Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Aku Atau Kau!


__ADS_3

"Maaf, Nyonya, Tuan Haidar memang tidak ada di ruangannya." ucap Nina pada perempuan paruh baya yang baru saja datang di antar supir pribadinya. Perempuan itu tak percaya begitu saja saat salah satu karyawan mengatakan jika saat ini putranya tengah keluar karena ada sesuatu hal yang penting.


"Jangan bohong, kamu!" Rengganis tidak mempedulikan itu. Ia tetap melangkah memasuki lift yang langsung di susul oleh Nina di belakangnya.


"Sungguh, saya tidak berbohong!" Memperlihatkan dua jarinya yang membentuk huruf V.


Dasar bocah, dia pikir aku teman sebayanya, bisik Rengganis dalam hati.


Perempuan itu melanjutkan langkah lagi dan langsung mendorong pintu ruangan milik putranya.


"Haidar ...?" Ucapannya menggantung saat melihat ruangan itu benar-benar kosong. Kemana laki-laki itu? Lantas pandangannya beralih ke samping, kearah ruangan di sebelahnya, " Ke mana gadis itu? Apa dia pergi dengan putraku?" Pikirannya sudah berkelana entah ke mana.


"Tidak, Nyonya. Hari ini Mutia memang tidak masuk."


"Kenapa?" tanya Rengganis sangat penasaran.


"Saya kurang tahu, Nyonya. Mungkin sakit."


Rengganis segera mencari ponselnya di dalam tas. Aduk dan aduk lagi akhirnya berhasil juga meraih benda pipih itu. Mencari kontak nomor Haidar, Rengganis segera menghubungi laki-laki itu.


"Ke mana bocah itu?" Rasanya frustasi sendiri jika memikirkannya. Bagaimana Haidar waktu itu terang-terangan mengakui perasaannya pada Mutia. Rengganis jadi teringat pada gadis yang lain, yang mungkin saja akan terluka jika sampai mengetahuinya.


Karena tidak mendapatkan respon meski sudah menghubunginya berkali-kali, Rengganis lantas berusaha menghubungi suaminya.


[Mas ...?]


[Sayang, ada apa?] Terdengar sahutan dari seberang sana. Arya berusaha bersikap setenang mungkin agar sang istri tidak menyadari kepanikannya. Takut jika perempuan itu khawatir.


[Kamu lagi di mana, Mas? Apa sibuk?]


[Ti–tidak!]


[Aku lagi di kantor. Tapi, Haidar tak ada. Ke mana dia?]


Di seberang sana Arya tengah kebingungan untuk menjawab dua pertanyaan itu.

__ADS_1


[Mas ...!] Karena tidak mendengar jawaban dari seberang sana.


[Aku lagi di jalan usai melakukan pertemuan dengan salah satu teman bisnis. Mungkin saja Haidar sedang keluar sebentar.] Arya berusaha memberikan alasan yang masuk akal. Ia tidak mungkin mengatakan jika Haidar saat ini tengah mendatangi rumah pria asing yang dahulu mengeroyoknya.


[Oh baiklah. Nanti bisa jemput, kan?] Arya tambah gusar karena Rengganis belum juga mematikan sambungan telepon. Padahal ia harus cepat-cepat mencari keberadaan laki-laki itu.


[Maaf, kamu pulang sendiri ya? Aku masih ada urusan,] tolak Arya secara halus.


Rengganis memasang wajah kesal. Ia merasa sejak beberapa hari yang lalu Arya selalu mengabaikannya.


[Ya udah, hati-hati!] Meski harus pulang di antar supir lagi, Rengganis terpaksa memakluminya. Mungkin Arya benar-benar sibuk kali ini.


Tanpa tahu di seberang sana Arya tengah panik karena obrolannya tadi dengan Haidar tiba-tiba saja terputus secara sepihak. Arya khawatir jika sesuatu buruk terjadi pada putranya karena tidak biasanya Haidar melakukan itu.


"Lex, bagaimana ini?" Karena hanya laki-laki itu lah yang paling tahu soal lacak melacak. "Aku takut terjadi sesuatu pada Haidar!" ucap Arya dengan wajah frustasi.


"Tenang dulu, Tuan? Sebaiknya kita ke kantor Anda!" usul laki-laki itu. Karena jika langsung lapor polisi Alex yakin butuh proses yang cukup lama, sementara Arya sudah tidak sabar untuk menemukan keberadaan putranya.


