Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Benar Kau Yang Melukai Mutia


__ADS_3

"Kamu udah datang, Yud!" Lydia menyambut kedatangan Yudi bahkan sebelum pria itu sepenuhnya masuk ke dalam apartemen yang ia tempati. Lydia langsung membenamkan dirinya di pelukan Yudi dan mengajaknya untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Gimana pernikahan putrimu, apa lancar?" Lydia bersikap seolah tidak pernah terjadi apapun. Perempuan itu memang sejak dulu pandai sekali untuk berbohong.


"Lancar, hanya saja ada masalah sedikit."


"Maaf ya, aku nggak jadi datang. Aku sibuk belanja." Menunjuk beberapa paper bag yang masih tergeletak rapi di atas meja.


"Oh ... habis belanja?" Yudi merebahkan kepalanya di pangkuan Lydia. Wajah terlihat lelah, bahkan beberapa kali menghembuskan napas berat.


"Apa ada masalah?" Lydia membelai rambut Yudi. Pria itu memejamkan mata menikmati sentuhan lembut Lydia.


"Hanya masalah kecil. Tak usah khawatir."


"Aku ingin tahu."


"Bisakah kita tidak bisa membahasnya lebih dulu? Aku capek, aku juga lapar."


Lydia menarik sudut bibirnya. Perempuan itu memindahkan kepala Yudi pada sofa lalu beranjak bangkit.


"Mau ke mana?" Matanya melirik ke arah pergelangan tangan Lydia. "Di mana gelang yang aku berikan untukmu?" tanya Yudi lagi dengan tatapan menyelidik.


"Gelang?" Lydia baru ingat jika gelang pemberian Yudi sudah tidak ada di pergelangan tangannya. "A–aku menyimpannya. Tadi sempat aku lepas saat ingin masak," dalih perempuan itu sedikit gugup.


"Oh ... bukan hilang?"


"Gelang itu masih ada, Yud. Aku simpan di lemari. Apa perlu ku ambilkan?"


"Tidak usah!" cegah Yudi mencekal pergelangan tangan Lydia. "Aku lapar, bisakah kau masak sesuatu untukku?"


"Aku siapin dulu." Lydia mengembangkan senyumnya. Perempuan itu melangkah cepat meninggalkan Yudi yang masih terpaku di sofa ruang tamu.


Selepas Lydia pergi pria itu mengepalkan kedua tangannya. Yudi meraup udara sebanyak-banyaknya demi mengembalikan kesabarannya yang nyaris hilang.


"Awas saja jika memang benar kau pelakunya!" meremat gelang yang masih ia simpan di saku celana.


Lima menit kemudian.

__ADS_1


"Yud, makanannya udah siap!" Lydia memanggil dari arah ruang makan. Yudi tak menunggu lama, ia segera bangkit dan melangkah menuju ruang makan.


"Gimana masakan aku, Yud? Enak, kan?"


Yudi hanya mengangguk pelan. Tangannya masih menyendok nasi yang ada di hadapannya, sedangkan matanya kadang kala melirik kearah Lydia. Menyadari Yudi terus memperhatikan, Lydia menjadi gugup sendiri. Tak terasa keringat dingin juga membasahi tubuh perempuan itu.


"A–ku tinggal mandi sebentar yah?" Perempuan itu beranjak tanpa menghabiskan makanan di piring.


Yudi hanya menatap kepergian Lydia dalam diam. Menghabiskan semua makanannya, Yudi menunggu Lydia sampai keluar dari kamar mandi.


Ceklek,


Setelah setengah jam berlalu akhirnya Lydia keluar dari dalam sana. Seperti biasa perempuan itu memang pandai sekali untuk memanjakan mata pasangannya. Terbukti Yudi langsung melotot, pria itu menelan salivanya dengan susah payah saat Lydia sengaja menggodanya dengan pakaian yang ia pakai.


"Yud, kamu kenapa?" Lydia mengulum senyum menyaksikan wajah tersiksa Yudi. Pria itu terlihat menggeleng cepat, berusaha mengembalikan kesadarannya yang sempat terbang tinggi.


"Aku tak apa-apa."


Lydia sudah duduk di samping Yudi. Sangking dekatnya hingga Yudi dapat mencium aroma tubuh Lydia yang sangat wangi.


"Aku buatkan minuman untukmu." Yudi menyodorkan dua gelas jus ke depan Lydia.


"Bukankah tadi kau bilang udara hari ini sangat panas? Minumlah! Atau, kau curiga aku menaruh sesuatu dalam minumannya?" tanya Yudi pada perempuan itu.


