
"Ini udahan kan, Ma?" Kedua tangan Yusuf sudah penuh dengan paper bag belanjaan Seli. Tapi, nyatanya perempuan itu masih saja mengajak berkeliling seakan tak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ia dapatkan.
"Nanti dulu, Yusuf. Mama belum dapet tas keluaran terbaru itu lho!" protes perempuan itu. Memang jika di hitung pengeluaran untuk belanja bulanan perempuan itu tidaklah kira-kira. Padahal seminggu yang lalu juga Seli sudah membeli tas keluaran terbaru yang katanya edisi terbatas.
"Tapi ini udah banyak banget, Ma! Mau buat apa lagi sih?" protes laki-laki itu. Mentang-mentang hari libur sang mama memanfaatkan Yusuf untuk menemaninya berbelanja.
"Kamu cukup diem dan ikuti Mama aja, oke!" Perempuan itu kembali melanjutkan langkahnya menyusuri toko-toko yang berjejer menawarkan aneka produk tas dan sepatu.
"Yang ini atau ini yah?" Menimbang kedua warna yang sama-sama ia sukai. Lalu tangannya meletakkan kembali ke tempat semula.
"Kayaknya yang ini deh!" Seli berniat mengambil warna yang tadi sempat ia kembalikan pada tempatnya, tapi sebuah tangan lain ternyata lebih dulu mengambilnya.
"Hei, itu punyaku!" teriak Seli, perempuan itu berusaha merebutnya kembali. Tapi perempuan di depannya juga tak ingin melepaskannya begitu saja.
"Enak aja, ini punyaku!"
"Tapi aku yang mengambilnya lebih dulu!" balas Seli tak mau kalah. Saat di lihat ternyata warna itu lebih menarik ketimbang yang saat ini ia pegang.
"Aku tak peduli! Ini milikku!" Perempuan asing itu masih bersikeras mempertahankannya.
"Nggak bisa, itu punyaku!" Seli juga kekeh untuk mendapatkan tas itu lagi.
Aksi saling tarik menarik pun terjadi. Seli berusaha merebut tas itu kembali, sedangkan perempuan tadi masih kekeh mempertahankan karena merasa lebih dulu mengambilnya.
"Ma, udah. Jangan bertengkar seperti ini?" Yusuf berusaha melerai pertengkaran sang mama dengan menahan tubuh perempuan itu agar tidak saling merebut.
"Mama harus dapatkan tas itu, Yusuf! Itu tas incaran mama dari dulu!!" Seli masih tetap ngotot. Begitupun perempuan di depan sana.
"Hei, ini milikku!"
"Itu milikku, kembalikan! Aku lebih dulu melihatnya!"
"Aku nggak peduli!"
Keributan itu memancing pemilik toko sekaligus pria yang tengah duduk menunggu di sofa khusus tamu.
"Tolong, Nyonya, jangan berebut seperti itu?" Sang pemilik toko berusaha melerainya.
"Sayang ada apa?"
"Mas, dia mau merebut tas incaranku!" adunya pada sang kekasih.
"Hei, beri– ...."
"Mama ...?" ucap laki-laki itu lirih. Langkahnya mundur beberapa langkah mengetahui siapa perempuan yang terlibat pertengkaran dengan kekasihnya.
__ADS_1
"Papa ...!" pekik Seli sangat terkejut. Tatapan mengarah pada tangan milik pria itu yang menggandeng perempuan di sebelahnya.
"Mas, dia siapa?" Perempuan itu mulai penasaran.
Sedangkan yang di depan sana sudah melotot menampilkan wajah tidak percaya. "Papa ngapain di sini? Siapa dia!" tuntut Seli pada pria itu yang tak lain adalah Broto–suaminya sendiri.
"Papa ...?" Yusuf juga kaget saat melihat sang papa tiba-tiba muncul dan membela perempuan asing tadi.
"Kalian ...?" Broto berniat mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri. Tapi tangan perempuan yang bersamanya itu berusaha menariknya.
"Mau ke mana kamu, Mas!"
"Di–dia siapa, Pa! Jawab!" tanya Seli dengan sorot mata membunuh. Selama ini ia tidak pernah berpikir jika Broto mempunyai perempuan lain selain dirinya.
"Aku kekasihnya, kau siapa!" Dengan percaya diri perempuan di depan sana memperkenalkan diri. Seli sampai di buat terkejut mendengarnya.
