
"Katakan, dengan siapa kau melakukannya?" tanya Broto dengan tatapan mengarah pada wajah Lydia. Perempuan itu terlihat gelagapan menjawab pertanyaan Broto, apalagi saat pria itu menarik pakaiannya, Lydia sama sekali tidak bisa mengelak lagi karena tanda merah itu juga ada hampir di seluruh bagian tubuhnya.
"A–aku ...".
"Apa jangan-jangan selama ini kau sering melakukannya dengan pria lain?" Broto mencengkeram wajah Lydia dari kedua sisi. Dalam keadaan tubuh polos, Broto mendorongnya hingga Lydia terlempar keatas ranjang. "Jadi, selama ini kau bagi tubuhmu dengan pria lain? Dan, aku tidak pernah menyadarinya, begitu?" Baru kali ini Lydia melihat kemarahan Broto. Jika biasanya pria itu akan selalu memperlakukannya dengan baik, tapi sekarang Broto terlihat murka sekali saat tak sengaja menemukan tanda merah di leher milik Lydia.
"Ternyata kau jal*ng, Lydia. Ternyata kau perempuan murahan!" Teriakan Broto menggema di seluruh ruangan. Pria itu mengepalkan kedua tangannya, merasa sangat bodoh percaya begitu saja pada perempuan ular itu.
"Cukup!" teriak Lydia nyaring. Suaranya pun hampir memenuhi seluruh ruangan kamarnya. Perempuan itu menyambar selimut di sebelahnya, Lydia berjalan kearah Broto yang masih berdiri di penuhi emosi.
"Kau tak terima aku membagi tubuhku dengan pria lain? Ck, lalu apa bedanya denganmu, Broto? Bukankah kau juga melakukan hal yang sama?" Lydia menatap pria itu dengan wajah menantang. Meski sebenarnya Lydia khawatir setelah ini tidak akan bisa mendapatkan apapun lagi dari pria itu.
Sial! Semua ini gara-gara Yudi. Awas kau, Yud! Jika Broto sampai membuangku, maka kau orang pertama yang harus bertanggungjawab!
"Tapi itu beda, Lydia. Aku melakukannya dengan istriku, tapi kau .... akhhh ....!" Broto menjambak rambutnya sendiri. Ia pikir selama ini hanya dirinya yang menikmati tubuh indah itu, tapi ternyata Lydia sudah membaginya pada pria lain, dan entah berapa pria yang telah mencicipi tubuh perempuan itu.
"Ck! Kenapa kau naif sekali?" Lydia malah tersenyum geli, bahkan membayangkan setiap adegan dengan pria itu saja rasanya membuat Lydia langsung mual. "Kau pikir selama ini permainnmu cukup untuk membuatku puas?"
Kedua mata Broto terbelalak mendengar pengakuan Lydia. "Kau ...!"
"Ya! Bahkan aku rasa permainanmu belum ada apa-apa di banding dengan para priaku!"
Gila! Lydia benar-benar gila!
"Jadi, kau merasa permainanku selama ini kurang ..."
"Aku tak perlu menjelaskannya lagi, kan? Kau pria payah, Broto. Bahkan hanya beberapa kali saja kau sudah ..." Lydia benar-benar membuat harga dirinya jatuh. Padahal selama ini Broto selalu mengerjai Lydia habis-habisan, terkadang permainannya juga sampai pagi. Tapi, entah apa maksud dari perempuan itu yang mengatakan selama ini permainannya belum ada apa-apanya.
"Kau jangan asal bicara, Lydia! Atau, itu hanya di jadikan alasan saja, kan?" Broto sungguh tak terima. Selama ini ia sudah memberikan semua yang Lydia inginkan. Mencukupi semua kebutuhan perempuan itu. Tempat tinggal, mobil, serta kartu sakti yang setiap saat bisa di gunakan Lydia untuk apa saja. Namun, apa balasan Lydia padanya?
"Katakan, siapa pria itu! Siapa pria sialan itu, Lydia!" Suara Broto menggelegar. Ia meraih vas bunga dan melemparnya kearah dinding,
__ADS_1
Prakk!
Benda itu jatuh berkeping-keping di susul pekikan dari Lydia.
"Akhh ...! Kau gila ya, kenapa menghancurkan barang-barangku?!" Tak sadar jika semua yang ia miliki atas pemberian dari pria yang ada di depan sana.
Seringai licik terpancar dari wajah Broto. Pria itu mendekat, Lydia reflek mundur menghindar dari tatapan Broto yang mengarah pada dirinya.
"Kau ...mau apa?" Baru sadar saat dirinya sudah membentur tembok.
