Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Tolong .... jangan!


__ADS_3

"Benar, Bos, dia gadis yang waktu itu!" teriak seorang pria yang tiba-tiba saja sudah mematikan mesin motornya tepat di depan Mutia. Di susul dua orang lagi yang baru saja datang dari arah depan sana.


"Kau yakin?"


"Yakin, Bos. Aku masih ingat kalau gadis ini yang telah menyelamatkan bocah itu!" ucap pria itu yakin sekali.


Mutia menyipitkan mata, meneliti siapa ketiga pria yang saat ini tengah berdiri menatapnya. Dan, saat ingatan itu berhasil ia kumpulkan, Mutia langsung gemetar takut karena tahu tiga pria itu berniat balas dendam padanya.


"Si ... siapa kalian?" ucap Mutia pura-pura tidak mengenalnya. Gadis itu berusaha sebisa mungkin tidak memperlihatkan rasa takutnya, khawatir jika para pria tadi tambah yakin jika ia gadis yang telah menyelamatkan Haidar dulu.


"Apa kau pura-pura tidak mengenal kami, Manis? Atau, kau benar-benar lupa?" Salah satu pria itu terkekeh menatap kearah Mutia yang masih berusaha bersikap setenang mungkin.


"A ... aku memang tidak mengenal kalian!" Rasanya susah sekali untuk menjawab. Suaranya seolah tercekat sampai di tenggorokan saja.


"Kau boleh tidak mengenal kami. Tapi, kami tetap tidak akan melupakanmu!" Salah satu pria itu mendekat kearah Mutia. Entah kebetulan atau apa sore ini suasana tidak seperti biasanya, halte terlihat sepi. Hanya Mutia saja yang berdiri menunggu angkutan umum di tempat tersebut.


"Tolong ... jangan apa-apakan saya." Mutia sudah ketakutan sekali. Apalagi melihat ketiga pria itu yang tampak menyeramkan.


"Jadi, kau tadi hanya berpura-pura tidak mengenal kami?" Ketiganya tergelak kencang. Mutia semakin terpojok oleh aksi ketiga pria itu. Apalagi saat salah satu dari ketiga pria itu berusaha menyentuhnya.


"Lepas! Jangan kurang ajar!"


"Hahahaha ..." Mereka semakin tergelak kencang.


"Tak perlu risau, Manis. Bagaimana kalau kita bersenang-senang saja." Pria tadi menyeringai. Wajah Mutia semakin pias.


"Ya Tuhan, tolong ...!" Ia memekik dalam hati. Bagiamana ini? Kalaupun melawan juga percuma tenaganya pasti kalah jauh dari mereka.


"Hei, kau mau ke mana?" Salah satu dari mereka menyadari gadis di depannya hendak melarikan diri.


"Tolong, Tuan. Biarkan saya pergi," ucap gadis itu memelas. Mutia tidak tahu harus melakukan apa agar ia bisa melarikan diri dari tempat itu.


"Memohonlah ... karena percuma saja. Kau tak akan bisa melarikan diri!" Ucapan pria itu semakin membuat bulu kuduk Mutia berdiri. Gadis itu semakin kebingungan. Ingin menghubungi polisi, tidak mungkin. Bisa-bisa ia habis duluan sebelum polisi datang.


"Hei, kau melamun? Atau ..." Pria itu melirik kedua temannya, "Tengah memilih siapa dulu di antara kami bertiga?"

__ADS_1


"Cih!" Rasanya Mutia ingin meludahi wajah ketiga pria kurang ajar itu.


"Ayo katakan, siapa di antara kami yang akan kau layani lebih dulu?" tanya pria itu lagi.


"Jangan kurang ajar!" Mutia menepis kasar tangan salah satu pria itu yang hendak menariknya. "Atau, aku bisa teriak!" ancamnya lagi.


"Hahaha ... Tidak akan ada yang menolongmu! Lihat, di sini sangat sepi bukan?"


Gadis melirik ke sana kemari, mencoba mencari pertolongan. Barangkali ada seseorang yang lewat yang bisa membantu menyelamatkan diri dari ketiga berandal itu.


"Tolong, biarkan saya pergi. Saya janji tidak akan melaporkan kalian ke polisi."


