Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Melerai


__ADS_3

Haidar langsung berlari setelah mendengar penjelasan Nina mengenai pertengkaran dua gadis di lantai bawah.Tak peduli dengan pekerjaannya yang masih menumpuk, Haidar terpaksa meninggalkannya begitu saja.


"Ya Tuhan ... apa yang sebenarnya terjadi?" Sepanjang jalan menuju lantai dasar Haidar terus berusaha menenangkan diri bahwa tidak akan terjadi apapun dengan Mutia, tapi justru rasa khawatir terus menyelimuti benak laki-laki itu.


"Kia ... sebenarnya apa maumu?" Menyebut nama gadis yang beberapa minggu lalu pernah mengisi hari-harinya.


Setelah sampai di lantai bawah ternyata perkelahian itu masih berlangsung. Bahkan ada beberapa orang yang berusaha memprovokasi bukan malah melerainya hingga Haidar terpaksa berteriak agar mereka menyingkir dari tempat itu.


"Minggir! Enyah kalian!" Tubuhnya menerobos kerumunan orang-orang yang menyaksikan adegan tersebut.


"Mutia ...! Kia ..! Apa yang kalian lakukan!" teriak laki-laki memecah keributan. Kedua gadis itu tidak menghiraukannya, mereka masih terlibat aksi saling membalas satu sama lain.


"Cukup, hentikan! Ya Tuhan .... bagaimana ini?


Haidar mengumpat kesal kenapa orang sebanyak itu tidak ada satu pun dari mereka yang berniat memisahkannya.


"Satpam! Ke mana dia!" Kenapa saat keadaan seperti ini satpam mendadak menghilang?


"Eh, Tuan, maaf ... saya tadi ..."


"Tolong bantu pisahkan mereka, Pak!" Haidar langsung menyuruh satpam menghalau Kia yang hendak menyerang Mutia lagi, sedangkan Haidar memeluk pinggang Mutia dari belakang dan menjauhkan gadis itu agar tidak kembali memberi serangan.


"Lepaskan saya, Tuan! Saya harus kasih pelajaran sama gadis kurang ajar itu!" Mutia berusaha melepaskan diri, memberontak hingga Haidar sedikit kuwalahan.


"Lepaskan aku juga, Pak! Aku mau kasih pelajaran sama gadis tak tahu diri itu!" Kini suara Kia terdengar. Gadis itu juga berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan satpam yang menariknya dari area perkelahian tadi.


"Kamu kurang ajar!"


"Kamu murahan!"


Keduanya saling balas dengan kata-kata makian. Mutia maupun Kia sama-sama tidak ada yang mau mengalah.


"Apa seperti ini orang tuamu mengajari sopan santun? Dasar, memalukan!" ejek Kia.


"Tutup mulutmu! Jangan pernah bawa-bawa lagi orang tuaku! Atau, aku akan mematahkan lidahmu!" Ancaman Mutia sungguh mengerikan. Tapi, anehnya Kia sama sekali tidak memiliki rasa takut, gadis itu hanya tergelak mendengarnya.

__ADS_1


"Kau yang seharusnya tutup mulut! Tempatmu bukan di sini gadis murahan!"


"Cukup! Kenapa kalian jadi seperti ini?!"


"Kia, cukup! Jangan keterlaluan!" Haidar berusaha menengahi. Meski ia sedikit terusik oleh ucapan Kia yang terasa menyakiti sekali.


"Jadi, sekarang Kakak belain dia! Kakak lebih milih dia ketimbang aku?" tanya Kia dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Ini bukan masalah aku membelamu atau bukan, Kia. Tapi, kumohon ... kendalikan dirimu." Lalu pandangan Haidar beralih pada gadis dalam dekapannya. "Kamu tak apa-apa, kan?"


"Saya baik-baik saja, Tuan." Meski ucapannya tak sama dengan keadaan tubuh gadis itu yang dipenuhi luka cakaran akibat perkelahian tadi. Mereka sudah mulai tenang. Orang-orang juga sudah di minta membubarkan diri.


"Apa ini sakit? Ah, maaf pasti ini perih sekali ya?" Meniup luka di wajah Mutia.


Tanpa sadar perhatian itu membuat hati gadis di depan sana remuk berkeping-keping. Kia merasa tidak ada artinya lagi di mata laki-laki itu. Bahkan saat ia terluka Haidar sama sekali tak peduli dan malah lebih khawatir pada Mutia.


