
Setelah turun dari mobil Arya langsung menerjang pagar besi yang tidak terkunci itu dan langsung berlari menerobos masuk ke halaman rumah bercat putih. Di susul Alex yang berada di belakangnya yang ikut berlari mengejar Arya yang terlihat tergesa-gesa.
Bugh, bugh, bugh!
Aksi saling pukul itu terjadi di depan sana. Haidar nampak tersungkur beberapa kali, namun berhasil bangkit dan memberikan balasan pukulan kearah Sandi.
"Akhhh ...!!" Sandi mengerang kesakitan setelah Haidar memberikan pukulan lagi, hingga ia terkapar di atas tanah dengan luka-luka di tubuhnya.
"Haidar, kau tak apa-apa, kan?" Arya tiba tepat di samping putranya dengan napas masih memburu. Ia melirik kearah sana, kearah pria muda yang saat ini sudah terduduk di atas lantai dengan menahan sakit.
"Ayah ...?" Haidar nampak terkejut dengan kedatangan ayahnya yang tiba-tiba. Bagaimana lelaki itu tahu keberadaannya?
"Kau tak apa-apa?"
"Om ...?" Haidar juga di buat melongo dengan kedatangan Alex yang turut serta bersama sang ayah. "Untuk apa kalian ke sini?"
"Bodoh! Kenapa kau masih bertanya kenapa kami ada di sini?" Pertanyaan konyol itu langsung di jawab oleh ayahnya sendiri. "Kenapa kau tak minta persetujuan Ayah lebih dulu?"
"Ck, sekarang lihat di antara kita siapa yang sebenarnya pengecut!" ucap pria yang masih duduk dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Sandi tampak tersenyum mengejek melihat kedatangan dua lelaki di hadapannya itu.
"Tutup mulutmu! Aku tak mungkin membiarkan putraku menemui berandal sepertimu sendirian!" Arya langsung melempar tatapan tajam kearah Sandi. Sebagai seorang ayah tentunya ia tidak ingin sesuatu buruk terjadi pada putranya.
"Apa Anda takut aku berusaha melenyapkannya lagi?" tunjuk Sandi pada laki-laki muda di depannya. Haidar nampak mengepalkan kedua tangannya saat teringat peristiwa tragis yang menimpanya waktu itu.
"Tak akan kubiarkan kau melakukannya lagi!" Kini gantian Alex ikut berbicara. Laki-laki itu telah menghubungi polisi dan mungkin sebentar lagi akan segera datang.
"Aku tidak ada urusan dengan Anda! Jadi, diamlah! Jangan ikut campur!" Sandi membalasnya dengan ucapan yang sangat ketus.
"Tapi sekarang menjadi urusanku juga karena kau telah mengusik ketenangan Keluarga Pratama!" Alex membalasnya dengan tak kalah sengit. Ia heran saja melihat sikap pria itu yang nampak tenang sekali, padahal jeruji besi sudah siap menantinya.
"Aku tak pernah takut dengan ancaman Anda, Tuan! Sama sekali tidak!"
__ADS_1
Alex menggeleng pelan. Sebenarnya penjahat seperti apa yang saat ini tengah ia hadapi?
"Kau yakin tak takut? Bahkan sebentar lagi polisi akan datang meringkusmu!" Alex sengaja memberikan sedikit ancaman pada pria muda itu, ingin melihat seperti apa reaksinya saat ia menyebut nama polisi.
"Tentu saja, aku akan senang hati menyambutnya!"
Dasar, gila!
Sandi malah terkekeh. Sebelah tangannya bergerak mengusap ujung bibirnya yang robek dan mengeluarkan sedikit darah.
"Biarkan saja, Lex! Untuk apa kau membuang tenagamu untuk meladeni bocah tak waras sepertinya!" Arya yang sejak tadi hanya menyimak merasa ada yang aneh dengan sikap pria muda di depan sana. Tapi sudahlah, Arya tak peduli. Yang penting sebentar lagi polisi akan segera datang dan membawanya.
Benar saja, setelah beberapa menit berlalu datanglah tiga orang polisi ke rumah itu. Arya memberikan kesaksiannya sebelum para polisi itu membawa Sandi pergi.
"Lain kali jangan bertindak sendirian! Kita tak pernah tahu bahaya apa yang tengah menunggu!"
