
Pisau tajam itu berhasil menancap pada bahu kiri Mutia. Sebenarnya sasaran Lydia adalah Kia tapi justru Mutia yang terkena karena gadis itu sengaja mendorong Kia menggunakan kaki.
"Mutia ...!"
Melihat pisau itu tertancap pada tubuh Mutia, Lydia malah tertawa senang. Tak masalah jika salah satu mereka terluka, kalau perlu mati!
"Bos, ada yang datang!" Dari arah pintu dua pria muncul dengan langkah tertatih. Dua pria yang Lydia suruh berjaga di depan juga terluka di beberapa bagian tubuhnya.
"Dari mana aja kalian? Bodoh! Kenapa bocah ini sampai bisa masuk?!" Lydia melotot kearah dua pria tadi.
"Udah bos, lebih baik kita pergi dari sini secepatnya!" Dua pria tadi sudah kabur lebih dulu. Lydia kebingungan antara ingin melanjutkan balas dendamnya atau secepatnya pergi meninggalkan gudang itu.
"Akhhh persetan dengan mereka! Lebih baik aku pergi sebelum polisi menangkapku!" Lydia bergerak cepat berlari kearah pintu dan menguncinya dari luar.
"Biarkan saja dia mati kehabisan darah!" ucap Lydia sebelum melangkah pergi.
"Mutia ...!" Kia gemetar ketakutan melihat pisau yang masih menancap pada bahu Mutia. Darah segar menetes deras dari luka itu hingga membasahi pakaian Mutia .
"K–ia ... ." ucap Mutia terbata. Sesekali gadis itu memejamkan mata karena menahan sakit.
"Mutia ... bertahanlah, aku akan menolongmu." Kia susah payah membantu Mutia bangkit, tapi berulangkali jatuh karena tenaga Kia sudah terkuras habis sejak tadi.
"A–aku tak apa-apa, Kia ..." Gadis itu merintih dengan bibir yang bergetar hebat, wajahnya pun terlihat semakin memucat. Saat kedua mata gadis itu mulai terpejam, Kia panik bukan main.
"Mutia ...! Bertahanlah, Mutia ...!!" Kia berusaha bangkit sambil terus berteriak memanggil nama Mutia. Tapi gadis itu sudah tidak menyahut sama sekali.
Brakkk
"Mutia ...!!" Haidar berlari masuk setelah berhasil mendobrak pintu ruangan itu. Tanpa pikir panjang ia menyingkirkan tangan Kia dan merebut paksa calon istrinya dan gadis itu.
"Mutia ... bangun!" Menepuk pipi Mutia dengan wajah cemas.
"Kau ... beraninya melukai Mutia!" tatap Haidar dengan sorot mata penuh amarah.
"Ka– k aku ..." Kia langsung membeku ketika Haidar malah menuduhnya yang melukai Mutia.
__ADS_1
"Mutia ...!!" Yudi ikut panik melihat keadaan putrinya yang tergeletak tak berdaya. Baju Mutia bersimbah darah dan pisau masih menancap di bahu sebelah kiri.
"Haidar, cepat bawa Mutia ke rumah sakit!" teriak pria paruh baya itu berusaha menyadarkan Haidar dari kepanikan.
"Tolong urus gadis itu, Om! Jangan sampai lepas!" Haidar menunjuk dengan ekor matanya. Bahkan menyebut namanya pun tidak. Haidar bangkit dan membopong tubuh Mutia dalam dekapannya.
"Om ... aku ....." Kia bergerak mundur melihat sorot mata pria paruh baya itu tak kalah menakutkan. Yudi tidak ingin kehilangan kesempatan dengan membiarkan gadis itu lolos, ia cepat-cepat menarik tangan Kia dan membawanya dengan paksa.
"Lepas, Om! Bukan aku yang melakukannya!"
Di depan gedung.
"Itu Haidar ...!" Alex melihat Haidar dari kejauhan. Dua lelaki itu langsung berlari menghampirinya dan di buat terkejut sosok gadis yang berada dalam dekapan Haidar.
"Mutia ...! Ya Tuhan ...! Apa yang terjadi, Nak?" Arya membantu putranya membawa Mutia kembali ke dalam mobil, sedangkan Alex terpaku melihat seorang pria yang tengah berjalan di belakang sana. Dua tangannya mengepal erat menyaksikan putrinya di seret paksa oleh pria paruh baya itu.
