Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Calon Menantu


__ADS_3

Arya langsung sigap menangkap tubuh Mutia yang hampir membentur lantai.


"Kamu tak apa-apa, Nak?"


"Aku tak apa-apa, Tuan."


Setelah memastikan gadis itu selamat, Arya langsung menajamkan tatapannya pada orang-orang sekeliling.


"Ada apa ini?!"


Kia mendadak membeku melihat tatapan murka laki-laki paruh baya itu. Begitupun dengan Laura, ia sangat menyayangkan sikap ceroboh Kania yang tadi sempat ikut campur dalam masalah.


"Dia tak pantas ada di sini, Om. Dia hanya ..."


"Hanya apa?" potong Arya cepat. Laki-laki itu menggeleng tak percaya melihat kelakuan Kia yang sudah sangat keterlaluan. "Kalau Mutia tak pantas ada di sini, lantas siapa yang pantas? Apa kamu? Kamu, atau ... kamu?" Menunjuk satu persatu orang-orang yang tadi meremehkan Mutia, termasuk Kia dan gadis satunya lagi.


"Ya. Karena memang kami lah yang pantas ada di sini. Bukan, dia!" Kia seolah menunjukkan posisinya di depan Arya dan semua orang yang ada di ruangan itu.


"Apa alasan Mutia tak pantas di sini? Dia gadis baik-baik. Begitupun dengan keluarganya."


"Dia itu anak pelakor, Om! Dia nggak punya papa!" ucap Kia dengan suara yang berapi-api. Kia sudah termakan oleh hasutan Kania hingga gadis itu tak sadar telah melukai perasaan sahabatnya sendiri.


Kristal bening itu lolos sudah dari kedua sudut mata Mutia. Jika biasanya Kia adalah orang yang selalu membelanya, tapi sekarang gadis itu sendiri malah menghinanya di depan semua orang.


Seolah tidak terima melihat Mutia di perlakukan tak pantas, Arya lantas memanggil Nina yang sudah sejak tadi mengekor di belakangnya.


"Nia, catat siapa saja yang sudah berani melukai Mutia. Dan, batalkan saja kerja samanya dengan kita!" Ungkapan Arya sontak membuat semua mata terbelalak menatap kearah laki-laki itu.


"Maaf, Tuan Arya, saya bisa jelaskan." Laura memilih membuka suara. Ia tidak ingin jika kerja sama yang baru saja ia tanda tangani dengan pihak Pratama Group di batalkan begitu saja.


Pandangan Laura menyapu seluruh isi ruangan mencari keberadaan Yudi, tapi entah di mana laki-laki itu.


Sedangkan Kia tidak peduli. Ia tak masalah biarpun pihak Arya membatalkan semua kerjasamanya. Toh, Kia yakin perusahaan milik ayahnya tak akan pernah rugi apalagi bangkrut.

__ADS_1


"Kia, ada apa denganmu, Nak? Kenapa sikapmu jadi seperti ini?" Arya sudah melihat sendiri bagaimana gadis itu memperlakukan Mutia. Meski dari jarak yang lumayan jauh, tapi kedua matanya masih bisa menangkap dengan jelas sikap kasar Kia pada Mutia.


"Jadi sekarang Om belain dia?!" Merasa Arya lebih membela Mutia di banding dirinya.


"Ini bukan masalah aku membela kamu atau dia, Kia. Tapi tindakanmu sudah sangat keterlaluan."


"Minta maaf sama Mutia, Sayang," ucap Arya lagi.


Kia malah mendengus tak suka. "Nggak, Om. Aku nggak mau minta maaf sama dia. Memangnya aku salah apa?"


"Benar,Tuan Arya. Semua ini memang salah gadis itu! Mutia lah yang menjadi penyebab kekacauan ini." Merasa ada kesempatan untuk membela diri, Laura segera mengambilnya untuk meraih keuntungannya sendiri.


"Cukup, Nyonya. Anda tak perlu mengatakan siapa yang benar atau salah, karena saya juga sudah melihat sendiri bagaimana kelakuan putri Anda tadi." Arya berbicara serius dan penuh penekanan.


Laura langsung diam dan mengunci mulutnya rapat. Hanya ada suara bisik-bisik dari orang yang menyaksikan semua adegan tadi.


"Bagaimana mungkin Tuan Arya membela gadis itu?"


"Dasar anak pelakor tak tahu diri!"


Ucapan orang-orang semakin mematik amarah di hati Arya. Laki-laki itu merasa banyak sekali berhutang budi pada Mutia dan tidak bisa membiarkan gadis itu di hina di depan matanya.


