Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Hamil


__ADS_3

Malam mulai menyapa, saatnya orang-orang untuk istirahat dan membubarkan diri masing-masing.


Di sebuah kamar, tepatnya kamar pengantin milik pasangan baru terlihat sepi. Mutia duduk di depan meja rias sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah. Sedangkan Haidar, laki-laki itu masih membersihkannya diri di dalam kamar mandi.


Saat pintu ruangan itu berderit, Mutia lngsung mengalihkan pandangan kearahnya. Wajahnya bersemu merah mendapati Haidar yang hanya berbalut handuk sampai sebatas pinggang saja.


"Tu–tuan ...?" Rasanya seperti mimpi jika hari ini statusnya telah berubah menjadi seorang istri. Mungkin ini pengalaman pertama bagi Mutia berada satu ruangan dengan seorang laki-laki. Dan laki-laki itu, laki-laki tampan yang baru saja keluar dari kamar mandi adalah suaminya.


"Kenapa wajahmu tiba-tiba memerah begini?" Haidar mengulum senyum menyadari perubahan wajah istrinya. "Apa kamu tengah terpesona dengan ketampanan suamimu sendiri?"


"Ti–tidak, Tuan. Aku hanya lelah saja," ungkap Mutia memberi alasan. Gadis itu berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang semakin berpacu cepat.


Haidar mendadak mendekat, menarik tangan Mutia dan mengajaknya ke tempat tidur. "Aku akan memijitmu!"


"Hahhhh ! Memijit?" Mutia melongo sendiri mendengarnya. "Ti–tidak usah!" Gadis itu menjawab cepat. Mutia bangkit dan berusaha menghindarinya.


"Kenapa? Bukankah katamu capek?" Haidar langsung mencekal pergelangan tangan gadis itu.


"I–iya, tapi ....." Mutia mengigit bibir bawahnya. Sebenarnya ia hanya malu, sungkan, dan merasa tidak enak sendiri.


"Tak apa? Aku tetap akan memijitmu." Sedikit memaksa. Haidar kembali menarik Mutia agar gadis itu duduk diam di atas tempat tidur.


Haidar mulai menggerakkan tangannya, memijit kedua kaki Mutia dengan lembut. Perlahan namun pasti Mutia mulai nyaman, tanpa sadar ia memejamkan matanya sendiri.


"Bagaimana, enak?"


Mutia hanya mengangguk pelan seiring dengan rasa kantuk yang mulai menyerangnya.


"Terimakasih, Tuan." Mutia tersenyum lebar merasakan pijatan yang berhasil membuat kedua kakinya tidak merasa pegal lagi setelah hampir seharian berdiri menyalami para tamu.


"Ini tidak gratis. Kamu harus membayarnya nanti."


"Membayar?!" Mutia langsung tersentak. Rasa kantuknya menguap begitu saja setelah mendengar pernyataan Haidar tadi.


"Iya, membayar. Kamu pikir apa yang aku lakukan ini gratis?" Haidar menyunggingkan senyum kearah istrinya yang mulai berwajah pucat.


"Tapi ...."


"Dan aku ingin kamu membayarnya sekarang juga!" potong laki-laki itu cepat. Tanpa aba-aba Haidar membenamkan ciu***nnya pada bibir sang istri, menyesapnya sedikit hingga Mutia terkejut dengan aksi Haidar yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah dulu kamu pernah melakukan itu padaku?" Haidar mengingatkan pertemuannya pertama kali dengan Mutia. Saat gadis itu menyelamatkannya di danau, lantas memberikan napas buatan.


"I–iya, tapi ..." Mutia kehilangan kata-kata, bahkan untuk menjawabnya saja rasanya susah sekali.


Iya, aku memang pernah menciumnya. Tapi keadaannya berbeda. Saat itu nyawanya terancam jika aku tidak melakukannya.


"Lantas, kenapa sekarang kamu gugup? Bukankah kita pernah melakukannya?"


Haidar tidak lagi menghiraukan jawaban yang akan di berikan istrinya. Laki-laki itu kembali melancarkan aksinya. Haidar memagut kedua bibir milik Mutia dengan sangat lembut, menyesapnya lagi hingga lama-lama ciuman itu semakin menuntut.


Mutia dengan jelas bisa melihat tubuh suaminya saat Haidar dengan sengaja melepas lantas melempar satu-satunya kain yang menutupi bagian tubuhnya. Laki-laki itu juga dengan cepat melucuti semua pakaiannya hingga tak tersisa sedikit pun.


"Tu–an ...?"


Seketika Haidar langsung menghentikan permainannya kala mendengar Mutia memanggilnya.


"Tuan ...? Sekarang aku ini suamimu, Mutia. Jadi, jangan panggil dengan sebutan itu lagi!" tegas Haidar mengingatkan posisinya.


