
Bugh!!
Salah satu pria yang hendak menggagahinya tiba-tiba tersungkur tepat di samping tubuh Mutia. Gadis itu memekik kaget dan dengan susah payah ia mengangsur tubuhnya ke belakang.
"Ternyata tenagamu masih lumayan juga," ucap seseorang yang baru saja datang dan berhasil membuat perhitungan pada salah satu pria itu.
"Om ....!" pekik Mutia saat melihat dua laki-laki yang baru saja muncul entah dari mana asalnya.
"Hei, siapa kalian!" teriak pria yang merupakan bos dari komplotan berandal itu.
"Kami?" Dua Laki-laki yang baru saja tiba itu terkekeh pelan. Lantas dengan santai melangkah lebih mendekat kearah para penjahat tadi. "Kau tidak perlu tahu siapa kami. Lepaskan saja gadis itu, lalu kalian boleh pergi!"
"Jangan mimpi! Gadis itu milik kami, kalian tak usah ikut campur!" Kini ketiganya sudah berdiri menantang dua lelaki yang baru saja tiba, mereka sama-sama diam dengan tatapannya yang tajam seolah siap menghajar siapa saja di hadapannya.
"Lepaskan dia, atau ..."
"Hahahaha kalian yakin ingin melawan kami?" Ketiganya tergelak kencang. Mereka meremehkan kemampuan kedua lelaki di depannya. "Lebih baik kalian pergi, daripada pinggang kalian kami patahkan!" Masih dengan senyum mengejek.
"Ck! Mereka meremehkan kita!" Menggeleng pelan.
"Bagaimana, Tuan, apa perlu kita bermain-main lebih dulu? Rasanya sudah lama sekali tidak olahraga seperti ini?" Laki-laki itu sampai lupa kapan terakhir kalinya ia menghajar seseorang. Oh ya, mungkin saat menyelesaikan misinya dulu. Dan itu sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
"Usulanmu menarik juga, Lex." Arya tersenyum. Dua laki-laki seumuran itu terlihat mengepalkan dua tangannya, bersiap menghajar ketiga pria yang tadi sempat meremehkannya.
"Kami peringatkan sekali lagi, Pak Tua!" Bahkan salah satu pria itu menghinanya. Menjuluki Alex dan Arya dengan sebutan pak tua.
"Sialan! Kau bilang apa tadi?!" Alex merasa tidak terima saja di juluki pak tua. Meski usia mereka sudah lebih dari kepala lima, tetap saja ia merasa tubuhnya masih bugar. Bahkan mereka tidak tahu saja bahwa ia masih bisa bermain-main dengan istrinya sampai beberapa kali, eh!
"Lantas kami harus memanggil kalian apa? Kakek? Hahaha ...." Arya hanya melirik santai. Sejak dulu laki-laki itu memang jauh lebih bisa mengendalikan emosinya di banding Alex.
"Hajar, Lex! Mungkin mereka perlu bukti jika kita masih sanggup melayani permainan mereka."
"Ya, sepertinya akan jadi hari yang menyenangkan!" Alex tersenyum menyeringai.
Ketiganya pria itu saling lirik, lalu ....
__ADS_1
Bugh, bugh, bugh!!
Aksi saling pukul itu akhirnya terjadi juga. Tiga pria melawan dua orang laki-laki paruh baya dengan pakaian ala kantoran.
"Rasakan ini ... bugh!" Alex menghujam para pria itu dengan pukulan yang bertubi. Hajar dan hajar lagi sampai mereka jatuh tersungkur mencium tanah.
"Bagaimana? Masih mau lagi?" Seketika nyali mereka menciut. Meski dua laki-laki itu sudah berumur, kemampuan bela dirinya tidak main-main.
"Ah, menyebalkan! Harusnya kalian langsung pergi dan tidak membuat kami kerepotan seperti ini." Arya mengusap telapak tangannya sendiri.
"Hei, katakan! Kalian pilih kuhabisi, atau ....?"
"Am–pun, Tuan, kami mengaku kalah," ucap salah satu pria itu dengan wajah yang sudah babak belur. "Kami menyerah."
"Laporkan saja mereka ke polisi, Lex. Biar mereka jera!" Arya memberikan usulan pada laki-laki di sebelahnya.
"Tolong, Tuan, jangan bawa kami ke kantor polisi." Ketiga pria itu sudah ketakutan. Wajah mereka memucat dengan luka-luka di seluruh bagian tubuhnya.
