
"Mutia ...?" Gadis itu menghentikan langkah saat suara salah satu rekan kerjanya mendekat. Gadis bernama Nina memeluk paper bag di tangan dan langsung menyodorkan kearah gadis itu.
"Ini titipan dari Tuan Haidar."
Paper bag berwarna coklat itu Mutia terima dengan wajah bingung. Pasalnya ia sama sekali tidak tahu maksud dari laki-laki itu.
"Ini apa?"
Gadis di depan sana mengedikkan baru tidak tahu. Entah, mungkin itu jawabannya.
Mutia terpaksa membawa barang itu dan segera melangkah memasuki lift khusus karyawan untuk segera sampai ke ruangannya.
"Barang yang aku titipkan pada Nia sudah kamu terima?" Ternyata Haidar sudah duduk dan berkutat pada tumpukan kerjaan di atas meja. Mutia langsung menghentikan langkah lagi, memutar kearah laki-laki itu berada dan menyerahkan paper bag pemberian Nina tadi.
"Ini, Tuan."
"Kenapa kamu berikan padaku?"
Gadis di depan sana bingung sendiri. "Lalu, harus saya apakan, Tuan?" Karena sebenarnya Mutia juga tidak tahu apa isi paperbag di tangannya.
"Buatmu. Pakailah segera!" perintah laki-laki itu.
"Gaun?" Gadis itu mengerjap beberapa kali menatap gaun indah di tangannya. Gaun berwarana coklat susu itu sangat serasi sekali dengan waran kulitnya yang putih.
"Cepat pakai, kenapa malah bengong!" Suara Haidar menyentak lamunan gadis di depannya.
"Di sini?" tanya Mutia dengan wajah masih di liputi rasa bingung.
"Astaga ...!" Haidar hanya bisa menggelengkan kepalanya menyaksikan tingkah absurd sekretarisnya itu. Kenapa setelah keluar dari rumah sakit Mutia jadi aneh begini? Atau, mungkin kejadian waktu itu membuat salah satu fungsi saraf milik gadis itu jadi terganggu?
"Maaf, maaf. Maksud saya apa ganti sekarang?" Mutia bertanya lagi. Padahal jelas-jelas Haidar tadi sudah menyuruhnya untuk segera mengganti pakaian.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya ganti pakaian dulu." Gadis itu beranjak cepat menuju kamar menenteng paperbag pemberian Haidar tadi.
Setengah jam berlalu, Haidar menunggu Mutia dengan gelisah. Laki-laki itu memeriksa jam di pergelangan tangannya sambil sesekali matanya melirik ke sana, kearah pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka.
Haidar sudah coba mengetuknya beberapa kali, tapi jawaban gadis itu masih sama, "Sbentar, Tuan." Hingga Haidar di buat semakin frustasi menunggunya.
__ADS_1
"Sebentar, sebentar. Tapi sampai satu jam gadis itu belum juga keluar.
"Mutia, hei ....!"
Ceklek,
Pintu kamar mandi terbuka bersama dengan keluarnya seorang gadis cantik dari dalam sana. Mutia melangkah pelan mengimbangi tubuhnya yang belum terbiasa menggunakan high hell. Gadis itu gugup saat pandangan laki-laki itu menatap penampilannya saat ini.
"Tuan, apa penampilan saya sudah rapi?" tanya Mutia sembari memperlihatkan penampilan barunya.
"Kamu terlihat ... cantik!" Ucapan itu lolos begitu saja dari bibir Haidar. Sampai tak sadar jika sejak tadi tatapannya masih terpaku pada penampilan gadis itu.
"Apa Tuan tengah memuji saya? Ya, saya memang cantik sih!" ungkap Mutia sedikit percaya diri. Gadis itu sedikit memutar tubuhnya tepat di depan Haidar.
"Maksudku bajunya yang cantik."
Gadis di depan sana mendengus tak suka. Padahal jelas-jelas laki-laki itu sejak tadi menatapnya tanpa berkedip. Tapi tetap saja mengelak dan tak ingin mengakuinya.
"Jangan lupa berkas yang aku minta tadi, kamu udah persiapkan semua, kan?"
Gadis itu mengangguk. Berjalan beriringan memasuki lift yang akan membawa keduanya ke lantai paling dasar.
"Apa Haidar sudah berangkat?" Arya bertanya pada seorang gadis yang tak sengaja ia temui di depan ruangan.
