
Lydia menghembuskan napas lega setelah berhasil mengantar Broto sampai di luar apartemen. Beruntung, istri dari pria itu menghubungi sebelum permainan itu selesai. Jadi Lydia tak perlu lagi menghadapi kegilaan Broto yang menyuruhnya memimpin permainan itu sampai berkali-kali.
Menutup pintu apartemen, Lydia melangkah gontai menuju kamar yang menjadi tempat pergumulannya dengan Broto. Perempuan itu menatap sekeliling ruangan yang nampak berantakan akibat ulah Broto yang sempat membanting vas bunga di kamarnya.
"Sial! Aku jadi harus merayunya." Lydia merinding lagi membayangkan bagaimana kegiatannya tadi dengan pria itu. Ia memilih merebahkan diri di atas ranjang dan mengabaikan ruangannya yang berserak, tapi baru saja Lydia hendak memejamkan mata, suara dari bel pintu mengusik indera pendengarannya.
Lydia terpaksa bangkit, mengabaikan penampilannya sendiri, lantas membuka pintu ruangan itu dengan malas.
"Ngapain balik lagi si–?!" Perempuan itu langsung bungkam melihat sosok pria yang tengah berdiri di depan pintu. Lydia kira yang menekan bel pintu tadi adalah Broto. Tapi ternyata dugaannya salah karena pria yang kini tengah berdiri menatapnya adalah Yudi.
"Yu–di?" ucap Lydia terbata. Lydia tidak menyangka jika Yudi akan benar-benar mencari keberadaannya.
Tanpa basa-basi Yudi langsung masuk menerobos tubuh Lydia yang masih terpaku di depan pintu.
"Ngapain ke sini?" tanya Lydia mengikuti langkah Yudi. Pria itu masih diam seribu bahasa tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Jadi, di sini tempatmu melayani para priamu?!" Pertanyaan Yudi yang bernada sindiran langsung membuat Lydia membelalakkan matanya. Lydia berusaha menguasai diri meski apa yang ia lakukan malah semakin membuat Yudi merasa yakin jika Lydia memanglah perempuan seperti itu.
"A–apa maksudmu, Yud? Aku tak mengerti." Lydia mendekat kearah Yudi dan berdiri tepat di depannya.
"Kau pikir aku bodoh, Lydia!" Yudi terkekeh pelan. Menatap penampilan Lydia yang terlihat acak-acakan. "Bahkan aku sudah melihat semuanya. Ternyata kau hanya perempuan gampangan!"
"Itu tak seperti yang kamu lihat, Yud! Percayalah." Lydia berusaha meyakinkan Yudi. Bagaimana pun ia tidak ingin sampai Yudi meninggalkannya hanya gara-gara pria sialan itu. Meski tadi Lydia harus merendahkan harga dirinya di depan Broto agar pria tua itu tidak semakin menggila di apartemen miliknya.
"Percaya? Dengan perempuan murahan sepertimu?!"
"Yud, a–aku di ancam. Aku di ancam akan di sakiti jika tak mau melayaninya," ucap Lydia memberi alasan. Lantas pandangannya menatap ke sekeliling, "Kamu lihat ini, kan?" Menunjuk kondisi lantai kamar apartemennya yang masih dipenuhi oleh bekas pecahan vas bunga. "Pria itu yang melakukannya."
__ADS_1
Yudi sedikit menyipitkan mata, menatap sekeliling memang terlihat berantakan. "Kenapa kau tak teriak? Atau, meminta pertolongan?" tanyanya heran.
Lydia hanya menggeleng, mengisyaratkan ketidakberdayaannya. "Mana mungkin ada yang mendengar teriakanku, Yud. Ruangan ini kedap suara. Aku terpaksa melayaninya. Dia benar-benar ingin membunuhku, Yud." Sudut matanya sudah terlihat menganak sungai. Tubuh perempuan itu juga gemetar hebat menyiratkan ketakutan.
"Lihat ini, Yud!" Menunjuk bekas cengkeraman Broto yang masih membekas di kedua sisi wajahnya. "Dia nyakitin aku kaya gini!" Lydia mulai terisak.
Yudi terdiam sesaat, menatap wajah perempuan yang memang terlihat menyedihkan sekali. Hingga akhirnya Yudi melangkah mendekatinya.
"Tenanglah, tak perlu takut. Ada aku di sini." Yudi menarik tubuh perempuan itu dan mendekapnya dengan erat.