Tanpa basa-basi keduanya langsung menuju mobil. Memacu kendaraan itu dengan kecepatan penuh, Alex berusaha menggunakan waktu sesingkat mungkin untuk sampai di sana.


"Cepat, Lex, kau lacak ponsel milik Haidar!" perintah Arya setelah mereka masuk ke dalam ruangan khusus. Ruangan yang dulu sengaja di buat untuk keperluan penyelidikan mengenai kasus keluarga Alex.


"Hei, cepat! Bisa kerja tidak!" teriak laki-laki itu lagi, padahal baru beberapa detik yang lalu Arya sudah berteriak dan memakinya.


"Cepat, Lex! Kenapa sekarang kau jadi lambat begini?!"


Alex memilih diam dan tidak menghiraukannya. Ia paham sekali apa yang di rasakan Arya saat ini. Jika biasanya laki-laki itu selalu bersikap tenang dalam menghadapi setiap masalah, tapi saat sudah menyangkut keluarganya Arya tidak bisa mengendalikan diri lagi.


"Ketemu!" teriaknya saat berhasil menemukan titik terakhir Haidar menggunakan ponselnya.


Mereka segera keluar, berlari cepat masuk ke dalam lift dan langsung menuju lantai bawah.


Tidak tahu sekencang apa Arya mengemudikan mobilnya. Karena kali ini Arya–lah yang berada di depan kemudi.


"Hati-hati, Tuan!" Alex hanya mampu menahan napasnya saat berungkali Arya hampir menyerempet mobil lainnya.

__ADS_1


"Diam, Lex! Aku tahu apa yang harus aku lakukan!"


Ya, ya. Alex langsung mengunci mulut rapat. Pasrah saja apa yang akan terjadi nanti.


Sementara di tempat lain. Setelah kedatangan pria itu, suasana di depan rumah langsung berubah. Pria asing itu tersenyum mengejek karena keberanian Haidar yang datang ke rumahnya sendirian.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya pria itu. Pria yang sejak tadi Haidar tunggu kedatangannya.


"Kau benar-benar tak tahu kenapa aku ada di sini?"


"Untuk apa? Mengantarkan nyawamu?!"


Haidar masih berusaha tenang menghadapi pria yang bahkan hampir merenggut nyawanya.


"Kenapa kau sangat membenciku? Apa salahku?" tanya Haidar berusaha bersikap biasa saja. Sungguh, ia sama sekali tidak takut pada pria di depannya.


"Aku? Cih ..." Pria di depan sana melengos kearah samping. "Kau tak sadar juga?" sambungnya lagi.


"Yang aku herankan Kenapa kau pengecut sekali? Apa kau memang takut menghadapi–ku seorang diri, hingga membawa teman-teman–mu juga?" Haidar sengaja memprovokasinya karena pria itu tidak mau memberitahu alasan membencinya.


"Tutup mulutmu! Aku tak pernah takut pada siapapun!"


Kini gantian Haidar yang terkekeh pelan. Lelaki itu sedikit puas melihat wajah pria di depannya yang tampak memerah.


"Pergilah! Sebelum aku berubah pikiran dan kembali ingin melenyapkanmu!" perintah pria itu dengan penuh ancaman.


"Apa saat ini kau tengah mengancamku?"


Di depan sana pria bernama Sandi mengepalkan keduanya tangannya. Ia sudah memberikan kesempatan pada Haidar untuk pergi, tapi laki-laki itu malah besar kepala seolah menantangnya.


"Kau mau panggil teman-temanmu? Panggil saja! Mungkin sebentar lagi kau juga akan ikut mendekam di penjara!" Ancaman Haidar tak serta merta membuat nyali pria di depan sana menciut. Sandi malah tergelak kencang lagi, seolah ia adalah orang yang kebal akan hukum.


"Jika aku bisa menghabisimu sendiri, kenapa harus memanggil mereka? Apa kau pikir aku takut dengan ancamanmu baru saja?"


Sandi benar-benar terlihat tidak takut sama sekali. Pria itu malah dengan santainya membalas semua ucapan Haidar dengan sangat tenang.

__ADS_1


"Baiklah. Aku pastikan setelah ini kau akan mendekam di penjara!"


"Jangan mimpi! Kita lihat saja. Aku, atau kamu yang akan mampus lebih dulu!"


__ADS_2