Sementara di rumah kediaman Aditama–Kia tengah senyum-senyum sendiri setelah mendapatkan sebuket bunga dari kurir yang baru saja menghantarkan. Gadis itu langsung menciuminya, memeluknya dengan tak henti-hentinya dan berniat membawanya ke dalam kamar.
"Iya, Ma." Gadis itu tersenyum sumringah sembari memperlihatkan buket bunga itu kearah sang mama.
"Wah cantik sekali bunganya," gumam Airin pelan.
"Apa itu dari Haidar lagi?" tanya Airin memastikan.
"Iyalah, Ma, dari siapa lagi?" jawab gadis itu dengan sangat yakin. Kia terlihat bangga sekali setiap memamerkan hadiah pemberian dari calon tunangannya itu.
"Syukurlah kalau sikap Haidar udah lebih baik padamu. Mama yakin jika perlahan Haidar juga akan menyukaimu." Meski masih sedikit ragu, Airin berusaha menyenangkan hati putrinya. Ia mengikuti langkah gadis itu yang perlahan menaiki tangga. Dan saat Kia mendorong pintu kamarnya, Airin di kejutkan dengan penampakan kamar gadis itu.
"Astaga, dari mana benda-benda ini? Kenapa banyak sekali?" Airin sampai bingung menghitung ada berapa buket bunga dan boneka yang berjajar rapi di kamar Kia. Semua serba pink–warna kesukaan Kia.
"Ini semua dari Haidar?" Menelitinya lagi. Airin memeriksa satu persatu kartu nama yang ada pada kiriman hadiah-hadiah itu.
__ADS_1
Bunga yang cantik untuk gadis yang paling cantik pula.
Semoga kamu suka, Sayang ...
Cantik, semoga harimu menyenangkan.
Rata-rata begitulah ucapan yang ada di setiap kiriman itu. Tapi anehnya kenapa Haidar tidak pernah menuliskan namanya sendiri? Apa dia malu?
"Kenapa Mama masih bertanya? Tentu ini pemberian Kak Haidar, Ma!" Dengan sangat yakin gadis itu menjawab lagi. Akhirnya-akhir ini Airin memang seringkali memergoki Kia yang mendapatkan kiriman hadiah. Tapi, ia tidak menyangka jika akan sebanyak itu, sampai hampir memenuhi sebagian kamarnya.
"Aku senang, Ma, akhirya Kak Haidar bisa merasakan ketulusanku." Gadis itu menggenggam tangan sang mama dengan penuh haru. Perjuangannya selama ini untuk Haidar akhirya berbuah manis. Kia tak menyangka jika Haidar akan seromantis ini dengan memberikannya banyak hadiah setiap hari.
"Nanti dulu, Kia, Mama mau kasih lihat hadiah-hadiah ini sama Tante Rengganis yah?" Airin mengeluarkan ponsel dari saku dan bersiap mengambil gambar dari beberapa sisi.
"Eh, buat apa, Ma? Kia 'kan malu." Gadis itu berusaha menolaknya. Masa iya semua pemberian itu harus di perlihatkan pada calon mertuanya juga.
"Malu Kenapa? Tante Rengganis pasti senang lihat ini semua kok!" Airin tetap saja mengambil gambar meski Kia berusaha menolaknya.
Setelah mendapat beberapa gambar yang bagus, Airin segera mengirimkan pada perempuan itu.
Tring!
Ponsel milik Rengganis nampak bergetar menampilkan sebuah notif baru dari Airin. Perempuan itu menyambarnya cepat, meletakkan majalah yang tengah ia pegang, lantas fokus pada pesan yang baru saja ia terima.
Dahi milik perempuan itu sedikit mengernyit tatkala membuka satu persatu gambar yang baru saja masuk di aplikasi berwarna hijau. Gambar beberapa buket bunga serta boneka berukuran besar ada berjajar rapi di dalam kamar bernuansa pink.
Rengganis terus menscroll hingga gambar terakhir, lantas membaca caption yang di tuliskan oleh perempuan tadi.
"Ini semua kiriman dari Haidar untuk Kia," bunyi pesan itu seketika membuat kedua mata Rengganis membelalak sempuran. Ia senang jika memang itu semua pemberian putranya. Tapi masalahnya, apa benar Haidar yang mengirimkan? Sedangkan kemarin laki-laki itu jelas mengakui jika ia telah menyukai gadis lain.
Lantas, siapa sebenarnya yang mengirimkan hadiah-hadiah itu?
__ADS_1