"Ti–dak. Tentu saja tidak!" Lydia menggeleng cepat. Meski ia merasa ada yang berbeda dengan Yudi.


"Minumlah. Apa aku harus meminumnya lebih dulu?" Yudi mengambil gelas yang tepat berada di depan Lydia. Ingin meneguknya tapi Lydia buru-buru merebutnya,


"Biar ku minum!"


Glek,


Meski hanya separuh tapi Lydia berhasil meneguk minuman yang sengaja Yudi buatkan.


"Nah, tidak terjadi apa-apa, kan?"


Lydia tersenyum, menaruh gelas bekas minuman. Baru saja Lydia hendak berdiri tiba-tiba saja kedua matanya berkunang-kunang. Lydia juga merasakan kepalanya seakan di tindih sesuatu yang sangat berat. Lydia berpegang pada bibir tempat tidur demi menjaga keseimbangan tubuhnya. Tapi, semakin lama ia merasakan kedua kakinya tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Lydia ambruk bersamaan dengan senyum yang tertarik di sudut bibir pria itu.

__ADS_1


.


Selama Lydia pingsan Yudi tidak menyia-nyiakan kesempatan. Yudi langsung menggeledah seluruh ruangan di apartemen miliknya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya Lydia lakukan sebelum kedatangannya ke tempat itu.


Geledah dan geledah lagi, Yudi hampir membuat seluruh apartemen itu bak kapal pecah.


"Sial, tidak ada!" Yudi menjambak rambutnya kasar. Ia melirik kearah tempat tidur di mana Lydia tidak sadarkan diri.


"Jadi benar ini milikmu!" Sekali lagi Yudi meremat gelang yang ia temukan di depan gudang tua kemarin.


"Aku harus mencari bukti yang lain." Pria itu menelusuri setiap sudut ruangan barangkali ada sesuatu yang dapat Yudi temukan lagi. Hingga pandangannya tertuju pada tempat sampah yang berada di sudut ruangan.


"Sial! Br*ngsek! Ternyata benar kau terlibat dalam masalah ini!" umpat Yudi setelah menemukan pakaian yang terkena cipratan darah milik Lydia.


Yudi benar-benar tidak menyangka jika Lydia akan terlibat dalam penculikan Mutia. "Jadi benar, yang aku lihat kemarin?"


"Akhh ...!" Yudi meninju tembok di ruangan itu hingga meneteskan darah dari sela jemarinya.


"Kurang ajar kau, Lydia!" teriakan Yudi yang begitu keras ternyata membangunkan Lydia dari pengaruh obat yang Yudi berikan. Beruntung Yudi sudah mengikat tangan serta kaki Lydia hingga perempuan itu tidak bisa bergerak ke mana pun.


"Yud, kenapa kamu ikat aku kaya gini?" tanya Lydia dengan wajah pucat pasi. Perempuan itu juga sudah ketakutan sendiri melihat sorot mata Yudi yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.


"Kau tanya kenapa aku mengikatmu, Lydia! Brengs*k!" Yudi naik keatas ranjang dan mencengkeram wajah Lydia dengan sangat kasar.


"Yud, sa–kit ...!" rintih perempuan itu.


"Kau bilang, sakit? Lalu, apa yang kau lakukan pada putriku? Kau pikir Mutia tidak merasa kesakitan?!" teriak Yudi tepat di depan wajah Lydia.


"Apa maksudmu, Yud? Aku nggak ngerti." Lydia masih berusaha mengelak. Ia tidak menyangka Yudi akan mengetahuinya secepat ini.


"Apa kau sedang berusaha menipuku, Lydia! Kau keterlaluan!" Yudi menghempas kasar wajah Lydia hingga perempuan itu memekik kesakitan lagi.


"Yud, a–aku bisa jelasin!"


"Jelasin? Apa dengan penjelasanmu dapat mengembalikan keadaan seperti semula?!" Lydia tidak pernah melihat Yudi semarah ini. Bahkan saat memergokinya dengan Broto, Yudi masih dapat ia luluhkan dengan begitu mudah.


"Aku harus merayunya lagi, harus!" Lydia berbisik dalam hati. Lydia harus bisa meluluhkan hati Yudi lagi atau ia akan kehilangan segalanya.

__ADS_1


"Aku terpaksa melukai putrimu, Yud! Karena mantan istrimu dulu juga pernah .."


"Jadi benar, kau yang melukai Mutia ...!!"


__ADS_2