
"Besok Kakak libur, kan?" Pertanyaan Kia membuyarkan konsentrasi Haidar yang sejak tadi sibuk berkutat dengan pekerjaan di depannya. Setelah acara makan siang tadi, ternyata Kia tak langsung pulang dan malah menunggu di ruangannya sampai saat ini.
"Aku sibuk, Kia, pekerjaanku menumpuk." Menunjuk pekerjaan di atas meja kerjanya.
"Lalu, kapan Kakak ada waktunya? Kita 'kan perlu cari cincin untuk pertunangan kita?" Kia memasang wajah cemberut. Ternyata status tak menjamin hubungannya dengan laki-laki semakin dekat. Meski saat ini Haidar adalah calon tunangannya, tapi Kia merasa jika mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk menikmati waktu berdua.
"Aku sibuk, Kia. Kamu pergi sendiri aja ya? Nanti pilih saja yang kamu suka. Biar Kakak yang transfer. Atau, kamu bisa pakai ini." Menarik selembar kartu dari dalam dompetnya, lalu meletakkan di atas meja kerjanya. Haidar kembali fokus lagi pada pekerjaannya tanpa menatap kearah gadis yang saat ini tengah duduk di sofa ruangan itu.
"Kakak pikir aku kekurangan uang hingga harus minta-minta!" Kia merasa tersinggung karena menganggap Haidar berusaha membujuknya dengan sebuah kartu sakti. "Kenapa harus bekerja sendiri sih! Suruh aja karyawan Kakak yang mengerjakannya!"
"Tapi, Kia ... ini pekerjaan ...?"
"Aku nggak mau tahu pokonya besok Kakak harus ajak aku ke toko perhiasan. Titik!"
Nyatanya keberadaan Kia di tempat itu membuat konsentrasi Haidari buyar. Haidar sudah berusaha untuk membujuk Kia agar secepatnya pulang, tapi gadis itu tetap memaksa ingin tinggal dan menemaninya seharian ini.
"Atau aku bilang Tante Rengganis aja kalau Kakak terus-terusan kaya gini!" Ucapan Kia sontak membuat Haidar langsung menyahut cepat. Jika sudah menyangkut tentang sang mama rasanya laki-laki itu tidak bisa menolaknya lagi.
"Iya, iya, besok ke toko perhiasan. Kamu senang, kan?" Bisa perang dunia kedua jika perempuan paruh baya itu sampai tahu. Pasalnya Haidar sudah pernah bilang jika ia sendiri telah menyiapkan cincin untuk acara pertunangannya. Bisa di bayangkan semarah apa sang mama jika tiba-tiba Kia mengadu jika mereka memang belum mendapatkan cincin untuk acara pertunangan itu.
"Yes ...!" Kia tersenyum penuh kemenangan Gadis itu langsung saja bangkit dan memeluk Haidar secara tiba-tiba. "Makasih!" Bahkan mendaratkan satu kecupan di pipi milik laki-laki itu.
"Kia, apa-apaan kamu!" Mendorong tubuh gadis itu pelan. Haidar sangat kaget dengan respon Kia yang tidak seperti biasanya.
"Kakak dorong aku!" Kia menghentakkan kakinya keras. Ia terlalu bersemangat hingga tanpa sadar melakukannya. "Bukannya itu hal wajar? Orang-orang bahkan sering kasih ciuman sama pacarnya!" ungkap gadis itu pada laki-laki di depannya.
"Mana ada seperti itu?" Haidar melirik gadis yang ada di sana. Mutia pasti melihat dengan jelas apa yang di lakukan Kia baru saja.
"Memangnya kenapa? Kakak nggak mau cium aku?" Kia malah semakin menggodanya. Biarkan saja, dia 'kan milikku, ucap Kia dalam hati.
"Kia, cukup! Aku banyak pekerjaan. Sebaiknya kamu pulang ya?" Haidar benar-benar di buat pusing oleh tingkah Kia. Bisa-bisa pekerjaan hari ini tak selesai karena sibuk meladeni tingkah gadis itu.
"Kakak nggak anterin aku?" Kia berbalik lagi saat langkahnya hampir mencapai pintu. Ia pikir Haidar akan mengantarkannya lebih dulu, tapi ternyata laki-laki malah kembali pada pekerjaannya lagi.
__ADS_1
"Kamu di antar supir aja ya? Aku masih ada pekerjaan."
