Bukan Anak Pelakor

Bukan Anak Pelakor
Kita Mau Ke Mana?


__ADS_3

"Gimana menurut Anda, Tuan?" tanya perempuan berumur hampir setengah abad itu. Ia juga sudah memberikan beberapa berkas calon yang sudah terpilih untuk di seleksi sendiri oleh sang bos.


"Entahlah. Menurutmu bagaimana?" Laki-laki yang berdiri di hadapannya malah terlihat semakin bingung. Melihat dari pengalaman yang tertulis di data para pelamar, tidak ada satupun yang salah. Tapi masalahnya kenapa ia belum begitu yakin menerima salah satu dari mereka.


"Sudah lebih dari sebulan tidak ada yang menghandle tugas sekretaris, Tuan. Saya hanya khawatir Anda akan kerepotan nanti." Perempuan itu memberi masukan agar sang bos segera menerima salah satu dari mereka. Selain demi kelancaran pekerjaannya, Haidar juga butuh orang untuk mengatur jadwal kegiatannya setiap hari.


"Kamu sudah melakukan wawancara dengan mereka?" tanya laki-laki itu lagi.


"Sudah, Tuan. Dan saya lihat dua dari lima calon yang saya seleksi memenuhi syarat yang Anda minta. Anda bisa melihatnya langsung di sini. " Menunjukkan salah satu data di lembaran kertas tadi.


Haidar terlihat mengangguk. Lantas menarik berkas yang tadi perempuan itu berikan. "Ya sudah, tunggu saja keputusanku besok. Aku akan memeriksanya lagi! Kau tahu kan posisi ini tidak bisa di isi sembarangan orang?"


"Baik, Tuan. Saya mengerti." Perempuan itu undur diri membawa semua berkas yang sedikit tercecer diatas meja. Sebelum melangkah keluar ia sempat melirik lagi kearah sang bos muda itu,


"Memang seperti apa sih sekretaris yang bos inginkan?" berbisik sendiri. Perempuan itu memilih pergi setelah menutup pintu ruangan itu dengan hati-hati.


Laki-laki itu menarik laci pada meja kerjanya. Memeriksa benda pipih yang sejak tadi sengaja ia simpan di dalam sana. Ternyata sudah lebih dari sepuluh panggilan yang tidak sempat ia jawab.


"Ada apa bocah ini menghubungiku?" Memilih mengabaikan. Haidar yakin jika Kia hanya ingin merecokinya lagi. Gadis itu memang suka sekali menghubunginya dengan tiba-tiba. Kalaupun tidak, Kia akan datang langsung ke kantor dan memaksa laki-laki itu menemaninya untuk pergi.


"Resiko punya calon istri bocah!" bisik laki-laki itu sembari menutup kembali laci mejanya. Haidar memilih membiarkan ponselnya tersimpan di dalam sana agar ia bisa kembali fokus pada pekerjaannya hari ini.


Di sebuah cafe yang nampak ramai oleh para pengunjung. Terlihat dua orang gadis cantik yang tengah asik membahas sesuatu. Kia mencoba menerangkan apa pekerjaan yang ia tawarkan pada gadis di depannya sembari matanya terus melirik kearah ponsel yang tergeletak di sebelah kirinya.


Kenapa Kakak nggak angkat teleponku? Ke mana dia?


"Jadi, hanya itu. Gampang, kan?" Beralih pada Mutia. Kia seolah sudah paham sekali, padahal ia sendiri belum memiliki pengalaman apapun pada bidang itu.

__ADS_1


"Gampang gimana? Itu kan menurutmu!" Gadis di depannya mencebik. Mutia hanya menanggapinya dengan santai karena ia tidak ingin berharap terlalu tinggi. "Apa kamu nggak bisa cariin aku pekerjaan di tempat lain aja? Maksudku sebagai pelayan, atau cleaning servis juga nggak masalah. Yang penting aku nggak nganggur."


Kia terlihat mengernyitkan dahinya. Gadis itu tak habis pikir kenapa Mutia malah meminta pekerjaan sebagai pelayan, sedangkan ia sudah menawarkan pekerjaan yang bagus untuk gadis itu. "Gimana sih! Memangnya kamu mau di hina-hina lagi? Kamu mau di rendahkan lagi sama Kania? Ini kesempatan bagus lho biar kamu bisa balas perlakuan mereka." Kia berusahalah meyakinkan.


