasa gugup sepertimu. Bahkan saat kita hendak melakukan ..."
"Yah ...!" Sudah cukup menurut Haidar. Lebih baik ia tidak mendengar kalimat selanjutnya.
"Apa?" Arya terkekeh pelan. Arya hanya ingin mencairkan suasana agar Haidar tidak merasa tegang lagi.
"Tenanglah. Kau pasti bisa!" Menepuk sekali lagi. Arya melirik jam di pergelangan tangan tepat dengan terbukanya pintu dari arah luar sana.
"Tuan ...!" Tiba-tiba saja MUA yang tadi merias Mutia berjalan masuk dengan tergesa. Wajah perempuan setengah baya itu terlihat pucat, apalagi saat menatap dua lelaki yang berada di ruangan itu.
__ADS_1
"Tuan ... Nona Mutia tidak ada di ruangan rias!"