
"Kau serius? Jadi, wanita itu di pecat lagi dari pekerjaannya?" tanya perempuan bertubuh seksi dengan make up tebal yang baru saja membuka pintu apartemennya. Saat ini keduanya tengah berada di sebuah apartemen mewah. Perempuan bernama Lydia itu menyambut kedatangan Broto dengan senyum yang mengembang sempurna.
"Ya begitulah." Broto Hanya menjawab santai. Setelah mempersilahkan masuk, Lydia segera menutup pintu kembali lantas mengikuti Broto yang berjalan kearah sofa ruang tamu. Mendaratkan tubuhnya di sana, Lydia dengan cepat mendekat dan melepas kain yang melilit di leher pria itu.
"Apa kau senang?" Broto mencekal tangan Lydia, lalu menarik pinggang milik perempuan itu kearahnya. Tubuh keduanya merapat, Broto memagut cepat bibir berwarna merah terang itu dengan penuh gairah.
"Tentu saja. Akhirnya aku bisa melihat wanita itu menderita," balas Lydia Setelah pagutan bibir mereka terlepas.
"Aku akan melakukan apapun untukmu!" rayu Broto pada Lydia. Padahal ia melakukan itu untuk dirinya sendiri. Broto kesal karena Naila terang-terangan menolaknya, meski ia sudah merayunya habis-habisan.
Broto menyunggingkan senyumnya. Sementara tangannya sudah asik bergerilya pada tubuh Lydia. Prempuan itu menggelinjang merasakan jemari milik Broto yang terus bermain-main sesuka hati.
Happpp ....!
Lydia menahan tangan pria itu yang hendak meraih kancing pakaiannya. "Buktikan dulu, buat wanita itu lebih hancur lagi! Aku ingin melihatnya menderita seperti yang aku rasakan waktu itu!" pinta Lydia lagi. Seperti Lydia mempunyai dendam masa lalu pada Naila. Entah seperti apa hubungan keduanya dulu, yang pasti Lydia memang sengaja mendekati Broto untuk itu, untuk tujuan balas dendamnya.
"Tentu saja! Kau tak usah khawatir." Tangan pria itu membelai lembut pipi Lydia, semakin turun hingga menyentuh bibirnya. Lydia hanya memejamkan mata. Perempuan itu menikmati apapun yang di lakukan Broto.
Kancing atas pakaian Lydia sudah terlepas. Tubuh keduanya juga sudah dalam posisi saling menindih. Hasrat pria itu sudah benar-benar memuncak, menuntut untuk segera di tuntas.
Tapi, tiba-tiba Lydia menarik diri, "Tunggu!" Perempuan itu menahan bibir pria itu yang hendak memagutnya lagi.
"Akhhh .... Lydia, ada apa?" tanya pria itu yang sudah sangat di liputi gairah.
"Mandilah lebih dulu. Aku tak suka bermain-main dalam keadaan tubuh yang kotor!" Ungkapan Lydia sukses membuat Broto mengeram kesal.
"Kenapa selalu begini, Lydia ...! Tak bisakah kau memberikan apa yang aku butuhkan lebih dulu?" tawar Broto dengan penuh kesal.
"No! Kubilang mandi, atau .... tidak sama sekali!" Lydia bangkit dan membenahi pakaiannya yang sudah tak berbentuk lagi. Perempuan itu melangkah kearah kamar, lantas masuk kedalam sana.
__ADS_1
"Lydia, tunggu! Akhhh ....!" Broto mengacak rambutnya frustasi. Selalu saja seperti ini setiap kali ia ingin melampiaskan hasratnya pada Lydia. Selalu saja Lydia punya alasan untuk menolaknya.
Mandi, lapar, serta alasan lainnya yang membuat Broto kadang tersiksa. Pria itu mengendus tubuhnya sendiri, barangkali tubuhnya memang bau selepas bekerja seharian.
"Masih wangi dan tidak kotor sama sekali." Menurutnya.
Tapi karena ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bermain dengan Lydia, akhirnya Broto menurut saja. Melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya lebih dulu.
"Aku harus wangi agar Lydia semakin menyukaiku." Menuangkan lebih banyak aromaterapi kedalam bak mandi yang akan di gunakan untuk berendam.
Menggunakan sabun berkali-kali, Broto mempersiapkan dirinya sesempurna mungkin.
"Sempurna!" Pria itu tersenyum tatkala melihat penampilannya sendiri di depan cermin besar. Masih berbalut handuk mandi, pria itu mengayun langkahnya cepat menuju kamar pribadi milik Lydia.