"Kak .... kamu lebih peduli sama dia?" Air mata gadis itu sudah menganak sungai. Kia melihat sendiri bagaimana Haidar sangat peduli dengan Mutia. Hal yang tak pernah ia dapatkan dari laki-laki itu.


Kenapa denganku? Kenapa aku mendadak jadi liar seperti tadi sih?! Mutia baru sadar setelah perkelahian itu selesai. Bagaimana tadi ia dengan berani membalas semua perlakuan Kia padanya.


"Kakak ngusir aku?" Kia semakin terisak mendengar pengusiran yang Haidar berikan padanya. "Apa dia memang sangat berarti buat Kakak?" tanya Kia dengan menahan sesak.


"Tuan ... sebaiknya saya saja yang pulang. Saya tak apa-apa." Mutia merapikan sedikit penampilannya, lantas melangkah buru-buru meninggalkan mereka.


"Mutia ... tunggu!" Haidar malah mengejar Mutia dan mengabaikan keberadaan Kia. Gadis itu hanya mematung dan benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan di depan matanya sendiri.


"Tunggu, Mutia." Haidar mencekal tangan Mutia dan menahan langkah kaki gadis itu. "Sebaiknya kamu pulang sama aku."


"Tidak perlu, Tuan. Sebaiknya Anda mengantarkan Kia saja. Saya bisa pulang sendiri."


"Apa kamu mau pulang dalam keadaan seperti ini?" Menunjuk penampilan gadis itu yang sangat berantakan. Rambut serta pakaian yang nyaris tak berbentuk lagi.


"A–aku ....?"


"Sudah, ayo kuantar pulang." Haidar langsung menarik tangan Mutia dan mengajak gadis itu berjalan kearah mobil yang terparkir di depan sana.

__ADS_1


.


"Kamu pikir aku bakalan maafin gitu aja dan biarin kamu hidup bahagia? Nggak! Aku bakal rebut apa yang seharusnya jadi milik aku!" Kia mengusap sisa air mata di pipi. Gadis itu terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan dada yang masih kembang kempis.


"Dia Azkia Aditama, kan? Mantan kekasih Tuan Haidar?" bisik seseorang yang baru datang dari dalam sana.


"Memang ada masalah apa sih sama Mutia? Aku dengar tadi mereka bertengkar sampai berkelahi." tanya yang lain.


"Kayanya mereka merebutkan Tuan Haidar."


"Hahhh, beneran?!


"Hehhh, ngomong apa kalian?!" Kia melotot kearah tiga wanita yang tengah berjalan beriringan di sebelahnya. Gadis itu tidak terima jika nanti pertengkarannya dengan Mutia sampai menjadi gosip yang terus di bicarakan di kantor.


"Ti–tidak! Kami tidak ngomong apa-apa." Memilih kabur, ketiganya menghindari terjadinya masalah yang lebih besar.


"Dasar kurang kerjaan!" Gadis itu mengumpat kesal. Kia membenahi penampilannya yang berantakan akibat perkelahian tadi, lantas berniat menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat tersebut.


"Azkia ...!" Suara bariton itu terdengar tepat di belakangnya. Kia langsung membeku menyadari siapa pemilik suara itu.


"Ayah ...?" bisik Kia pelan. Gadis itu meraba tengkuknya yang tiba-tiba terasa meremang. "Ayah ngapain di sini?"


"Kenapa? Kaget Ayah ke sini?" tanya laki-laki itu dengan santainya. Alex menatap penampilan putri semata wayangnya yang terlihat acak-acakan.


Kenapa sifatmu mirip sekali dengan mamamu sih, Nak? Alex hanya menggeleng pelan menyadari sifat Kia tidak beda jauh dari sang mama, suka sekali membuat keributan.


"Yah, aku bisa jelasin! A–aku Sebenarnya ..." Kia kebingungan memilih kata. Apa harus mengatakan jika baru saja ia bertengkar dengan Mutia hingga menjadi objek tontonan gratis?


Nggak! Ayah pasti akan langsung marah. Tapi, jika berbohong apa akan percaya?


"Apa?" tanya Alex masih menunggu penjelasan gadis itu.


"Sebenarnya a–aku habis .."


"Pulang!!" ucap sang ayah tiba-tiba.

__ADS_1


.


__ADS_2