Lydia tersenyum penuh kemenangan dalam dekapan Yudi. Perempuan itu semakin mengeratkan pelukannya, hingga Yudi merasa sesak sendiri karena tanpa sadar sesuatu di bawah sana mulai tidak nyaman.
Ah, sial! Sial! Yudi mengeram dalam hati, merasa jika Lydia sengaja memancing hasratnya dengan cara terus menggesekkan tubuh pada bagian sensitifnya.
"Lydia, stop!" Yudi langsung menarik diri dan berusaha menjaga jarak dari Lydia. Ia tidak mungkin melakukannya dalam keadaan Lydia seperti sekarang.
Tubuh Yudi mendadak meremang. Deru napas pria itu juga terdengar naik turun. Tanpa aba-aba Yudi menarik Lydia, dan membawanya kearah ranjang. "Benarkah? Kau akan mengabulkan keinginanku?" tanya Yudi memastikannya.
Lydia mengangguk pelan. Perempuan itu juga tak malu lagi untuk memulainya lebih dulu. Lydia langsung membenamkan ciu***mnya pada bibir pria itu dan langsung mendapat sambutan hangat dari pemiliknya.
Malam ini, tidak tahu berapa kali mereka mengulangnya. Lagi, dan lagi sampai akhirnya mereka lelah dan ikut ambruk dengan posisinya saling memeluk.
*
Dua hari setelah kejadian di apartemen, Broto kembali menyambangi Lydia seperti biasa. Apalagi jika bukan untuk menuntaskan hasratnya yang tertunda akibat sang istri yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Pria itu melangkah mantap, menatap pintu apartemen yang tertutup rapat. Mengambil access card di saku jas lantas membuka pintu otomatis itu.
Pintu terbuka, Broto melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa sunyi.
__ADS_1
"Ke mana Lydia?" Broto berbisik sendiri. Biasanya jam-jam seperti ini Lydia tengah merias diri atau seandainya jika Lydia pergi pasti akan menghubunginya lebih dulu untuk minta tambahan uang belanja. Tapi, kali ini ke mana dia?
"Lydia ...!" Suara Broto memenuhi seluruh ruangan, tapi sama sekali tak ada sambutan dari perempuan itu.
Menyusuri setiap ruangan, Broto tidak menemukan tanda-tanda kehidupan. Penasaran apa yang sebenarnya terjadi Broto melangkah memasuki kamar milik perempuan itu dan membuka lemari pakaiannya.
"Kurang ajar!" Broto mengeram kesal mendapati lemari Lydia sudah kosong, bahkan hanya tersisa pakaian miliknya yang tak sengaja tertinggal di apartemen itu.
Broto menatap sekeliling lagi, dan tanpa sengaja matanya menangkap sepucuk kertas putih di atas nakas. Broto mendekatinya dan membuka lembaran kertas itu. Seketika tangannya mengepal meremas lembaran kertas tersebut hingga tak berbentuk lagi.
Ternyata di sana tertulis bahwa Lydia sengaja meninggalkan apartemen tersebut karena ia sudah tidak membutuhkannya lagi. Bahkan Lydia tak ragu lagi meninggalkan kartu sakti yang selama ini Broto berikan padanya.
AKU KEMBALIKAN KARTUMU YANG TERISI TAK SEBERAPA ITU. JANGAN GANGGU AKU LAGI! KARENA AKU SUDAH MENEMUKAN PRIA YANG LEBIH HEBAT DARIMU.
Begitulah kalimat terakhir yang di tulis Lydia. Hingga amarah Broto benar-benar memuncak. Pria itu merasa di rendahkan sekali. Setelah perempuan itu puas, lalu ia membuangnya begitu saja. Padahal selama ini apa yang tidak bisa ia lakukan untuk Lydia.
[Ya, Tuan?] jawab seseorang dari balik telepon.
[Kau cari perempuan itu, dan segera bawa kehadapanku!] perintah Broto pada orang suruhannya.
[Baik, Tuan.]
Klik.
Sambungan terputus. Broto meremas ponsel dalam genggaman. Dalam hati ia berjanji, jika ia akan membalas perlakuan Lydia lebih dari yang perempuan itu lakukan padanya.
"Awas kau, Lydia! Pergilah sejauh mungkin karena aku pasti akan menemukanmu!"
__ADS_1