Gadis itu menarik napas panjang. Meski kesal, tapi mau bagaimana lagi? "Oke! Tapi, jangan lupa, kalau besok Kakak udah janji mau pergi sama aku! " mengingatkan sekali lagi. Gadis itu akhirnya menghilang setelah pintu ruangan itu tertutup dengan rapat.
Haidar baru bisa menarik napas lega setelah memastikan gadis itu pergi dari ruangan miliknya. Ia melirik jam di pergelangan tangan yang menunjuk angka empat sore. Itu artinya masih ada satu jam lagi jam kerjanya yang tersisa.
Sedangkan di seberang sana, Mutia yang sejak tadi melihat adegan romantis dari sang bos dan calon tunangannya hanya bisa menggeleng pelan. Jika saja ia boleh berteriak, mungkin sudah ia lakukan sejak tadi.
"Hei, cukup mesra-mesraannya dong! Nggak tahu ada jomblo apa?!"
Tapi Mutia hanya berani memakinya dalam hati.
Sebenarnya Mutia berusaha untuk mengabaikannya. Tapi berhubung semua adegan itu terlihat jelas karena ruangan mereka yang hanya di batasi oleh kaca, Mutia jadi sering hilang konsentrasi. Apalagi adegan terakhir saat Kia mencium pipi laki-laki itu.
"Ah, selesai!"
Mutia membereskan pekerjaannya saat jam di ruangan itu menunjuk tepat angka lima. Waktunya pulang untuk karyawan kantor.
"Tuan, ini berkas yang tadi Anda minta." Meletakkan berkas itu di atas meja milik Haidar.
"Mutia ...?"
"Ya ...?"
"Kau lihat?" tanya laki-laki itu tiba-tiba saat Mutia ingin pamit untuk segera pulang.
"Lihat? Maksud, Tuan?" Mutia hanya mengernyit bingung.
"Kamu lihat semua yang terjadi di ruangan ini, kan?" tanya laki-laki itu kembali.
Tunggu-tunggu, kamu? Mutia membatin sendiri. Sejak kapan panggilan laki-laki itu berubah padanya? Biasanya, kau!
"Tuan tenang saja, saya tidak akan mengatakannya pada siapapun."
__ADS_1
"Maksud kamu apa?" Kini malah Haidar yang kebingungan sendiri.
"Tuan tenang saja saya akan pura-pura tidak melihatnya. Lagipula ... itu masih wajar kok." Gadis itu tersenyum kikuk. Mutia merasa tidak enak saat harus mengakui apa yang di lihatnya tadi.
"Wajar? Maksudmu?"
Mutia gelagapan sendiri. Eh, gimana ya jelasinnya? Ya wajar, ya wajar lah. Masa harus aku perjelas jika cium pipi masih hal wajar sih! Apa dia memang tidak pernah melakukannya?
"Maksud saya ..."
"Jadi, menurutmu tadi masih wajar? Apa kamu juga sering melakukannya dengan kekasihmu?" Tatapan laki-laki itu berubah serius.
Pertanyaan macam apa itu? Mutia merasa terjebak sendiri dengan pernyataannya tadi.
"I–iya ... eh!" Mutia reflek membekap mulutnya sedikit. Sedangkan laki-laki di depan sana menatapnya dengan pandangan tak suka.
"Jadi, benar, kamu sering melakukan adegan ini pada para kekasihmu? Menciumnya?" Haidar mengulang pertanyaannya lagi.
"Eh, bukan! Maksud saya ....?" Mutia mendadak kehilangan kata-kata. Kenapa sekarang malah ia merasa di interogasi begini sih!
"Maksud saya itu masih hal wajar, Tuan."
"Jadi benar kamu sering melakukannya pada para kekasihmu?"
Pertanyaan macam apa itu? Kepo!
"Tuan, saya pulang dulu ya? Jam kerja saya udah selesai, kan?" Mutia memilih untuk mengakhiri obrolan tak jelas ini.
"Jawab dulu, Mutia! Kamu sering melakukan itu pada kekasihmu, kan?" Laki-laki di depan sana terlihat mengepalkan kedua tangan. Entah kenapa Mutia merasa jika Haidar tengah menahan kesal.
Belum juga Mutia sempat menjawabnya lagi, laki-laki itu sudah terlihat bangkit dan melangkah menuju pintu di depan sana.
"Besok jam sepuluh aku akan menjemputmu! Jadi, bersiap-siaplah!" ucap laki-laki itu sebelum membuka pintu dan keluar dari ruangan kerjanya.
__ADS_1