Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Siapa Pria Itu?


__ADS_3

Mutia masih di bayang-bayangi perasaan bersalah dengan apa yang ia lakukan di kamar Kia tadi. Meski semua yang terjadi tanpa sengaja, tetap saja ia tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali. Apalagi yang tadi bersamanya adalah laki-laki yang sangat Kia cintai.


Saat ini sebisa mungkin ia harus menghindar dari laki-laki itu jika tidak ingin pertemanannya dengan Kia rusak. Apalagi Kia sahabatnya sendiri, Mutia tidak ingin sampai di tuduh ingin merebut calon tunangan dari sahabatnya itu.


Mutia turun dari taksi yang ia tumpangi dan melangkah menuju pekarangan rumah sederhananya usai membayar ongkos taksi tersebut. Melangkah gontai karena seharian ini memang cukup melelahkan bagi Mutia. Gadis itu mendorong pintu rumah pelan tatkala mendengar samar-samar suara Mama Naila dari dalam sana.


Mutia sengaja menghentikan langkahnya dan memilih mendengarkan lebih dulu apa yang terjadi di dalam sana.


"Aku juga bingung, Bu, kenapa mereka tega sekali memfitnahku lagi?" Wanita paruh baya itu terlihat menyeka sudut matanya yang sudah di basahi oleh cairan bening. Naila sungguh terpukul sekali saat tiba-tiba ia di panggil oleh atasannya, lantas ia di pecat dari pekerjaannya secara tidak hormat.


Bukan sekali, tapi sudah sering Naila mengalaminya. Bahkan pernah waktu itu Naila di terima bekerja oleh sebuah perusahaan yang besar. Tapi, dua jam kemudian ia di panggil ke ruangan HRD lagi dan langsung menerima surat pemecatan.


Alasannya pun sama, mereka menuduh Naila sebagai pelakor yang sengaja masuk ke perusahaan itu hanya ingin menggaet para laki-laki kaya.


Naila tidak tahu pasti mereka mendengar gosip buruk itu dari mana asalnya. Gosip yang sungguh sangat meresahkan bagi Naila. Mungkin karena itulah mereka takut akan berpengaruh buruk pada nama perusahaan yang menampungnya.


"Tapi, kenapa, Naila? Bukankah kamu bilang kejadian itu sudah lama sekali? Lagipula, bukan kamu yang menggodanya, kan? Pria itu saja yang berusaha memaksamu. Lantas, kenapa gosip buruk itu masih saja ada sampai saat ini?" tanya sang nenek.


"Apa mungkin di perusahaan kemarin ada yang mengenalimu? Lantas, ia yang membeberkan lagi cerita lama itu?"


"Entahlah, Bu. Yang pasti saat ini aku bingung menjelaskannya pada Mutia. Aku juga udah berusaha memasukkan surat lamaran kerja ke beberapa tempat. Tapi .... saat salah satu dari tempat itu menerimaku, pasti tak lama aku di pecat lagi dengan alasan aku ini bukan wanita baik-baik. Mereka menganggap–ku sebagai pelakor!"

__ADS_1


Deg,


Seseorang yang baru saja mendorong pintu dari luar sana mendadak menghentikan tangannya.


"Jadi, selama ini Mama bohongin aku?" bisik gadis itu pelan. "Lalu, siapa pria yang Mama maksud? Yang membuat Mama harus kehilangan pekerjaannya?"


Mutia sendiri sangat penasaran dengan pria yang baru saja mamanya ucapkan. Pria yang dengan keji memfitnah hanya karena mendapatkan penolakan dari mamanya, itulah yang Mutia tangkap dari obrolan sang mama dengan neneknya.


"Pria? Siapa yang Mama maksud?" Karena sudah tidak tahan lagi, Mutia akhirnya melangkah masuk dan meminta penjelasan dengan sejelas-jelasnya.


Sebagai seorang anak tentu saja ia tidak akan terima jika mengetahui orang tuanya di perlakukan seperti itu. "Katakan sama aku, Ma. Siapa dia?" tuntut gadis itu lagi.