"Kau tanya mau apa? Bahkan, tubuhmu ini milikku!" Menunjuk dada Lydia dengan ujung jarinya. "Semua yang ada di sini. Bahkan aku sudah membayar mahal atas tubuhmu. Dan kau tanya aku mau apa?!"
Dengan gerakan cepat Broto menarik selimut yang membungkus tubuh Lydia. Hingga kedua mata perempuan itu membulat sempurna.
"Ja–jangan ....!"
"Kenapa? Bukankah kita sudah biasa melakukannya?!" Broto membelai wajah Lydia, terus turun hingga menyentuh bibir seksi milik perempuan itu.
"Sa–sayang .." Ucapan itu lolos begitu saja dari bibir Lydia. Tiba-tiba saja Lydia tersenyum dan bergerak maju kearah Broto. "Bagaimana kalau kita melakukannya di sana saja?" tunjuk Lydia keatas ranjang. Saat pandangan Broto mengikutinya. Buru-buru Lydia memalingkan wajah, perempuan itu mengepalkan sebelah tangannya sendiri.
Kurang ajar, aku jadi harus merayunya agar Broto tidak bermain kasar. Sial! Padahal aku jijik berlama-lama dengan pria tua ini!
Dalam hati Lydia terus memaki, karena ia terpaksa melakukan itu agar Broto tidak kembali emosi lagi.
"Apa sekarang kau tengah merayuku?" Broto menatap Lydia dengan penuh tanda tanya. Ke mana sikap angkuhmu tadi, Lydia? Kenapa sekarang sikapmu mendadak manis begini?
"A–aku hanya ..." Lydia kehilangan kata-kata. Ia hanya berusaha menyelamatkan diri, meski dalam hati Lydia terus merutuki kebodohannya sendiri.
Ah, sial! Sial kau Broto!
"Ternyata kau ....!" Broto berbisik pelan kearah Lydia, membuat tubuh perempuan itu meremang seketika.
__ADS_1
"Aku akan mengabulkan permintaanmu." Broto tersenyum, menarik tangan perempuan itu untuk mengikutinya.
"Sekarang kau yang akan memimpin permainan!" Broto melempar tubuh Lydia keatas ranjang, dan tangannya bergerak cepat melucuti semua pakaian sendiri. "Cepat! Kau tunggu apa lagi?!"
"I–iya!" Lydia terpaksa mengikuti kemauan Broto, memimpin permainan itu meski hatinya menolak.
Malam masih panjang Lydia, saatnya bersenang-senang.
Di Parkiran Apartemen.
Entah sudah berapa kali Yudi bolak-balik menghubungi nomor Lydia. Tapi selalu saja hanya suara dari Operator yang terdengar. Yudi sampai kesal sendiri, sudah lebih dari satu jam berada di sana tapi Lydia belum juga muncul, atau setidaknya memberitahu di unit nomor berapa kamarnya berada.
"Ke mana kau, Lydia?" tanya Yudi pada dirinya sendiri. Pria itu mengacak rambutnya kasar, padahal Yudi sengaja pulang cepat agar ia bisa menemui Lydia. Kembali menyalurkan hasratnya yang tiba-tiba terasa menggebu.
"Apa aku masuk saja dan bertanya pada satpam yang berjaga di depan?" Yudi berpikir sebentar. Kalau ia tetap menunggu dan nanti pulang terlambat, bisa-bisa Laura curiga. Yudi sudah membayangkan pertemuannya dengan Lydia nanti. Ah, sial!
"Mungkin aku memang harus masuk." Yudi melangkah pelan, menghampiri satpam yang berjaga di post. Yudi mengembangkan senyuman saat informasi mengenai Lydia sudah ia dapatkan, ia kembali mengayunkan langkahnya mencari nomor kamar tersebut.
Saat dua kamar lagi hampir mendekati kamar Lydia, Yudi sengaja menghentikan langkah, mengamati lagi penampilannya, ia ingin terlihat sempurna di depan perempuan itu. Namun, apa yang Yudi lihat saat tak sengaja matanya menangkap sesosok pria yang baru keluar dari kamar apartemen mewah itu. Pria bertubuh gempal itu merangkul Lydia dan berkali-kali mendaratkan kecupan di bibir perempuan itu.
"Terimakasih, Sayang. Aku akan kembali lagi besok."
Lydia membalasnya dengan senyuman kecil. "Tentu saja, aku menunggumu."
Tubuh Yudi membeku seketika melihat adegan di depan matanya. Pria itu terlihat agresif sekali, bahkan saat di luar pun masih berani meraba-raba bagian tubuh milik Lydia.
"Ingat, kau harus ...?"
Entah apa yang di bisikkan pria itu. Yudi hanya bisa mengumpatnya dalam hati.
"Kurang aja! Ternyata kau hanya jal*ng, Lydia!"
__ADS_1