
"Jangan, Nak! Biarkan ini menjadi urusan Mama saja. Kamu tak perlu ikut campur." Naila berusaha mencegah Mutia yang hendak melangkah pergi meninggalkan rumah. Mutia sangat marah setelah mengetahui siapa orang yang selama ini telah memfitnah wanita itu.
"Aku harus kasih pelajaran ke dia, Ma! Aku nggak peduli walaupun mereka nanti akan semakin membenciku! Mas Yusuf juga harus tahu seperti apa kelakuan papanya!" Mutia berlari cepat. Gadis itu tak menghiraukan lagi teriakan Naila yang terus berusaha mengejar di belakang sana. Setelah mendapatkan taksi, gadis itu meminta pada sang supir untuk segera melajukan kendaraannya ke alamat yang sudah ia berikan.
Perjalanan yang memakan waktu kurang dari setengah jam itu terasa sangat lama bagi Mutia. Mungkin karena ia ingin secepatnya melampiaskan amarah pada orang yang selama ini melukai sang mama. Gadis itu terus saja gelisah dan beberapa kali melirik kearah luar sana demi memastikan kendaraan itu benar-benar melaju cepat ke alamat yang di tuju.
[Mas Yusuf! Keluar kamu, Mas!] teriak gadis itu setelah sampai di depan gerbang rumah mantan calon suaminya itu. Suara teriakannya yang keras sukses mengundang satpam yang berjaga di pos segera datang dan menegurnya.
"Tolong jangan membuat keributan di sini, Nona!" ungkap Pak Satpam yang tengah berjaga.
"Tolong panggilkan Mas Yusuf, Pak! Aku mau ngomong sama dia!" Ucapan Mutia hanya di balas tawa sinis dari pria berbadan besar itu,
"Memangnya Nona mau apa lagi? Tuan Yusuf sedang sibuk. Lagi ada tamu!"
"Tapi, aku perlu ngomong sama dia, Pak! Tolong panggilkan sebentar saja!" Mutia masih berusaha membujuk satpam tadi agar segera memanggil Yusuf untuk menemuinya.
"Nona keras kepala sekali, sih! Saya 'kan sudah bilang kalau Tuan Yusuf sedang sibuk. Dan lagi ada tamu besar di dalam sana!" menunjuk kearah dalam rumah. Pria itu mendengus kesal. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat pada Mutia setelah peristiwa pernikahannya dengan sang majikan yang gagal. Padahal dulu satpam itu selalu ramah jika Mutia datang untuk mengunjungi keluarga Yusuf.
"Sebaiknya Nona segera pulang. Sebelum saya berbuat kasar pada Anda!"
__ADS_1
Mutia yang terlanjur menahan amarah sejak tadi tidak mungkin pulang begitu saja walaupun satpam sudah mengusirnya. Gadis itu tidak peduli seandainya nanti ia benar-benar di seret oleh satpam yang berjaga di rumah Yusuf.
"Mas Yusuf! Keluar kamu, Mas!" Mutia berteriak lagi. Gadis itu juga berusaha menggedor gerbang rumah milik laki-laki itu hingga pria di depan sana menatap geram kearahnya.
"Mas! Aku yakin kamu dengar suaraku! Keluar kamu, Mas!"
"Mas Yusuf!"
Sementara di dalam sana, di ruang makan keluarga, Broto beserta sang putra tengah mengadakan makan malam istimewa bersama salah satu rekan bisnisnya yang baru. Mereka terlihat akrab sekali membahas perihal kerja sama sembari sesekali terdengar suara tawa dari kedua keluarga itu.
"Saya senang sekali seandainya kerja sama ini bisa terus terjalin. Pasti akan semakin menguntungkan!" ungkap Broto pada laki-laki paruh baya di depannya. Rencana keduanya memang akan mengembangkan proyek baru yang akan di pegang langsung oleh anak-anak mereka.
"Tentu saja! Pasti nanti proyek kita ini akan berkembang pesat. Anda pasti tidak keberatan 'kan jika putri kami yang mengurusnya nanti?" Perempuan cantik itu melirik putrinya yang sejak tadi malah asik memandang kearah sana, kearah laki-laki muda yang tengah duduk persis di depan matanya.
