
"Tuan ... awas ...!!"
Akhhh ....!!
Ternyata salah satu dari pria itu berlari kearah Arya dengan membawa sebuah potongan kayu di tangannya. Pria itu langsung mengayunkan potongan kayu ke arah punggung Arya, tapi ..
"Mutia ...!!" Kedua laki-laki itu memekik secara bersamaan tatkala melihat tubuh Mutia jatuh tersungkur di hadapannya. Alex lantas berlari dan ...
Bugh, bugh, bugh ....
Laki-laki itu menghajarnya lagi hingga tak berdaya.
"Lex, mereka kabur!" Arya menunjuk kearah dua pria yang tadi tertuduk tak berdaya di sebelah sana. Ternyata tempat itu sudah kosong.
"Sial ...!!" Alex mengumpat keras. Laki-laki itu berniat mengejar dua pria berandal yang tengah berusaha memacu motornya.
"Sudah, biarkan saja! Yang penting salah satu dari mereka sudah tertangkap!" Arya langsung mencegahnya. Karena ia yakin jika polisi tidak akan merasa kesusahan untuk meringkusnya. Saat ini kondisi gadis itu lebih penting.
"Astaga, Mutia! Bangun, Nak!" Alex langsung menghampiri tubuh tak berdaya itu dan menepuk kedua pipinya pelan. Mutia terlihat memejamkan kedua matanya. Dengan kondisi bibir yang membiru serta tubuh yang terasa dingin.
"Kamu tunggu sampai polisi datang. Biar aku yang membawa gadis ini ke rumah sakit!" Arya membagi tugas. Tidak mungkin jika mereka harus menunggu sampai polisi datang ke tempat itu. Takut, jika gadis itu tidak bisa di selamatkan. Melihat kondisinya yang sudah semakin memucat.
"Baik, Tuan. Saya akan menunggu di sini. Tapi ..." Ia melirik kearah gadis yang sudah berada di dekapan Arya. "Aku cemas dengan keadaannya. Bagaimana kalau Mutia sampai kenapa-kenapa?" Alex merasa sangat bersalah karena telah lengah.
"Aku akan berusaha menyelamatkannya! Aku bawa dia dulu ke rumah sakit!" ungkap Arya dengan sungguh-sungguh. Sejujurnya ia yang paling merasa bersalah. Karena ingin menyelamatkannya, Mutia jadi mengorbankan dirinya sendiri.
"Kumohon ... bertahanlah, Nak!" Arya berlari menggendong tubuh Mutia dan membawanya ke dalam mobil. Merebahkannya di kursi belakang, ia langsung duduk di belakang kemudi dan memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi. Arya tidak peduli meski harus beberapa kali menyalip kendaraan di depannya.
"Hei, hati-hati!" teriak salah satu pengendara lain. Arya tak menghiraukan, ia tetap memacu mobilnya secepat mungkin demi bisa segera sampai di rumah sakit.
"Semoga tidak macet." Arya berharap jalanan lancar meski saat ini masih jam pulang kantor.
__ADS_1
"Ya Tuhan .... kumohon selamatkan gadis itu." Berulangkali ia melantunkan doa, sambil sesekali mengawasi gadis di belakang sana dari kaca kemudi.
Kalau sampai terjadi apa-apa dengan gadis itu bagaimana? Kalau sampai ....
Pikiran buruk terus saja berusaha memecah konsentrasinya. Arya mengusap wajahnya kasar, ia tidak bisa membiarkan sampai itu terjadi.
Saat mobil mulai memasuki area rumah sakit, laki-laki semakin tak sabar untuk segera berteriak memanggil dokter agar segera menolongnya.
"Cepat, Suster!" Arya mengikuti gadis itu yang langsung di bawa ke ruang ICU. Saat tiba di depan sana dua suster melarangnya untuk masuk dan menyuruh Arya menunggu di luar.
"Tolong selamatkan dia, berapapun biayanya akan saya bayar!" ungkap laki-laki itu pada dokter yang akan menangani Mutia.
"Baik, Tuan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin."
"Ya Tuhan ... Ya Tuhan ...." Arya mengusap wajahnya frustasi. Ia akan melakukan apa saja demi menyelamatkan gadis itu.
Sementara waktu semakin beranjak malam. Tidak terasa sudah lebih dari dua jam Arya menunggu di depan ruangan tadi. Laki-laki itu terus saja gelisah, memikirkan kondisi terburuk yang akan di alami Mutia.
