
Urusan lacak melacak memang sudah menjadi keahlian Alex sejak dulu. Meski tadi sempat terlibat pertengkaran dengannya, Arya tetap mempercayakan urusan tersebut pada Alex.
Alih-alih menenangkan suasana, Kania justru bertingkah lagi. Gadis itu malah sengaja berulang kali menyebut Kia sebagai pelaku utamanya.
"Hei, tutup mulutmu!" Rengganis sampai geram sendiri melihat tingkah gadis asing itu. Siapa dia? Kenapa bisa ada dalam acara pernikahan putranya?
"Maaf, Nyonya. Saya hanya mengatakan bukti yang terlihat. Iya, kan?"
"Saya yakin pelakunya bukan Kia!" Meski sedikit ragu tapi Rengganis yakin jika Kia tidak akan sampai seberani itu dengan mengacaukan pernikahan orang.
Laura merasa tidak enak sendiri melihat kelakuan putrinya yang semakin menjadi. Ingin pergi tapi Yudi masih sibuk juga ikut mencari keberadaan putri sulungnya.
Di ruangan itu para wanita tengah berusaha menenangkan dua ibu yang saat ini tengah menangisi putrinya masing-masing.
"Anda percaya, kan, kalau pelakunya bukan Kia?" Airin berusaha membicarakan dari hati ke hati. Tapi, Naila tidak merespon sama sekali, hanya tangisan yang sejak tadi terdengar memenuhi hampir seluruh ruangan.
Naila tidak tahu harus percaya dengan siapa. Bagaimana pun rasa curiga pasti ada mengingat hubungan Kia dan putrinya sedang tidak baik. Tapi apakah benar sampai setega itu Kia berniat menyakiti Mutia?
"Duh, aku juga heran kenapa sih Mutia tega rebut kekasih sahabatnya sendiri, nggak tahu malu amat!" Kania menyeletuk lagi. Hingga amarah Rengganis akhirnya meledak juga. Sebagai pemilik acara sekaligus calon mertua dari Mutia tentu saja Rengganis tidak suka jika calon menantunya di jelek-jelekan di depan matanya sendiri.
"Maaf, Nona, bisakah Anda diam?! Ucapan Anda semakin memperkeruh suasana saja." Rasanya ingin sekali menyeret gadis muda itu keluar gedung, tapi Rengganis merasa tidak enak dengan semua tamu yang masih berada di ruangan itu.
"Maaf, Nyonya putri saya memang sedikit bebal jika di beritahu." Laura langsung menarik tangan Kania untuk menjauh setelah mendapat lirikan tajam dari Rengganis.
"Kania, yang sopan kamu! Bikin malu Mama aja!"
"Apa sih, Ma! Biarin aja mereka tahu kelakuan Mutia yang sebenarnya. Lagian yang aku omongin bener, kan?" Gadis itu masih saja membela diri meski sudah mendapat tatapan tajam dari beberapa orang di ruangan tersebut.
Di ruangan lain.
"Bagiamana, Lex apa udah ketemu?"
"Sebentar, Tuan." Jantung Alex sudah berdebar tak karuan. Antara marah, kecewa, takut berkumpul menjadi satu. Jiwanya meronta menolak bahwa bukan Kia–lah pelaku penculikan itu. Namun semua bukti seolah mengarah padanya.
"Lex, bagaimana?" Arya kembali bersuara. Saat ini di ruangan itu ada empat lelaki. Arya, Alex, Haidar serta Yudi. Mereka sama-sama menunggu hasil pelacakan Alex terhadap ponsel milik putrinya.
"Ketemu ...!" Semua mata tertuju pada layar pipih di depannya. Mengamati satu titik keberadaan ponsel milik Kia yang sejak tadi masih aktif tapi sama sekali tidak menjawab panggilan dari siapapun.
"Ayo kita berangkat sama-sama!" ajak Arya pada ketiga lelaki itu.
__ADS_1
"Tidak, Yah. Aku bareng Om Yudi aja." Haidar memilih semobil dengan calon mertuanya. Bukan apa, Haidar hanya ingin menghindar dari hal-hal yang tidak di inginkan.
"Ya sudah, kita langsung ke lokasi!"
Mereka berempat langsung bertolak menuju lokasi yang di temukan Alex tadi. Berharap perjalanan lancar agar mereka segera bisa menemukan keberadaan Mutia.
Di Tempat lain.
Sebuah gudang tua yang sudah lama terbengkalai menjadi satu tempat untuk menyekap Mutia. Gadis itu mengerjap, menatap ruangan sekitar yabg terasa asing dan pengap. Bahkan Mutia sampai terbatuk-batuk karena banyaknya debu di ruangan tersebut.
