
"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Arya saat pintu ruangan tempat Mutia melakukan pemeriksaan tadi terbuka. Kedua laki-laki itu langsung menghampiri sang dokter yang baru keluar bersama para perawat yang lain.
"Kondisi pasien sudah stabil. Kami akan segera memindahkan ke ruang perawatan." Ucapan sang dokter baru saja sontak membuat dua lelaki itu merasa lega. Itu artinya tidak perlu ada yang di khawatirkan lagi, kan?
"Apakah Mutia sudah sadar?" Alex ikut bersuara. Laki-laki itu ingin sekali segera masuk dan memastikan sendiri bagaimana keadaan gadis di dalam sana.
"Belum, Tuan. Biarkan saja beristirahat lebih dulu. Kalau begitu saya pamit." Dokter tadi melangkah pergi setelah memberikan sedikit penjelasan pada dua laki-laki yang sejak dua jam yang lalu menunggu di depan ruangan itu.
"Apa ada keluarga yang bisa kita hubungi?" tanya Arya pada laki-laki di sebelahnya. Tanpa sadar sejak tadi mereka malah lupa untuk memberitahu keluarga dari gadis itu.
"Ini, Tuan. Saya menemukan di tempat kejadian." Menunjukkan sebuah tas dan benda yang sudah hancur.
"Itu, ponsel?" Arya menyipitkan matanya menatap kearah benda yang sudah hancur berantakan di tangan Alex.
"Mungkin ini juga milik Mutia, saya menemukannya di dekat halte."
"Simpan saja ponsel yang sudah rusak itu. Sebaiknya kita segera hubungi keluarganya."
Setelah memeriksa isi tas tersebut, keduanya memacu mobilnya kearah alamat yang tertera dalam kartu identitas milik Mutia
"Pasti kedua orangtuanya sangat cemas. Ah ... rasanya aku merasa sangat bersalah sekali." Arya mengusap wajahnya kasar. Ia tengah berperang dengan dirinya sendiri, berusaha mencari Kalimat yang cocok untuk memberitahukan mengenai keadaan Mutia pada kedua keluarganya nanti.
"Nanti biarkan saya yang berbicara, Tuan." Alex melirik sekilas. Laki-laki masih berada di belakang kemudi, mengarahkan mobil itu ke arah rumah Mutia.
Sedangkan Arya memeriksa jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjuk angka sepuluh lebih.
"Astaga, istriku pasti cemas menunggu kepulanganku!" Arya baru sadar jika sejak tadi ia melupakan ponselnya. Ia yakin sekali Rengganis pasti menghubungi untuk menanyakan di mana keberadaannya saat ini. "Bagaimana denganmu? Apa orang rumah sudah ada yang di hubungi?" Bertanya pada laki-laki di sebelahnya.
"Belum, Tuan. Nanti saja setelah urusan ini selesai. Lagipula saya sedang menyetir." Alex yakin jika Airin pasti akan memakluminya.
"Ya sudah. Aku hubungi istriku lebih dulu kalau akan pulang terlambat." Padahal memang sudah terlambat sejak tadi.
__ADS_1
Setelah menemukan alamat milik Mutia mereka langsung menjelaskan pada orangtuanya dari gadis itu mengenai keadaan putri tercintanya. Arya sudah menduga sebelumnya jika mereka pastilah sangat terpukul mengetahui kondisi dari gadis itu. Apalagi saat Alex menjelaskan jika Mutia hampir saja jadi korban perkosaan oleh tiga pria berandalan.
Arya dan Alex sama-sama mengantar orang tua Mutia ke rumah sakit lebih dulu. Barulah mereka putar arah dan membawa mobilnya untuk segera pulang.
"Kamu masih simpan ponsel yang rusak milik gadis itu 'kan, Lex?" tanya Arya setelah turun dari mobil karena Alex mengantarkan ke rumahnya lebih dulu.
"Masih, Tuan. Hanya tas dan isinya yang saya kembalikan pada kedua orangtuanya."
Arya mengangguk pelan. Rencananya Arya ingin memberikan ponsel baru untuk Mutia setelah gadis itu sadar. Sebagai permohonan maaf, atau setidaknya ia bisa memberikan sesuatu sebagai ungkapan terima kasih.
Menunggu sampai Alex menghilang di kejauhan, Arya melangkah pelan mendekat pintu utama rumahnya. Sejenak ia menyiapkan diri untuk menjelaskan pada istrinya nanti. Karena sudah di pastikan perempuan itu tidak akan membiarkannya begitu saja sebelum ia mendengar penjelasan darinya.
