
"Keterlaluan kamu, Mas!" teriak Mutia tepat di depan wajah Yusuf. Meski terhalang pagar besi di depannya, Mutia tak perduli, ia tetap melampiaskan kemarahannya pada laki-laki itu.
"Mutia, ada apa ini?" Yusuf yang belum mengerti apa-apa hanya bertanya bingung. Ia sama sekali tidak paham kenapa Mutia tiba-tiba datang dan memakinya.
"Jadi, kamu anggap aku anak pelakor hanya karena mendengar cerita dari papamu, kan? Padahal kejadian yang sebenarnya bukan seperti itu, Mas!" ungkap Mutia kemudian. Meski tadi Naila berusaha tidak menjelaskan, tapi gadis itu telah mendengarnya langsung dari sang nenek.
"Yusuf, ada apa ini?" Broto muncul dari dalam sana beserta sang istri. Di belakang mereka juga ada Yudi, Laura, juga Kania yang ikut menyusul. Mereka semua penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Gadis ini lagi. Kamu masih berhubungan dengannya?" tanya Broto pada putranya.
"Ngapain kamu ke sini lagi!" Kali ini Seli yang bersuara. Seli nampak tidak suka melihat kedatangan Mutia ke rumahnya lagi. Perempuan itu memasang wajah jijik saat pandangannya bertemu dengan mantan calon menantunya itu.
"Mu ...tia?" Sementara laki-laki yang baru saja muncul di belakang sana hanya bisa menatap dengan bingung. Yudi sangat terkejut mendapati putri sulungnya berada di tempat itu. Selama ini Yudi memang tidak pernah tahu siapa calon suami dari Mutia. Kini Yudi di buat shock dengan kenyataan di depannya. Apalagi tadi Mutia sempat membeberkan alasan kandasnya pernikahannya dulu dengan laki-laki itu.
"Jadi, Yusuf itu calon suami Mutia?" Laki-laki itu hanya mampu berbisik pelan sekali. Tapi tanpa di sangka, Broto yang berdiri di depannya malah mendengar bisikan itu.
"Anda kenal dengan gadis ini?" tanya Broto menatap kearah Yudi. Pria itu heran saja bagaimana mungkin Yudi sampai mengenal Mutia yang asal-usulnya tidak jelas itu.
"Ti ...tidak! Bagaimana mungkin kami mengenalnya?" Laura langsung menyerobot. Ia hanya tidak ingin Keluarga Yusuf sampai tahu jika gadis yang berdiri di luar sana adalah putri sulung dari Yudi, anak tirinya sendiri.
Bisa-bisa batal kerjasama itu. Dan mereka pasti akan langsung ilfeel dengan keluargaku. Nggak! Itu nggak boleh terjadi!
__ADS_1
"Oh, baguslah. Aku harap kalian jangan sampai mengenalnya! Dia itu anak dari seorang pelakor! Yusuf saja hampir masuk dalam perangkapnya." Broto tersenyum lega mendengar jawaban dari Laura tadi.
Sedangkan Yudi merasa berada di situasi yang sangat sulit. Satu sisi ia ingin sekali membela Mutia. Tapi, di sisi lain ada kehormatan keluarga besarnya yang tengah di pertaruhkan jika sampai ia mengakui gadis itu sebagai putrinya.
"Papa ...." Mutia berbisik pelan. Kristal bening itu lolos begitu saja tatkala menyadari jika orang tuanya sendiri malu mengakuinya sebagai anak.
"Pergi dari sini! Ngapain kamu masih ganggu keluarga kami! Kamu pikir kami akan luluh melihat air mata palsumu itu!"maki Seli lagi. Perempuan itu begitu percaya dengan suaminya sendiri. Hingga apapun yang Broto katakan selalu benar menurutnya.
"Itu semua nggak benar, Mas! Apa yang Papa kamu tuduhkan ke Mama itu fitnah!" Mutia berusaha meraih tangan Yusuf dari luar pagar. Gadis itu ingin menjelaskan kebenarannya, tapi Kania, gadis cantik itu segera menarik Yusuf menjauh agar tidak terjangkau olehnya.