"Lepaskan putriku!" Alex mencengkeram tangan Yudi yang juga memegang tangan Kia. Keduanya beradu pandang dengan tatapan saling membunuh. Hingga suara Haidar memecah ketegangan di antara mereka.
"Kia yang telah melukai Mutia, Om! Aku melihatnya sendiri!"
"Kia ...!"
"Aku nggak ngelakuin itu, Yah! Bukan aku yang nyakitin Mutia." Gadis itu menggeleng cepat. Dengan pakaian yang berlumur darah Kia berlutut di depan Alex.
"Tapi kami melihatnya sendiri. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu." Yudi ikut memberi kesaksian. Walaupun sebenarnya tadi ia sempat melihat sekelebat bayangan seorang perempuan yang mirip ...
"Tidak! Pasti tadi aku hanya salah lihat, pasti itu bukan Lydia!" Yudi berperang dengan hatinya sendiri.
"Kalian dengar sendiri kalau bukan Kia yang melakukannya!" Alex langsung memeluk tubuh Kia yang sejak tadi masih bergetar hebat.
"Y–ah ....?"
"Tenang, Sayang, ada Ayah di sini." Alex mengecup puncak kepala putrinya berkali-kali. Sungguh, Alex tidak tega melihat kondisi putrinya yang begitu menyedihkan. Di tambah tuduhan lagi yang semakin mengarah padanya.
"Kia harus di bawa ke kantor polisi!" ucap Yudi tidak ingin sampai gadis itu terbebas begitu saja. Yudi kembali menarik tangan Kia tapi Alex langsung menepisnya sangat kasar.
__ADS_1
"Jangan sentuh putriku! Atau, kupatahkan kedua tanganmu!"
"Tapi, dia menyakiti Mutia. Dia pantas di hukum!"
"Bukan aku yang melakukannya, Om! Bukan!" Kia menangis lagi di pelukan sang ayah.
"Aku takut, Yah ... a–aku ..."
"Sttt .... sudah, Ayah akan lindungi kamu."
"Haidar, cepat! Mutia semakin lemas." Arya menyentak putranya yang malah fokus pada masalah Kia, padahal nyawa Mutia tengah di ujung tanduk. Darah segar masih saja menetes dari luka gadis itu.
Haidar dengan cepat masuk mobil, di susul Yudi di belakangnya. Mereka bertiga menuju rumah sakit dengan posisi Haidar yang ada di belakang kemudi.
"Hati-hati, Nak!" Arya terus saja memperingatkan Haidar yang tidak peduli dengan keadaan jalanan. Laki-laki itu terus menerobos, menyalip kendaraan yang ada di depannya.
"Hei, sialan! Hati-hati!" maki salah satu pengguna jalan.
Haidar tidak memperdulikannya. Yang ia pikirkan saat ini hanya bagaimana bisa secepatnya sampai ke rumah sakit agar Mutia segera mendapat pertolongan.
Kembali ke depan gedung tadi, Alex terus membujuk Kia agar tidak merasa cemas lagi. Gadis itu terus saja gelisah dan berulangkali mengatakan bahwa bukan dirinya yang melukai Mutia.
"Ayah percaya. Kamu tenang ya?"
"Yah ... tapi perempuan itu sudah ...."
"Ayo kita pulang."
Tidak tahu apa yang harus Alex lakukan saat ini. Menyerahkan putrinya ke kantor polisi kah? Atau, berusaha melindunginya meski nanti Kia terbukti bersalah?
"Ayah nggak akan bawa aku ke kantor polisi, kan? Aku nggak mau di penjara, Yah!" Air mata Kia semakin deras. Alex sungguh tidak tega melihatnya seperti ini.
"Tidak, Sayang, Ayah tidak mungkin membawamu ke kantor polisi. Ayah akan melindungimu. Bahkan Ayah akan mengorbankan semuanya untukmu!" Menangkup wajah Kia dan membenamkan lagi ke dalam pelukan.
Kia sedikit menarik sudut bibirnya setelah mendengar ayahnya berjanji tidak akan membawanya ke kantor polisi.
__ADS_1
"Sekarang ayo kita pulang."