Benar. Baru saja Arya hendak melangkah menuju kamar, ia sudah di hadang oleh sang istri yang berdiri di depan pintu.
"Sebenarnya kau dari mana, Mas?" Meski tadi Arya sudah menjelaskan adanya urusan yang mendadak, Rengganis masih saja belum sepenuhnya percaya.
"Sudah kubilang, aku ada sedikit pekerjaan dengan Alex. Kau tak percaya?" Nampaknya Arya sengaja tidak memberitahu kejadian yang menimpanya hari ini. Takut, jika Rengganis malah jadi mengkhawatirkan dirinya.
"Maaf ... jika membuatmu khawatir," ucapnya seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya.
"Tidurlah, ini sudah malam." Laki-laki itu mengajak sang istri untuk masuk ke dalam kamar.
Di rumah lain, tepatnya rumah tempat tinggal Airin, perempuan itu masih mengintrogasi suaminya dengan penuh curiga. Ternyata sejak tadi Alex belum di persilahkan untuk masuk, padahal laki-laki itu sudah berusaha menjelaskan, bahkan sesaat setelah keluar dari dalam mobil.
"Kau tidak sedang membohongiku, kan?" tanya Airin dengan tatapan menyelidik. Perempuan itu sengaja berjalan mendekat dan mencari-cari sesuatu yang mungkin dapat ia temukan.
"Apa kau tengah mencurigaiku?" tanya Alex. Laki-laki itu mendengus kesal. Jam menunjukkan waktu hampir tengah malam, tapi Airin tetep saja belum membiarkannya untuk masuk.
"Ya, tentu saja aku mencurigaimu!" jawab perempuan itu dengan wajah kesal.
"Kenapa? Bisakah kau membiarkan–ku istirahat lebih dulu? Atau, setidaknya membersihkan diri." tanya Alex dengan nada frustasi. Tubuhnya yang teramat lelah meminta untuk segera di istirahatkan.
__ADS_1
"Aku lelah. Aku ingin istirahatkan," ucap Alex lagi. Perempuan itu masih berdiri di depan pintu untuk menghalanginya.
"Kau pikir aku percaya?" ungkap Airin dengan masih mempertahankan posisinya.
"Astaga ...!" Alex mengeram kesal. Mereka sudah sepakat tidak akan menjelaskan kejadian ini pada para istri. Takut jika mereka khawatir atau berpikir yang tidak-tidak.
"Aku sungguh tidak melakukan apapun. Apalagi pergi dengan perempuan lain!" Alex bisa saja menerobos masuk. Tapi, tetap saja ia tidak ingin sampai pertengkaran itu di ketahui oleh putrinya.
"Oke, aku percaya!"
Laki-laki menarik napas lega. Akhirnya penjelasannya tadi tidak sia-sia.
"Apalagi?" Alex mengernyit bingung. Pasalnya Airin bukan menyingkir dan memberikannya ia jalan. Perempuan itu malah tersenyum dan melangkah mendekat kearahnya.
"Bayar dulu jika mau masuk!" ucap perempuan itu dengan mengerlingkan sebelah matanya.
Alex paham dengan maksud istrinya. Laki-laki itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Meski usianya sudah tak muda lagi, tapi untuk urusan yang satu ini sepertinya ia tidak akan pernah bisa menolaknya.
"Kenapa tak bilang dari tadi!" Laki-laki itu langsung menarik tangan sang istri hingga tubuh keduanya bertabrakan. Alex menatap wajah perempuan itu dengan penuh damba, perempuan yang selama ini menemani hari-hari indahnya.
"Jangan di sini, nanti Kia melihat kita!" Airin menahan wajah Alex saat laki-laki itu berusaha memagutnya. "Tidak sabaran sekali, sih!"
"Kia sudah tidur. Dia tidak akan mungkin keluyuran sampai ke mari!" Dengan tidak ragu-ragu lagi Alex mengajak istrinya kearah sofa ruang tamu.
"Di sini?"
"Kenapa?"
"Tapi ...?" Airin ragu, bagaimana kalau ada yang memergokinya.
"Tidak akan! Percayalah!" Laki-laki itu kembali melancarkan aksinya. Memagut serta bermain-main pada benda kenyal milik Airin. Sementara tangan Alex sudah bergerilya entah ke mana, menyentuh dan meraih apapun yang ia sukai.
__ADS_1
Malam masih panjang, keduanya saling berpacu dan menikmati malam mereka di sofa ruangan itu.