"Lalu, saya harus memanggil Anda apa?" tanya gadis itu dengan polosnya.


Haidar menarik sudut bibirnya lagi. Hasratnya yang semakin membubung tinggi membuat Haidar kembali melanjutkan aksinya yang tadi sempat tertunda.


"Akhhh ....!"


Suara itu lolos dari mulut Mutia saat merasakan sesuatu yang menerobos paksa di bawah sana. Gadis itu memejamkan mata lagi, menikmati sensasi yang sama sekali belum pernah ia rasakan.


"Apa kamu udah siap?"


Mutia mengangguk, meski sedikit perih ia berusaha menikmati permainan itu.


Malam masih panjang. Mereka kembali mengulangnya lagi dan lagi.


.


.


.


Sebulan berlalu dengan begitu cepatnya. Kini giliran Naila dan Dika yang sebentar lagi akan melaksanakan akad. Keduanya sudah duduk berdampingan di depan penghulu yang akan menikahkan mereka. Mutia maupun Haidar pun turut serta duduk di sebelah Mama Naila demi memberikan semangat untuk wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Tidak butuh drama panjang karena pernikahan ini adalah pernikahan kedua bagi Naila dan Dika. Saat kata sah di ucapkan oleh para saksi, Naila dan Dika sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka terus memperlihatkan senyum bahagianya setelah berpuluh-puluh tahun saling memendam perasaannya masing-masing.


Menikmati hidangan yang tersedia, Haidar di buat kebingungan dengan Mutia yang sejak tadi merasa gelisah sendiri. Mutia memang sejak kemarin selalu mengeluhkan kurang enak badan dan mual setiap kali mencium beberapa aroma masakan.


"Mas, jauhin itu!" omel Mutia setiap kali Haidar menawarkan sesuatu padanya. Laki-laki itu hanya menatap bingung karena Mutia tidak mau sama sekali menyentuh hidangan yang tersedia dalam acara tersebut.


"Sebenarnya kamu kenapa? Mendadak aneh begini?!"


"Pokoknya jauh-jauh, aku nggak suka cium bau itu!"


Rengganis yang sejak tadi memperhatikan anak dan menantunya itu sedikit curiga. Ia memutuskan untuk mendekat dan bertanya langsung pada Mutia,


"Kamu udah periksa ke dokter? Mungkin saja kamu hamil." Rengganis menatap wajah Mutia yang terlihat sedikit pucat.


"Hamil ...?" Keduanya menjawab serentak. Mutia dan Haidar hanya saling pandang tanpa ekspresi.


"Tapi kayanya nggak mungkin, Ma. Baru seminggu yang lalu aku test, tapi hasilnya negatif," ungkap Mutia dengan raut wajah sedih.


"Ya bisa aja. Tapi, itu hanya tebakan Mama, sih. Sebaiknya kalian segera periksa ke dokter biar tahu keadaan yang sebenarnya."


Setelah mendengar saran dari Mama Rengganis, Haidar langsung mengajak Mutia untuk periksa ke dokter. Mereka ingin memastikan sendiri keadaan Mutia yang sebenarnya.


Lebih dari setengah jam menunggu akhirnya tibalah saatnya Mutia masuk ke ruang pemeriksaan. Haidar turut serta menemani, lelaki itu sedetik saja tak melepaskan genggaman tangannya pada sang istri.


"Mas, bagaimana kalau aku sakit parah? Bagaimana kalau ternyata aku nggak hamil?" Awan hitam jelas menyelimuti wajah cantik Mutia. Wanita itu beberapa kali meremas ujung pakaiannya sendiri karena terlalu takut dengan hasil yang akan di sampaikan oleh dokter yang memeriksanya.


"Sayang ... tenanglah. Semua pasti baik-baik aja." Haidar berusaha menghibur. Mengusap lembut punggung Mutia yang saat ini masih duduk di ranjang pemeriksaan.


"Apa Anda ingat kapan terakhir kali datang bulan?" Dokter justru memberikan pertanyaan pada wanita yang saat ini masih duduk dengan wajah cemas.


"Datang bulan?" bisik Mutia pada dirinya sendiri. Seingatnya semenjak menikah Mutia belum pernah kedatangan tamu bulanan seperti biasanya.


"Memang istri saya sakit apa, Dokter? Kenapa seringkali merasa mual dan lemas?" tanya Haidar pada dokter yang menangani pemeriksaan istrinya.


"Apa sakitnya parah?" sambung Mutia kemudian.


"Anda tidak sakit, Nona. Itu hanya pengaruh kehamilan pada trimester awal saja!" jelas dokter.


"Hamil?!"

__ADS_1


__ADS_2