"Kau pikir kami akan membiarkanmu pergi begitu saja? Setelah apa yang kamu lakukan waktu itu, hahh!" Nadanya sudah berubah meninggi.


"Kau pikir bisa meloloskan diri dari kami?" ucap salah satu pria itu lagi.


"Kau harus membayar mahal apa yang sudah kau lakukan pada kami!" Pria itu menatap tubuh Mutia dengan penuh nafsu. Hingga gadis itu jijik melihatnya. "Bayarlah dengan tubuhmu dulu, baru kami lepaskan!"


Mutia menggeleng cepat. Tidak! Ia tidak sudi melayani ketiga pria itu. Dalam keadaan buntu ia teringat sesuatu. Mutia merogoh tasnya cepat dan mengambil ponsel miliknya yang baru ia beli beberapa hari yang lalu.


"Kau ...!" Sontak ketiganya melotot kearah Mutia. Gadis itu sedikit lega karena berhasil menggertak mereka.


Namun detik selanjutnya mereka malah tergelak semakin kencang.


"Kau pikir bisa mengancam kami, gadis bodoh!" Sambil merebut ponsel milik gadis itu.


"Akhh ...! Apa yang kalian lakukan! Kembalikan!" Bukannya selamat, Mutia justru harus kehilangan benda berharganya karena ponsel itu sudah berpindah tangan pada mereka.


"Kau lihat ini!" Menunjuk ponselnya, lantas ...


Prankkk!!


Benda berbentuk pipih itu hancur berkeping-keping membentur kerasnya trotoar.


"A ... apa yang kalian lakukan!" Kedua mata Mutia sudah berkaca-kaca. Butuh waktu berapa lama sampai ia bisa mengumpulkan uang untuk membeli benda itu.

__ADS_1


Tidak hanya menjatuhkan, ternyata pria itu juga menginjaknya hingga ponsel milik Mutia tidak berbentuk lagi.


"Lihat, hidupmu juga akan hancur seperti ini!" Injak dan injak lagi semakin kuat.


"Kenapa kalian tega sekali?" Kristal bening itu akhirnya lolos juga. Mutia hanya bisa pasrah melihat benda kesayangan dihancurkan di depan matanya sendiri.


"Itu belum seberapa karena kau berani mengacaukan rencana kami!" Entah sejak kapan salah satu dari mereka sudah berhasil mencekal sebelah tangan Mutia. Gadis itu memekik terkejut, ingin melarikan diri namun terlambat.


"Sekarang bayar hutangmu pada kami! Atau ... kuhabisi dirimu saat ini juga!" Tangan kekar pria itu menarik Mutia, hingga tubuh gadis itu terpaksa mendekat kearahnya.


"Lepas! Lepaskan, brengs*k!" maki Mutia. Gadis itu memberontak meski tenaganya kalah jauh.


"Bos, sebaiknya kita cari tempat yang aman untuk mengerjai gadis ini!" usul salah satu dari mereka.


"Benar, Bos, takutnya ada yang lewat." Yang satu ikut bersuara.


Pria yang di sebut bos tadi hanya mengangguk. Melirik sekitar, lantas memberikan kode pada kedua temannya.


"Bawa dia ke sana!" Menunjuk arah belakang. Kebetulan ada sebuah pohon besar yang tumbuh tak jauh dari tempat itu.


Sementara Mutia sudah gemetar sendiri. Sejak tadi ia berusaha memberontak tapi tak juga berhasil.


Dua pria tadi menyeretnya kearah pohon besar yang di tunjuk oleh salah satu pria tadi. Sedangkan sang bos mengekor di belakangnya.


"Rasakan kau!"


"Jangan khawatir, Manis, kita akan bersenang-senang di sini!" Salah satu pria itu bahkan sudah berani menyentuh wajah milik Mutia.


"Tidak! Lepaskan aku! Tolong!!"


Benar apa yang mereka ucapkan jika tidak akan ada seorangpun yang mendengarnya karena jalanan sore itu lumayan sepi.


Mereka semua menyeret paksa Mutia kearah semak, lantas mendorongnya tubuh gadis itu hingga jatuh tersungkur keatas tanah.


"Jangan! Kumohon ... jangan ... akhhhh!!"

__ADS_1


__ADS_2