"Nggak mungkin! Kau pasti bohong! Suamiku tidak mungkin berhianat!" Seli menggeleng tak percaya. Baginya Broto adalah sosok yang sempurna sebagai kepala keluarga.
Perempuan bernama Lydia itu tergelak kencang menatap kearah Seli yang masih di liputi dengan rasa tak percaya. "Kau tak percaya? Lihat!" Berjalan kearah Broto dan ...
Cup!
Lydia mendaratkan satu kecupan di pipi pria itu. Sontak Broto langsung mendorongnya dengan kencang, "Lydia, apa-apaan kamu!" ucapnya dengan tampang tak percaya.
"Jelasin sekarang juga, Pa!"
"Ma, maaf ...." Broto akhirnya bersuara. Pria itu juga melangkah mendekati Seli dan berniat menjelaskannya.
"Maafkan aku, Ma, aku tak bermaksud menghianatimu. Tapi, dia ..."
"Kau dengar sendiri, bukan?" Ucapan Lydia semakin memperjelas posisinya.
"Jadi benar, dia selingkuhan–mu!" ulang Seli lagi.
"Kau itu tuli ya! Jelas-jelas tadi aku udah mengatakannya!"
"Tutup mulutmu, ******! Aku sedang tidak berbicara denganmu!"
Rasanya sesak sekali saat mengetahui kenyataan yang ada. Suami yang selama ini banggakan ternyata tega menduakannya.
"Keterlaluan kamu, Pa! Jadi seperti ini kelakuanmu selama ini?!" maki Seli tepat di depan wajah Broto.
"Ma, udah! Jangan membuat keributan di sini!" Meski Yusuf juga kecewa dengan sikap sang papa, tapi ia tidak ingin keributan itu semakin besar. "Sebaiknya kita pulang."
"Papa kamu udah keterlaluan, Yusuf! Dia udah hianatin Mama!" tangis Seli pecah. Perempuan itu terisak di pelukan anak lelakinya.
__ADS_1
"Dasar cengeng!" Lydia berbisik pelan. Namun Seli jelas mendengarnya.
"Ngomong apa kamu!" Kedua matanya melotot kearah Lydia yang malah memperlihatkannya wajah senang.
Aku memang sengaja. Ya, aku sengaja!
"Ma, maaf ... aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu!"
"Mas, ayo pergi!" Tiba-tiba Lydia menarik tangan Broto. Mengajak pria itu untuk segera meninggalkan toko tersebut
"Kamu pulang duluan ya?"
"Mas!"
Broto tidak menghiraukan panggilan Lydia. Pria itu malah mendekat kearah Seli dan berusaha menenangkan sang istri.
"Pergi kamu, Pa! Keterlaluan kamu! Bukankah kamu udah janji nggak akan hianatin aku?!" Seli tidak peduli meskipun jadi objek tontonan orang-orang di sekitarnya. Ia terus menangis dan memaki Broto yang hanya mampu berucap ribuan maaf berulang kali.
"Sebaiknya Papa urus perempuan itu saja. Biar Yusuf yang bawa Mama Pulang."
"Tapi, Yusuf ... Papa hanya .."
"Cukup, Pa! Yusuf tidak mau Papa nyakitin Mama lagi, sebaiknya Papa urus saja ****** itu!" Yusuf terlanjur kesal karena Broto justru memaksa ingin membujuk.
"Mas, ayo! Dengar sendiri 'kan anakmu saja tidak keberatan kalau kamu anterin aku." Lydia bergelayut manja di lengan pria tua itu. Meskipun sambil memalingkan wajah ke samping. Jijik! Jika saja bukan untuk memanas-manasi istri sahnya aku tak sudi berbuat seperti ini!
"Lydia ...!"
"Apa ...! Kau membentakku?!" Perempuan itu memasang wajah sedih. Sungguh tidak tahu malu.
"Ma, sebaik kita pulang sekarang." Yusuf memapah tubuh sang mama dan membawanya keluar dari toko itu.
Tapi baru beberapa langkah Yusuf di kejutkan dengan panggilan yang berasal dari ponselnya.
"Tunggu dulu, Ma, Yusuf angkat telepon dulu."
Laki-laki itu merogoh benda berbentuk pipih itu dan meletakkan di telinga sebelah kirinya.
[Jangan berbicara omong kosong!]
[Lihat sendiri buktinya kalau tak percaya!]
Yusuf cepat-cepat mematikan sambungan telepon dan segera membuka laman sosial medianya untuk melihat berita yang tengah viral saat ini.
"Astaga, Mutia ...!!"
__ADS_1