"Kalian pikir kami akan melepaskan kalian begitu saja? Cih! Jangan harap kalian akan selamat!" Rasanya Alex sudah geram sendiri dengan kelakuan para penjahat itu. Kalau memang takut masuk jeruji besi, harusnya mereka berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu.
Sebenarnya tadi mereka tak sengaja lewat kawasan itu seusai melakukan pertemuan dengan salah satu rekan bisnis. Arya yang ada di sebelah kiri tiba-tiba melihat seorang gadis tengah di seret paksa dan di bawa ke sebuah semak. Laki-laki itu langsung saja menyuruh Alex menepikan mobilnya. Dan bergegas mengikuti.
Setelah mengamati, Alex langsung shock saat mengetahui siapa gadis itu. Gadis yang hampir di perkosa oleh ketiga kawanan bernadal. Ya, Mutia, yang tak lain adalah sahabat dari putrinya sendiri.
Mereka tidak membuang waktu lagi untuk menghajar para pria itu demi menyelamatkan Mutia.
"Tuan, kami mohon ...." Mereka tampak memelas. Namun Alex tidak mempedulikannya. Laki-laki itu tetap merogoh ponsel di saku jas, lantas menghubungi polisi agar secepatnya datang ke tempat itu.
[Selamat sore .... kantor polisi ...]
Sedangkan Arya memilih mendekat kearah gadis yang masih ketakutan di sebelah sana. Memeriksa dan melihat keadaan gadis itu yang masih gemetar ketakutan sebab insident yang hendak menimpanya.
"Kamu tak apa-apa? Bukannya kamu ... teman Kia?" Arya menyentuh bahu gadis itu yang masih terguncang hebat. Ia masih ingat jika gadis yang saat ini tengah meringkuk ketakutan itu adalah sahabat dari Kia, yang pernah di perkenalkan pada keluarganya dulu.
Mutia mendongak, menatap wajah laki-laki paruh baya yang sejak tadi berusaha menenangkannya.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan," ucap Mutia dengan bibir yang masih bergetar hebat.
Arya hanya mengangguk pelan. Ia menatap pakaian gadis itu yang sudah terkoyak di sana-sini. Menyedihkan sekali. Arya tidak tega melihatnya. Ia tidak bisa membayangkan jika kejadian buruk itu sampai menimpa putrinya sendiri.
"Para penjahat itu tidak sampai ....?" Arya ragu untuk meneruskan ucapannya. Takut, jika semakin mengguncang kondisi gadis itu.
"Ti–tidak, Tuan, mereka hanya ....?" Mutia tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Ia terlalu takut. Tapi, masih beruntung karena ketiga pria itu tidak sampai menggagahinya.
"Syukurlah ..." Arya nampak lega. Setidaknya ia tidak sampai datang terlambat.
"Pakailah ini untuk menutupi bajumu yang robek!" Arya melepas jas yang ia kenakan, lantas memberikannya pada Mutia.
Mutia mengangguk cepat. Ia meraih jas milik laki-laki itu untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos akibat kebrutalan para pria sialan tadi.
"Kamu tak perlu khawatir, mereka pasti akan menerima hukuman yang setimpal." Arya masih berusaha menenangkan gadis itu yang sejak tadi tidak henti-hentinya melirik kearah ketiga pria itu.
"Sekali lagi ... terimakasih, Tuan ...."
Sementara Alex masih sibuk menghubungi polisi. Sesekali ia mengawasi ketiga pria yang sudah terluka cukup parah itu. Ia yakin jika mereka tidak akan bisa melarikan diri lagi.
[Ya, Pak. Sebaiknya Anda segera datang ke sini.]
Ketiga pria tadi tampak terkejut mendengar penuturan laki-laki yang saat ini tengah melakukan panggilan telepon. Mereka yakin sekali jika setelah ini polisi akan datang dan segera menyeretnya ke kantor polisi.
"Tidak! Aku tidak mau masuk penjara!" bisik salah satu dari pria itu.
"Aku juga tidak mau masuk penjara, Bos!"
"Bagaimana kalau .."
Mereka saling berbisik, mengawasi situasi di sekitarnya. Entah apa yang mereka rencanakan saat tiba-tiba saja salah satu dari mereka bangkit dan berlari kearah sana.
"Tuan ... awas ....!!"
Akhhhh ....!!
__ADS_1