"Tuan, bagaimana keadaan Mutia?" Alex tiba dengan wajah yang di liputi kekhawatiran. Tadi, selepas memberikan keterangan pada pihak polisi, Alex langsung berangkat menuju ke rumah sakit menyusul Arya.
"Semoga segera ada kabat baik dari Mutia." Dalam keadaan panik seperti ini ternyata mereka sama-sama melupakan sesuatu. Benda pipih yang tak henti-hentinya berdering sejak tadi terpaksa mereka abaikan.
Di rumah keluarga Pratama.
"Ke mana saja kamu, Mas? Kenapa jam segini belum juga sampai rumah?" Seorang perempuan paruh baya terlihat cemas ketika sang suami belum juga pulang. Padahal biasanya selepas magrib Arya sudah stay di rumah dan menemaninya. Apalagi saat menghubungi ponsel milik Arya yang sama sekali tak mendapatkan respon.
"Ayah belum pulang juga, Ma?" Anak lelakinya juga merasa bingung. Pasalnya ia tahu jadwal sang ayah hari ini yang tidak terlalu banyak.
"Entahlah ...." Rengganis menghembuskan napas berat. Perempuan itu berjalan kearah sofa dan memilih mengangsur tubuhnya di sana.
"Kau yakin jadwal ayahmu hanya sampai sore ini?" Rengganis hanya ingin memastikan jika suaminya dalam keadaan baik-baik saja. Ia tidak masalah jika Arya terlambat pulang, setidaknya memberikan kabar 'kan bisa.
__ADS_1
"Iya, Ma. Dan jadwal terakhir dengan Om Alex kok, jadi Mama tak usah khawatir kalau Ayah ..."
"No!" sahut perempuan itu cepat. Rengganis tahu ke mana arah pembicaraan putranya. "Mama bukan khawatir ayahmu pergi dengan perempuan lain, Nak!" Meski di kantor tadi sempat terjadi perdebatan sengit, kini keduanya sudah berbaikan lagi.
"Iya, iya. Aku cuma kasih tahu Mama aja kalau Ayah perginya dengan Om Alex. Jadi, tak mungkin akan macam-macam." Laki-laki muda itu tersenyum melihat ekspresi sang mama yang sedikit kesal.
"Macam-macam apa? Kau pikir ada perempuan yang mau dengan laki-laki tua macam ayahmu?" sungut perempuan itu lagi. Sebenarnya ia tak perlu secemas ini sih jika sudah tahu Arya bersama Alex.
"Tapi Ayah tampan, Ma. Banyak uang pula. Siapa sih perempuan yang tidak mau dengannya?" Bukan menenangkan, Haidar seolah membuat hati mamanya semakin was-was.
"Hei, kau bilang apa?!" Sudah memasang wajah kesal.
Haidar melangkah cepat menaiki tangga, memilih menghindar daripada mendengar omelan dari sang mama.
"Iya, ampun, Ma! Aku becanda!" Tergelak kencang sembari terus melarikan diri.
Sementara di tempat lain kejadian cukup menghebohkan. Airin yang tidak biasanya menunggu Alex terlambat pulang kini di buat sedikit cemas. Perempuan paruh baya itu pun berulangkali menghubungi Alex, tapi tetap saja tidak mendapatkan respon apapun dari seberang sana.
"Sebenarnya ayahmu ke mana sih?!" Meski tidak ada orang selain dirinya di ruangan itu karena Kia sendiri berada di kamarnya, Airin tetap mengomel tak jelas.
"Atau jangan-jangan ..." Pikirannya sudah berlarian entah ke mana.
"Awas saja jika aku tahu kau bermain-main dengan perempuan lain!" Airin mengepalkan tangannya membentuk tinju. Ia tidak akan sudi memaafkannya jika sampai itu terjadi.
"Angkat, Lex! Angkat!" Perempuan itu mengeram kesal. Tekan dan tekan lagi. Pada akhirnya Airin memberondong suaminya dengan mengirimkan pesan.
[Kau ke mana?]
[Kenapa belum juga pulang?]
[Katanya jadwal hari ini hanya sampai sore?]
__ADS_1
[Ah, kenapa tak di balas juga?]
[Sebenarnya kau ke mana sih?!]