"Tuan Arya?" Nina yang memergoki bos besar tengah terburu-buru menatapnya dengan bingung. Bukankah sang bos hari ini ada pertemuan bisnis? Dan, kabarnya dari pihak Pratama Group menjadi tamu utamanya.
"Sudah, Tuan, baru saja berangkat."
"Ah, syukurlah." Terlihat wajah lega dari laki-laki itu. Arya merasa senang sekali karena pertama kalinya Haidar mau datang di acara pertemuan seperti ini. Biasanya laki-laki itu selalu menolak dan banyak alasan setiap kali di minta sang ayah untuk datang mewakilinya.
"Nina, dengan siapa Haidar pergi?" tanya laki-laki itu kembali. Seharusnya hal itu tak perlu di pertanyakan. Jelas pasti dengan sekretarisnya.
"Dengan Mutia, Tuan."
"Mutia?" Arya sedikit kaget. Padahal memang sepatutnya dengan gadis itu, kan?
"Apa Anda akan datang juga?" Arya memang tidak pernah melewati kesempatan ini. Baginya pertemuan seperti ini bisa jadi peluang besar untuk memperkenalkan bisnisnya agar semakin berkembang.
__ADS_1
"Ya, aku akan datang. Kau ikut!"
"Eh, saya?"
"Ya, kau siap-siap, saya tunggu di lobi!" Laki-laki itu terlihat melangkah menjauh dan langsung masuk ke dalam lift. Sedangkan Nina masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Apa? Aku ikut?" Nina menatap penampilan sendiri yang menggunakan pakaian kantor. Bagaimana bisa datang ke acara pertemuan tanpa persiapan apapun?
Dalam situasi bimbang tiba-tiba ponsel yang tengah Nina genggam berbunyi. Gadis itu langsung berwajah pasi saat melihat siapa yang tengah menghubunginya.
[Kau di mana? Kenapa belum sampai juga?] Suara Arya terdengar dari seberang sana. Nina jadi gugup sendiri. Padahal sebenarnya ingin sekali ia menolak permintaan laki-laki itu.
[Cepat, Nina. Kita sudah hampir terlambat!] Saat suara Arya terdengar lagi, Nina buru-buru melangkah. Ia terpaksa ikut saja apa permintaan dari Arya.
[Baik, Tuan.]
*
Ballroom hotel sudah di hias dengan sedemikian rupa oleh tangan-tangan ahli yang sengaja di sewa oleh para penyelenggara acara. Tamu undangan pun terlihat mulai berdatangan. Sebagian dari mereka berpasangan dan ada pula yang datang bersama kerabat dekatnya.
Arya melangkah masuk setelah meletakkan mobil di parkiran khusus undangan VVIP. Di susul Nina di belakangnya, nampaknya gadis itu sudah bisa mengembangkan senyum percaya diri karena tadi Arya sempat mengajaknya lebih dulu ke butik untuk menukar pakaiannya.
Sebagai tamu utama tentu saja Arya di sambut dengan sangat hormat. Melewati dua orang penyambut tamu tadi, laki-laki itu berjalan kearah para tamu undangan yang lain.
"Nina, kau tunggu saja di salah satu meja karena saya akan menemui beberapa rekan bisnis yang lain dulu!" Perintah Arya langsung di balas anggukan oleh gadis itu.
"Baik, Tuan."
Arya melanjutkan langkahnya kearah para rombongan laki-laki yang tengah berbincang dengan sangat asik. Mereka saling memperkenalkan bisnisnya masing-masing. Ada yang menawarkan kesepakatan, serta yang lain mengobrol biasa seputar keluarganya.
Hingga dari arah pintu utama terlihat tamu yang baru saja masuk. Seorang laki-laki tampan dan gadis cantik berjalan beriringan dengan sangat serasi. Sang gadis nampak melempar senyuman kearah semua orang yang berpasangan dengannya. Sementara sang laki-laki hanya memasang wajah biasa seolah tidak peduli dengan siapa pun yang ada di ruangan itu.
Bisik-bisik itu terdengar, para tamu undangan saling membicarakan siapa pasangan yang baru datang itu. Memuji serta mempertanyakan siapa mereka.
"Cantik sekali, siapa dia? Aku belum pernah melihat sebelumnya?"
"Siapa laki-laki itu? Perwakilan dari perusahaan mana?"
__ADS_1
"Ah ... seandainya aku yang menjadi pasangan wanitanya."