"Apa-apaan kamu! Jangan berani lagi mendekati Mas Yusuf!" ancam Kania dengan sorot mata tajam.
"Fitnah bagaimana? Jelas-jelas mamamu yang menggodaku. Semua orang kantor pun tahu itu!" Broto membela diri lagi. Ia yakin sekali jika apa yang di sampaikan gadis itu akan sia-sia saja karena tidak akan ada yang mempercayainya.
"Ya, karena wanita seperti mamamu memang tidak berhak mendapatkan tempat yang layak. Dia itu hanya akan merugikan orang di sekitarnya." Ungkapan Seli sungguh bak sembilu yang menancap dalam di hati Mutia. Gadis itu menggeleng dengan air mata yang semakin membanjiri wajah cantiknya.
"Mamamu itu memang pelakor, Mutia! Kamu itu anak pelakor! Itu kebenaran!" ungkap Seli lagi dengan begitu jelas. Bahkan terdengar berulang.
"Dasar anak pelakor!"
"Mamamu pelakor, Mutia! Kamu nggak bisa mengelak dari kenyataan ini!" Broto dan Seli terlihat kompak untuk menyudutkan gadis itu.
__ADS_1
"Nggak! Mamaku bukan pelakor! Aku bukan anak pelakor, Tante!" teriak gadis itu lantang.
Laura tersenyum puas melihat gadis itu yang di keroyok di depan matanya sendiri. Begitupun Kania, ia sejak dulu memang membenci Mutia tertawa girang melihat penderitaan gadis itu.
Sedangkan Yudi hanya bisa diam setelah beberapa kali mendapatkan pelototan dari sang istri. Rasanya Yudi ingin berlari keluar dan memeluk tubuh putrinya, tapi keadaan yang memaksanya untuk tetap bungkam dan memilih membiarkan hinaan itu di alami Mutia.
"Jangan macam-macam! Aku nggak mau mereka sampai tahu kalau gadis di depan sana adalah putrimu!" ancam Laura tidak main-main.
"Lihat gadis cantik yang berdiri di sana!" Seli menunjuk kearah Kania dan Yusuf yang berdiri saling berdampingan. "Dia calon istri dari Yusuf!"
Tubuh Mutia bagai tersambar petir berkali-kali. Remuk, hancur lebur tanpa sisa. Setelah mendapatkan fitnah keji dari keluarga itu, di tambah tidak di akui oleh papanya sendiri, kini ia harus melihat sendiri orang yang sangat ia cintai–Yusuf akan di miliki oleh gadis lain. Dan yang lebih membuatnya hancur ternyata gadis itu adalah adik tirinya sendiri.
"Dan kamu tahu, pastinya Kania itu lebih cocok dengan Yusuf di banding kamu yang, gembel!"
"Ma, sudah. Biarkan Mutia pergi." Yusuf sendiri sebenarnya tidak tega melihat Mutia di perlakukan semena-mena oleh keluarganya. Tapi, Yusuf tak kuasa untuk sekedar membelanya.
"Mutia, sebaiknya kamu pulang sekarang!" perintah Yusuf pada gadis di depannya. Yusuf berharap setelah ini Mutia tidak akan membencinya.
"Ternyata sifat aslimu seperti ini, Mas!" Mutia menggeleng pelan.Ternyata perasaan Yusuf padanya hanya sebatas ini. Bahkan ia sendiri belum percaya jika hubungannya dengan Yusuf telah berakhir. Tapi, laki-laki itu malah dengan gampangnya telah memiliki pengganti.
"Mutia, ini tidak seperti yang kamu kira. Aku dan Kania hanya teman, nggak lebih!" Yusuf berusaha menjelaskannya.
__ADS_1
"Udahlah Yusuf, buat apa sih kamu capek-capek jelasin ke dia! Biarkan saja dia pergi! Mama nggak mau rumah ini kotor karena ada anak dari seorang pelakor!" Seli tambah gencar melontarkan hinaan itu pada Mutia.