"Iya. Tapi itu nggak cocok sama aku, Kia. Aku 'kan nggak punya pengalaman sama sekali di bidang itu." Mutia masih menolak yang di tawarkan oleh sahabatnya karena ia sendiri tak yakin bisa melakukannya. "Gimana kalau bosnya galak? Gimana kalau nanti aku malah di marah-marahin? Gimana kalau ....."


Kia terkekeh sendiri mendengar ocehan Mutia. "Kenapa kamu pesimis sekali, sih? Kamu 'kan belum mencobanya."


"Tapi ...."


"Udah. Pokonya kamu tenang aja. Aku yakin kamu bisa kok! Ayo semangat!"


"Ayo!" Tiba-tiba Kia bangkit dan mengulurkan tangannya kearah gadis itu.


"Ke mana?" Mutia bertanya dengan wajah bingung.


Seorang pelayan berjalan tergesa kearah Kia lantas menyerahkan bill untuk makanan yang tadi mereka pesan.


"Satu, dua, tiga, empat, lima! Kembaliannya ambil aja!" Kia memberikan beberapa lembar uang untuk makanan yang ia pesan bersama Mutia tadi.


"Terimakasih, Nona." Pelayan tadi tersenyum sumringah, merasa hari ini adalah keberuntungan baginya. Kapan lagi coba dapat tamu baik seperti ini.


Sementara Kia menarik tangan Mutia keluar cafe. Dua gadis itu menuju mobil berwarna merah yang masih terparkir rapi di depan bangunan tersebut.


"Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Mutia lagi. Gadis itu sama sekali tidak tahu ke mana Kia akan membawanya. "


"Ihhh cerewet! Katanya mau kerja!" Setelah sabuk pengaman terpasang, Kia segera menginjak gas dan melajukan mobilnya keluar dari area itu.

__ADS_1


Dalam perjalanan pun Mutia masih terus saja bertanya ke mana gadis itu akan membawanya, hingga membuat Kia kesal karena ia sendiri jadi tidak fokus menyetir.


"Awwww ...!" Kening gadis itu beradu pada dasboard mobil karena gadis di sebelahnya menginjak rem secara mendadak. Mutia meringis ngilu mengusap keningnya yang berdenyut. "Pelan-pelan, Kia! Aku belum mau mati!"


Padahal yang di sebelah sana menahan tawa. Kia sengaja melakukan itu agar Mutia diam dan tidak bertanya terus-menerus.


"Makanya jangan berisik! Tuh kan, aku jadi nggak konsen! Tadi kalau aku sampai kecelakaan gimana?"


Mobil melaju lagi dengan kecepatan sedang. Mutia bungkam karena tidak ingin kejadian tadi terulang kembali. Sampai mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah lobi bangunan yang sangat mewah.


"Kia .... ini kantor siapa? Punya papamu?" Jelas-jelas sudah tertera PRATAMA GROUP dengan sangat besar di depan gedung bangunan itu.


"Kamu nggak bisa baca?" Kia menunjuk kening gadis itu keras hingga sang pemilik mengaduh lagi.


"Awww ....! Ini saki, Kia!"


"Hahaha ...!" Kia malah tertawa senang melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.


"Tunggu-tunggu, ini bukan kantor punya papanya Kia, kan?" Baru sadar setelah membaca nama perusahaan itu.


Mutia mendadak berat untuk melanjutkan langkahnya. Ia sadar sekali saat ini ia tengah berada di mana.


"Semoga bukan laki-laki itu yang menjadi bosnya." Mutia hanya bisa berharap dalam hati jika bukan Haidar–lah yang menjadi pemimpin perusahaan. Sementara ia mencari keberadaan gadis itu, "Ke mana dia?"


"Hei, buruan!" Ternyata dari arah depan sana Kia melambaikan tangan, mengajak Mutia agar segera menyusulnya.


"Aku mau rekomendasiin kamu di kantor ini!" ucap Kia yang membuat gadis itu membelalakkan matanya mendengar pernyataan dari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2