
Nyatanya rasa bersalah terus menghantui Mutia. Sudah beberapa kali Mutia mencoba menjelaskan pada Kia mengenai hubungannya dengan Haidar, tapi tetap saja gadis itu tidak mau mendengar apapun yang Mutia jelaskan.
Seringnya Kia menghindar membuat Mutia lelah dan terpaksa membiarkannya. Lagi pula itu hanya tuduhan semata, Mutia sama sekali tidak pernah berpikir sejauh itu apalagi menjadi menantu dari Keluarga Pratama.
Hari ini Haidar mengajaknya ke sebuah restoran untuk menemaninya bertemu dengan rekan bisnis. Mutia sudah bersiap membawa berkas penting yang akan mereka bahas, lantas ikut masuk mobil setelah mendapat perintah dari Haidar.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju restoran yang menjadi tempat tujuan. Hanya sepuluh menit mobil milik Haidar untuk tiba di sana. Memastikan sekali lagi jika tidak ada berkas yang tertinggal, mereka melangkah beriringan memasuki tempat tersebut.
"Meja nomer berapa Mutia?" tanya Haidar pada sang penentu jadwal sekaligus tempat.
"Nomer lima, Tuan." Mutia menunjuk meja tersebut lantas melangkah menghampirinya.
"Selamat siang, Tuan. Maaf kami sedikit terlambat." Mereka berbasa-basi sebentar sampai akhirnya pembahasan di mulai dengan hasil akhir kesepakatan untuk keduanya.
"Maaf Tuan Haidar, saya tidak bisa lama. Saya mohon pamit lebih dulu," ucap pria itu sembari bangkit dari tempat duduk. Mengemasi barang miliknya, lalu melangkah meninggalkan meja tersebut.
"Mutia, kita makan siang dulu ya?" ajak laki-laki itu saat melirik jam di pergelangan tangan yang sudah menunjuk waktu makan siang. Rencananya setelah ini mereka akan kembali ke kantor lagi setelah perut terisi.
"Baik, Tuan." Menunggu pesanan yang sedang di siapkan pelayan, Mutia memilih memainkan ponsel miliknya.
"Ternyata benar selama ini kalian ada main di belakangku!" ucap gadis yang baru saja datang bersama dua rekannya.
Mutia reflek menoleh dan mendapati Kia sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan benci.
"Kia ..."
"Apa ini yang mau kamu jelasin ke aku?" Kia tersenyum sinis mengingat bagaimana beberapa hari belakangan ini Mutia berusaha menjelaskan hubungannya dengan Haidar.
"Kia, apa maksudmu?" Melihat suasana sedikit memanas Haidar lantas ikut bersuara meminta penjelasan pada Kia.
"Jadi seperti ini selera Kakak? Pelakor ..." Kia berbisik pelan, tapi tentu saja Haidar masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Kia ...!"
__ADS_1
"Apa? Kakak mau belain dia!" teriakan Kia langsung menjadi tontonan para tamu yang lain. Mereka langsung menatap kearah Kia dan saling berbisik pelan.
"Ada apa?"
"Pelakor? Yang mana?"
"Apa gadis yang ada di sebelahnya?"
Bisik-bisik itu sungguh membuat emosi Haidar naik. Apalagi ada yang sengaja menyindir dengan kata-kata tidak pantas.
Kia mengembangkan senyum saat mendengar ucapan orang-orang di sekitarnya yang menyudutkan Mutia. Sedangkan dua rekan di sebelahnya hanya menatapnya dengan bingung. Mereka tidak tahu menahu mengenai permasalahan ini.
"Kia, aku bisa jelasin. Aku nggak ada hubungan apapun dengan Tuan Haidar. Kamu harus percaya." Mutia berusaha memegang tangan gadis itu, tapi Kia buru-buru menepisnya lagi dan lagi.
"Jangan pegang-pegang!"
"Kia ..."
"Apa sih!" Kia malah mendorong Mutia hingga tubuh gadis itu menabrak bangku di sebelahnya dan berakhir tersungkur ke lantai.
"Kamu tak apa-apa, kan?" Perempuan paruh baya itu membantu Mutia bangkit hingga membuat laki-laki di depan sana menatapnya tak percaya.
"Mama?"
Begitupun dengan Kia yang mengetahui siapa perempuan yang baru saja memberikan bantuan pada Mutia.
"Tan–te?"