"Mu ... Mutia?" Seketika bibir wanita paruh baya itu mengatup rapat. Naila menyesal membahasnya sekarang. Harusnya tadi ia memastikan lebih dulu jika Mutia tidak akan mendengar pembahasannya tadi.


"Kamu udah pulang? Gimana pestanya tadi?" Wanita itu berusaha mengalihkan perhatian Mutia. Ia hanya tidak ingin putrinya terluka lagi ketika mendengar kenyataan pahit ini. Biarlah masalah tadi menjadi urusannya saja.


"Apa Mama keluar lagi dari pekerjaan? Apa Mama mau pindah lagi?" Karena selama ini yang ia tahu memang sang mama seringkali keluar masuk perusahaan. Wanita itu beralasan jika posisi yang ia tempati sudah di ambil alih lagi oleh sekretaris lama di perusahaan itu. Namun ternyata itu hanya sebuah alasan agar dirinya tidak terluka.


"Iya, Nak, Mama memang akan pindah kerja lagi. Tapi, kamu tak usah khawatir karena tadi Mama udah ada panggilan kerja di perusahaan yang baru." Naila memaksakan senyum kearah gadis itu. Ia berharap Mutia tidak akan banyak tanya lagi, seperti yang sudah-sudah.


Tidak khawatir bagaimana? Sedangkan saat ini ia sudah mendengar sendiri kebenaran itu.

__ADS_1


"Mama bohong, kan? Selama ini Mama keluar dari pekerjaan bukan karena posisi Mama di ambil alih oleh karyawan lama, tapi karena mereka menuduh Mama seorang pelakor, kan?" Mutia bukan anak kecil lagi. Perlahan ia pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Siapa dia, Ma? Siapa yang udah tega fitnah Mama kaya gini?" Kristal bening sudah menerobos membasahi kedua pipi gadis itu. Mutia tidak pernah tahu jika di luar sana mamanya selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang-orang di sekitarnya.


"Nak ...?"


Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah kamar mewah nan luas rumah Keluarga Pratama Haidar–putra kedua dari pasangan Rengganis-Arya tengah tersenyum sembari menyentuh keningnya sendiri. Padahal seharusnya ia kesal akibat insiden di kamar Kia tadi wajah tampannya harus berkurang beberapa persen karena terdapat bekas kemerahan yang terlihat di sana.


"Kenapa dia bar-bar sekali?" Haidar bergumam pelan. Masih dengan menyentuh luka memar itu ia menarik laci meja di samping ranjang tidur miliknya.


Haidar tidak menyangka jika pemilik kalung tersebut adalah sahabat dari Kia. Gadis yang seringkali Kia ceritakan di sela-sela obrolannya yang tak sengaja.


Haidar menatap sebuah kalung yang selama ini selalu ia simpan rapi di laci meja itu. Kalung berinisialkan nama gadis yang pernah menolongnya pasca kejadian di danau kala itu. Gadis yang selama ini ia cari keberadaannya.


"Kenapa baru sekarang aku bertemu dengannya?" Tiba-tiba senyum itu surut dari wajahnya. Saat ini Haidar tengah menyesali keputusannya sendiri. Harusnya ia bisa bersabar sedikit lagi dan tidak menyetujui perjodohan itu begitu saja. Tapi, semua sudah terlambat.


Hari pertunangannya dengan Kia sudah di tentukan. Sedangkan hatinya mendadak bimbang oleh hadirnya gadis itu. Gadis pemilik kalung yang telah menyelamatkan nyawanya waktu itu.


Saat ini Haidar benar-benar frustasi. Haidar merasa di lema. Hanya karena desakan sang ayah untuk segera menikah, Haidar akhirnya pasrah saja saat kedua orangtuanya menjodohkan dengan Kia.


Awalnya Haidar sudah memutuskan untuk belajar menerima kehadiran gadis itu. Tapi, saat ini ... ia sungguh bimbang.

__ADS_1


"Apa aku harus membatalkannya?" Laki-laki itu menggeleng cepat. Jika ia bersikeras membatalkan perjodohan itu sama halnya dengan membuat malu kedua orangtuanya sendiri. Tapi, jika ia teruskan, apa itu adil? Sedangkan perasaannya terpaut pada gadis lain."


__ADS_2