"Dengar semuanya." Arya membuka suara. Tatapan menyapu ke seluruh tamu yang ada di ruangan itu.


"Saya akan memberitahu siapa sebenarnya gadis cantik ini. Menunjuk Mutia yang masih berdiri menbenahi penampilan yang berantakan.


"Dia calon menantu saya!" ucap Arya tiba-tiba. Saat ini bukan hanya Kia, tapi Kania dan yang lain juga langsung shock mendengar ungkapan dari laki-laki yang menjadi tamu utama dalam acara pertemuan bisnis tersebut.


"A–apa?"


*


*

__ADS_1


*


Sementara jauh di depan sana, tepatnya di parkiran mobil para tamu undangan yang menghadiri pertemuan itu, seorang pria tengah asik menggesek-gesek tubuhnya pada wanita cantik yang tengah berada di pangkuannya.


Tadi setelah keluar dari toilet, Yudi tak sengaja berpapasan dengan wanita cantik yang juga tengah berjalan terburu-buru berlawanan arah. Keduanya saling terpaku dengan tatapan masing-masing. Hingga sang wanita itu menyadari jika pria di depannya sudah terpikat oleh kecantikan yang ia miliki.


"Tuan ...?" Tiba-tiba saja Lydia mendekat dan secara sengaja menarik Yudi masuk lagi ke dalam salah satu bilik toilet. Di dalam sana Lydia sengaja menyingkap gaun pesta yang ia kenakan hingga terlihat kedua aset berharganya yang menjulang tinggi. Lydia juga tak malu memamerkan lekuk tubuhnya berharap Yudi tergoda dengan dirinya.


"Kau sangat cantik!" Yudi membelai wajah Lydia, terus turun hingga menyentuh bibir seksi milik wanita itu. Lydia bersorak senang merasa bangga karena bisa mendapatkan mangsa baru lagi. Ya, mungkin bisa di bilang lebih tampan di timbang Broto yang berbadan gempal itu.


"Upsss ... jangan di sini!" Lydia sengaja menahan Yudi yang hendak membenamkan ciuman. Wanita itu mengajak Yudi mencari tempat yang lebih aman untuk melampiaskan hasrat keduanya.


"Bagaimana kalau kita pindah di ..." Lydia mengerlingkan mata nakal. Ia berjalan lenggak-lenggok keluar dari toilet di susul Yudi di belakangnya.


Parkiran.


Tempat yang di rasa paling aman dan nyaman bagi keduanya. Di dalam mobil Yudi melampiaskan hasratnya pada wanita cantik itu.


"Lebih cepat lagi, Sayang!" Keduanya berpacu saling memberikan kenikmatan masing-masing. Tanpa menghiraukan apa yang sudah terjadi di dalam sana.


"Kau sungguh mengga***kan!" Yudi kembali melu***t bibir Lydia. Menyesapnya habis hingga suara lengu***n itu keluar dari bibir seksinya. Pagutan itu baru terlepas saat keduanya sama-sama kehabisan napas.


"Terimakasih." Lydia membalasnya dengan kecupan lembut di pipi. Mereka sudah sama-sama puas dengan kegiatannya tadi. Yudi membenahi pakaian bawahnya yang sudah ia lemparkan entah ke mana. Begitupun Lydia, wanita itu nyaris polos sebab ulah Yudi yang sangat bersemangat mengerjainya.


"Apa kita akan bertemu lagi?" tanya Yudi masih dengan posisi memangku wanita itu. Sudah lama Yudi tidak bermain-main dengan wanita manapun selain dengan istrinya. Mungkin inilah pertama kalinya ia menghianati Laura.


"Tentu saja!" balas wanita itu dengan suaranya yang manja.


"Okey." Yudi kembali ingin mencuri ciuman dari wanita itu, tapi Lydia dengan cepat menghindarinya.


"Cukup! Nanti ada yang melihat!" tolak wanita itu. Baginya sudah cukup perkenalannya kali ini


"Oh, benarkah? Tapi, kau nampak masih menginginkannya" Yudi melihat sorot mata Lydia yang terlihat ingin mengulangnya lagi.

__ADS_1


Yudi menatap sekeliling yang terlihat sepi. Ia kembali memainkan bagian tubuh wanita itu untuk mengulang kegiatan yang baru beberapa menit lalu mereka lakukan.


Mobil berdecit seirama dengan gerakan dua orang yang ada di dalamnya.


__ADS_2