Sementara di dalam kamar, Lydia tengah menyesali semua sentuhan yang di berikan oleh Broto. Perempuan berumur 40 tahun itu terlihat membalur seluruh tubuhnya dengan lotions selepas membersihkan dirinya lebih dulu.
Jika bukan karena dendamnya pada Naila dan juga uang yang Broto miliki, Lydia tak akan sudi berhubungan dengan pria itu. Mungkin saja Lydia lebih memilih Fandi–sang kekasih yang mempunyai wajah tampan dan usianya pun masih muda.
"Untung aku udah kasih tau Fandi buat nggak ke sini dulu. Bisa-bisa kacau kalau sampai pria itu tahu!" Lydia masih menggosok-gosokan tangannya pada bagian-bagian yang di sentuh Broto tadi.
Fandi adalah kekasih Lydia yang usianya lima tahun lebih muda darinya. Mereka tak sengaja bertemu dan akhirnya menjalin hubungan diam-diam di belakang Broto.
Saat pintu kamar terbuka, Lydia hanya melirik sekilas. Perempuan itu kembali melanjutkan kegiatannya tadi, tapi kali ini wajahnya yang tengah ia poles dengan skincare yang mahal.
"Sayang ..." Broto langsung memeluk tubuh Lydia dan menciumi tengkuk milik perempuan itu. "Gimana, udah siap, kan?" Tangannya turun mengusap naik turun pada bahu Lydia.
"Iya, tunggu." Lydia memutar bola matanya malas. Ia meletakkan krim malam dengan kasar lantas bangkit dan melepaskan tangan Broto yang sudah bertengger pada kedua aset berharganya.
"Hai, kau mau ke mana?" Broto mengikuti langkah Lydia cepat. Pria itu mengembangkan senyumnya saat melihat Lydia menuju kearah ranjang.
__ADS_1
"Menurutmu?"
"Ayolah, Lydia, bukankah aku sudah memberikan semua yang kau inginkan?" Broto ikut mendaratkan tubuhnya di sana. "Kau mau apa lagi, hemmmm ...?"
Lydia nampak bungkam sejenak. Jika seperti ini Broto jadi menyesal. Harusnya ia tidak memberikan tawaran pada perempuan itu. Tapi, ya sudahlah.
"Kau yakin akan mengabulkan permintaanku lagi?" Suara Lydia sudah berubah lembut dan menggoda.
"Ten ... tu saja!" jawab Broto dengan terbata-bata. Pria itu gelagapan sendiri melihat respon dari Lydia. Tuh, kan benar. Pasti ada sesuatu yang di inginkan, bisik Broto dalam hati.
"Hari ini aku lihat mobil keluaran terbaru," ucap Lydia sembari menunjukkan ponsel miliknya yang baru beberapa hari yang lalu di belikan Broto.
"Mobil?" Broto hampir tak percaya. Baru sebulan yang lalu Lydia mengganti mobil miliknya, kini perempuan itu memintanya lagi.
"Tapi ...."
Lydia langsung memasang wajah kesal. Perempuan itu juga melengos, melempar pandangannya ke samping. "Udahlah, lebih baik pulang saja ke rumah istrimu. Aku emang nggak penting!" ucapnya dengan ketus.
"Bu ... bukan seperti itu." Broto mendesah pelan. Jika sudah seperti ini, tidak ada yang bisa di lakukan lagi selain memberikan apa yang Lydia inginkan.
"Sayang ...." Broto menyentuh pundak perempuan itu, tapi Lydia buru-buru menepisnya.
"Aku capek. Aku mau tidur aja!"
Broto menggeleng pelan. Kali ini ia benar-benar harus mengeluarkan rayuan mautnya.
"Iya, iya. Hanya mobilkan?" Akhirnya Broto menyerah. Pasrah jika bulan ini harus merogoh uang perusahaan untuk memenuhi keinginan kekasihnya.
"Benarkah?" Lydia berbinar senang. Perempuan itu langsung memeluk tubuh Broto dengan cepat. Bahkan tak segan menggodanya dengan mengerlingkan sebelah matanya.
__ADS_1
Broto menjadi tak tahan melihat pemandangan indah di depannya. Pria itu semakin menarik tubuh Lydia dan tidak memberikan kesempatan lagi untuk perempuan itu.
"Sekarang, saatnya berterimakasih!" ungkapnya mendorong tubuh perempuan itu keatas tempat tidur.