"Di mana aku?" Menatap sekeliling ruangan dengan posisi kedua tangan terikat ke belakang.
"Kau sudah bangun?" Suara seorang perempuan tiba-tiba menyita seluruh perhatian Mutia. Perempuan cantik itu terlihat melangkah mendekat dengan membawa segelas minuman berwarna merah pada tangan kanannya.
"Si–siapa Anda? Tolong, lepaskan saya," pinta Mutia pada perempuan cantik itu.
"Apa kejutanku menyenangkan?"
"Apa maksud Anda? Tolong, lepaskan saya."
"Ck! Melepaskanmu? Mimpi!" Tiba-tiba saja perempuan itu membanting gelas kaca itu ke lantai ruangan.
Suara benturan gelas beradu dengan lantai membuat gadis tang terikat di depan sana menjerit terkejut.
"Kau memang tak salah apa-apa, Manis. Tapi, mamamu telah menghancurkan hidupku!"
"Mama? Nggak! Nggak mungkin!" Mutia berteriak menolak tuduhan yang di berikan perempuan tadi pada Mama Naila.
"Terserah, percaya atau tidak, itu urusanmu! Saat ini aku hanya ingin membalasnya, mengambil sesuatu yang berharga dalam hidupnya supaya dia tahu bagaimana kehilangan seseorang yang sangat kita cintai."
Mutia langsung ketakutan saat melihat sorot mata perempuan setengah baya itu yang menatapnya dengan pandangan mengerikan.
"Tolong ... lepaskan saya! Saya mau pulang!" Mutia berusaha melepaskan diri dengan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kir. Tapi, bukannya terlepas, justru tali yang melilitnya semakin terasa kuat.
"Bagaimana kalau aku membunuhmu? Pasti Naila akan sangat sedih." Tiba-tiba perempuan itu sudah memegang sebuah pisau di tangan kanannya, hingga membuat tubuh Mutia semakin gemetar ketakutan.
"Tolong ... jangan sakiti saya."
"Hahaha ..." Perempuan tadi tergelak kencang hingga suaranya memenuhi seluruh ruangan pengab itu.
__ADS_1
"Kenapa kau ketakutan sekali? Padahal aku belum melakukan apapun padamu." Langkahnya semakin mendekat. Mutia ingin menghindar tapi tubuhnya terperangkap di atas kursi kayu dengan kedua tangan terikat pula.
Srettt!
Satu sayatan kecil berhasil melukai pipi sebelah kiri Mutia. Gadis itu menangis menahan perihnya yang tak terkira di bagian wajahnya.
"Aku ingin lihat bagaimana reaksi Naila jika tahu aku berhasil melukai putrinya."
Mutia sudah tidak mampu berucap apapun selain menangis. Gadis itu begitu ketakutan melihat darah segar miliknya yang menempel pada ujung benda itu.
"Bagaimana kalau sebelahnya lagi?"
"To–tolong ... jangan ....!"
Brakkk!
Tiba-tiba saja pintu terbuka dengan sangat kasar. Perempuan bernama Lydia itu kaget melihat kedatangan gadis muda yang saat ini berhasil menerobos masuk, padahal di depan sana ada dua pria yang berjaga.
"Siapa kau!"
"Lepaskan Mutia perempuan jahat!"
"Kia ....!"
"Beraninya kau mengacaukan rencanaku!" Lydia menatap nyalang gadis di depannya. Ia pikir tidak akan ada yang bisa menemukan keberadaannya. Tapi, kenapa gadis muda itu tiba-tiba muncul?
"Botak! Ke mana kalian!" Lydia berteriak keras memanggil dua pria yang sudah ia bayar untuk berjaga di depan. Tapi, dua pria entah di mana keberadaannya.
"Mereka sudah mampus!"
Perempuan itu tidak tahu saja bagaimana perjuangan Kia mengalahkan dua pria berbadan besar tadi. Meski sedikit susah payah akhirnya Kia berhasil melumpuhkan dengan mengelabuhinya lebih dulu.
"Kurang ajar!" Lydia langsung mengayunkan pisau itu kearah Kia, tapi Kia berhasil menghindar dan malah mengenai tembok ruangan itu.
Bugh!
Tanpa memberikan kesempatan lagi Kia langsung memukul tengkuk Lydia hingga akhirnya perempuan itu tersungkur.
"Mutia, kamu tak apa-apa, kan?"
__ADS_1
Kia berusaha melepaskan ikatan Mutia, tanpa sadar ternyata Lydia masih sanggup berdiri dan kembali mengayunkan pisau itu lagi.
"Akhhh ....!"