"Terimakasih, Nyonya. Saya tak apa-apa."
"Mutia, kamu tak apa-apa, kan?" Kini gantian Haidar yang mendekat kearah Mutia, memeriksa tubuh gadis itu dengan wajah khawatir. "Apa ada yang sakit?" Perhatikan Haidar ternyata membuat gadis di depan sana kembali menatap dengan dada yang bergemuruh. Kia merasa cemburu sekali dengan perhatian yang Haidar berikan untuk Mutia.
"Awalnya Tante nggak percaya. Tapi, setelah melihat sendiri buktinya seperti ini, mungkin yang dikatakan Om Arya ada benarny. Kalau kamu memang nggak berjodoh dengan Haidar, Kia." Suara Rengganis memecah lamunan Kia. Gadis itu kembang kempis merasakan pahitnya penolakan yang di ucapkan oleh perempuan itu secara tidak langsung.
__ADS_1
"Tante, ini nggak seperti yang Tante bayangkan. A–aku bisa jelasin," ucap Kia dengan terbata. Sudah tidak tahu semerah apa wajahnya saat aksinya tadi di pergoki sendiri oleh mama dari laki-laki yang sangat Kia cintai.
"Jelasin apa, Azkia Aditama? Jelasin kalau Mutia hanya anak seorang pelakor? Atau, Mutia nggak pantas sama putraku?" tanya Rengganis pada gadis itu. Bukan tanpa alasan sikap Rengganis berubah lembut pada Mutia, karena Arya sudah menjelaskan langsung siapa sebenarnya gadis itu.
"Da–dari mana Tante tahu?" Kia mendadak kehilangan kata-kata. Padahal dulu perempuan itu sangat mendukungnya, tapi kenapa sekarang sikapnya mendadak berubah?
"Kenapa? Apa sekarang kamu mau bilang kalau Mutia nggak pantas sama Haidar?" tanya perempuan itu lagi. Rengganis mengayun langkah mendekati Kia yang masih berdiri mematung.
"Tidak semua yang kita mau harus kita dapatkan. Begitupun dengan perasaan seseorang. Kita tak akan pernah bisa memaksanya, Kia. Percayalah ... suatu saat nanti kamu pasti bisa menemukannya. Orang yang benar-benar mencintaimu dengan setulus hati." Rengganis menepuk pundak gadis itu lembut lantas beralih mendekat kearah Mutia.
"Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?" Panggilan sayang yang di ucapkan sang mama sontak membuat senyum laki-laki itu mengembang sempurna. Apa itu berarti mamanya sudah bisa menerima keberadaan Mutia?
"Saya baik-baik saja, Nyonya," jawab Mutia dengan pandangan yang menunduk malu. Mutia merasa aneh dengan perubahan sikap perempuan paruh baya itu yang tiba-tiba baik terhadapnya.
"Gimana dengan luka-lukamu? Apa udah mulai membaik? Apa kita ke Dokter saja ya?"
"Tidak usah, Nyonya. Saya sudah baik-baik saja. Lagi pula ini hanya luka kecil."
"Mama kenapa ada di sini?" tanya Haidar yang sempat terkejut dengan kemunculan mamanya secara tiba-tiba.
Mereka bahkan lupa jika di situ masih ada Kia bersama dua rekannya yang masih berdiri mematung sejak tadi.
"Mama pulang arisan. Pas mampir ke sini, eh .. tahunya kalian ada di sini juga."
Tadi sebenarnya Rengganis hanya ingin mampir sebentar membeli sesuatu. Namun saat memasuki restoran, tak sengaja ia melihat pertengkaran antara dua gadis itu dan memaksanya untuk ikut mendekat.
"Kalian kenapa ada sini?" tanya Rengganis menatap pada keduanya.
"Kami baru saja bertemu dengan rekan bisnis," jawab Haidar sembari menatap serius kearah mamanya. Laki-laki itu masih ragu ingin mengatakannya pada sang mama, takut kalau perempuan paruh baya itu sampai menolaknya lagi. Tapi, ia tidak bisa berlama-lama memendamnya sendiri, apalagi melihat perubahan sikap mamanya pada Mutia tadi.
"Ma, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."
Perempuan itu mendongak menatap serius kearah Haidar dengan senyum yang terus terpancar dari wajahnya.
__ADS_1
"Apa kamu ingin membicarakan mengenai hubungan kalian? Atau, kapan kalian akan meresmikannya?"