"Kania, kenapa makananmu masih utuh? Jangan membuat malu Papa di depan keluarga Pak Broto dong?" bisik Laura tepat di sebelah telinga gadis itu.
"Ehmm ....!" Kania tersadar, lantas buru-buru membenahi posisinya yang sejak tadi malah fokus menatap kearah Yusuf. "Ma ... maafkan saya, Om, Tante," ucap gadis itu dengan tersenyum canggung.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Kami paham, namanya anak muda." Serli menyikut Yusuf yang sejak tadi diam tanpa ekspresi apapun. Laki-laki itu hanya fokus dengan makanan di depannya tanpa tahu sejak tadi menjadi objek tontonan gratis gadis di depannya.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu, Yusuf? Apa kau siap menjalankan proyek ini dengan Kania?" Suara Broto tertuju kearah laki-laki itu.
Yusuf meletakkan sendok setelah makanan di piringnya tandas tak tersisa. "Yusuf terserah Papa aja. Lagipula, bukannya sudah biasa Yusuf menjalankan proyek seperti ini?" Meneguk segelas air putih di dekatnya, lantas menyeka ujung bibirnya dengan tissu.
"Baguslah kalau Yusuf sudah terbiasa menangani proyek seperti ini. Jadi, bisakah kamu mengajari Kania juga?" Kali ini Laura yang berbicara. Perempuan itu nampaknya girang sekali jika Kania benar-benar berada dalam satu proyek besar bersama Yusuf.
"Tentu saja, Tante, saya juga tidak keberatan, asalkan Kania sendiri mau belajar!" Ungkapan Yusuf sontak di sambut senyum sumringah gadis itu. Kania benar-benar sudah terpikat oleh ketampanan Yusuf sekaligus prestasinya dalam memimpin sebuah perusahaan.
"Jadi sudah deal ya? Proyek ini akan mulai beroperasi minggu depan. Aku akan segera menyiapkan berkas-berkasnya." Broto juga tak kalah senang. Menjalin kerjasama dengan Keluarga Wilson merupakan suatu keuntungan yang besar baginya. Apalagi Broto menyadari jika Kania ternyata memiliki ketertarikan pada Yusuf, itu akan semakin memperlancar proyek yang akan ia jalankan dengan keluarganya.
Acara makan malam telah usai. Kini kedua keluarga itu beranjak ke ruang tamu untuk meneruskan obrolannya. Di sana juga sudah terhidang makanan kecil beserta minuman yang telah di sediakan oleh pelayan rumah. Broto sengaja mempersiapkan acara ini dengan istimewa. Selain kerjasama, ia berharap hubungan Yusuf dan Kania kesepakatan akan semakin dekat.
Ibarat sekali dayung. Broto ingin menjalin kerjasama itu sekaligus berusaha masuk ke dalam keluarga besar Wilson secara perlahan.
Di ruang tamu–pun obrolan masih berlanjut. Hanya saja sejak tadi Kania tidak melepaskan pandangannya pada sosok Yusuf. Gadis itu bahkan tidak berkedip karena terlalu terpesona akan ketampanan wajah laki-laki itu. Obrolan mereka terlihat semakin asik saja saat dua perempuan itu mulai membahas mengenai kehidupan sosialitanya.
Tapi suasana hangat itu harus berakhir tatkala dari luar sana terdengar suara teriakan dari seseorang. Suara itu semakin keras dan mengganggu. Hingga akhirnya Yusuf memutuskan untuk melihatnya secara langsung.
Yusuf melangkah keluar di susul oleh Broto beserta keluarga tamunya. "Pak, ada apa ini?" Yusuf menghampiri satpam yang terlihat berdiri di depan gerbang. Pria itu lantas menunjuk gadis cantik di depan sana yang sejak tadi berteriak tanpa henti.
__ADS_1
"Keterlaluan kamu, Mas! Jadi, selama ini keluargamu yang selalu membuat mamaku menderita!"